Bimantika.net Muhammad Taufiquddin asal Nusa Tenggara Barat (NTB) berhasil lolos seleksi administrasi dalam ajang Pemilihan Duta Kebudayaan Indonesia 2026 yang diselenggarakan oleh Yayasan Arunika Cipta Abadi.
Taufiquddin anak kandung Drs. H. M. Saleh, S. Pd imam Masjid Baiturrahman BTN Sadia Kota Bima lahir di Desa Karumbu Kecamatan Langgudu Kabupaten Bima.
Ajang Duta Kebudayaan Indonesia 2026 merupakan program pemilihan pemuda-pemudi generasi muda yang diselenggarakan secara berjenjang melalui seleksi daerah, regional, hingga tingkat nasional untuk mencari agen pelestari warisan budaya daerah.
Opik sapaan akrab Muhammad Taufiquddin, S.Pd., kelahiran 29 November 2000, putra asal Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), mencatat sejarah tinta emas sebagai Finalis Duta Kebudayaan Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Barat.
“Bagi saya, keikutsertaan dalam ajang ini bukan sekadar pencapaian pribadi, tetapi merupakan kesempatan sekaligus tanggung jawab untuk membawa nama Bima dan Nusa Tenggara Barat serta memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada masyarakat di seluruh Indonesia” demikian ujar Opik saat diwawancara Media Online Bimantika Selasa 22 Agustus 2026.

Dalam ajang ini, Opik membawa misi untuk memperkenalkan, melestarikan, dan mengembangkan budaya Bima sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.
“Saya ingin memperkenalkan nilai-nilai budaya, tradisi, seni, serta kearifan lokal Bima kepada masyarakat yang lebih luas, khususnya generasi muda, agar warisan budaya tersebut tidak hanya dikenal oleh masyarakat daerah, tetapi juga dapat terus hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman” tegasnya.
Lanjut Opik Salah satu fokus yang ingin dirinya perjuangkan adalah seni dan musik tradisional Bima.
Ia melihat masih banyak kekayaan musik tradisional Bima yang belum dikenal secara luas oleh masyarakat Nusantara.
Karena itu, melalui kesempatan ini dirinya ingin berupaya memperkenalkan dan mempromosikan musik tradisional Bima melalui berbagai ruang dan kegiatan kebudayaan, sehingga masyarakat dari berbagai daerah dapat mengenal keberagaman seni musik yang dimiliki Bima dan Nusa Tenggara Barat.
“Bagi saya, memperkenalkan musik tradisional bukan hanya tentang memperkenalkan sebuah kesenian, tetapi juga memperkenalkan sejarah, identitas, nilai, dan cerita yang hidup di dalamnya” ujarnya.
Lebih jauh opik uraikan ingin menjadikan seni dan musik tradisional sebagai salah satu media untuk mendekatkan generasi muda dengan budaya daerah sekaligus membuka ruang agar kesenian tradisional dapat terus diapresiasi dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Selain mengikuti rangkaian Pemilihan Duta Kebudayaan Indonesia, ia juga berkomitmen untuk mengabdikan diri bagi Provinsi Nusa Tenggara Barat, khususnya melalui bidang seni dan musik tradisional.
“Saya ingin berkontribusi secara nyata dengan memperkenalkan potensi budaya NTB, terutama kekayaan seni dan musik Bima, ke tingkat nasional. Harapannya, upaya tersebut dapat menjadi bagian dari promosi budaya NTB sekaligus membuka peluang yang lebih luas bagi para pelaku seni dan generasi muda daerah” bebernya.
Opik juga sangat berharap mendapatkan dukungan dari Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Pemerintah Kabupaten Bima.
Dukungan tersebut bagi saya bukan hanya sebagai bentuk dukungan terhadap perjalanan pribadi, tetapi juga sebagai bentuk sinergi dalam memperkenalkan, melestarikan, dan mempromosikan kekayaan budaya Bima dan NTB di tingkat nasional.
“Bagi saya, membawa nama Bima dan NTB dalam ajang ini adalah sebuah kehormatan sekaligus tanggung jawab. Saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk memperkenalkan budaya Bima, khususnya seni dan musik tradisional yang masih belum banyak dikenal masyarakat Nusantara” ungkapnya.
“Saya juga ingin mengabdikan diri dan berkontribusi bagi NTB melalui bidang seni dan kebudayaan.” urainya.
Rangkaian Pemilihan Duta Kebudayaan Indonesia dijadwalkan berlangsung pada 12–20 Oktober 2027, yang mencakup masa karantina dan berbagai rangkaian kegiatan hingga menuju malam final.
Ditanya soal kesiapannya, Opik dengan tegas nyatakan siap mengikuti seluruh proses dengan membawa identitas, nilai, dan semangat budaya Bima.
Ia berharap perjalanan ini tidak berhenti pada sebuah gelar, tetapi dapat menjadi awal dari pengabdian yang lebih luas bagi daerah. Bima adalah bagian dari identitas saya, NTB adalah tanah yang ingin ia perjuangkan, dan budaya adalah ruang pengabdian yang ingin saya bawa ke panggung Nusantara.
“Yang menjadi nilai semangat bagi saya dengan adanya Semboyan masyarakat bima yang di wariskan dari generasi ke generasi yaitu “ MAJA LABO DAHU” demikian ujar Opik menutup Wawancaranya.
Wakil Gubernur NTB, Hj. Indah Dhamayanti Putri, SE, M. IP yang dikonfirmasi media online Bimantika merasa bangga atas prestasi yang sedang di ukir oleh generasi muda Bima NTB.
“Kita pastikan akan memberikan support dan dukungan penuh pada setiap generasi putra putri terbaik NTB yang sedang menapaki karirnya ditingkat nasional” ujar Umi Dinda sapaan Wakil Gubernur NTB. (****)

