Bimantika.net -Dalam Al-Quran ditegaskan bahwa Allah menciptakan alam semesta selama enam masa (sittatu ayyam, dalam surah al-A’raf ayat 54) yang mana dalam perjalanannya penciptaan alam memakan waktu yang sangat lama.
Konsep tentang penciptaan alam semesta telah tertuang dalam kitab suci Al-Qur’an, firman Allah yang tidak hanya diturunkan sebagai kabar gembira, melainkan juga sebagai pedoman hidup manusia. Dalam Al-Qur’an, alam semesta didefinisikan sebagai al-alamin.
Alam adalah segala sesuatu yang ada atau yang dianggap ada oleh manusia di dunia ini, selain Allah beserta Dzat dan sifat-Nya. Alam dapat dibedakan menjadi beberapa jenis.
Di antaranya adalah alam ghoib dan alam syahadah yang dalam bahasa sehari-hari disebut sebagi alam semesta.
Alam semesta merupakan ciptaan Allah yang diurus dengan kehendak dan perhatian Allah.
Allah menciptakan alam semesta ini dengan susunan yang teratur dalam aspek biologi, fisika, kimia, dan geologi beserta semua kaidah sains.
Definisi dari alam semesta itu sendiri adalah segala sesuatu yang ada pada diri manusia dan di luar dirinya yang merupakan suatu kesatuan sistem yang unik dan misterius.
Mengutip buku Filsafat Lingkungan yang ditulis oleh Suryo Adi Sahfutra, al-alamin sering diidentifikasikan sebagaimana ma siwalah; semua yang selain Allah adalah alam.
Adapun kata al-alam tidak dijumpai dalam bentuk tunggal (mufrad) di dalam Al-Qur’an, dan disebutkan sebanyak 74 kali dalam frasa atau juga gabungan kata.
Proses Penciptaan Alam Semesta dalam Al-Qur’an
Irfan Latifulloh menyebutkan dalam bukunya Kun Fayakun Kun La Takun:
Menyegarkan Kembali Gagasan Islam, Allah menciptakan alam semesta dan seisinya dalam enam tahapan. Proses panjang tersebut telah terangkum dalam Al-Qur’an surat An Nazi’at ayat 27-33.
Masa pertama adalah penciptaan alam, kemudian alam semesta mengembang dan menjadi sempurna, barulah disusul oleh penciptaan tata surya termasuk bumi, lantas penghamparan bumi agar layak dan dapat ditinggali, oleh karena itu Allah mengirimkan air ke bumi dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan.
Lantas, muncul pertanyaan mengapa Allah memerlukan waktu yang cukup lama dan bertahap padahal Allah memiliki kekuasaan penuh apabila menciptakan sesuatu? Meskipun pada dasarnya Allah dapat menciptakan sesuatu dalam sekejap, yakni dengan “kun fayakun”, ternyata terdapat makna lain di balik penciptaan alam semesta.
Allah mengatur penciptaan alam semesta sedemikian rupa agar manusia sebagai makhluk yang suka tergesa-gesa dan tidak sabar untuk belajar bersabar dan menikmati proses. Allah bisa saja menciptakan alam semesta dalam sekali jadi, tidak dalam enam masa, tetapi Allah menetapkan hal tersebut agar makhluk-Nya dapat menghargai segala proses kehidupan.
Proses penciptaan alam semesta dijelaskan melalui beberapa ayat dalam Al-Qur’an. Berikut rangkuman ayat Al-Qur’an tentang penciptaan alam semesta.
- Surat Al-Anbiya ayat 31
وَجَعَلْنَا فِى الْاَرْضِ رَوَاسِيَ اَنْ تَمِيْدَ بِهِمْۖ وَجَعَلْنَا فِيْهَا فِجَاجًا سُبُلًا لَّعَلَّهُمْ يَهْتَدُوْنَ
Artinya: Dan Kami telah menjadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh agar ia (tidak) guncang bersama mereka, dan Kami jadikan (pula) di sana jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk.
- Surat Fushshilat ayat 9-12
قُلْ اَىِٕنَّكُمْ لَتَكْفُرُوْنَ بِالَّذِيْ خَلَقَ الْاَرْضَ فِيْ يَوْمَيْنِ وَتَجْعَلُوْنَ لَهٗٓ اَنْدَادًا ۗذٰلِكَ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ ۚ
وَجَعَلَ فِيْهَا رَوَاسِيَ مِنْ فَوْقِهَا وَبٰرَكَ فِيْهَا وَقَدَّرَ فِيْهَآ اَقْوَاتَهَا فِيْٓ اَرْبَعَةِ اَيَّامٍۗ سَوَاۤءً لِّلسَّاۤىِٕلِيْنَ
ثُمَّ اسْتَوٰىٓ اِلَى السَّمَاۤءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْاَرْضِ ائْتِيَا طَوْعًا اَوْ كَرْهًاۗ قَالَتَآ اَتَيْنَا طَاۤىِٕعِيْنَ
Artinya: Katakanlah, “Pantaskah kamu ingkar kepada Tuhan yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan pula sekutu-sekutu bagi-Nya? Itulah Tuhan seluruh alam.” Dan Dia ciptakan padanya gunung-gunung yang kokoh di atasnya.
- Surat Az-Dzariyat ayat 47
وَالسَّمَاۤءَ بَنَيْنٰهَا بِاَيْىدٍ وَّاِنَّا لَمُوْسِعُوْنَ
Artinya: Dan langit Kami bangun dengan kekuasaan (Kami), dan Kami benar-benar meluaskannya.
- Surat Hud ayat 7
وَهُوَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ وَّكَانَ عَرْشُهٗ عَلَى الْمَاۤءِ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا ۗوَلَىِٕنْ قُلْتَ اِنَّكُمْ مَّبْعُوْثُوْنَ مِنْۢ بَعْدِ الْمَوْتِ لَيَقُوْلَنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اِنْ هٰذَٓا اِلَّا سِحْرٌ مُّبِيْنٌ
Artinya: Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan ‘Arsy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya. Jika engkau berkata (kepada penduduk Makkah), “Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan setelah mati,” niscaya orang kafir itu akan berkata, “Ini hanyalah sihir yang nyata.”
- Surat Al Sajdah ayat 4
اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِۗ مَا لَكُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّلِيٍّ وَّلَا شَفِيْعٍۗ اَفَلَا تَتَذَكَّرُوْنَ
Artinya: Allah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Bagimu tidak ada seorang pun penolong maupun pemberi syafaat selain Dia. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?
- Surat At Thalaq ayat 12
اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ وَّمِنَ الْاَرْضِ مِثْلَهُنَّۗ يَتَنَزَّلُ الْاَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ەۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ قَدْ اَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا
Artinya: Allah yang menciptakan tujuh langit dan dari (penciptaan) bumi juga serupa. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.
Ayat-ayat tersebut makin menjelaskan kepada kita bahwa setelah air diturunkan ke bumi, maka sebelum Allah ciptakan hewan, tentunya yang terlebih dahulu Allah ciptakan adalah tumbuh-tumbuhan sebagai cadangan makanan hewan.
Kemudian hewan-hewan ada juga yang menjadi cadangan makanan untuk hewan-hewan predator. Semua jenis hewan, baik burung maupun hewan darat, ternyata menurut ilmu pengetahuan memang asal-usulnya dari hewan air.
Bagaimana kita harus memperlakukan alam semesta ini?
Pertama, Prinsip Tanggung Jawab
Manusia mempunyai tanggung jawab baik terhadap alam semesta seluruhnya dan integritasnya, maupun terhadap keberadaan dan kelestariannya.
Setiap bagian dan benda di alam semesta ini diciptakan oleh Tuhan dengan tujuannya masing-masing, terlepas dari apakah tujuan itu untuk kepentingan manusia atau tidak.
Oleh karena itu, manusia sebagai bagian dari alam semesta, bertanggung jawab pula untuk menjaga dan melestarikannya.
Kedua, Prinsip Solidaritas
Manusia adalah bagian integral dari alam semesta. Lebih dari itu, dalam perspektif ekosentrisme, manusia mempunyai kedudukan sederajat dan setara dengan alam dan semua makhluk lain di alam ini.
Kenyataan ini membangkitkan dalam diri manusia perasaan solider, perasaan sepenanggungan dengan alam dan dengan sesama makhluk hidup lain.
Ketiga, Prinsip Kasih Sayang dan Kepedulian terhadap Alam.
Apabila sudah tertanam prinsip ini pada setiap hati manusia, maka pastilah yang ada hanya rasa untuk mencintai, menyayangi, dan melestarikan alam semesta dan seluruh isinya, tanpa diskriminasi dan tanpa dominasi.
Kasih sayang dan kepedulian ini juga muncul dari kenyataan bahwa semua makhluk hidup mempunyai hak untuk dilindungi, dipelihara, tidak disakiti, dan dirawat. (***//Berbagai Sumber)

