Bimantika.net -Penjabat (Pj) Walikota Bima, Ir. H. Mohammad Rum, MT salah satu dari sekian banyak pemimpin di negeri ini yang mengedepankan value Agama dalam penerapan kehidupan sehari-hari dalam menjalankan aktivitasnya.
Sejak di lantik menjadi Pj Walikota Akhir tahun 2023 lalu, HM Rum pun langsung menjadikan Kota Bima yang Religius dengan Programnya Subuh Berjamaah dan sejumlah ptogram religiusitas lainnya.
Pada media Online Bimantika Senin 8 April 2024, Pj Walikota HM Rum menguraikan banyak hal dalam urusan Adab dan menuntut Ilmu yang setinggi-tingginya.
Menurut HM Rum bahwa menuntut Ilmu Pengetahuan khusus Ilmu agama perlu adanya Kesungguhan hati seseorang dalam menggapainya.
Lanjut HM Rum bahwa Menuntut ilmu merupakan suatu kewajiban dan termasuk hal penting yang tidak bisa dilewatkan bagi setiap orang yang mengaku beriman Kepada Allah SWT.
“Dengan ilmu terutama Ilmu Agama kita dapat menjadi seseorang yang mulia dihadapan Allah SWT” ujar HM Rum..
“Akan tetapi harus dicapai dengan kesungguhan hati yang kuat.dan tidak mengabaikan Adab” tambah HM Rum.
Menurut HM Rum Adab sangat penting dalam kehidupan manusia yang memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi.
Pj Walikota HM Rum sampaikan pula Bagi para pegawai yang ada di pemerintahan Kota Bima harus memiliki adab.
“Karena dengan adan dapat terjaga dari perbuatan tercela dalam menjalankan roda pemerintahan” ungkap HM Rum.
Disamping menyinggung soal perlunya adab bagi ASN, tak kalah pentingnya mengedukasi anak-anak soal penting nya adab ditanam sejak dini.
“Anak-anak yang sudah diberi bekal pelajaran mengenai adab akan tumbuh menjadi pribadi lebih baik dari teman-teman sebayanya, sehingga perlu ditanamkan sejak usia dini” ujar HM Rum.
Dengan adanya adab maka dapat mencegah manusia dalam melakukan perbuatan tercela atau keji.
Orang yang beradab enggan melakukan hal-hal yang bisa merugikan dirinya sendiri dan orang lain.
Orang beradab akan berusaha untuk membuat orang di sekitarnya merasa terbantu atas kehadirannya, bukan membuat susah.
Ketahuilah bahwa ulama salaf sangat perhatian sekali pada masalah adab dan akhlak.
Mereka pun mengarahkan murid-muridnya mempelajari adab sebelum menggeluti suatu bidang ilmu dan menemukan berbagai macam khilaf ulama.
Imam Darul Hijrah, Imam Malik rahimahullah pernah berkata pada seorang pemuda Quraisy,
تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم
“Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”
Biasakan lisan kita untuk berkata yang baik, santun dan bermanfaat. ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata,
من عدَّ كلامه من عمله ، قلَّ كلامُه إلا فيما يعنيه
“Siapa yang menghitung-hitung perkataannya dibanding amalnya, tentu ia akan sedikit bicara kecuali dalam hal yang bermanfaat” Kata Ibnu Rajab, “Benarlah kata beliau. Kebanyakan manusia tidak menghitung perkataannya dari amalannya” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 291).
Berbeda Pendapat Bukan Berarti Mesti Bermusuhan
Sungguh mengagumkan apa yang dikatakan oleh ulama besar semacam Imam Syafi’i kepada Yunus Ash Shadafiy -nama kunyahnya Abu Musa-. Imam Syafi’i berkata,
يَا أَبَا مُوْسَى، أَلاَ يَسْتَقِيْمُ أَنْ نَكُوْنَ إِخْوَانًا وَإِنْ لَمْ نَتَّفِقْ فِيْ مَسْأَلَةٍ
“Wahai Abu Musa, bukankah kita tetap bersaudara (bersahabat) meskipun kita tidak bersepakat dalam suatu masalah?” (Siyar A’lamin Nubala’, 10: 16).
Berdoalah Agar Memiliki Adab dan Akhlak yang Mulia
Dari Ziyad bin ‘Ilaqoh dari pamannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca do’a,
اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ وَالأَعْمَالِ وَالأَهْوَاءِ
“Allahumma inni a’udzu bika min munkarotil akhlaaqi wal a’maali wal ahwaa’ [artinya: Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari akhlaq, amal dan hawa nafsu yang mungkar].” (HR. Tirmidzi no. 3591, shahih) (***//bbs)

