Gaza Terus Diserang, Dihancurkan dan Diblokade: Urgensi Tegaknya Perisai Umat Islam

jpn

Oleh : Saima, S.I.P (Penggiat Literasi Kota Bima)

BIMAntika.net -Gaza makin samar di pemberitaan, tetapi penderitaan yang dialami oleh warga Gaza tak pernah berhenti. Alih-alih menjadi sorotan pertama bahwa Israel telah memperluas wilayah pendudukan di Jalur Gaza, Palestina, hingga 59 persen wilayah tersebut dan tengah mempersiapkan kemungkinan dimulainya kembali genosida di wilayah kantong Palestina itu. (jatim.antaranews.com,03/05/2026).

Kemudian Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) menyebutkan bahwa jalur Gaza merupakan tempat paling mematikan di dunia bagi para jurnalis (bali.antaranews.com,04/05/2026).

Tidak hanya itu, kelompok Zionis pun kembali mencegat kapal-kapal pembawa bantuan kemanusiaan bagi penduduk Gaza. Armada bantuan kemanusiaan, Global Sumud Flotilla menyebut militer Israel telah menculik 211 aktivis dalam operasi di perairan internasional dekat Pulau Kreta, Yunani, pada Kamis (30/4/2026).

Sebanyak 22 dari total 58 kapal telah dicegat, kapal-kapal tersebut terdiri dari berbagai delegasi, dengan anggota kru dari 48 negara berbeda. Insiden ini telah memicu kecaman internasional terutama karena lokasi pencegatan yang dilakukan, dinilai sangat jauh dari zona blokade Gaza (video.kompas.com, 01/05/2026).

Sangat memilukan menyaksikan kesengsaraan para saudara seiman di Gaza yang tak berkesudahan. Israel tidak membiarkan siapapun untuk menolong Gaza, bahkan berhasil membungkam pemimpin negeri muslim.

Seakan-akan penderitaan anak-anak Gaza yang dijadikan korban tidak menggerakkan hati kita.

Gaza Terkini: Krisis Kemanusiaan dan Solidaritas Global

Dalam hiruk-pikuk kemajuan peradaban global, saat negara-negara maju berusaha keras untuk menunjukkan diri sebagai pelindung hak asasi manusia, ironi yang paling menyedihkan justru terjadi di Gaza. Jika ada ungkapan umum yang menyatakan, “kehidupan seperti roda yang berputar”, apakah itu juga tepat untuk masyarakat Gaza? Mungkin, pertanyaan tersebut terus bergulir dalam pikiran mereka, warga Gaza. Ketika penderitaan mereka tampak tak pernah berakhir. Saat kenyataan yang mereka hadapi terus-menerus diserang, dirusak, dan diblokade tanpa jeda atau perlindungan yang berarti.

Wilayah kecil yang terpencil ini telah menjadi simbol nyata betapa kemanusiaan sering kali sekadar jargon, bukan nilai yang benar-benar dijunjung tinggi. Gaza, dengan lebih dari dua juta penduduk yang hidup dalam ruang yang sempit, telah berubah menjadi penjara terbuka terbesar di seluruh dunia.

Kini bahkan diskusi tentang penghentian permusuhan telah menghilang dari berita. tidak ada perundingan, tidak ada perwakilan untuk perdamaian, tidak ada suara yang sungguh-sungguh membela Gaza tidak dari otoritas Palestina di Tepi Barat, dan juga dari para pemimpin mereka sendiri.

Pelanggaran hukum laut internasional menunjukkan dengan jelas bahwa kelompok Zionis tidak mengenal batas dalam memperpanjang blokade terhadap Gaza. Mereka melakukan tindakan ini karena mereka menyadari bahwa umat Islam cenderung pasif atas segala yang mereka lakukan. Berbagai upaya diplomatik untuk mencapai perdamaian tidak pernah mengakhiri genosida. Beberapa kali gencatan senjata dicanangkan, namun pihak Zionis selalu melanggarnya secara sembrono. 

Di samping itu, sebutan “teroris” yang mereka gunakan untuk membenarkan tindakan agresif mereka adalah alasan palsu yang terus-menerus disuarakan oleh Zionis untuk mengkriminalisasi setiap bentuk dukungan terhadap Palestina.

Sebenarnya, Israel adalah teroris yang sejati. Mereka dengan sadis membunuh anak-anak, wanita, bahkan orang tua.

Konflik antara Palestina dan Israel bukan hanya konflik lokal, tetapi juga merupakan tantangan bagi sistem global.

Lalu adanya penguasaan ilegal Israel terhadap wilayah Palestina merupakan salah satu bentuk kolonialisme di era abad ke-21, yang didukung oleh keheningan masyarakat internasional. Hipokrisis dunia Barat dan negara-negara yang mengklaim sebagai pelindung hak asasi manusia malah memberikan dukungan terhadap kekerasan di Gaza.

Sungguh menyedihkan, di tengah banyaknya tindakan biadab yang dilakukan oleh Zionis, tidak ada respons dari para pemimpin negara-negara Muslim.

Tidak ada satu pun negara Muslim yang mengerahkan angkatan lautnya untuk melindungi kapal-kapal tersebut.

Hal ini menunjukkan bahwa sistem negara yang sekarang ada, tidak dibuat untuk melindungi umat Islam, tetapi untuk mempertahankan keberadaan Zionis.

Dari penjelasan di atas, bisa kita ambil kesimpulan bahwa inti permasalahannya adalah ketidakadilan dan ketiadaan negara yang didirikan atas dasar akidah Islam, sehingga negara-negara muslim, termasuk Palestina, menjadi sasaran penjajahan orang Barat.

Islam dan Solidaritas terhadap Gaza

Setelah memahami inti masalah penjajahan Palestina oleh Zionis, umat harus segera bertindak untuk membebaskannya dan tidak menunda-nunda lagi.

Mereka perlu diusir dari wilayah Gaza, sudah cukup dengan berbagai upaya cacian, penolakan, dan diplomasi yang tidak berarti di berbagai forum internasional yang terbukti tidak mampu menghentikan kekejaman Zionis. Bahkan mereka semakin kejam dan beringas.

Umat Islam harus mengingat bahwa :
”Sesama muslim adalah saudara seaqidah. Kita adalah satu tubuh, jika satu bagian tubuh sakit, bagian tubuh yang lain akan merasakan sakit itu.” (HR.Bukhori dan Muslim)

Islam memiliki tradisi yang panjang dalam mempromosikan keadilan dan pembebasan, sebagaimana ditunjukkan oleh Shalahuddin Al-Ayyubi yang menguasai Al-Quds tanpa terjebak dalam negosiasi yang membosankan, tetapi justru melalui kekuatan iman dan taktik militer Islam.

Di sini letak pentingnya kesatuan dalam upaya dakwah secara kolektif untuk memperbaiki pemahaman umat yang telah terdistorsi oleh ideologi kapitalis Barat, khususnya dalam menyelesaikan isu gaza.

jpn

Umat perlu memiliki pandangan yang seragam bahwa persoalan Gaza bukan semata-mata isu kemanusiaan, melainkan juga merupakan bentuk penjajahan.

Selain itu, mengusir penjajah yang seperti Zionis jelas tidak dapat dilakukan hanya dengan mengeluarkan protes, melakukan demonstrasi, atau melakukan boikot yang selama ini dilakukan oleh sebagian umat Islam.

Namun, itu memerlukan tindakan militer, yaitu jihad fisabilillah. Seperti yang pernah dilakukan oleh Rasulullah saw. terhadap kaum Yahudi Bani Qainuqa, ketika mereka menghina seorang perempuan Muslim.

Rasulullah saw. langsung menyatakan perang terhadap kaum Yahudi tersebut segera setelah menerima kabar pelecehan itu.

Islam dengan jelas telah menjelaskan cara syariat yang harus diikuti ketika menghadapi konflik dan ketidakadilan. Berdasarkan ayat-Nya; “Dan bertempurlah di jalan Allah melawan mereka yang memerangi kalian, tetapi jangan melebihi batas.

Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang yang melanggar batas. Dan bunuhlah mereka di tempat yang kalian temui, dan usirlah mereka dari tempat mereka mengusir kalian. . . ” (TQS. Al-Baqarah : 190-191).

Islam yang membawa beragam pedoman dan sekaligus jalan keluar untuk setiap masalah. Ideologi ini memiliki potensi untuk bersaing dan melawan pemikiran Barat di arena global. Dengan ideologi ini, peremajaan peradaban Islam dan kesatuan negara-negara muslim akan tercapai.

Oleh karena itu, tidak ada alternatif lain selain berpartisipasi dalam kelompok dakwah ideologis yang akan memimpin umat, berjuang secara kolektif mewujudkan pemimpin yang menjalankan syariat dan memimpin perjuangan untuk memerdekakan Gaza serta negara-negara lainnya yang terjajah.

Semua ini menunjukkan bahwa umat Islam tidak dapat terus berharap pada alternatif yang disediakan oleh sistem sekuler global.

Solusi yang sesungguhnya harus berasal dari suatu perspektif yang berbeda, yaitu Islam kaffah, yang tidak hanya berfungsi sebagai panduan spiritual tetapi juga sebagai sebuah sistem hidup yang menyeluruh yang dapat mengelola urusan komunitas dengan cara yang komprehensif.
Wallahu a’lam bish-shawwab. (****)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *