Bimantika.net mengawali tulisan ini, tentu bukan berarti Walikota Bima H. Muhammad Lutfi, SE (HML) sosok sempurna se sempurna-sempurnanya, karena Walikota HML bukanlah Tuhan Yang Maha Sempurna, Bukan Pula Malaikat yang tidak pernah salah dihadapan Tuhan dalam pengabdiannya, juga bukan Iblis yang selalu sesat dalam kesejatian kesesatannya hingga akhir kehidupan di alam dunia.
Kepemimpinan Walikota Bima H. Muhamad Lutfi, SE (HML) sebagai Walikota Bima sudah memasuki Tahun Ke 3 tepatnya 26 September 2018-26 September 2021.

Ada banyak torehan dan karya Nyata HML dalam membangun kota Bima sejak dirinya menjadi Walikota Bima, namun tidak sedikit juga yang harus dilanjutkan prosesi pembangunannya.
HML meninggalkan Jabatannya sebagai pejabat negara yakni DPR RI hanya untuk mengabdikan diri pada tanah kelahirannya para leluhurnya.

Ditinggalkannya kemewahan fasilitas pejabat negara menjadi pejabat daerah membuahkan hasil yang maksimal untuk warga masyarakat Kota Bima, walau masih saja ada kritikan yang tertuju pada dirinya.
Hadirnya HML menjadi Walikota Bima menorehkan karya nyata yang monumental antara lain Bidang Sosial memprogramkan BPJS Gratis bagi warga miskin Kota Bima.

Merealisasikan janji politiknya di bidang Keagamaan yakni di anggarkan nya untuk Pembangunan Masjid, Musholla, Guru ngaji, Marbot, Bilal, Imam Masjid hingga menganggarkan Pembangunan Masjid M. Nur Latif Lingkup Pemkot Bima dan Masjid Raya, serta mengapresiasi pada Dewan Hakam dan Juara 1 MTQ Tingkat Kota Bima untuk di umroh kan di tanah Suci Makkah Al Mukarramah.

Kesuksesan di Bidang Kesehatan, HML mampu perlihatkan karya nyatanya lewat membangun Puskesmas Plus Paruga, Puskesmas Plus Mpunda yang berdiri kokoh dan Puskesmas Kumbe yang sedang geliat membangun di tahun 2021 ini.

Kesuksesan kekinian HML dalam urusan kesehatan adalah mampunya menggerakkan perangkat Lurah kerja sama dengan Babinsa dan Bhabinkamtibmas untuk konsentrasi Isolasi mandiri berbasis kelurahan hingga mendapat apresiasi langsung oleh Gubernur NTB DR. Zulkieflimansyah.

Untuk mempercantik wajah Kota Bima yang kumuh, Walikota HML membangun Taman Kodo, Membangun sarana prasarana Pantai Lawata dan Pantai Kolo.
Dan untuk terlihat eksotisnya Kota Bima, HML dengan cerdasnya programkan Lampu hias di tiga jembatan yakni Jembatan Padolo, Penaraga dan Jembatan Kodo.

Dalam hal memperindah Kantor Walikota Bima, HML pun mewujudkan dan melanjutkan impian almarhum Walikota HM. Nur A. Latif yang juga sebagai pamannya untuk membangun dua sayap kantor Pemkot Bima.
Dalam penciptaan lapangan kerja, HML dengan program pro rakyat nya membantu memberikan bibit Lele, bibit Ayam super pada kelompok-kelompok usaha masyarakat kecil hingga merata di lima kecamatan se Kota Bima.

Yang lebih dahsyat kesuksesan Walikota HML adalah beraninya menetapkan gaji Ketua RT dan RW se Kota Bima dengan gaji setara dengan gaji RT dan RW di Propinsi Jawa Barat yang memiliki PAD jauh lebih tinggi dari Kota Bima.
Tidak sampai di situ, seluruh Ketua RT se Kota Bima pun diberikan Smartphone untuk memudahkan Ketua RT memberi laporan keadaan dan kondisi wilayah masing-masing melalui aplikasi Command Centre sebagai pusat informasi Digital Pemkot Bima.

Dalam urusan Pemberdayaan Pemuda, Walikota HML yang berjiwa muda itupun mencetus sejarah keberpihakannya pada pemuda dengan memberikan fasilitas seperti Lapangan Sepakbola di Kelurahan Mande Kecamatan Mpunda, Oimbo Kecamatan RasanaE Timur.
Kalau diuraikan satu persatu kesuksesan Walikota HML niscaya akan menghabiskan ratusan lembar diary kesuksesan.

Namun sebagai manusia biasa, Walikota HML adalah sosok manusia dhoif sebagaimana eksistensi manusia lainnya yang memiliki sisi kekurangan dan kelemahan.
Disisi itulah Walikota HML bisa melakukan evaluasi untuk sisa jabatannya dua tahun dalam menata kehidupan warga masyarakat Kota Bima.
Walikota HML bukanlah Tuhan, Bukan lah Malaikat yang tidak pernah salah dalam kepribadiannya, juga bukan Iblis yang selalu sesat dalam kesejatian kesesatannya.
Oleh karena itu HML memiliki motivasi tinggi dalam menata dan membenahi Kota Bima dalam kapasitasnya sebagai manusia biasa.
Adanya kesadaran nilai kemanusiaan itulah kerap Walikota HML dalam kapasitasnya sebagai seorang Pemimpin memiliki kelebihan dalam urusan kerakyatan, sehingga tidaklah heran kalau turun di masyarakat selalu menampilkan sikap kesederhanaannya dengan tidak pernah menggunakan sistim protokoler yang super ketat, dan rakyat bisa menilai itu secara nyata di setiap aktivitasnya turun ke warga. (***)

