Senang Dengan Penderitaan Orang Lain Mendatangkan Bencana

jpn

Foto : Penelusuran Geogle

Bimantika.net -Musibah atau peristiwa buruk pasti pernah dirasakan setiap manusia, entah kematian saudara, kehilangan harta atau hal menyedihkan lainnya.

Pada saat-saat seperti ini, Islam mengajarkan untuk saling tenggang rasa atau juga membantu meringankan beban sesama.

Namun ada juga orang-orang yang justru senang dengan penderitaan orang lain, baik ditunjukkan secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi. Hal ini merupakan perilaku yang dilarang dalam Islam.

Dilansir dari Elbalad, Lembaga Fatwa Mesir, Dar Ifta bahkan menyebut perilaku senang atas penderitaan orang adalah tindakan orang munafik.

Perbuatan ini juga disebut sebagai perbuatan orang-orang sombong karena seakan tidak menyadari bahwa suatu saat akan ada masa ia merasa kesulitan.

Seperti diketahui, seorang Muslim diajarkan bahwa penderitaan tidak akan bertahan lama sebagaimana kebahagiaan tidak akan terjadi selamanya.

Senang dengan penderitaan orang lain juga dikatakan akan mendatangkan musibah bagi orang yang melakukannya. Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ تُظْهِرِ الشَّمَاتَةَ لأَخِيكَ فَيَرْحَمُهُ اللَّهُ وَيَبْتَلِيكَ

Artinya, “Janganlah engkau menampakkan kegembiraan karena musibah yang menimpa saudaramu. Karena jika demikian, Allah akan merahmatinya dan malah memberimu musibah.” (HR Tirmidzi).

Menunjukkan kesenangan atas musibah yang dialami sesama, dikatakan juga merupakan perbuatan yang merendahkan orang lain. Padahal seorang mukmin diajarkan untuk saling menjaga kehormatan sesama mukmin. Rasulullah ﷺ bersabda:

بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ

Artinya, “Seseorang dicap jelek jika ia merendahkan saudara muslim yang lain. Sesama Muslim itu haram darah, harta dan kehormatannya.” (HR Muslim).

Pernah merasa senang saat melihat orang lain, atau orang yang tidak disukai, mengalami kemalangan?

Jika iya, Anda mengalami apa yang disebut schadenfreude atau bahagia di atas penderitaan orang lain.

Para peneliti telah menemukan jawaban mengapa seseorang kerap mengalami schadenfreude.

Ternyata, emosi ini bisa menjadi cara bagi seseorang untuk merasa dirinya lebih baik.

Dilansir dari Live Science, Wilco W. van Dijk, peneliti dari Leiden University, Belanda, mengatakan, jika seseorang bahagia melihat penderitaan orang lain, bisa jadi ia berpikir bahwa orang tersebut layak mendapatkan kemalangan.

Dengan demikian, orang yang mengalami schadenfreude merasa lebih baik dengan dirinya sendiri.

“Jika seseorang menikmati kemalangan orang lain, ada sesuatu dalam kemalangan itu yang baik untuk orang tersebut,” kata van Dijk.

Dalam studi yang dilakukan, van Dijk dan rekan-rekannya meminta 70 mahasiswa sarjana (40 wanita dan 30 pria) membaca dua wawancara tentang seorang mahasiswa berprestasi yang kemungkinan besar akan mendapatkan pekerjaan yang bagus.

Dalam kehidupan sosial bermasyarakat, memang sudah lumrah rasanya jika melihat seseorang yang susah jika melihat orang bahagia. Misalnya ketika tetangga membeli mobil baru, maka Ia menderita hingga demam karena memikirkannya. Atau hal lain yang membahagiakan bagi orang lain, maka tetap saja akan dicari-cari celah untuk menunjukan kesalahannya.

Namun ketika seseorang mendapat ujian dan musibah, Ia seolah bersorak tepuk tangan karena begitu bahagianya. Meski diluar menunjukan bela sungkawa, namun dalam hatinya justru bersyukur tidak terkira. Mulai sekarang, belajar lah untuk berubah. Karena selain menimbulkan penyakit di dalam jiwa, kebahagiaan di atas penderitaan orang lain juga akan menimbulkan bencana.

Hanya orang yang tidak bahagia yang akan merasa senang di atas penderitaan orang lain. Untuk itu perlu di ingat bahwa kita boleh memperjuangkan apa yang dapat membuat kita bahagia asalkan tidak merampasnya dari orang lain.⁣ (***)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *