Hasyim : Proyek Revitalisasi Serasuba Dimulai, Pemkot Bima Tata PKL dan Wahana Bermain Anak

jpn

Bimantika.net Dalam rangka mengoptimalkan fungsi dan keindahan taman, meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan, menciptakan ruang publik yang lebih nyaman dan atraktif demi kenyamanan pengunjung, Pemerintah Kota Bima memulai pembangunan revitalisasi Lapangan Serasuba Kota Bima. Kamis, 25 September 2025.

Pemerintah Kota Bima melalui Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik, Dr. Muhammad Hasyim, S.Sos., M.Ec.Dev, MH, menyampaikan bahwa saat ini tahapan pekerjaan pembangunan revitalisasi lapangan Serasuba dimulai sudah dua minggu berjalan.

“Tahapan awal merelokasi atau memindahkan PKL didepan Museum Asi Mbojo” ungkapnya.

Juru Bicara Pemkot Bima ini menjelaskan, untuk mempermudah dan memperlancar pembangunan revitaliasi Lapangan Serasuba, saat ini dinas Koperindag dan dinas PUPR melakukan tahapan menata Pedagang Kaki Lima (PKL) sekitar area Serasuba untuk dipindahkan dibagian timur Serasuba. Upaya ini dilakukan demi kelancaran selama proses revitalisasi lapangan serasuba.

“Sebanyak 94 PKL ditata di depan PT. Pegadaian hingga depan Museum Asi Mbojo. Sementara untuk 19 unit wahana permainan anak-anak diarahkan ke Paruga Na’e,” ungkap Hasyim.

Lebih lanjut, Hasyim mengajak dan berharap kepada seluruh elemen masyarakat, terutama pengunjung Serasuba untuk bersabar dan mendukung pembangunan revitalisasi lapangan Serasuba hingga selesai.

Hal ini dilakukan semata-mata untuk memberikan rasa nyaman dan mendukung Gerakan Kota Bima BISA (Bersih, Indah, Sehat dan Asri) untuk mewujudkan kualitas lingkungan perkotaan yang lebih nyaman dan asri.

“Revitalisasi Lapangan Serasuba lama waktu pekerjaan hingga 31 Desember 2025. Revitalisasi meliputi penataan taman, joging track, lapak PKL, hingga fasilitas toilet umum akan disiapkan,” pungkasnya. (****//Kominfo)

Do’a Merupakan Otak Ibadah

jpn

Bimantika.net Doa merupakan sebuah permohonan dari seorang hamba yang ditujukan kepada Allah SWT.

Doa adalah inti ibadah yang mendalam. Berikut ini dalilnya.
Doa berasal dari bahasa Arab الدعاء yang memiliki arti permintaan atau permohonan.

Doa dalam diri setiap muslim mempunyai manfaat yang sangat besar.

Hal ini tak lain karena doa adalah kunci atau otak dari ibadah seseorang.

Dengan demikian, doa merupakan inti dari peribadatan. Sebagaimana Sabda Rasulullah Muhammad Shallallaahu’alaihi Wa Sallam: ”Doa itu adalah otak ibadah”.

Frasa “doa otaknya ibadah” berasal dari hadis Rasulullah SAW, “Doa itu adalah otak ibadah”, yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi. Doa disebut sebagai otak ibadah.

Karena merupakan inti dan pangkal dari seluruh ibadah, sebab dalam setiap ibadah terdapat unsur doa.

Doa adalah bentuk menjalankan perintah Allah SWT agar hamba-Nya memohon kepada-Nya, dan dengan berdoa, seorang muslim memutuskan pengharapan hanya kepada Allah SWT.

Makna “Doa adalah Otak Ibadah”
Inti dari Segala Ibadah: Ibadah seperti shalat mengandung doa sejak takbir hingga salam.

Selain itu, tidak ada ibadah lain yang bisa dilakukan tanpa unsur doa, karena inti dari semua ibadah adalah memohon dan mengagungkan Allah.

Perwujudan Perintah Allah: Dengan berdoa, seorang muslim menjalankan perintah Allah SWT dalam firman-Nya yang berarti, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu”.

Membentuk Ketergantungan Hanya kepada Allah: Melalui doa, seorang hamba memutus ketergantungannya kepada selain Allah SWT. Ketika segala sesuatu berjalan sesuai keinginan, itu karena doa, yang menunjukkan bahwa segala hajat harus dimintakan kepada-Nya.

Dalilnya
Hadis: “الدُّعَاءُ مُخُ الْعِبَادَةِ” (Ad-du’a mukhul ‘ibadah), yang berarti “Doa adalah otaknya ibadah”. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dari Anas bin Malik.

Firman Allah: QS. Al-Mu’min ayat 60, yang berbunyi, “Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu'”. (***)

Gerak Cepat Polsek Woha Amankan Pelaku Penganiayaan di Desa Rabakodo

jpn

Bimantika.net Personel Polsek Woha Polres Bima Polda NTB mengamankan terduga pelaku penganiayaan di Desa Rabakodo Kecamatan Woha Kabupaten Bima.

Terduga pelaku yang berinisial A (L/18) ini diamankan setelah melakukan penganiayaan terhadap korban berinisial AR (L/16).Tindak pidana penganiayaan itu terjadi pada Selasa 23 September 2025, sekitar pukul 21.40.Wita.

Kepolisian menyampaikan Kronologi, bahwa Berawal korban sedang duduk di Kedai Kopi Taman cerita depan SMAN 1 Woha.

Tidak lama kemudian terduga pelaku datang dan terjadi Cekcok antara korban dengan satpam (saksi) terkait dengan urusan osis sekolah.

Tiba-tiba terduga pelaku melayangkan bogem mentah ke korban beberapa kali yang mengenai wajah dan kepala korban.

Akibat dari kejadian tersebut korban mengalami luka di bagian dahi.

Hal itu dibenarkan oleh Kapolres Bima AKBP Eko Sutomo S.I.K.,M.I.K.,melalui Kasatreskrim AKP Abdul Malik SH.

Sementara itu Kapolsek Woha AKP Muhtar menjelaskan pihak keluarga korban sempat melakukan aksi blokade jalan.

Namun aksi itu tidak berlangsung lama setelah diberikan pemahaman pihak keluarga korban kembali membuka jalan tersebut.

Tepatnya pukul 22.50.Wita terduga pelaku menyerahkan diri ke Mapolsek Woha dan setelah itu terduga pelaku digiring ke Mapolres Bima untuk diproses hukum selanjutnya.(***)

Perangi Kejahatan Narkoba, Walikota Bima Aji Man Ajak Semua Komponen Berpartisipasi

jpn

Bimantika.net Sebagai bentuk upaya pencegahan terhadap peredaran narkoba, khususnya di Kota Bima, Pemerintah Kota Bima membangun sinergi antara seluruh komponen di Kota Bima.

Salah satunya dengan mengadakan Kegiatan Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika (P4GN) Bidang Rehabilitasi yang bertempat di Aula Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Bima, Selasa, ( 23/9/2025).

Acara yang dibuka secara langsung oleh Walikota Bima, H. Arahman H. Abidin, SE,. dihadiri oleh Plt. Kepala Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Bima, Sunardin, S.Ip, Ketua Tim Rehabilitasi Kota Bima.

Serta di hadiri para peserta Bimbingan Teknis P4GN.

Wali Kota Bima menekankan bahwa narkoba merupakan masalah kita bersama.

“Diperlukan kerjasama dan kepedulian setiap individu untuk memeranginya” ujar Aji Man Sapaan akrab Walikota Bima.

Untuk itu Wali Kota mengajak untuk memperkuat sinergi antara Pemerintah Kota, dengan Tenaga Teknis Kesehatan di seluruh Kota Bima.

Serta elemen masyarakat untuk bersama-sama menjadi garda terdepan pencegahan dan pemberantasan Penyalahgunaan Narkoba.

“Kita tidak mau generasi kita rusak karena narkoba, jadi mari kita bersama-sama menjadi pribadi yang ikut serta berperan mencegah peredaran narkoba”, tegasnya.

Aji Man juga mengatakan bahwa narkoba pada saat ini bukan lagi merupakan peredaran gelap, melainkan sudah menjadi peredaran terang yang mudah dicari bagaikan barang halal pada lingkungan masyarakat Kota Bima.

Peredaran gelap narkoba bukan hanya menyasar orang dewasa dan remaja, melainkan juga anak-anak.

“Saya harap kegiatan kita ini tidak hanya seremoni saja, melainkan aksi nyata untuk melakukan perang besar dalam melawan peredaran narkoba yang semakin marak di Kota Bima,” pungkasnya.

Wali Kota juga berharap bahwa setelah RSUD Kota Bima selesai dibangun, maka pengalihan fungsi rumah sakit lama dapat dimanfaatkan untuk penanganan rehabilitasi bagi pengidap narkoba dan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ),

“Sehingga dapat memberikan layanan yang lebih terfokus dan efektif bagi masyarakat yang membutuhkan” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut Walikota Bima didampingi pula oleh Kadis Kesehatan Kota Bima, serta Direktur RSUD Kota Bima. Kegiatan Pelatihan ini dilanjutkan dengan penyerahan piagam penghargaan secara simbolis kepada peserta pelatihan, yakni Ners Suciati Kurniati, S.Kep., M.Kep., dr Arif Rahmansyah, dan Evi Haryani, Amd. Kep., serta diakhiri dengan sesi foto bersama. (****//Kominfo)

Walikota Bima Aji Man Tegaskan Layanan Informasi Harus Satu Pintu, Menjawab Beredar Issu Gagi P3K Paruh Waktu

jpn

Bimantika.net -Menyusul beredar luasnya pernyataan tentang gaji PPPK Paruh Waktu yang hanya 300 ribu di media sosial, sehingga membuat masyarakat kebingungan menkonsumsi informasi, Wali Kota Bima menegaskan penyampaian informasi pemerintah harus satu pintu.

“Saya minta semua pejabat agar penyampaian informasi pemerintah harus melalui kanal satu pintu, melalui Dinas Kominfotik,” tegas Wali Kota Bima, H. Arahman pada rapat koordinasi lingkup Pemkot Bima, di Aula Maja Labo Dahu kantor Wali Kota, Senin (22/09).

Aji Man sapaan akrab Walikota Bima menambahkan, hal ini penting dilakukan agar masyarakat dapat memperoleh kepastian hukum tentang layanan komunikasi publik pemerintah. Sehingga masyarakat tidak dibuat bingung.

“Padahal sampai saat ini kita masih pelajari soal besaran gaji PPPK Paruh Waktu. Kita ikuti sesuai aturan yang berlaku,” ungkapnya.

Aji Man menjabarkan bahwa Sesuai PermenpanRB nomor 16 tahun 2025, besaran gaji PPPK Paruh Waktu akan diberikan paling sedikit setara dengan pendapatan yang diterima saat menjadi pegawai non-ASN atau sesuai dengan upah minimum yang berlaku.

“Namun kita kondisikan dengan kemampuan keuangan daerah,” imbuhnya. (****//Kominfo)

Ciri Pemimpin Yang Baik Dalam Pandangan Islam

jpn

Bimantika.net sifat dan kepemimpinan diera sekarang yang urgen secara umum meliputi beberapa faktor.

Beberapa faktor tersebut meliputi komunikasi efektif, kemampuan mengambil keputusan yang tepat, integritas dan kejujuran, kemampuan menginspirasi dan memotivasi, serta empati terhadap yang di pimpin.

Sifat-sifat ini membantu pemimpin membimbing, menyatukan, dan mencapai tujuan untuk kebaikan bersama.

Ciri pemimpin yang baik menurut Islam mencakup sifat dasar seperti Sidiq (jujur), Amanah (bertanggung jawab), Tablig (menyampaikan kebenaran), dan Fathanah (cerdas).

Selain itu, pemimpin harus tunduk pada aturan Allah, memiliki akhlak mulia dan jiwa sosial, serta senantiasa bersikap lemah lembut, adil, dan terbuka terhadap kritik.

Sifat-sifat Kunci (Sifat Wajib Rasul):
Shiddiq (Jujur dan Benar): Pemimpin harus selalu berkata benar dan bertindak jujur kepada Allah, diri sendiri, dan orang lain.

Amanah (Bertanggung Jawab): Pemimpin harus setia kepada Allah dan rakyatnya, menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab, dan tidak menyalahgunakan kekuasaannya.

Tablig (Menyampaikan Kebenaran): Pemimpin wajib menyampaikan amanah dan kebenaran dengan jelas kepada orang-orang yang dipimpinnya.

Fathanah (Cerdas dan Berpikiran Maju): Pemimpin harus memiliki kecerdasan dan wawasan yang luas untuk mampu mengelola urusan pemerintahan dengan baik.

Ciri-Ciri Tambahan:
Tunduk kepada Aturan Allah: Pemimpin harus menjadikan aturan Allah sebagai pedoman utama dalam setiap kebijakan dan keputusannya, bukan hawa nafsu.

Akhlak Mulia: Pemimpin harus memiliki kualitas moral yang tinggi, yang tercermin dalam akhlaknya sehari-hari.

Jiwa Sosial dan Humanis: Seorang pemimpin tidak boleh tega membangun kebahagiaan di atas penderitaan orang lain, dan harus memiliki empati serta kepedulian terhadap rakyatnya.

Lemah Lembut dan Tidak Kasar: Pemimpin harus bersikap lembut dan tidak keras dalam berinteraksi dengan rakyatnya.

Niat yang Ikhlas: Niat pemimpin harus tulus karena Allah, bukan karena ingin mencari jabatan atau keuntungan pribadi.
Keadilan: Pemimpin harus memutuskan perkara dengan adil dan tidak berat sebelah.

Terbuka dan Menerima Kritik: Pemimpin yang baik bersedia menerima ide, saran, dan kritik dari rakyatnya untuk perbaikan diri dan pemerintahan. (****)

PHBS Gagal Tanpa Air Bersih: Tanggung Jawab Siapa?

jpn

Oleh: Rita Kartika Syarif, S.KM., M.Kes (Aktivis Muslimah Peduli Umat Kota Bima)

Bimantika.net Air adalah sumber kehidupan. Hampir tidak ada satu pun aktivitas manusia, tumbuhan, maupun hewan yang bisa berjalan tanpa air.

Dari bernapas, makan, mencuci, hingga beribadah, semuanya membutuhkan air.

Ironisnya, di tengah melimpahnya kekayaan alam negeri ini, air bersih justru semakin sulit diakses oleh rakyat banyak.

Di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, krisis air bersih bukan sekadar isu musiman, melainkan masalah tahunan yang terus berulang.

Laporan BPBD Kota Bima tahun 2024 mencatat 12.943 jiwa di 13 kelurahan terdampak kekeringan saat musim kemarau.

Bantuan air tangki hanya menjadi solusi darurat, sementara lebih dari 90% warga masih mengandalkan sumur bor dangkal yang justru mengancam keberlanjutan air tanah dan ekologi.

Masalah bertambah ketika distribusi air PDAM kerap macet berhari-hari, tetapi tarif tetap dibebankan.

Banyak keluarga akhirnya harus membeli air jerigen atau tangki dengan harga mahal.

Di kota kecil yang dikenal sebagai ‘Kota Tepian Air’, pertanyaan besar pun muncul: Mengapa krisis air justru menjadi realita yang berulang?

Musim hujan seharusnya membawa berkah berupa melimpahnya air.

Namun, realitasnya tidak demikian. Di banyak daerah, termasuk Kota Bima, krisis air tetap terjadi bahkan ketika curah hujan tinggi.

Mengapa bisa begitu?
Air berlimpah, tetapi tidak terserap → Sebagian besar air hujan langsung mengalir ke sungai dan laut tanpa meresap menjadi cadangan air tanah.

Hal ini diperparah dengan berkurangnya hutan dan daerah resapan.

Banjir bukan jaminan ketersediaan air bersih → Saat banjir melanda, air justru bercampur lumpur, limbah rumah tangga, dan kotoran hewan, sehingga tidak layak untuk dikonsumsi.
Distribusi tidak merata

→ Ada daerah tergenang air, sementara daerah lain tetap kering karena tidak ada sistem penampungan atau jaringan distribusi yang memadai.

Kualitas air menurun → Musim hujan sering membawa pencemaran, baik dari limbah pertanian maupun sampah kota, sehingga masyarakat kesulitan mendapatkan air yang benar-benar bersih.
Inilah paradoksnya: musim hujan bisa menghadirkan bencana banjir sekaligus krisis air bersih.

Tanpa tata kelola yang baik, limpahan hujan tidak menjadi rahmat, melainkan masalah baru bagi rakyat.

PHBS: Ilusi Tanpa Air Bersih
Sejak 1996, pemerintah mengampanyekan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan 10 indikator utama, seperti mencuci tangan dengan sabun, menggunakan jamban sehat, hingga mengonsumsi makanan bergizi.

Namun, semua indikator itu berdiri di atas fondasi ketersediaan air bersih.
Bagaimana masyarakat bisa mencuci tangan dengan benar jika air tidak mengalir?

Bagaimana balita terhindar dari diare jika air minum terkontaminasi?

Bagaimana rumah tangga menjaga kebersihan jika pasokan air terbatas?

Bahkan fasilitas kesehatan pun terancam. Sterilisasi alat medis, perawatan pasien, hingga pencegahan infeksi nosokomial semuanya membutuhkan air. Tanpa itu, kualitas layanan kesehatan menjadi rapuh.

Dengan demikian, berbicara PHBS tanpa memastikan ketersediaan air bersih tidak lebih dari sekadar slogan kosong.
Krisis air bukan hanya soal kesehatan, melainkan juga beban sosial dan ekonomi.
Perempuan sering kali menjadi pihak yang paling terdampak. Mereka harus mengantre atau membeli air jerigen, mengorbankan waktu produktif, bahkan terkadang menempuh jarak jauh demi mendapatkan air.

Biaya air bisa mencapai seperempat dari upah minimum—beban berat bagi keluarga miskin.
Anak-anak, terutama yang perempuan, sering dilibatkan membantu mencari air, yang berujung pada terganggunya waktu belajar mereka.

Dengan demikian, krisis air berkontribusi pada mata rantai kemiskinan struktural: kesehatan terganggu, ekonomi terbebani, pendidikan tersendat.

Perspektif Islam: Air Hak Publik, Bukan Komoditas
Islam memberikan pandangan yang tegas soal air. Allah SWT berfirman:

“Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup.” (QS. Al-Anbiya: 30)

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah)

Dari sinilah jelas, air adalah hak publik (milkiyyah ‘ammah) yang tidak boleh dimonopoli atau diprivatisasi.

Negara berkewajiban penuh menjamin distribusi air secara adil.

Sejarah mencatat, Khalifah Umar bin Khattab membangun kanal, sumur umum, bahkan melarang komersialisasi air yang merugikan rakyat.

Ia memastikan air tersedia untuk semua, tanpa diskriminasi kelas sosial. Itulah teladan pengelolaan berbasis keadilan, pemerataan, dan keberlanjutan.

Kenyataan hari ini menunjukkan bahwa krisis air bukan semata soal kekurangan sumber daya, melainkan krisis tata kelola.

Indonesia memiliki sekitar 2,7 triliun m³ air per tahun—cukup untuk seluruh rakyat. Namun, alih fungsi lahan, kerusakan hutan, kebocoran distribusi PDAM, dan komersialisasi membuat rakyat tetap kesulitan.

Inilah buah dari paradigma kapitalistik yang menjadikan air sebagai komoditas ekonomi, bukan hak dasar manusia. Selama sistem ini dipertahankan, masalah turunan seperti distribusi timpang, tarif mahal, dan monopoli akan terus bermunculan.
Islam menawarkan solusi menyeluruh:

Air dikelola negara sebagai hak rakyat.
Konservasi lingkungan dijamin. Distribusi adil ditegakkan. Keberlanjutan dipastikan.

Masalah air bukan sekadar teknis, melainkan paradigma kepemimpinan. Kepemimpinan dalam Islam bukan sekadar urusan teknis mengatur negara, tetapi amanah besar yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab di hadapan Allah SWT.

Seorang pemimpin adalah pelayan rakyat, bukan penguasa yang mencari keuntungan pribadi.

Paradigma kepemimpinan Islam berpijak pada prinsip:
Amanah dan Pertanggungjawaban: Pemimpin dipilih bukan karena kepentingan kelompok atau politik, tetapi karena kapasitasnya menjalankan syariat dan menyejahterakan rakyat.

Keadilan: Semua kebijakan harus melindungi hak rakyat tanpa diskriminasi, termasuk hak atas air bersih.

Kesejahteraan dan Rahmatan lil ‘Alamin: Pemimpin menjadikan kebijakan sebagai sarana mewujudkan kemaslahatan umat dan menjaga kelestarian alam.

Sejarah membuktikan, para khalifah seperti Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz menunjukkan kepemimpinan yang transparan, sederhana, dan berpihak pada rakyat.

Inilah model kepemimpinan yang dibutuhkan untuk mengatasi krisis struktural, termasuk masalah air bersih.
Krisis air bersih di Kota Bima hanyalah potret kecil dari masalah besar dunia. Tanpa air, PHBS mustahil berjalan.

Tanpa PHBS, kesehatan masyarakat runtuh. Dan tanpa kesehatan, bangsa kehilangan generasi masa depan.
Air adalah amanah Allah, hak dasar manusia, sekaligus syarat keberlangsungan hidup.

Mengabaikan krisis air berarti menutup mata terhadap masa depan.
Sejarah menunjukkan, sistem kapitalis demokrasi gagal melahirkan pemimpin sekelas Umar bin Khattab—pemimpin yang mampu menjadikan air sebagai rahmat bagi semua.
Hanya dengan penerapan sistem Islam secara kaffah, air bisa kembali dikelola dengan adil: menjamin kesehatan, menunjang ibadah, dan menjaga keberlanjutan generasi mendatang. Wallahua’alam. (****)

Kerja Bakti Selesai, Sampah Kembali Ada. Apa Yang Kurang?

jpn

Oleh: Rita Kartika Syarif, S.KM., M.Kes.(Aktivis Muslimah Peduli Umat Kota Bima)

Bimantika.net Sabtu pagi, 20 September 2025, Pantai Amahami—ikon pariwisata Kota Bima—terlihat berbeda. Warga, pelajar, hingga petugas bergotong-royong memungut sampah.

Ada yang membawa karung, ada yang mengumpulkan plastik. Semua bekerja dengan semangat. Rasanya menyenangkan melihat pantai bersih, nyaman, dan indah.

Namun keesokan harinya, Minggu, pemandangan itu berubah. Sampah plastik, gelas air mineral, bungkus makanan… semuanya kembali berserakan. Padahal yang ikut kerja bakti kemarin sudah berusaha sekuat tenaga.

Inilah yang membuat kita merenung: masalahnya bukan hanya di kerja baktinya, tapi di kesadaran semua pihak, termasuk pengunjung yang datang.

Pantai adalah ruang bersama. Kebersihannya hanya bisa terjaga jika setiap orang ikut merasa memiliki.

Kebersihan yang Bernilai Iman Islam mengingatkan kita:

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya…” (QS. Al-A’raf: 56)

Membuang sampah sembarangan adalah bentuk kerusakan kecil, tapi dampaknya besar. Rasulullah ﷺ bahkan menyebut menyingkirkan gangguan dari jalan sebagai bagian dari iman

Artinya, hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya ternyata punya nilai ibadah.

Kerja Bakti Itu Baik, Tapi Kesadaran Lebih Penting
Kerja bakti membersihkan pantai itu mulia.

Tapi yang lebih penting adalah bagaimana hasilnya bisa bertahan lama. Nabi ﷺ bersabda bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah yang konsisten, walau sedikit

Namun ada tantangan lain yang kita hadapi hari ini: menegur orang yang membuang sampah sembarangan sering dianggap sok suci atau sok alim.

Padahal menegur dengan cara baik adalah bentuk kepedulian. Sayangnya, kepedulian kini kadang dianggap “mengganggu”, sehingga banyak orang memilih diam.

Akibatnya, sampah terus menumpuk dan masalah kebersihan tidak pernah selesai.

Mengelola Sampah, Bukan Sekadar Memungutnya
Selain kesadaran pribadi, kita juga perlu sistem pengelolaan sampah yang lebih baik.

Langkah yang bisa dilakukan misalnya:

  1. Menyediakan tempat sampah terpisah (organik, anorganik) di area pantai
  2. Menjadwalkan pengangkutan sampah secara rutin
  3. Memanfaatkan bank sampah atau daur ulang untuk sampah plastik
  4. Melakukan edukasi berkelanjutan kepada pengunjung
  5. Menetapkan aturan tegas tentang larangan membuang sampah sembarangan

Dengan cara ini, kebersihan tidak hanya mengandalkan kerja bakti, tetapi dijaga melalui perencanaan dan manajemen yang berkelanjutan.

Belajar dari Sistem Islam
Dalam sejarah Islam, kebersihan kota bukan hanya urusan warga.

Pada masa Umar bin Khattab, ada petugas yang digaji dari baitul mal (kas negara) khusus untuk menjaga kebersihan kota Madinah, bahkan bekerja di malam hari.

Ini memberi pelajaran bahwa:

  • Negara wajib memfasilitasi kebersihan melalui sarana, aturan, dan edukasi
  • Masyarakat ikut berperan dengan menaati aturan dan menjaga fasilitas umum
  • Kolaborasi inilah yang membuat kebersihan bisa terjaga terus-menerus.

Pantai Amahami adalah wajah Kota Bima. Wajah ini hanya akan tetap indah jika kita semua—warga, pengunjung, pemerintah—ikut menjaganya.

Mungkin kita bisa mulai dari satu langkah kecil: memastikan sampah kita sendiri tidak menjadi bagian dari masalah. Dan kalaupun harus menegur orang lain, kita lakukan dengan cara yang santun. Sementara pemerintah juga memastikan fasilitas dan pengelolaan sampah berjalan dengan baik.

Karena seperti sabda Rasulullah ﷺ, menyingkirkan gangguan dari jalan adalah bagian dari iman. Dan menjaga kebersihan adalah wujud iman yang bisa kita lakukan bersama. (*)

Pemimpin yang Adil Mendapat Tempat Tertinggi dan Naungan dari Allah SWT di Hari Kiamat

jpn

Bimantika.net Pemimpin yang adil adalah pemimpin mampu mengambil keputusan dan kebijakan berdasarkan porsi yang tepat.

Mampu menerapkan kesetaraan dan kesempatan yang sama bagi semua kepentingan masyarakat yang dipimpinnya.

Pemimpin yang adil berfungsi menegakkan, meluruskan, dan memperbaiki segala kerusakan yang terjadi di wilayah yang dipimpinnya.

Balasan Allah kepada pemimpin yang adil sangatlah mulia, meliputi tempat yang tinggi di sisi Allah, mendapatkan naungan pada hari kiamat, dijamin masuk surga, serta dicintai dan didoakan kebaikan oleh umat.

Pemimpin yang adil juga akan hidup dalam kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat yang dipimpinnya.

Sementara pemimpin yang zalim akan dimurkai Allah dan menerima siksa pedih.
Balasan Langsung di Akhirat.

Pemimpin yang adil akan memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan dekat dengan Allah SWT pada hari kiamat.

Mereka termasuk dalam tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat, saat tidak ada naungan selain dari-Nya.

Pemimpin yang adil dijamin akan menjadi penghuni surga.

Mereka akan berada di atas mimbar cahaya di sisi Allah sebagai balasan atas keadilan mereka.

Keadilan yang ditegakkan pemimpin akan mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan bagi masyarakat, demikian pula sebaliknya.

Berlaku adil akan mendatangkan rida dan pahala yang tak terhingga dari Allah SWT.

Pemimpin yang adil akan berfungsi sebagai penegak keadilan, tempat perlindungan bagi yang lemah, dan pelindung hak-hak rakyat.

Perbedaan dengan Pemimpin Zalim mendapatkan
Kemurkaan Allah:

Pemimpin yang zalim akan dijauhkan dari rahmat Allah dan dimurkai-Nya.

Siksa Pedih: Mereka akan mendapatkan siksa yang pedih di akhirat.

Selama hidup di dunia, mereka akan menerima caci maki dan didoakan celaka oleh orang-orang yang mereka pimpin.

Menjadi pemimpin adalah sebuah amanah besar yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Keadilan adalah cahaya di dunia, sehingga Allah akan memberikan balasan berupa cahaya dan pahala yang besar bagi pelakunya di hari kiamat. (****)

“Selasa Menyapa” Hadir di Tengah Rakyat, Anjuran Pemimpin dalam Islam Diterapkan Ady-Irfan

jpn

Bimantika.net -Selasa Menyapa adalah program unggulan yang berlangsung dalam Era kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Bima Ady Mahyudi dan dr. H. Irfan (Ady-Irfan).

Setiap selasa, Ady-Irfan menemui langsung warga masyarakat yang dipimpinnya dengan melibatkan seluruh organisasi perangkat daerah (OPD).

Hadirnya seluruh OPD dalam selasa menyapa adalah bentuk pelayanan langsung pada masyarakat yang kini sudah dirasakan langsung manfaatnya oleh rakyat Kabupaten Bima.

Pelayanan Kesehatan Gratis salah satu manfaat langsung yang dirasakan oleh rakyat dalam program selasa menyapa tersebut.

Dalam pandangan Islam, seorang pemimpin yang turun langsung menemui, menyapa dan berinteraksi dengan rakyatnya dengan bersikap lembut, peduli, dan mengutamakan kemaslahatan umum, sebagaimana diteladankan oleh Nabi Muhammad SAW dan para khalifah seperti Umar bin Abdul Aziz.

Saat pemimpin peduli dan turun langsung ditengah+tengah warganya itulah Pemimpin yang ideal yang mencintai dan dicintai rakyatnya, serta bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan rakyat yang di pimpinnya.

Pemimpin harus bersikap lemah lembut dan tidak kasar agar rakyat tidak menjauh.

Pemimpin yang baik adalah yang mencintai rakyatnya dan mendoakan kebaikan bagi mereka, sebagaimana mereka mendoakan pemimpinnya.

Nabi Muhammad SAW diperintahkan untuk bermusyawarah dengan rakyatnya dalam urusan penting, menunjukkan pentingnya melibatkan suara rakyat dalam pengambilan keputusan.

Ada Tanggung Jawab Pemimpin Terhadap Rakyat diantaranya :

  1. Memenuhi Kebutuhan Dasar: Pemimpin wajib menjaga dan memenuhi kebutuhan rakyat dalam hal sandang, pangan, dan papan, serta kebutuhan kolektif seperti pendidikan, kesehatan, dan keamanan.
  2. Menegakkan Keadilan: Pemimpin harus menyingkirkan kepentingan pribadi atau kelompok demi kemaslahatan umum dan menegakkan keadilan.
  3. Memberikan Pertanggungjawaban: Pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas amanah rakyatnya hingga ke akhirat. Mereka diharamkan masuk surga jika mati dalam keadaan menipu rakyatnya.

Teladan Pemimpin Ideal adalah Umar bin Abdul Aziz: Dikenal karena keadilan dan kepeduliannya terhadap rakyat, serta kebijaksanaannya yang membawa manfaat besar bagi umat Islam.

Sedangkan Nabi Muhammad SAW adalah Teladan utama pemimpin dalam Islam, yang dicintai dan dicintai rakyatnya, serta selalu mementingkan kemaslahatan umat.

Dalam Islam, pemimpin terbaik sepanjang masa ialah Nabi Muhammad SAW.

Sebagai utusan Allah SWT, beliau menjadi suri tauladan sekaligus sosok panutan memimpin umat.
Allah SWT berfirman dalam surah An Nisa ayat 59,

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri (pemimpin) di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

Ciri-ciri kepemimpinan yang baik mencakup integritas, kemampuan komunikasi yang jelas, empati terhadap tim, kemampuan mengambil keputusan yang bijaksana, keberanian untuk mengambil risiko, kemampuan memotivasi, memecahkan masalah secara kreatif, serta kemampuan memberikan feedback yang konstruktif dan menghargai kinerja tim. Pemimpin yang baik juga transparan, mau mendengarkan, dan bertanggung jawab atas tindakan serta kinerja timnya.

Selasa Menyapa” adalah program unggulan Pemerintah Kabupaten Bima di Era Kepemimpinan Ady-Irfan yang diluncurkan 20 Mei 2025.

Tujuannya untuk mendekatkan pelayanan publik langsung ke masyarakat di desa-desa se-Kabupaten Bima, menyediakan berbagai layanan seperti administrasi kependudukan dan lainnya, serta menjadi wadah dialog antara pemerintah dan warga.

Adapun Manfaat Program “Selasa Menyapa” diantaranya Mendekatkan Pelayanan:

Program ini bertujuan membawa berbagai layanan publik, seperti pencatatan sipil dan penerbitan dokumen kependudukan (KTP, KK), langsung ke desa-desa untuk memudahkan akses bagi masyarakat.

Meningkatkan Responsivitas: “Selasa Menyapa” menjadi bukti kerja kolaboratif pemerintah dalam memberikan pelayanan yang lebih responsif dan berdampak bagi warga.
Dialog dan Keterbukaan:

Program ini juga menjadi momen bagi Bupati dan pemerintah untuk berdialog langsung dengan masyarakat di desa, memungkinkan penyampaian aspirasi dan informasi secara lebih efektif.

Kegiatan Utama selasa Menyapa adalah Pelayanan Publik: Menyediakan layanan administrasi kependudukan, termasuk pencatatan kelahiran, kematian, perkawinan, perceraian, serta penerbitan KTP dan Kartu Keluarga (KK).

Seringkali kegiatan ini diawali atau diisi dengan deklarasi program penting seperti deklarasi anti-narkoba yang dipimpin oleh Bupati.

Kunjungan Bupati: Dihadiri oleh Bupati dan Wakil Bupati Bima, yang turut berinteraksi langsung dengan masyarakat dan pimpinan desa. (****)

Hacklink Hacklink Satış бэклинки casibom marsbahis casibom hacklink market marsbahis giriş vdcasino casibom casibom