Sholat, Terapi Religius Tenangkan Jiwa

jpn

Sumber Gambar : Inside Arabia

Bimantika.net -Shalat adalah rukun Islam kedua yang wajib bagi setiap Muslim untuk meyakini serta melaksanakannya.

Dalam shalat, sebagaimana kita ketahui bahwa setiap Muslim dituntut untuk mendirikannya setiap lima kali sehari di tiap-tiap waktunya.

Mendirikan shalat tentu mempunyai aturan, dengan melengkapi syarat-syarat, rukun-rukun, dan adab-adabnya, baik lahir maupun batin.

Secara terminologi, Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Maliabari dalam kitab Fathul Mu’in menyebutkan bahwa shalat pada pengertian syara’ adalah rangkaian ucapan dan perbuatan tertentu yang diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam.

Dengan pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa shalat tidak bisa dilaksanakan secara sembrono,.

Karena itu setiap muslim diharuskan mempelajari ilmu yang meliputi pembahasan tentang aturan-aturan shalat, yaitu ilmu fiqih.

Selain hal-hal yang terkait dengan aturan shalat, pada praktiknya, ternyata shalat itu mempunyai manfaat yang dapat dirasakan kebaikannya.

Salah satunya adalah memberi pengaruh pada ketenangan jiwa.

Pernyataan ini tentu bukan tanpa alasan, ada banyak penelitian psikologis yang mengungkapkan hal itu berdasarkan kajian ilmiah,

Yakni dengan istilah bernama ‘terapi religius’. Terapi religius adalah bagian dari cabang psikoterapi (terapi jiwa).

Menurut penelitian Dedy Susanto berjudul Psikoterapi Religius sebagai Strategi Dakwah dalam Menanggulangi Tindak Sosiopatic (2013), terapi religius merupakan sebuah penyembuhan terhadap pola perilaku menyimpang dengan menggunakan pendekatan-pendekatan Agama.

Sebagaimana kita ketahui, setiap manusia selalu dilanda pada ragam permasalahan tentang kehidupan, seperti kegagalan dalam soal karir, ekonomi, dan problematika sosial lainnya.

Tidak jarang akibat permasalahan tersebut akan mengalami gangguan jiwa, sehingga berdampak pada kesehatan jasmani, baik fisik maupun mental, termasuk juga di dalam hubungan sosialnya.

Sangat penting bagi manusia untuk rileks di kala pikirannya mengalami gejala stres berat. Sangat penting pula baginya untuk selalu memperhatikan kondisi dirinya dalam menyikapi permasalahan yang ada.

Oleh sebab itu, dibutuhkan terapi jiwa agar pengembangan, pemberdayaan potensi, dan kecerdasan fitrah manusia dapat dikondisikan dengan stabil.

Ritual shalat merupakan ibadah yang bisa menjadi praktik terapi jiwa dengan sangat sederhana.

Melalui shalat, manusia bisa berhubungan langsung antara seorang hamba kepada Allah SWT tanpa ada sekat komunikasi yang dapat terpisahkan.

Pada praktiknya, shalat memiliki norma khusus yang dapat memelihara pikiran manusia yang mengerjakannya.

Karena itu, seyogyanya kita dituntut untuk khusyu dalam shalat, yakni konsentrasi memusatkan pikiran pada satu titik dengan segala kerendahan hati sebagai bentuk penghambaan kepada Allah.

Menurut Ibnu Hajar Ansori dkk dalam penelitian berjudul Psikologi Shalat (2019), ketika seseorang itu berkonsentrasi, ia akan dituntut untuk mengontrol diri mereka, baik dalam hal perbuatan maupun pikiran.

Kontrol diri ini adalah metode pengendalian emosi seseorang serta dorongan-dorongan yang terdapat dalam dirinya.

Melalui pengendalian emosi, seseorang bisa mengarahkan energi emosi ke saluran ekspresi yang bermanfaat.

Seperti halnya orang yang shalat harus melihat ke tempat sujudnya, yaitu pada titik yang tetap ketika berdiri.

Melihat kedua kaki ketika ruku’, melihat ujung hidungnya ketika sujud, dan lain sebagainya, artinya terdapat titik pandang yang tetap pada setiap gerakan shalat agar pandangan orang yang mengerjakannya tidak terpecah sehingga dapat mempengaruhi konsentrasinya.

Selanjutnya, gerakan shalat juga dapat menstabilkan fungsi organ tubuh dengan baik.

Salah satunya sujud, ketika posisi kepala lebih rendah dari posisi jantung, urat saraf pada bagian otak akan terisi oleh darah, hal ini dapat mengakibatkan otak dapat berfungsi dengan baik.

Artinya dengan membiasakan sujud setiap harinya bisa membantu merelaksasi otot-otot kepala.

Di samping melatih konsentrasi, gerakan shalat juga memiliki esensi yang identik dengan kerendahan hati.

Bermula dengan gerakan takbiratul ihram, manusia dituntut untuk memusatkan pikiran untuk merendahkan diri ketika ber-tawajjuh kepada Allah. Diikuti gerakan ruku’ dengan membungkukkan badan yang menggambarkan sifat tawadhu’.

Gerakan berikutnya yaitu sujud di mana sebagai bentuk manifestasi penghambaan kepada Allah. Kemudian tasyahud yang berisi pujian, doa, dan keselamatan sebagai wujud harapan manusia paling tinggi.

Terakhir gerakan salam menoleh ke arah kanan dan kiri, dengan memaksudkan menebarkan keselamatan dan kebaikan untuk semua makhluk Allah. (***//sumber NU Online)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *