Porprov NTB Dinilai Sia-Sia, Ada “Impor Atlit” Daerah Lain ?

jpn

Bimantika.net _Terendus adanya beberapa Cabang Olahraga (Cabor) yang ikut di ajang Porseni Propinsi (Porprov) NTB yang diagendakan 18-26 Pebruari 2023 melakukan impor para atlit dari daerah lain.

Sumber Media Online Bimantika dari salah seorang Pengurus Koni Kota Bima membeberkan sejumlah dugaan adanya “impor” atlit di ajang Porprov NTB.

Ada beberapa data atlit yang terhimpun yang dinilai janggal untuk ikut Porprov NTB dalam hal ini adanya “Impor” Atlit.

Data yang di himpun Media Online Bimantika bahwa ada beberapa Cabor yang dianggap bermasalah soal atlit yang berlaga di arena Porprov NTB.

Cabor yang bermasalah diantaranya adalah Cabor panjat tebing, di Cabor ini Koni Mataram ambil atlit asal Bali.

Atlit Panahan Kota Bima di input juga oleh Kabupaten Dompu

Cabor Catur Kabupaten Bima mengambil atlit yang sudah pindah di Jawa tengah.

Cabor Motor, bahwa soal motor di PP ada batas usia maksimal 25 Tahun. Dan di Porprov NTB gunakan umur 30 tahun.

Cabor Menembak Mataram manipulasi nomor yang diturunkan pada atlit nya. Maksimal 3 nomor hasil rapat Koni NTB. Mereka lebih dari 6 bahkan 9 satu atlit ambil nomornya.

Sementara Koni Loteng mengambil atlit dari Jawa Tengah.

Cabor Petanque Mataram ambil atlit dari sumut dan Jatim.

“Nah itulah kejanggalan-kejanggalan yang terjadi menjelang Porprov NTB di Mataram nanti” demikian ujar Sumber Bimantika yang juga Pengurus KONI Kota Bima.

Ketua Pengurus Cabang (PC) Ikatan Sarjana Nahdatul Ulama (ISNU) Kota Bima M. Ardiyansyah, ST sangat menyayangkan adanya impor atlit di ajang yang seharusnya sebagai ajang mencari bakat atlit asli NTB.

Menurutnya Kalau memang ada ketidak sportifitas seperti melakukan impor atlit dari daerah lain lantas kenapa harus digelar Porprov.

“Ngapain diadakan porprov yang hanya buang-buang anggaran.. itu sudah melenceng dari tujuan diadakannya porprov yg mana adalah ajang untuk mencari bibit-bibit dan potensi dari atlit masing-masing daerah” Ujarnya.

Menurut Ardian Porprov itu bukan hanya sekedar bertarung untuk mendapatkan juara akan tetapi termasuk didalam nya soal pemberdayaan atlit lokal.

“Kalau seperti itu sekalian aja masing-masing daerah bayar atlit profesional bukan ajang amatir lagi” ungkap Ardian dengan nada kesal.

Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Propinsi NTB, Mori Hanafi, SE, M. Comm yang dihubungi via WhatsApp nya Rabu malam 1 Pebruari 2023 memberikan jawaban singkat seadanya.

“Saya susah tanggapi karena yang protes cuma Fauzi (Salah satu Pengurus Koni Kota Bima, red) sementara daerah lain nggak ada” ungkap Mori Hanafi menjawab pertanyaan Media Bimantika. (***)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *