Oleh : Darussalam *)
Bimantika.net Moa mengayunkan langkah dengan ringan menuju panggilan kemenangan yang berkumandang tidak jauh dari rumahnya.
Meski udara subuh begitu dingin sekali menembus jaket kulitnya, tak memudarkan semangatnya untuk menikmati rasa syukurnya menjadi hamba yang dipilih untuk selalu sujud
Imam mulai mengatur saf jamaah yang selalu ramai untuk bersujud bersama setiap lima waktu. Moa pun bergegas mengisi saf kosong tepat di sisi kanan ujung pada saf pertama.
Usai sholat subuh, kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kultum rutin mingguan. Ustad yang di undang untuk mengisi kultum dengan ringan penuh hikmah menyampaikan tausiah tentang issue issue aktual yang tengah terjadi terutama terkait dengan pemahaman sebagian umat muslim terhadap Qur’an ( 5 : 44 ) hingga selesai.
Moa dan Feo yang khusuk mendengarkan tausiah tidak bergegas pulang. Mereka seperti biasanya selalu mengisi habis subuh dengan diskusi ringan tentang berbagai hal sembari menunggu pagi.
Penuh semangat Moa memetik satu bagian dari isi tausiah ” suatu ketika ada seorang pemimpin yang didatangi oleh seorang umatnya untuk melaporkan tentang kepemimpinan seorang pemimpin desa yang tidak menegakan hukum dan atau Allah SWT.
Pemimpin itupun mendengarkan dengan seksama pemaparan dan laporan dari umatnya tersebut. Setelah selesai menjelaskan laporannya, pemipin itu kemudian balik bertanya, ” apakah anda membaca Al-qur’an? ” Ya saya selalu membaca Al-qur’an sahutnya tegas, ” apakah anda membacanya dari awal sampai akhir? Pemimpin melanjutkan pertanyaanya.
” Ya saya selalu membaca al-quran dari awal sampai akhir, jawab umat itu dengan tegas. Lalu kemudian pemimpin itu melanjutkan pertanyaannya ” apakah anda telah melaksanakan semua perintah dari al-qur’an yang telah anda baca berkali kali dari awal sampai akhir itu? Umat itu menunduk dengan wajah layu pasi, lalu pamit mengundurkan diri dari hadapan pemimpin besar.
Feo yang pun sangat khusuk mendengarkan ceramah sahabatnya yang sangat luar biasa itu penuh senyum bergumam ” memang terkadang nafsu kita kerap mendominasi dari pada keilmuan kita “,
tetapi kita patut bersyukur karena dimushollah ini tidak hanya difungsikan sebagai tempat ritual lima waktu saja namun juga menjadi rumah ilmu bagi umat kita “.
Moa terdiam memandang kosong, lamunanya tajam penuh harus, semoga disuatu waktu nanti, semua rumah ibadah yang ada dikampungnya akan dihiasi dan dipenuhi oleh tradisi tradisi keagaaman, tidak hanya ritual lima waktu berjamaah tetapi juga menjadi laboratorium keilmuan, kajian dan literasi keislaman.
Tanpa terasa matahari mulai meninggi dan jam menunjukan waktunya untuk mereka harus kembali kerumah masing masing untuk menjalankan aktifitas dan tanggung jawab sebagai seorang lelaki. ( mataram, 2/7/2021 )
*) Penulis adalah Sekretaris Umum Partai Gelora Kota Bima.

