Tugas Mulia Mencari Ilmu
(Catatan Khas Untuk Anakku Menjadi Mahasiswa Teknik Informatika di Makassar)

Oleh : Muhammad Arifudin *)

Bimantika.net Mencari ilmu adalah Tugas Mulia anak manusia dalam memanusiakan dirinya sendiri dan orang lain.

Penulis mencoba merangkum sebuah tulisan ini untuk sebuah pesan moral pada siapapun yang mencari ilmu, terutama teruntuk anakku M. Afrizal Ghifary B. Radja yang baru menginjak Dunia Kampus.

19 Oktober 2021 sekitar pukul 19 : 30 Wita Star dari Pelabuhan Laut Bima Menuju Kota Makassar Sulawesi Selatan dengan menggunakan KM. Wilis.

Anakku Gifar adalah Lulusan Universitas Islam Negeri (UIN) Makassar Tahun 2021 namun karena bukan kehendaknya mendaftarkan diri di Sebuah Universitas Terbaik Indonesia Timur yakni Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makasaar Dengan Jurusan Teknik Informatika.

Tercatat sebagai Mahasiswa UMI Makassar adalah kebanggaan Kami sebagai Orang Tuanya, Berangkat Dengan Niat Pulang Dengan Gelar Sarjana Teknik Informatika adalah Pesan Khusus kami selaku Orang Tua.

Masuk pada pokok inti tulisan yakni tugas Mulia Mencari Ilmu, bahwasannya Menurut Imam Syafi’i ilmu diperoleh berdasarkan enam perkara.

“Saudaraku, Ilmu tidak akan diperoleh kecuali dengan enam perkara yang akan saya beritahukan rinciannya: kecerdasan, semangat, bersungguh-sungguh, dirham (kesediaan mengeluarkan uang), bersahabat dengan ustaz, dan memerlukan waktu yang lama.” demikian Penggalan kata-kata Imam Syafi,i dalam sebuah syair Keilmuannya.

Kegigihan Imam Asy-Syafi’i dalam meraih ilmu, sungguh sangat patut diapresiasi dan dijadikan sebagai pelajaran untuk kita semua. Dikenal sebagai ulama besar yang begitu cerdas, bahkan pada usianya yang masih berumur 15 tahun keilmuan beliau setara dengan seorang mufti.

Untuk mencatatkan berbagai ilmunya, beliau menuliskannya di tulang-tulang besar dan mengumpulkan kertas bekas, karena harga kertas yang mahal pada saat itu. Sulit mendapatkan kertas, maka beliau lebih memilih untuk menghafalnya, alhasil menjadikan Imam Syafi’i memiliki ingatan yang luar biasa tajamnya.

Beranjak dari cerita tersebut, semoga menjadi pelajaran untuk kita agar tidak mengeluh dalam menghadapi segala jerih payahnya menuntut ilmu.

Hal ini menyadari kita bahwasannya tidak ada suatu ilmu yang mudah diraih jika tanpa bersandar pada kesungguhan untuk memahaminya.

Memang begitu membosankan dan melelahkannya dalam proses belajar, tetapi percayalah hasil yang kamu dapatkan dari penatnya menuntut ilmu akan menyelamatkan dirimu dari ketidaktahuan yang akan menyengsarakanmu.

Berbahagialah, kalian sekarang anak rantau! Ya, Imam Syafi’i tidak berdiam diri di Mekkah saja, setelah menguasai kitab Al-Muwatta karangan Imam Malik beliau langsung berhijrah ke Madinah berguru kepada pengarang kitab tersebut.

Tak hanya berhenti di situ, beliau juga berkelana ke Yaman, Baghdad, Persia, hingga Mesir. Menurut Imam Syafi’i, orang-orang yang merantau demi sebuah ilmu tak ubahnya seperti kayu gaharu. Jika hanya berdiam diri di hutan, maka mustahil ia menjadi parfum yang tinggi nilainya.

Dalam syair keilmuannya, Imam Syafi’i pernah berujar bahwa “Ilmu bagaikan hewan buruan, dan tulisan/pena adalah ibarat tali pengikatnya. Oleh karena itu, ikatlah hewan buruanmu itu dengan tali yang kuat. Termasuk kebodohan kalau engkau memburu rusa kemudian setelah rusa itu berhasil ditangkap, kamu biarkan saja dia tanpa diikat dikeramaian.”

Diakhir Tulisan ini Penulis kemukakan bahwa betapa mencari ilmu itu adalah melelahkan, namun yakin dan percaya bahwa dibalik kelelahan itu akan tercipta dan terwujud kualitas diri dalam hadapi segala bentuk tantangan zaman di era millenial ini.

Apabila seseorang merasa lelah dan putus asa untuk mencari ilmu maka sesungguhnya kelelahan dan keputusasaan itu menjdikan sebuah kebodohan dalam hidupnya selama-lamanya.

Maka melawan rasa lelah dalam mencari Ilmu Pengetahuan adalah Sukses untuk meraih masa depan yang lebih Cemerlang.

Makassar 21 Oktober 2021
*) Penulis Alumni Ilmu Komunikasi Universitas Satria Makassar 1998.

*Mantan Sekretaris HMI Cabang Ujung Pandang Periode 1996/1997

*Mantan Ketua Umum Senat Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Satria Makassar periode 1994-1995

*Wartawan Suara Nusa Tahun 2000-2001

*Wartawan Bima Post Tahun 2002-2003

*Pimpinan Redaksi Media Cetak dan Online sejak Tahun 2004-Sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *