Allah Melarang Sombong & Angkuh Dengan Kebodohan

jpn

Bimantika.net -Kalimat sindiran untuk orang arogan bisa di sampaikan agar yang bersangkutan sadar diri.

Kebanyakan orang arogan atau sombong belum mengerti bagaimana keadaan sekitar yang sebenarnya.

Orang arogan hanya mementingkan diri sendiri dan selalu beranggapan lebih unggul. Padahal, mempertahankan kondisi itu membuat seseorang tak bisa instrospeksi diri.

Instrospeksi diri merupakan hal penting dalam penentuan masa depan seseorang.

Evaluasi dan instrospeksi diri penting dalam hal menambah kualitas dalam hidup dan kehidupan.

Ketika seseorang diliputi dengan rasa arogan dan sombong, kualitas dia tidak akan berkembang.

Ada perbedaan tipis antara keyakinan diri dan sikap sombong, orang dengan keyakinan diri berbicara dari pusat pemahaman dan kebijaksanaan. Orang yang memiliki keyakinan diri cenderung inklusif dan tidak pernah berniat untuk merendahkan siapa pun. Mereka tidak menyukai perilaku konformis dan kebodohan palsu.

Berapa banyak manusia telah binasa karena keangkuhan dan kesombongan.

Merasa diri lebih tinggi, lebih mulia, lebih kaya, dan seterusnya, lalu memandang sebelah mata kepada orang lain.

Namun yang lebih parah dan akibatnya lebih berbahaya bagi pelakunya adalah sikap enggan dan sombong serta angkuh untuk menerima kebenaran.

Padahal akibat kesombongan dan keangkuhan telah banyak dikisahkan dalam al-Qur’an, seperti peristiwa terusirnya Iblis dari surga karena kesombongannya.

Iblis terlalu angkuh untuk sujud kepada Nabi Adam padahal perintah itu datangnya langsung dari Allah.

Demikian juga Allah Telah menenggelamkan Qarun beserta seluruh hartanya ke dalam perut bumi, juga karena kesombongan dan keangkuhannya terhadap Allah dan kepada sesama kaumnya.

Senasib dengan mereka, Fir’aun, kaum ‘Aad, kaum Luth, Tsamud, dan lain sebagainya. Semuanya diazab dengan pedih karena kesombongan dan keangkuhan mereka, memandang rendah para rasul yang diutus kepada mereka. Lebih dari itu, mereka pun telah menolak kebenaran yang disampaikan para rasul.

Rasulullah telah menjelaskan tentang bahaya sifat sombong dan angkuh, sebagaimana diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud , dari Nabi, beliau bersabda,

“Tidak masuk surga siapa saja yang di dalam hatinya ada sedikit kesombongan,kemudian seseorang berkata, “Sesungguhnya seseorang itu senang pakaiannya bagus dan sandalnya bagus.”

Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah itu Indah dan Dia menyenangi keindahan, kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR. Muslim).

Imam An-Nawawi t berkomentar tentang hadits ini, “Hadits ini berisi larangan dari sifat sombong yaitu menyombongkan diri kepada manusia, merendahkan mereka dan menolak kebenaran.” (Syarah Shahih Muslim 2/269).

Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambali berkata, “Orang yang sombong adalah orang yang memandang dirinya sempurna segala-galanya, dia memandang orang lain rendah, meremehkannya dan menganggap orang lain itu tidak pantas mengerjakan suatu urusan. Dia juga sombong menerima kebenaran dari orang lain”. (Jami’ul Ulum Wal Hikam, 2/275).

Raghib Al-Asfahani berkata, “Sombong adalah keadaan/kondisi seseorang yang merasa bangga dengan dirinya sendiri, memandang dirinya lebih utama dari orang lain.

Kesombongan yang paling parah adalah sombong kepada Rabb-nya dengan cara menolak kebenaran (dari-Nya) dan angkuh untuk tunduk kepada-Nya baik berupa ketaatan maupun dalam mentauhidkan-Nya.” (Umdatul Qari`, 22/140).

jangan pernah kita merasa lebih hebat dan menyalahkan pengalaman kita dahulu dan orang-orang yang pernah mengajari kita dahulu, walaupun kita sudah merasa hebat saat ini, sesungguhnya jika terjadi hal ini, maka dia-lah orang yang sangat bodoh itu.

Selanjutnya, kebodohan itu adalah jika kita saat ini sudah merasa bahwa hanya kita saja yang pinter dan hebat.

Sebenarnya, yang pinter dan hebat itu adalah diri kita dahulu, yang mana orang-orang pada saat itu banyak yang senang dengan pemikiran kita (kepintaran kita).

Untuk hal ini jangan salah menilai diri dan orang lain, bukan diri sendiri yang menilai bahwa kita sendiri sudah pinter dan hebat,

Melainkan orang lainlah yang melihat hal tersebut adakah pada diri kita.

Setiap etape kehidupan manusia memiliki proses dan kondisi sendiri-sendiri pada tahapan masing-masing sesuai kondisi mereka tersebut.

Jangan pernah menganggap suatu kepintaran diri karena itu merupakan suatu bentuk dari kebodohan yang sesungguhnya. (***//Berbagai Sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *