jpn
Bimantika.net -Hari Ini Senin 28 September 2026 Kantor Kementrian Haji dan Umroh (Kemenhaj) Kota Bima kembali menyelenggarakan manasik Haji di Aula Kantor Kementrian Haji dan Umroh (Kemenhaj) Kota Bima untuk Calon Jamaah Haji (CJH) Kota Bima yang insya Allah berangkat tahun 2027.

Kali ini pematerinya adalah salah seorang Sarjana Qur’an Penghafal Al-Qur’an 30 Zus bernama H. Muhammad Adnin, SQ, M. Pd.
Mengawali materinya H. Adnin menyampaikan Bicara soal Haji bicara soal Hati.
“Hati Menjawab Panggilan Allah Menunaikan Ibadah Haji” ungkap H. Adnin
Ia berharap kepada seluruh Calon Jamaah Haji (CJH) agar Jangan bawa kesombongan dihadapan Baitullah.
Menurutnya Ibadah Haji adalah Menggugurkan semua dosa yang diperbuat selama ini
H. Adnin menukil salah satu ayat Dalam Al Qur’an dalam QS Al Baqarah 30
وَاِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلٰٓٮِٕكَةِ اِنِّىۡ جَاعِلٌ فِى الۡاَرۡضِ خَلِيۡفَةً ؕ قَالُوۡٓا اَتَجۡعَلُ فِيۡهَا مَنۡ يُّفۡسِدُ فِيۡهَا وَيَسۡفِكُ الدِّمَآءَۚ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَـكَؕ قَالَ اِنِّىۡٓ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ ٣٠
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi”. Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.”
H. Adnin juga menguraikan sejarah terpasangnya batu Hajar Aswad.
Ia kemukakan Hajar Aswad pertama kali dipasang dan diletakkan di sudut Ka’bah oleh Nabi Ibrahim AS atas bantuan Malaikat Jibril saat membangun kembali Ka’bah bersama Nabi Ismail AS.
Ketika Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail membangun Ka’bah, bangunan tersebut hampir selesai, namun ada satu sudut yang masih kosong.
Perintah Mencari Batu: Nabi Ibrahim meminta Nabi Ismail untuk mencari satu batu guna mengisi ruang kosong tersebut sebagai penanda dimulainya tawaf.
Saat Nabi Ismail pergi mencari, Malaikat Jibril datang membawa Hajar Aswad langsung dari surga untuk diberikan kepada Nabi Ibrahim.
Untuk diketahui publik bahwa Di antara pilar dalam Islam yang diwajibkan kepada umat Islam adalah melaksanakan haji ke Baitullah (Makkah). Ibadah ini merupakan rukun kelima dalam Islam dan dilakukan jauh sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW.
Beberapa abad sebelum kota Makkah sebagai pusat Islam dengan ditandai lahirnya Baginda Nabi, para nabi sebelumnya sudah melaksanakan haji di kota tersebut.
Hikmah disyariatkannya semua ibadah tidak lepas dari dua hal: Pertama sebagai pengakuan bahwa dirinya sebagai hamba dan Kedua sebagai ungkapan syukur pada Allah SWT.
Ibadah haji mengandung dua hikmah ini sekaligus.
Pertama, ibadah haji adalah manifestasi penghambaan, serta wahana menampakkan kehinaan dirinya, seperti yang terlihat ketika ihram.
Orang berhaji dilarang untuk menghias dirinya meskipun sebenarnya boleh dilakukan di luar haji.
Saat ihram, ia dituntut berpenampilan sangat sederhana dan menampakkan perasaan butuh pertolongan dan rahmat Tuhan-Nya.
Kedua, ibadah haji juga merupakan wujud ungkapan syukur atas nikmat Allah.
Dengan ibadah haji, seseorang harus mengorbankan dua hal, yaitu badan dan hartanya.
Dan, ungkapan yang benar untuk mensyukuri nikmat harta dan badan adalah dengan menggunakannya pada jalan yang diridhai oleh Allah SWT
Sejarah Singkat Ibadah Haji
Secara bahasa, haji artinya menyengaja atau berniat datang. Sejarah ibadah ini berakar sangat kuat pada masa Nabi Ibrahim AS dan keluarganya (Siti Hajar serta Nabi Ismail AS).Membangun Ka’bah:
Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim untuk meninggikan pondasi Ka’bah di Mekkah sebagai pusat ibadah.
Seruan Haji: Setelah selesai, Nabi Ibrahim diperintahkan menyeru umat manusia untuk berhaji. Atas kehendak Allah, panggilan itu menembus zaman dan ruang, didengar oleh jiwa-jiwa yang ditakdirkan datang ke Baitullah.
Pengorbanan Iman: Kisah kepasrahan Nabi Ibrahim saat mendapat ujian untuk menyembelih Nabi Ismail—yang kemudian digantikan oleh Allah dengan domba—menjadi tonggak sejarah Hari Raya Idul adha dan bagian dari manasik haji.
Makna Simbolik Rangkaian Ibadah Haji
Setiap gerakan atau ritual dalam haji bukan sekadar gerak fisik, melainkan sarat akan simbol kehidupan:
Pakaian Ihram (Kain Putih Tanpa Jahit): Menyimbolkan kesetaraan.
Di hadapan Allah, tidak ada perbedaan antara si kaya, pejabat, orang biasa, atau dari ras mana pun. Semua sama, menanggalkan atribut duniawi.
Tawaf (Mengelilingi Ka’bah 7 Kali): Menyimbolkan bahwa poros hidup manusia hanya satu, yaitu Allah SWT.
Gerakan melingkar ini juga mencerminkan keteraturan semesta dan pengingat agar hati kita selalu berputar mendekat kepada Sang Pencipta.
Sa’i (Berlari-lari Kecil antara Safa dan Marwah): Mengenang perjuangan Siti Hajar saat mencari air untuk Nabi Ismail.
Ini adalah simbol ikhtiar, kerja keras, pantang menyerah, dan gerak dinamis manusia dalam mencari penghidupan.
Wukuf di Arafah: Menyimbolkan Padang Mahsyar. Tempat di mana manusia berkumpul dalam keadaan sepi dari kemewahan dunia, merenungi dosa, dan bertaubat kepada Allah.
Melontar Jamarat (Melempar Jumrah): Mengingatkan pada perlawanan Nabi Ismail terhadap godaan setan.
Secara simbolik, ini adalah aksi melempar sifat-sifat buruk dalam diri seperti ego, sombong, serakah, dan amarah.
Hikmah Besar Ibadah Haji
Penyucian Diri: Menghapuskan dosa dan menjadi jalan menuju ridha serta surga-Nya (bagi haji yang mabrur).
Persatuan Umat Global: Mempertemukan jutaan Muslim dari seluruh penjuru dunia dengan satu tujuan, mempererat rasa persaudaraan (ukhuwah).
Melatih Kerendahan Hati: Menyadarkan manusia bahwa harta dan jabatan hanyalah titipan, karena pada akhirnya kita semua setara.
Refleksi Kehidupan: Mengajarkan disiplin, kepasrahan total, serta syukur atas nikmat fisik dan rezeki yang diberikan Allah.(****)

