Atlit Panjat Tebing Kota Bima Training Center di Jawa Timur

Bimantika.net _Pasca mengikuti kejuaraan Nasional Mapala Specta UIN Solo Jawa Tengah dan Eiger Independen Climbing Competition kemarin atlit panjat tebing kota bima khusus atlit putra tidak kembali ke Kota Bima.

Mereka mengikuti Training Center Mandiri yang telah diprogramkan oleh Pengurus Federasi Panjat Tebing Indonesia Kota Bima.

“Ada 4 orang atlit yang mengikuti program ini” ungkap Muhammad Fauzi, S.Pt selaku Ketua Harian panjat tebing Kota Bima.

Ke 4 Atlit itu adalah Muhammad Fajar, Fatahillah, M Naufal Bimasbuqin dan MF Fadillah Rosyid.

Fauzi membeberkan bahwa Dimana Muhammad Fajar adalah atlit yang pernah mengikuti PON XXI Papua dan Fatahillah adalah merupakan atlit sparing partner atlit PON NTB tahun lalu.

Sementara dua atlit muda adalah M Naufal Bimasbuqin dan M Fadillah Rosyid adalah merupakan siswa pelajar pada MAN 2 Kota Bima.

Sebelum ini diputuskan, Fauzi menjelaskan bahwa pihaknya selaku Pengurus FPTI Kota Bima tentu melaksanakan rapat intern untuk membahas segala kesiapan.

Terutama administrasi surat permohonan kepada Ketua Umum FPTI Kota Surabaya, serta permohonan ijin kepada orang tua atlit dan ijin pada Kepala Sekolah MAN 2 Kota Bima.

Training Center Mandiri ini tentu memiliki tujuan jangka pendek dan jangka panjang.

Antara lain dalam waktu dekat akan ada perhelatan Pekan Olahraga Provinsi NTB dan jangka panjangnya adalah mempersiapkan atlit untuk menghadapi PON Aceh tahun 2024.

Ketika ditanya kenapa mesti daerah Jawa Timur yang dijadikan tempat untuk Training Center Ozy menuturkan bahwa Jawa Timur merupakan tolak ukur bagi kemajuan olahraga panjat tebing di Indonesia terbukti di setiap event baik Nasional maupun Internasional jawa timur selalu menjadi terdepan.

Pada perhelatan PON tahun lalu Jawa Timur meraih juara umum untuk cabang olahraga panjat tebing ungkapnya.

Lebih lanjut Ozy sapaan akrab yang merupakan mantan staf ketua pada Senat Mahasiswa Peternakan Unram ditahun 1997 hingga 1999.

Sebelumnya memang yang bersangkutan adalah mantan atlit Maternapala Unram.

Dia mengucapkan rasa terima kasih kepada segenap ketua dan pengurus FPTI Kota Surabaya yang telah memberikan ijin penggunaan sarana yg dimiliki.

“Terima kasih pula kami sampaikan kepada bapak Kuntono Halim selaku pengurus pusat panjat tebing Indonesia. Serta pemegang label Toke Wall perusahaan ternama yang memiliki sertifikat pembangunan sarana olahraga panjat tebing di Indonesia” ungkapnya.

“Tidak semua daerah diberikan hak spesial begini mas kalo tidak ada hubungan emosional yang sudah lama melekat” Ozy menambahkan

Sebut saja pembangunan dinding panjat tebing yang dimiliki oleh Kota Bima dibangun oleh Toke Wall 18 tahun silam, dan untuk saat ini sudah tidak layak untuk dijadikan venue kompetisi.

Ditanya soal biaya untuk pelaksanaan TC mandiri ini ia memaparkan bahwa modal nekat yang dijadikan tekad untuk membangun generasi muda bahwa prestasi itu tidak mesti jalur akademik lewat olahraga Negarapun telah menjamin.

Namun yang terpenting adalah agar generasi penerus bangsa ini jauh dari hal-hal negatif semisal narkoba dll.

Diakhir wawancara Ozy menyampaikan harapan agar pemerintah melalui Koni Kota Bima kiranya dapat segera merealisasikan anggaran dana pembinaan cabang olahraga yang ada saat ini.

Demi keberlangsungan program yang telah direncanakan oleh kami selaku cabang olahraga.

Hasil Kejuaraan Nasional UIN dan EIGER Bandung
Pergelaran dua kejuaraan diatas telah berakhir dimana telah dimuat dimedia ini sebelumnya bahwa Kota Bima mengirim 6 atlit untuk kejuaraan di Solo dan 1orang atlit untuk di Bandung.

Di Spacta UIN Solo Fatahillah yang turun dinomor lead mapala berhasil diperingkat 5 dari 53 peserta yang ikut.

Magfiratun Sholeha mewakili Mahapeta STIE Bima berada diurutan 6 dari 48 peserta.

Tentu melalui perjuangan hingga dapat berjejer dengan atlit terbaik Indonesia untuk kategori Mapala Se Indonesia.

Sementara itu dinomor pelajar putri atas nama Ayu Anggraini dan Miftahul Jannah harus puas diurutan ke 9 dari 52 peserta pelajar. Atlit pelajar putra M Naufal Bimasbuqin bertengger diperingkat 30 serta MF Fadillah Rosyid diurutan 56 dari 97 peserta.

Di Bandung EICC Muhammad Fajar pada nomor kecepatan putra harus tereliminasi pada perebutan 4 besar. Setelah berhadapan dengan atlit nasional Sapto.

Jalannya pertandingan pada jalur A Fajar menang namun dijalur B Fajar False dan tidak bisa melanjutkan pertandingan sesuai dengan aturan kompetisi panjat tebing Indonesia.

“Atas raihan ini kami cukup bangga karena kompetisi ini kami tidak memiliki target tapi agar adik-adik punya pengalaman karena ini kejuaraan pertama setelah pandemi Covid 19” ungkapnya diakhir wawancara. (***)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *