Bimantika.net -Hari ini Selasa 22 September 2026 Kantor Kementrian Haji dan Umroh (Kemenhaj) Kota Bima kembali menggelar manasik haji untuk Calon Jamaah Haji (CJH) Kota Bima yang insya Allah akan diberangkatkan tahun 2027.
Manasik Haji yang diselenggarakan oleh Kemenhaj Kota Bima selama ini digelar di Masjid Baitul Hamid Penaraga Kota Bima, kini berubah tempatnya di Kantor Kemenhaj Kota Bima.

Karena kapasitas dan daya tampung Aula Kemenhaj Kota Bima tidak bisa menampung seluruh CJH Kota Bima, Manasik Haji kali ini dibagi dua gelombang.
Hari selasa (22/9) untuk CJH Asal Kecamatan Mpunda dan RasanaE Barat dengan pemateri Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bima H. Ahmad Mahmud, S. Ag.
Sementara Untuk Hari Rabu (23/9) untuk CJH RasanaE Timur, Raba dan Asakota dengan Materi inti Filosofis Haji dengan pemateri Kepala Kantor Kemenhaj Kota Bima H. Eka Iskandar Zulkarnain, S. Ag, M. Si.
Dihadapan CJH Asal Kecamatan Mpunda dan RasanaE Barat Kota Bima Ketua MUI Kota Bima H. Ahmad Mahmud, S. Ag memaparkan materi inti Filosofis Haji secara sangat rinci dan sangat mudah dipahami.

Kegiatan diawali dengan kata pemanduan oleh Kepala Kemenhaj Kota Bima H. Eka Iskandar Zulkarnain, S. Ag, M. Si.
Selanjutnya kegiatan di moderatori oleh moderator relawan haji Kota Bima 2027 H. Badin yang saat ini juga menjabat sebagai kepala Kelurahan Ule Kecamatan Asakota Kota Bima.
H. Badin menguraikan beberapa hal sebelum pemateri Ketua MUI Kota Bima menyampaikan materi intinya.
H. Badin menjelaskan Haji adalah bukan panggilan manusia melainkan panggilan Allah SWT,
“Saat ini roh bapak dan ibu sudah ada di tanah suci Makkah, oleh karena itu diharapkan perbanyak sholat taubat saat ini” ujar H. Badin.
Ketua MUI memulai menjelaskan materinya dengan menukil ayat terjadinya penciptaan manusia.
Kemudian Ketua MUI Menukil QS Al Imran 97 untuk ikuti millah Ibrahim,

Di dalamnya terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) Maqam Ibrahim. Siapa yang memasukinya (Baitullah), maka amanlah dia. (Di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, (yaitu bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Siapa yang mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu pun) dari seluruh alam.
Taat kepada Allah
Allah Tidak ada duanya, tidak ada yang menyekutukan Allah
Ketua MUI kembali menjelaskan tentang Nabi
Ibrahim yang pertama mengetahui benda yang jatuh dari langit Al-Baqarah 125
“Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat.
“Filosofi Haji yang pertama adalah Keamanan dan Kedamaian” demikian ungkap Ketua MUI Kota Bima.
Tujuan Haji Merendahkan diri di Hadapan Allah karena Haji itu menghadap Allah dengan Niat “Labbaik Allahumma Hajjah”
Usai Ketua MUI memberikan materi, Tampil Kepala kantor Kemenhaj Kota Bima mengerucutkan manasik haji terkait dengan filosofi Haji.
Berikut Rangkumannya Ibadah Haji bagi umat Islam adalah kewajiban yang merupakan bagian makna dari rukun Islam yang lima.
Sebagai ibadah fardhu, tak ada alasan untuk tidak mengerjakannya, ketika memiliki kemampuan (isthitha’ah) baik dalam hal keuangan, kesehatan, dan mental spiritual.
Sehingga ibadah yang dilaksanakan ke Baitullah ini, ini tidak semua umat Muslim mampu menunaikannya, walaupun sekali dalam seumur hidup.
Filosofi haji adalah perjalanan spiritual dan simbolik manusia untuk kembali kepada Allah serta menyadari kesetaraan di hadapan-Nya.
Ibadah ini bukan sekadar ritual fisik, tetapi cerminan dari perjalanan hidup manusia dan evolusi jiwa.
Makna Simbolik Rangkaian Ibadah Haji diantaranya Pakaian Ihram:
Kain putih sederhana yang dipakai jemaah melambangkan pelepasan atribut duniawi, pangkat, dan kekayaan.
Hal ini menegaskan bahwa semua manusia setara di hadapan Allah.
Wukuf di Arafah: Berdiam diri di Padang Arafah menyimbolkan hari kebangkitan dan Padang Mahsyar.
Ini adalah momen untuk mengenali jati diri, asal-usul, dan tempat kembali kepada Tuhan.
Tawaf: Mengelilingi Kabah sebanyak tujuh kali mencerminkan pusat perputaran hidup manusia yang selalu berporos pada tauhid atau keesaan Allah.
Sa’i: Berlari-lari kecil antara Safa dan Marwah menggambarkan semangat juang, usaha, serta keteguhan ikhtiar Siti Hajar dalam mencari air untuk anaknya.
Melontar Jumrah: Tindakan melempar batu melambangkan perlawanan manusia terhadap hawa nafsu dan bisikan jahat setan.
Nilai Sosial dan Kemanusiaan persaudaraan Universal: Pertemuan jutaan umat Islam dari berbagai bangsa dan warna kulit menunjukkan kesatuan umat (umrah/ummah) tanpa sekat budaya.
Kesetaraan: Mengikis kesombongan status sosial agar manusia hidup dengan kerendahan hati dan kepedulian sosial.

