Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM); Ada Apa Dengan Pendidikan Kita?

jpn

Oleh: Paramita, Amd. Kes

Bimantika.net -Memasuki tahun ajaran baru 2023-2024, pemerintah disibukkan dengan agenda menyukseskan IKM. Mulai dari perekrutan guru penggerak, kampus mengajar dan sekolah penggerak. Kemudian melakukan workshop di beberapa sekolah. Dari kebijakan ini, apa sebenarnya yang diharapkan pemerintah? Dan bagaimana dampak IKM untuk pelajar dan pendidik?

Motif Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM)

Dikutip dari fajarmediabima.com, Asisten 1 Setda Kota Bima, Drs. Abdul Gawis menghadiri sekaligus membuka workshop Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) di era digital. Bertempat di SMPN 2 Kota Bima, workshop ini diselenggarakan pada Senin, 22 Mei 2023. Dalam workshop tersebut, Asisten 1 didampingi oleh Kadis Dikpora, Kepala Kementerian Agama Kota Bima dan Kepala PGRI Kota Bima. Workshop yang digelar oleh PGRI Smart Learning and Character Center (PLSCC) Kota Bima tersebut bertujuan untuk mengembangkan profesi yang berhubungan dengan guru dari segi pengembangan karakter dan digitalisasi pendidikan.

Kurikulum merdeka sendiri merupakan kurikulum dengan pembelajaran intrakurikuler yang beragam, yang mana konten akan dibuat lebih optimal agar peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi. Asisten 1 dalam sambutannya menyampaikan bahwa, ”workshop IKM merupakan salah satu dari semua kurikulum yang telah hadir di Indonesia”. Beliau juga melanjutkan bahwa salah satu poin terpenting dari keseluruhan kurikulum yang telah diimplementasikan bertujuan untuk mencerdaskan anak bangsa.

Di daerah yang berbeda yang dikutip dari Diskominfo dompukab, Bupati Dompu yang diwakili Asisten Administrasi Umum (asisten 3), Ir. Ruslan menghadiri acara pelepasan dan kenang siswa kelas IX SMP Negeri 4 Manggelewa pada Selasa, 13/06/2023. Ruslan dalam sambutannya mengatakan bahwa, ”pendidik, tenaga kependidikan dan orang tua harus melakukan semua yang terbaik untuk mendukung kurikulum merdeka belajar karena terbukti P-5 (Program Penguatan Profil Pelajar Pancasila) seperti yang ditunjukkan pada peringatan hari Pendidikan Nasional 02 Mei 2023 lalu, semua sekolah termasuk SMPN 4 Manggelewa menghasilkan karya dan kreatifitasnya.” Beliau juga mengajak kepada semua pihak untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Kabupaten Dompu. Meningkatkan kualitas pendidikan bukan hanya tugas dan kewajiban pemerintah daerah semata, melainkan perlu kerjasama dan keterlibatan aktif dari seluruh orang tua, pihak sekolah, guru serta elemen lainnya.

Racun di Balik Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM)

Musuh-musuh Islam akan selalu berusaha untuk menghancurkan generasi melalui berbagai cara, salah satunya lewat sistem pendidikan. Pendidikan saat ini sedang tidak baik-baik saja. Hal ini disebabkan oleh gencarnya program ‘merdeka belajar’. Program merdeka belajar ini tidak hanya diterapkan di perguruan tinggi saja, akan tetapi mulai dari PAUD, SD, SMP dan SMA. Tidak hanya itu, di beberapa sekolah sudah melakukan workshop peningkatan kompetensi guru melalui pemanfaatan platform merdeka belajar guna menyambut siswa baru dan menjadi peluang tersebarnya program ini. Oleh karena itu, perlu kita ketahui bersama apabila program ini terus dilanjutkan oleh pemerintah maka akan berdampak pada guru dan pelajar.

Adapun bahaya dari IKM ini adalah membuat dunia pendidikan dan generasi semakin sekuler, liberal dan jauh dari kebangkitan. Pergantian kurikulum dari K13 menjadi Kurikulum Merdeka tidak lantas membuat generasi menjadi lebih baik. Karena kurikulum yang dipakai jauh dari Islam atau biasa disebut sekularisme. Ini sejalan dengan pernyataan yang disampaikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim 3 tahun silam. Ia mengatakan bahwa yang dimaksud ‘merdeka belajar’ artinya ‘merdeka berpikir’ dan merdeka berpikir harus dimulai dari guru yang harus berpikir terkait materi ajar, kemudian disampaikan kepada siswa, kemudian menginternalisasikan dan mengambil pandangan yang didasarkan pada nalar.

Sebenarnya apa yang dimaksud dengan ‘kemerdekaan berpikir’ menurut Mendikbud dalam sistem sekulerisme kapitalisme hari ini? Perlu kita ketahui bersama bahwa Mendikbud ada dalam program melawan radikalisme dan intoleran. Makna ‘radikalisme dan intoleran’ yang dimaksud adalah keterikatan dan komitmen seseorang terhadap ajaran agamanya. Artinya siapa saja yang fanatik terhadap agamanya akan dikatakan sebagai radikal. Dan siapa saja yang mengatakan bahwa selain agama Islam adalah kafir, maka dia termasuk intoleran.

Sementara di perguruan tinggi diluncurkan konsep ‘kampus merdeka’. Maksud dari konsep kebijakan ini ialah kampus bisa bekerja sama dengan bermacam-macam lembaga untuk membuka program studi (prodi) baru bahkan perusahaan multinasional, startup, BUMN sampai organisasi dunia seperti PBB bisa ikut menyusun kurikulum untuk prodi baru. Adanya konsep seperti ini mendorong perguruan tinggi mencetak generasi yang orientasinya hanya serapan dunia industri saja. Hal semacam ini memperlihatkan kepada kita bahwa negara saat ini lepas tangan terhadap kewajibannya untuk mencetak generasi penerus peradaban.

Orientasi pendidikan ala rezim dalam sistem kapitalis saat ini bukanlah menjadi intelektual yang membawa perubahan, kemajuan dan menyelesaikan masalah masyarakat dengan ilmu dan inovasi mereka bagi kepentingan publik. Namun perguruan tinggi hanya menjadi mesin pencetak tenaga terampil bagi kepentingan industri (kapitalis).

Kurikulum Pendidikan Dalam Islam

Pendidikan di dalam Islam adalah upaya sadar, terstruktur, terprogram dan sistematis dalam rangka membentuk manusia yang memiliki: kepribadian Islam, menguasai pemikiran Islam dengan handal, menguasai ilmu-ilmu terapan, ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), dan mencetak generasi yang unggul serta pemimpin peradaban.

Adapun mengenai kurikulum pendidikan Islam dibangun berdasarkan akidah Islam. Pelajaran dan metodologinya diselaraskan dengan asas tersebut. Sehingga intelektual yang dihasilkan bukan hanya sekadar ahli dalam bidang ilmu dunia saja, melainkan faqih dalam agama.

Generasi yang unggul di berbagai bidang ini tidak lahir begitu saja, melainkan ada upaya yang diberikan negara. Negara tidak hanya memfokuskan pada pelatihan dan sekadar mengadakan workshop, akan tetapi mengimplementasikan secara keseluruhan baik penguatan dari segi akidah hingga standar dan kurikulum yang diterapkan. Negara menyediakan guru yang berkualitas dan berkompetensi di bidangnya. Kurikulum yang diterapkan pun tidak akan ada perubahan, kecuali tataran uslub supaya murid tidak bosan.

Generasi yang unggul ini hanya bisa terealisasi apabila negara menerapkan aturan Islam secara kaffah dalam bingkai khilafah Islamiyyah. Negara hadir untuk melayani umat dan sebagai pengontrol agar kurikulum berjalan dengan benar. Tugas kita sekarang adalah mendakwahkan Islam kaffah di tengah-tengah umat dan mengajak untuk berjuang bersama demi tegaknya dinnul Islam. (***)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *