jpn
Bimantika.net -Pemerintah Kabupaten Bima terus memperkuat langkah strategis untuk mengembangkan potensi pariwisata daerah sebagai salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Komitmen tersebut ditunjukkan Bupati Bima, Ady Mahyudi, melalui audiensi dengan Direktur Pemasaran Pariwisata Nusantara, Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Dwi Marhen Yono, di Jakarta, Selasa (20/10/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Bupati Ady Mahyudi didampingi Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bima, Muhammad Akbar, SP., M.Si., menyampaikan proposal dukungan program prioritas penataan dan pengembangan wisata bahari Kabupaten Bima.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah untuk membangun sinergi dengan pemerintah pusat guna mempercepat pengembangan destinasi wisata yang memiliki potensi ekonomi besar.
Kabupaten Bima dianugerahi kekayaan alam bahari yang membentang dari pesisir hingga pulau-pulau dengan karakteristik dan daya tarik tersendiri.
Potensi tersebut dinilai dapat menjadi modal penting untuk mengembangkan pariwisata yang berdaya saing, membuka lapangan kerja, serta memperluas kesempatan usaha bagi masyarakat lokal.
Namun, potensi besar tersebut perlu didukung penataan kawasan yang terencana, infrastruktur memadai, fasilitas pelayanan wisata, serta sumber daya manusia yang profesional.
Karena itu, koordinasi langsung dengan pemerintah pusat menjadi salah satu langkah yang ditempuh Pemkab Bima untuk memperjuangkan dukungan program pembangunan pariwisata.
Bupati Bima Ady Mahyudi menegaskan, pengembangan wisata bahari tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam.
Diperlukan perencanaan terpadu, pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas pelayanan, dan keterlibatan masyarakat agar sektor pariwisata mampu memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan.
“Kabupaten Bima memiliki potensi wisata bahari yang luar biasa. Namun, penataan kawasan dan penyediaan infrastruktur pendukung secara terpadu dan berkelanjutan memerlukan sinergi serta dukungan penuh dari pemerintah pusat,” ujar Ady Mahyudi.
Ia menjelaskan, sejumlah tantangan masih perlu ditangani, mulai dari keterbatasan infrastruktur dan amenitas wisata, penataan kawasan destinasi, hingga penguatan kapasitas sumber daya manusia dan pelaku usaha lokal.
Melalui komunikasi dan koordinasi dengan Kementerian Pariwisata RI, pemerintah daerah berharap berbagai kebutuhan pembangunan tersebut dapat memperoleh fasilitasi sesuai dengan prioritas dan ketentuan program pemerintah pusat.
“Kami berharap usulan penataan dan pengembangan wisata bahari ini dapat ditindaklanjuti sehingga potensi yang dimiliki Kabupaten Bima benar-benar mampu memberikan manfaat bagi masyarakat,” ungkapnya.
Tujuh Program Prioritas untuk Masa Depan Pariwisata Bima
Dalam audiensi tersebut, Pemerintah Kabupaten Bima mengajukan tujuh program prioritas untuk memperkuat daya tarik dan daya saing destinasi wisata bahari.
Usulan tersebut meliputi pembangunan dermaga wisata, penataan kawasan destinasi, pengembangan atraksi wisata bahari, pembangunan fasilitas pelayanan wisata, pengembangan waterpark, penataan UMKM wisata, serta pelatihan sumber daya manusia dan pemandu wisata bahari.
Ketujuh usulan tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem pariwisata yang saling terhubung. Infrastruktur yang memadai diharapkan meningkatkan kenyamanan pengunjung, sementara pengembangan atraksi dan fasilitas wisata dapat memperpanjang waktu kunjungan serta membuka peluang usaha baru.
Di sisi lain, penataan UMKM dan peningkatan keterampilan masyarakat menjadi bagian penting agar manfaat pengembangan pariwisata tidak hanya dirasakan oleh pengelola destinasi, tetapi juga oleh pedagang kecil, pelaku kuliner, pengrajin, penyedia jasa transportasi, dan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan wisata.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bima, Muhammad Akbar, SP., M.Si., menyampaikan bahwa dukungan fasilitasi dari Kementerian Pariwisata RI diharapkan dapat memperkuat daya saing destinasi wisata Bima, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Menurutnya, pembangunan pariwisata harus berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat.
Pengembangan fasilitas fisik perlu disertai peningkatan kualitas pelayanan, promosi destinasi, penguatan UMKM, dan pelatihan tenaga kerja lokal agar masyarakat dapat mengambil peran langsung dalam pertumbuhan sektor tersebut.
“Kami optimistis, melalui koordinasi dan sinergi dengan pemerintah pusat, pengembangan wisata bahari Kabupaten Bima dapat terus didorong.
Harapannya, program ini mampu meningkatkan daya saing destinasi sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat,” jelas Muhammad Akbar.
Menjadikan Pariwisata sebagai Sumber Pertumbuhan Ekonomi Rakyat
Upaya yang ditempuh Pemkab Bima tersebut memperlihatkan pentingnya membangun komunikasi lintas pemerintahan dalam memperjuangkan program pembangunan daerah. Dengan menyampaikan kebutuhan secara langsung kepada kementerian terkait, pemerintah daerah berupaya membuka peluang dukungan yang dapat mempercepat penataan sektor pariwisata.
Bagi masyarakat Kabupaten Bima, pengembangan wisata bahari bukan semata-mata tentang pembangunan dermaga, fasilitas rekreasi, atau penataan kawasan.
Lebih dari itu, pariwisata diharapkan menjadi sumber penghidupan baru, memperluas pasar bagi produk lokal, meningkatkan pendapatan pelaku UMKM, dan menciptakan kesempatan kerja bagi generasi muda.
Apabila direncanakan dan dilaksanakan secara konsisten, pengembangan pariwisata juga dapat mendorong tumbuhnya usaha pendukung, mulai dari homestay, kuliner khas daerah, jasa pemandu, transportasi wisata, hingga produk kerajinan yang mencerminkan kekayaan budaya Mbojo.
Di tengah persaingan antardaerah dalam menarik kunjungan wisatawan, Kabupaten Bima memiliki peluang untuk memperkuat identitasnya sebagai destinasi wisata bahari yang menawarkan keindahan alam, kekayaan budaya, dan keramahan masyarakat.
Peluang tersebut membutuhkan kerja bersama, mulai dari pemerintah, pelaku usaha, komunitas wisata, hingga masyarakat di kawasan pesisir.
Karena itu, langkah berikutnya adalah memastikan setiap usulan memperoleh tindak lanjut yang jelas, mulai dari pemenuhan persyaratan program, penentuan skala prioritas, kesiapan lokasi, hingga perencanaan pembiayaan dan pemeliharaan fasilitas.
Dengan demikian, rencana pembangunan dapat diarahkan pada kebutuhan nyata dan memberikan dampak yang terukur.
Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan pariwisata tidak hanya diukur dari banyaknya fasilitas yang berdiri atau meningkatnya angka kunjungan wisatawan.
Ukuran yang tidak kalah penting adalah bertambahnya kesempatan kerja, tumbuhnya usaha masyarakat, terjaganya kelestarian lingkungan pesisir, serta meningkatnya kesejahteraan warga di sekitar destinasi.
Melalui upaya koordinasi dengan Kementerian Pariwisata RI, Bupati Bima Ady Mahyudi mendorong agar potensi bahari daerah dapat dikembangkan secara lebih terarah dan berkelanjutan.
Harapan besarnya, kekayaan alam Kabupaten Bima tidak hanya menjadi kebanggaan daerah, tetapi juga menjadi kekuatan ekonomi yang manfaatnya dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat.
Pariwisata maju, UMKM tumbuh, lapangan kerja terbuka, dan masyarakat sejahtera. Itulah tujuan yang perlu diwujudkan melalui pembangunan wisata bahari Kabupaten Bima secara terencana, kolaboratif, dan berkelanjutan.
(RRS//RumaRenggeSape//007)