Gangguan Kepribadian Narsistik Orang Bodoh & Cara Hadapinya Dalam Islam

jpn

Bimantika.net -Apakah pernah bertemu dengan seseorang, atau orang tersebut adalah teman kerja, yang tidak pernah mengerti kebutuhan orang lain, selalu merasa dirinya lebih baik, dan tidak mau mendengarkan nasihat atau kritik dari yang lain?

Jika iya, berarti kamu sudah bertemu orang dengan gangguan kepribadian narsistik.

Ciri utama dari kepribadian ini adalah kurangnya empati terhadap orang lain dan haus kekaguman dari orang lain.

Kondisi ini sering digambarkan sebagai orang yang sombong, egois, manipulatif, dan penuntut.

Bahkan, mereka merasa dirinya pantas untuk mendapatkan perlakukan khusus.

Tidak hanya itu, pengidap gangguan kepribadian narsistik atau sering disebut narsis percaya bahwa diri mereka lebih istimewa, sehingga pergaulannya terbatas pada orang-orang yang dirasa berbakat atau sepadan dengan dirinya.

Individu seperti ini mencari perhatian yang berlebihan hanya untuk mengetahui bahwa ia selalu dipikirkan atau dibicarakan oleh orang lain.

Mereka tidak dapat menoleransi kritik atau kekalahan, sehingga ketika mendapatkan kritik keras atau bahkan penolakan, mereka sering kali ditinggalkan atau tidak dipedulikan.

Gangguan kepribadian narsistik sering terjadi pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan, dan sering bermula pada usia remaja akhir atau dewasa awal.

Perlu diingat, kala anak menunjukkan tanda-tandanya, bukan berarti ia terus mengembangkan gangguan ini ketika ia dewasa.

Lalu, Bagaimana Menghadapinya?

Menghadapi pengidap gangguan kepribadian narsistik menjadi tantangan tersendiri, karena tidak sedikit pengidap bersifat defensif yang membuat mereka sulit untuk mengakui kesalahan.

Jangan beradu argumen dengan orang-orang narsis ini, karena mereka tidak mengenal sifat mengalah. Jika terjadi perbedaan pendapat yang berujung pada perdebatan, beri tahu saja bahwa kamu tidak setuju dan menyingkir, jangan diperpanjang.

Orang narsistik mungkin akan menghina dan mengajakmu.

Namun, kamu yang paling mengetahui dirimu lebih dari orang lain, termasuk kelebihan dan kelemahan.

Ketika mereka menghina atau mengajukan kritik kepadamu, keluarkan penolakan jika dibutuhkan, dan ingat, hindari perdebatan.

Sahabat Nabi Muhammad SAW, Ali Bin Abi Thalib pun menyampaikan pesan bijaknya yang berbunyi ;

“Jangan mengkritik orang bodoh karena dia akan membencimu tapi kritiklah orang berakal karena dia akan mencintaimu” demikian pesan Ali Bin Abi Thalib

Sesungguhnya ritik adalah tanda cinta untuk merubah seseorang menjadi lebih baik.

Namun kritiklah mereka yang berpikiran terbuka jangan mengkritik mereka yang tidak mau di kritik karena tidak ada artinya.

Tentunya kritiklah dengan cara yang santun dan penuh dengan etika.

Islam mengajarkan tentang bagaimana berperilaku baik kepada sesama manusia. Namun bagaimana jika seorang Muslim dihadapkan pada seorang yang bodoh? Dan bagaimana sebaiknya sikap kita kepada orang bodoh tersebut?

Alquran dalam Surah Al-A’raf ayat 199 menjelaskan bagaimana cara seorang Muslim berakhlak mulia kepada sesama manusia. Allah SWT berfirman, “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.” (QS Al-A’raf ayat 199). (***//Berbagai Sumber)

Allah Melarang Sombong & Angkuh Dengan Kebodohan

jpn

Bimantika.net -Kalimat sindiran untuk orang arogan bisa di sampaikan agar yang bersangkutan sadar diri.

Kebanyakan orang arogan atau sombong belum mengerti bagaimana keadaan sekitar yang sebenarnya.

Orang arogan hanya mementingkan diri sendiri dan selalu beranggapan lebih unggul. Padahal, mempertahankan kondisi itu membuat seseorang tak bisa instrospeksi diri.

Instrospeksi diri merupakan hal penting dalam penentuan masa depan seseorang.

Evaluasi dan instrospeksi diri penting dalam hal menambah kualitas dalam hidup dan kehidupan.

Ketika seseorang diliputi dengan rasa arogan dan sombong, kualitas dia tidak akan berkembang.

Ada perbedaan tipis antara keyakinan diri dan sikap sombong, orang dengan keyakinan diri berbicara dari pusat pemahaman dan kebijaksanaan. Orang yang memiliki keyakinan diri cenderung inklusif dan tidak pernah berniat untuk merendahkan siapa pun. Mereka tidak menyukai perilaku konformis dan kebodohan palsu.

Berapa banyak manusia telah binasa karena keangkuhan dan kesombongan.

Merasa diri lebih tinggi, lebih mulia, lebih kaya, dan seterusnya, lalu memandang sebelah mata kepada orang lain.

Namun yang lebih parah dan akibatnya lebih berbahaya bagi pelakunya adalah sikap enggan dan sombong serta angkuh untuk menerima kebenaran.

Padahal akibat kesombongan dan keangkuhan telah banyak dikisahkan dalam al-Qur’an, seperti peristiwa terusirnya Iblis dari surga karena kesombongannya.

Iblis terlalu angkuh untuk sujud kepada Nabi Adam padahal perintah itu datangnya langsung dari Allah.

Demikian juga Allah Telah menenggelamkan Qarun beserta seluruh hartanya ke dalam perut bumi, juga karena kesombongan dan keangkuhannya terhadap Allah dan kepada sesama kaumnya.

Senasib dengan mereka, Fir’aun, kaum ‘Aad, kaum Luth, Tsamud, dan lain sebagainya. Semuanya diazab dengan pedih karena kesombongan dan keangkuhan mereka, memandang rendah para rasul yang diutus kepada mereka. Lebih dari itu, mereka pun telah menolak kebenaran yang disampaikan para rasul.

Rasulullah telah menjelaskan tentang bahaya sifat sombong dan angkuh, sebagaimana diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud , dari Nabi, beliau bersabda,

“Tidak masuk surga siapa saja yang di dalam hatinya ada sedikit kesombongan,kemudian seseorang berkata, “Sesungguhnya seseorang itu senang pakaiannya bagus dan sandalnya bagus.”

Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah itu Indah dan Dia menyenangi keindahan, kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR. Muslim).

Imam An-Nawawi t berkomentar tentang hadits ini, “Hadits ini berisi larangan dari sifat sombong yaitu menyombongkan diri kepada manusia, merendahkan mereka dan menolak kebenaran.” (Syarah Shahih Muslim 2/269).

Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambali berkata, “Orang yang sombong adalah orang yang memandang dirinya sempurna segala-galanya, dia memandang orang lain rendah, meremehkannya dan menganggap orang lain itu tidak pantas mengerjakan suatu urusan. Dia juga sombong menerima kebenaran dari orang lain”. (Jami’ul Ulum Wal Hikam, 2/275).

Raghib Al-Asfahani berkata, “Sombong adalah keadaan/kondisi seseorang yang merasa bangga dengan dirinya sendiri, memandang dirinya lebih utama dari orang lain.

Kesombongan yang paling parah adalah sombong kepada Rabb-nya dengan cara menolak kebenaran (dari-Nya) dan angkuh untuk tunduk kepada-Nya baik berupa ketaatan maupun dalam mentauhidkan-Nya.” (Umdatul Qari`, 22/140).

jangan pernah kita merasa lebih hebat dan menyalahkan pengalaman kita dahulu dan orang-orang yang pernah mengajari kita dahulu, walaupun kita sudah merasa hebat saat ini, sesungguhnya jika terjadi hal ini, maka dia-lah orang yang sangat bodoh itu.

Selanjutnya, kebodohan itu adalah jika kita saat ini sudah merasa bahwa hanya kita saja yang pinter dan hebat.

Sebenarnya, yang pinter dan hebat itu adalah diri kita dahulu, yang mana orang-orang pada saat itu banyak yang senang dengan pemikiran kita (kepintaran kita).

Untuk hal ini jangan salah menilai diri dan orang lain, bukan diri sendiri yang menilai bahwa kita sendiri sudah pinter dan hebat,

Melainkan orang lainlah yang melihat hal tersebut adakah pada diri kita.

Setiap etape kehidupan manusia memiliki proses dan kondisi sendiri-sendiri pada tahapan masing-masing sesuai kondisi mereka tersebut.

Jangan pernah menganggap suatu kepintaran diri karena itu merupakan suatu bentuk dari kebodohan yang sesungguhnya. (***//Berbagai Sumber)

Wahid : Seleksi JPTP Atas Rekomendasi KASN dan Permenpan 15 Tahun 2019

jpn

Bimantika.net -Kepala BKPSDM Kota Bima Dra. A. Wahid pada Rabu malam 13 September 2023 menyampaikan beberapa hal terkait dengan Seleksi Terbuka Pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama (JPTP) Tahun 2023.

Pada Media Online Bimantika Wahid menyampaikan bahwa sebenarnya prosedur seleksi terbuka pengisian JPTP di Kota Bima sudah sesuai tata aturan perundang-undangan.

“Yang pasti sesuai Permenpan Nomor 15 Tahun 2019” demikian ujar Wahid mengawali wawancaranya dengan media Online Bimantika.

Lanjutnya bahkan KOMISI APARATUR SIPIL NEGARA (KASN) mengeluarkan surat dengan Nomor: B-2617/JP.l 00.00/07/2023 tanggal 12 Juli 2023.

Dalam surat tersebut Perihal : Rekomendasi Rencana Rotasi/Mutasi
JPT Pratama di Lingkungan Pemerintah Kota Bima

Balasan surat tersebut Sehubungan dengan surat Walikota Bima kepada Ketua Komisi Aparatur Sipil
Negara, Nomor: 800/2136/BKPSDM/VII/2023 tanggal 10 Juli 2023 yang di
terima berkasnya di SIJAPTI pada 6 Juli 2023 perihal: Permohonan Rekomendasi
Seleksi JPT Pratama.

Atas surat tersebut KASN sampaikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Kami mengucapkan terima kasih atas penyampaian dokumen rencana seleksi
    terbuka 6 (enam) Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama;
  2. Setelah kami mencermati dan memeriksa dokumen-dokumen persyaratan pada
    pengumuman, calon panitia seleksi yang Saudara sampaikan melalui aplikasi
    elektronik SIJAPTI KASN, maka pada prinsipnya KASN dapat memberikan
    persetujuan rencana seleksi terbuka terhadap 6 (enam) Jabatan Pimpinan
    Tinggi, yaitu:
    Kepala Satuan Polisi Pamong Praja;
    Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana; Staf Ahli Walikota bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat
    Daerah;
    Kepala Dinas Tenaga Kerja;
    Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan; dan Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah;

Dengan susunan panitia seleksi sebagai berikut:

Drs. H. Muhammad Fakhrunraji, M.E.
Inspektur Kota Bima
Ketua Panitia, Drs. Muhammad Nasir Kepala BKD Provinsi
Nusa Tenggara Barat
Anggota, Drs. A. Wahid
Kepala BKPSDM Kota
Bima Anggota, H. Adnan, SH., M.H
Dosen Hukum Universitas Muhammadiyah Kota Bima Anggota dan Dr. Iwan Harsono
Lektor Kepala Universitas Mataram
Anggota

  1. Selanjutnya Kami persilahkan Saudara untuk menetapkan dan menugaskan
    Panitia Seleksi untuk memulai proses seleksi terbuka terhitung sejak terbitnya
    rekomendasi ini dengan berpedoman kepada UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang
    Aparatur Sipil Negara, PP Nomor 11 Tahun 2017 Tentang Manajemen PNS, dan
    Peraturan Menteri PAN RB Nomor 15 Tahun 2019 tentang Pengisian Jabatan
    Pimpinan Tinggi Secara Terbuka dan Kompetitif di Lingkungan Instansi
    Pemerintah, serta ketentuan peraturan perundang-undangan lain yang berlaku;
  2. Berita acara dan hasil pelaksanaan seleksi terbuka menjelang penentuan 3 (tiga)
    besar agar dilaporkan terlebih dahulu kepada KASN melalui aplikasi SIJAPTI

untuk mendapatkan Surat Rekomendasi sebelum dilakukan penetapan dan
pelantikan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian;

  1. Bahwa berdasarkan Pasal 120 ayat (5) jo. Pasal 32 ayat (3) Undang-Undang
    Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara disebutkan

Dalam surat tersebut Rekomendasi
KASN bersifat mengikat dan wajib dilaksanakan”;

Lebih jauh wahid menjelaskan bahwa dari sisi kepanitiaan bahwa KASN sendiri yang merekomendasikan susunan kepanitian.

“Tidak ada regulasi yang dilanggar semua sesuai dengan prosedural dan tata aturan sesuai petunjuk KASN” jelasnya.

Di Akhir wawancaranya, Wahid menegaskan bahwa penunjukan Inspektur sebagai ketua panitia seleksi (pansel) tidak melanggar aturan.

“dan BPSDM sebelum membentuk panitia pansel terlebih dahulu melakukan konsultasi dan mengusulkan ke KASN, dan KASN menyetujui dan memberi rekomendasi untuk pelaksanaan seleksi dan komposisi panselnya” demikian tegas Wahid. (***)

Kuasai Narkoba Jenis Sabu, Polisi Tangkap 2 Pria Asal Bada

jpn

Bimantika.net -Satresnarkoba Polres Dompu unjuk taring meringkus BI (28) dan AK (25) asal Lingkungan Lingkungan Mantro Kelurahan Bada Kecamatan Dompu, Kabupaten Dompu lantaran diduga menguasai menguasai Narkotika Golongan I yang diduga sabu.

Keduanya ditangkap di pinggir jalan Lingkungan Bali, Kelurahan Bali, Kecamatan Dompu, Kabupaten Dompu tanpa perlawanan dengan barang bukti sabu seberat 6.02 gram.

Kapolres Dompu, AKBP Zulkarnain, S.I.K., melalui Kasat Resnarkoba, Iptu Abdul Malik, S.H., yang memimpin langsung upaya penangkapan mengungkapkan bahwa penangkapan kedua terduga berdasarkan informasi dari masyarakat yang mencurigai aktifitas keduanya.

Awalnya, kata Kasat, pada hari Selasa tanggal 04 September 2023 sekitar pukul 13.30 wita anggota Opsnal Sat Resnarkoba Polres Dompu mendapat informasi dari masyarakat bahwa sering terjadi peredaran gelap Narkotika di wilayah Kabupaten Dompu.

“Kemudian anggota Opsnal bergerak menuju target yakni di Kelurahan Bali Satu,” ungkap Kasat.

Saat itu, lanjutnya, Tim menuju ke Lingkungan Bali, Kelurahan Bali tepatnya di pinggir jalan Samping Kampus STIE YAPIS Dompu Sekitar pukul 14.15 wita.

“tidak lama dari pengintaian tersebut terlihat beberapa orang yang akan melakukan transaksi narkotika sudah kami kantongi identitasnya Narkotika di salah satu baruga pinggir jalan,” jelas Kasat.

Selanjutnya, tanpa pikir panjang tim langsung melakukan penangkapan dan berhasil mengamankan 2 (Dua) orang terduga, sebelum melakukan penggeledahan tim Opsnal Satresnarkoba Polres Dompu memanggil saksi umum untuk menyaksikan proses penggeledahan.

“Dari hasil penggeledahan tim berhasil mengaman barang bukti sabu seberat 6.02 gram,” beber Kasat.

Usai melakukan serangkaian penangkapan dan penggeledahan Tim langsung mengamankan terduga dan barang bukti ke Mako Polres Dompu untuk diproses sesuai dengan ketentuan yang berlaku. (***)

Godaan Terbesar Orang Berilmu Adalah Kesombongan

jpn

Bimantika.net -Banyak orang berilmu mengatakan bahwa segala sesuatu ada ilmunya.

Karena itu, orang tua mengarahkan kita sejak kecil untuk belajar alias menimba ilmu.

Bahkan Nabi Muhammad SAW mengimbau umatnya untuk menuntut ilmu sampai ke negeri Cina.

Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Ulil Abshar Abdalla menyebut bahwa orang yang memiliki ilmu tidak cukup jika hanya sebatas berilmu.

Di dalam kehidupan sehari-hari, kerap ditemui orang-orang yang cerdas secara intelektual tetapi ilmunya tidak disertai dengan akhlak atau etika.

Di dalam tradisi NU dan pondok pesantren, para santri tidak hanya diajarkan tentang ilmu tetapi juga belajar memiliki sikap dalam berilmu. Inilah yang disebut Gus Ulil sebagai sikap keilmuan.

“Kalau orang hanya memiliki ilmu yang mendalam atau secara intelektual cerdas tetapi tidak disertai dengan sikap keilmuan yang tepat maka orang itu bisa menjadi pusat kejengkelan orang lain. Kita seringkali merasa tidak suka kepada orang yang secara keilmuan alim, tetapi dia tidak punya akhlak yang baik,” ungkap Gus Ulil dalam tayangan Inilah Penyakit Orang Berilmu diakses NU Online.

Ia menegaskan bahwa godaan terbesar orang berilmu adalah sombong. Bahkan, Gus Ulil menyebut, penyakit orang alim adalah arogansi. Ini terjadi di mana-mana, sejak dulu sampai sekarang. Kesombongan itu membuat ilmu yang ada pada seorang alim, menjadi tidak menarik.

“Seorang alim yang sombong akan membuat orang tidak memiliki simpati kepadanya. Bahkan ilmu yang disertai dengan kesombongan itu bisa mendatangkan musibah dan kerusakan,” tegasnya.

Sikap keilmuan yang paling utama ada dua. Pertama, sakinah atau tenang. Seseorang yang memiliki ilmu sudah seharusnya punya kematangan. Ilmu harus membuat seseorang melakukan pertimbangan-pertimbangan sebelum melakukan sesuatu, tidak dengan emosional.

“Orang yang memiliki ilmu sudah seharusnya dia bisa mengontrol dirinya, tidak mengumbar statemen (pernyataan) seenaknya dan apalagi membuat kegalauan atau kegusaran pada orang lain,” tegas Gus Ulil.

Kedua, al-hilmun atau sabar. Artinya, ketika orang memiliki ilmu kemudian diperlakukan tidak baik oleh orang lain maka tidak akan membalas dengan perbuatan jelek yang serupa.

Adab lebih penting dari ilmu

Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari mengutip sebuah ungkapan ulama sufi Abdullah bin Mubarak, dalam kitab Adabul Alim wal Muta’alim.

نَحْـنُ إِلَى قَلِيْــلٍ مِــنَ اْلأَدَبِ أَحْوَجُ مِنَّا إِلَى كَثِيْرٍ مِنَ اْلعِلْمِ

“Kita lebih membutuhkan adab (meskipun) sedikit dibanding ilmu (meskipun) banyak.”

Kita sering mendengar bahwa di antara ciri yang membedakan manusia dari binatang adalah akal atau ilmu. Pernyataan ini tidak keliru. Tetapi mesti digarisbawahi bahwa di atas ilmu ada yang lebih urgen, yakni adab atau akhlak. Sebab, ilmu seberapa pun banyaknya tanpa disertai adab yang baik akan menjerumuskan manusia dalam perilaku binatang, atau mungkin lebih rendah.

Betapa banyak peperangan, kesewenang-wenangan kekuasaan, kerusakan alam, atau sejenisnya muncul justru karena ditopang kemajuan ilmu pengetahuan dan kecanggihan teknologi zaman sekarang. Karena itu, yang paling mendasar dibutuhkan bagi peradaban manusia adalah adab.

Ilmu Allah laksana samudera tak bertepi. Pun di atas langit keilmuan seseorang, masih ada langit di atasnya lagi. Di atas itu semua ada Dzat yang Maha Mengetahui. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ (76)

“… dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang Maha Mengetahui.” (Qs. Yusuf: 76)

Kita telah mengetahui bahwa salah satu cara setan menyesatkan manusia adalah dengan harta dan ketamakan terhadap dunia. Akan tetapi, sedikit dari kita yang mengetahui bahwa setan juga menyesatkan manusia melalui ilmu. Yaitu dengan membuat pemilik ilmu tersebut menjadi angkuh, sombong, dan merendahkan manusia karena merasa sudah berilmu.

Umumnya ditunjukkan dengan sifat yang keras, hobi berdebat kusir, dan banyak membicarakan kesalahan orang lain secara tidak bijak.

Wahb bin Munabbih rahimahullah berkata,

إن للعلم ظغيانا كطغيان المال

“Sesungguhnya ilmu memiliki keangkuhan sebagaimana keangkuhan harta.” (an-Nubadz fi Adabi Thalabil Ilmi, hal. 185). (***//Berbagai Sumber)

Shalat, Ibadah, Hidup dan Mati Hanya Untuk Allah SWT

jpn

Bimantika.net -Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi robbil alamin’ (Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Tuhan Semesta Alam). Seseorang dapat dikatakan taat dan beriman apabila ia mempunyai niat dalam melakukan tindakan semata karena Allah.

Apa Makna terkandung dalam inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi robbil alamin?

Ini adalah potongan ayat Al-Qur’an yang terdapat dalam surat Al-An’am ayat 162. Ayat ini menyampaikan pesan bahwa seluruh ibadah, pengorbanan, dan hidup-mati hanyalah untuk Allah, Sang Tuhan Semesta Alam.

Ini mengingatkan umat manusia untuk mengabdikan seluruh aspek kehidupannya hanya kepada Allah SWT dan menyadari bahwa hidup ini adalah bentuk ibadah dan penghambaan kepada-Nya.

Dalam Surat Qur’an Al-An’am Ayat 162 tersebut memuat pesan pokok dalam Islam tentang ketaatan dan kepatuhan sepenuhnya kepada Allah SWT.

Ayat ini juga mengajarkan bahwa semua perbuatan baik, termasuk sholat dan ibadah-ibadah lainnya, harus dilakukan dengan penuh kesadaran dan ikhlas, semata-mata karena Allah sebagai bentuk pengabdian dan cinta kepada-Nya.

Manusia diingatkan untuk menghargai dan mempersembahkan seluruh hidupnya sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat-Nya. Ayat ini mengajarkan tentang pentingnya menjalani kehidupan dengan kesadaran bahwa segala hal yang dilakukan hanya untuk Allah semata.

Menurut Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI), dalam laman resminya bahwa tafsir ayat inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi robbil alamin menggarisbawahi pentingnya mengabdi hanya kepada Allah.

Tidak boleh ada sekutu bagi-Nya dalam bentuk apa pun, karena Allah adalah Maha Esa dan tidak ada yang setara dengan-Nya.

Manusia diwajibkan untuk mengabdikan dirinya kepada-Nya dalam bentuk ibadah ritual maupun dalam seluruh aspek kehidupan, dari awal hidup hingga akhir hayat.

Sementara itu, dalam buku berjudul Buku Panduan Shalat Doa & Dzikir (2019) karya Ust. A Solihin As Suhaili, disebutkan arti inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi robbil alamin adalah disebut pula doa iftitah yang berarti pembukaan. Dalam sholat, doa iftitah berfungsi sebagai pembukaan yang mengandung pujian kepada Allah SWT yang Maha Besar, dan dibaca dengan khusyuk dan tulus.

inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi robbil alamin adalah ayat yang mengajarkan makna mendalam tentang pengabdian dan kesadaran bahwa segala hal dalam kehidupan ini seharusnya dilakukan hanya untuk Allah SWT, tanpa adanya sekutu atau tujuan lain di baliknya.

Ayat inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi robbil alamin mengingatkan manusia tentang esensi hidup yang sejati dalam menghadapkan diri kepada Sang Pencipta dengan sepenuh hati dan kesadaran. (***//Berbagai Sumber)

Hidup Untuk Sebuah Pengabdian Hanya Pada Allah SWT

jpn

Foto : Penelurusan Geogle

Bimantika.net -Manusia diciptakan dengan tugas beribadah kepada Allah SWT,.

Sebagaimana firman-Nya, “Aku Tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (adz-Dzaariyat:5 6).

Manakala manusia hendak mengabdi kepada Allah SWT, harus ada tiga unsur yang dipenuhinya dalam hidup ini, yaitu sebagai berikut.

Pertama, Ketundukan Hati kepada Allah SWT

Ketundukan hati kepada Allah membuat seorang muslim tidak merasa berat dalam menjalankan pengabdian, bahkan dia tidak akan bersedih hati bila hal-hal yang tidak menyenangkan menimpa dirinya.

Allah berfirman,

“Tidak! Barangsiapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (al-Baqarah: 1 1 2).

Kedua, Taat kepada Allah Tanpa Perasaan Berat

Pengabdian kepada Allah SWT hanya bisa dilakukan manakala seseorang tidak memiliki perasaan berat pada ketentuan-Nya. Allah berfirman,

“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (an-Nisaa’: 65).

Ketiga, Menyerahkan Diri Sepenuhnya Tanpa Perasaan Berat

Apapun yang dilakukan manusia dalam hidup ini, bila diserahkan sepenulmya kepada Allah, yakni dalam rangka mencari ridha-Nya, maka dia bisa termasuk orang yang mengabdikan diri kepada-Nya.

Allah SWT berfirman,

“Katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam (al: An’am: 162).

Mengingat luasnya cakupan ibadah, maka para ulama membaginya menjadi dua macam,

Dua Macam Ibadah tersebut yaitu ibadah mahdhah (khusus) yang kaitannya langsung dengan Allah (habl min Allah) dan ibadah ghair mahdhah (umum) yang kaitannya antar sesama manusia dan lingkungan (habl mi al-naas).

Seseorang akan menjadikan kehidupannya untuk mengabdi kepada Allah SWT apabila ia menunjukkan ketaatan terhadap ketentuan Allah SWT.

Karena itu, seorang mukmin selalu memiliki kesiapan untuk mendengarkan ketentuan Allah dalam rangka memahami dengan sebaik-baiknya untuk selanjutnya ditaati sesuai dengan apa yang menjadi tuntutannya,

Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan: “Kami mendengar dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang yang beruntung (QS 4:65).

Orang yang siap menanggung resiko akan selalu menunjukkan sikap dan perilaku yang menunjukkan pengabdiannya kepada Allah.

Baik dalam situasi menyenangkan atau tidak menyenangkan dalam pandangan duniawi, bahkan dalam keadaan aman maupun terancam.

Tegasnya, ia tidak akan goyah dari jalan pengabdian, apapun situasi dan kondisinya, bahkan bila mengalami kesulitan, ia tidak boleh merasa sebagai orang yang paling sulit karena generasi terdahulu juga lebih sulit dalam mempertahankan dan memperjuangkan tegaknya nilai-nilai kebenaran yang datang dari Allah SWT.

Inilah yang sering disebut dengan istiqomah yang amat ditegaskan oleh Allah SWT termasuk kepada Nabi Muhammad SAW.

Bebagaimana firman-Nya: Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan (QS 11:112).

Karena tugas ibadah itu melekat pada perjalanan hidup manusia, maka tugas ibadah itu berlaku sepanjang hayat.

Selama kita masih dapat menghirup udara segar di dunia, maka sepanjang itu pula kita tetap memiliki kewajiban untuk mengabdi kepada Allah SWT.(**Berbagai Sumber)

Say No To Drug !! Polisi Gencar Sosialisasi Bahaya Narkoba

jpn

Bimantika.net -Dengan tidak memandang tempat, Polres Dompu melalui Kanit II Diksatresnarkoba kembali melakukan sosialisasi, himbauan serta upaya cegah bahaya peredaran narkotika di tengah-tengah masyarakat di rumah-rumah warga.

Sebelumnya, di Pangkalan Ojek, di Lingkungan Sawete Timur, seperti biasanya rutin dilakukan sentuhan sosialisasi sekaligus penyuluhan bahaya narkoba hingga di lingkungan Sawete Barat, Kelurahan Bali Satu, Kecamatan Dompu, Sabtu (9/9/2023) sekira Pukul 08.00 wita.

Hadir saat sosialisasi antara lain, Kanit I Aipda M.Syarifudin, S.H, Briptu Rendra Istinsujara, Briptu Hari Dwiantara, Bripda M Yusril menyasar dan menyambangi langsung sejumlah rumah warga setempat.

Pada pelaksanaannya, Kanit I Idik satresnarkoba Aipda M Syarifuddin,S.H serta anggota memberikan arahan sekaligus membagikan stiker yang membawa pesan kepada masyarakat untuk menjauhi narkoba.

“Penyelamatan generasi muda tidak hanya di pundak Pemerintah melainkan juga tugas segenap elemen bangsa,” ungkap Syarifuddin pada sejumlah warga yang ia temui.

Di samping itu, juga dilakukannya penyuluhan sosial sebagai ujung tombak dalam penyampaian informasi kepada masyarakat terkait bahaya penyelahgunaan Napza.

“Penyuluh sosial harus lebih intensif memberikan edukasi dan mendisimenasi informasi, memberikan layanan responsif maupun asistensi kepada masyarakat,” tuturnya saat dimintai keterangan.

Untuk kegiatannya sendiri, hasil yang tercapai, yakni diharapkan generasi muda penerus bangsa dapat dicegah melalui kegiatan sosialisasi.

“juga menambah wawasan dan pengetahuan masyarakat tentang Narkotika dan obat-obatan terlarang lainnya serta dapat menjadi Penggiat Anti Narkoba di lingkungannya,” jelasnya.

Giat sosialisasi narkoba di pangkalan ojek di bali satu berjalan lancar dan situasi aman terkendali.

“Say no to drugs,” tegas Syarifuddin singkat. (***)

Cegah Perdagangan Orang, Bhabinkamtibmas Katua Sosialisasi ke Warga Binaan

jpn

Bimantika.net -Bhabinkamtibmas Desa Katua Polsek Dompu menggelar Sosialisasi Terkait Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) Sekaligus Menyampaikan Himbauan dan pesan-pesan Kamtibmas Kepada Warga Binaan.

Kegiatan ini dia gelar langsung ke rumah – rumah warga (door to door) di Desa Katua Kecamatan Dompu Kabupaten Dompu, Sabtu (9/9/2023) sekira pukul 10.00 Wita.

Bhabinkamtibmas Menyampaikan Himbauan Kepada Warga Agar Tidak cepat terpengaruh oleh Ajakan Oknum Oknum yg tidak Bertanggung Jawab yg Menjanjikan untuk Bekerja di Luar Negeri Secara Ilegal.

Pada Kesempatan itu Juga Bhabinkamtibmas memberikan pesan-pesan Kamtibmas terhadap Warga Binaan apabila mendapatkan informasi terkait hal-hal yang melanggar hukum agar
segera menyampaikan kepada bhabinkamtibmas atau bhabinsa

Terciptanya Hubungan yang Harmonis Antara Bhabinkamtibmas dengan Warga Binaan yang ada di kel.dorotangga

Dengan Hadirnya Polisi dalam hal ini bhabinkamtibmas akan Memberikan Rasa Aman dan Nyaman di Tengah Tengah Masyarakat.

Kegiatan Berakhir pada Pukul 12.00 Wita berjalan dengan Aman dan Lancar. (***)

Empat Golongan Manusia, Yang Paling Buruk Rojulun Laa Yadri wa Laa Yadri Annahu Laa Yadri

jpn

Bimantika.net -Ada 4 golongan manusia menurut Imam Al-Ghazali.

Pertama, Rojulun Yadri wa Yadri Annahu Yadri { Seseorang yang Tahu (berilmu), dan dia Tahu kalau dirinya Tahu.

Orang ini bisa disebut ‘Alim atau Mengetahui. yang harus kita lakukan adalah Mengikutinya.

Apalagi kalau kita masih termasuk dalam golongan orang yang awam . yang masih butuh banyak diajari.

Maka sudah seharusnya kita mencari orang yang seperti ini, duduk bersama dengannya akan menjadi pengobat hati.

Ini adalah jenis manusia yang paling baik. Jenis manusia yang memiliki kemapanan ilmu, dan dia tahu kalau dirinya itu berilmu, maka ia menggunakan ilmunya. Ia berusaha semaksimal mungkin agar ilmunya benar-benar bermanfaat bagi dirinya, orang sekitarnya, dan bahkan bagi seluruh umat manusia.

Manusia jenis ini adalah manusia unggul. Manusia yang sukses dunia dan akhirat.

Kedua, Rojulun Yadri wa Laa Yadri Annahu Yadri (Seseorang yang Tahu (berilmu), tapi dia Tidak Tahu kalau dirinya Tahu).

Untuk type ini, bolehlah kita sebut dia seumpama orang yang tengah Tertidur.

Sikap kita kepadanya Bangunkan dia Manusia yang memiliki ilmu dan kecakapan, tapi dia tidak pernah menyadari kalau dirinya memiliki ilmu dan kecakapan.

Manusia jenis ini sering kita jumpai di sekeliling kita. Terkadang kita menemukan orang yang sebenarnya memiliki potensi yang luar biasa, tapi ia tidak tahu kalau memiliki potensi.

Karena keberadaan dia seakan gak berguna, selama dia belum bangun manusia ini sukses di dunia tapi rugi di akhirat.

Ketiga, Rojulun Laa Yadri wa Yadri Annahu Laa Yadri {Seseorang yang Tidak tahu (tidak atau belum berilmu), tapi dia Tahu alias sadar diri kalau dia Tidak Tahu}

Menurut Imam Ghazali, jenis manusia ini masih tergolong baik. Sebab, ini jenis manusia yang bisa menyadari kekurangannya.

Ia bisa mengintropeksi dirinya dan bisa menempatkan dirinya di tempat yang sepantasnya. Karena dia tahu dirinya tidak berilmu, maka dia belajar.

Dengan belajar itu, sangat diharapkan suatu saat dia bisa berilmu dan tahu kalau dirinya berilmu. Manusia seperti ini sengsara di dunia tapi bahagia di akhirat.

Keempat, Rojulun Laa Yadri wa Laa Yadri Annahu Laa Yadri { Seseorang yang Tidak Tahu (tidak berilmu), dan dia Tidak Tahu kalau dirinya Tidak Tahu}

Dan menurut Imam Ghazali, inilah adalah jenis manusia yang paling buruk.

Ini jenis manusia yang selalu merasa mengerti, selalu merasa tahu, selalu merasa memiliki ilmu, padahal ia tidak tahu apa-apa.

Repot nya manusia jenis seperti ini susah disadarkan, kalau diingatkan ia akan membantah sebab ia merasa tahu atau merasa lebih tahu.

Jenis manusia seperti ini, paling susah dicari kebaikannya.

Model ini adalah manusia yang tidak sukses di dunia, juga merugi di akhirat.

Untuk itu mari kita introspeksi diri masing-masing, di kelompok manakah kita berada.

Alfandi dalam Ihya ‘Ulumuddin; Filsafat Ilmu dan Kesucian Hati di Bidang Insan dan Lisan, mengatakan bahwa jenis manusia keempat ini paling buruk,

Celakanya, model manusia seperti ini susah diingatkan, ngeyelan, selalu merasa tahu, memiliki ilmu, berhak menjawab semua persoalan, padahal ia tidak mengetahui apa-apa.

Sehingga, kita dapat mengatakan kepada manusia golongan terakhir ini bahwa apa yang ia ucapkan lebih banyak menyesatkan karena tidak memiliki landasan keilmuan yang jelas dan mapan.


أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ⁣

“Seandainya mereka bertanya! Sesungguhnya obatnya kebodohan adalah bertanya.”

[HR. Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad dan Darimi dan dishahihkan Syeikh Salim Al Hilali dalam Tanqihul Ifadah Al Muntaqa Min Miftah Daris Sa’adah, hal. 174]. (***//Berbagai sumber)