Gambar Ilustrasi Gas Elpiji 3 kg
Bimantika.net dengan langka dan naiknya harga Gas Elpiji di Kota dan Kabupaten Bika menjadikan warga marah.
Gejolak dan marahnya sejumlah warga terkait naiknya harga gas elpiji, terutama untuk ukuran tabung 3 kg tidak terbendung.
Kenaikan harga yang sangat drastis dan melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) sempat terjadi sekitar dua minggu lalu hingga saat ini.
Pada tingkat pengecer dan pangkalan ada praktek yang melukai hati rakyat, harga isi ulang gas elpiji 3 kg bisa mencapai kisaran Rp 35.000.
Trent harga yang terus naik tajam seperti ini tak pelak meledakan amarah warga terutama Ibu-ibu rumah tangga yang sangat bergantung pada ketersediaan gas elpiji untuk melakukan pekerjaan rumah tangganya.
Hal senada juga terjadi pada para pedagang kuliner sederhana.
Dari hasil penelusuran dan pengaduan yang diterima wartawan, banyak sekali keluhan dan harapan Ibu-ibu terkait tingginya harga isi ulang gas elpiji tersebut.
Ibu Misbah 38 tahun warga RT 07 Kelurahan Paruga sangat meradang ketika dengan terpaksa harus membeli slot isi ulang gas elpiji 3 kg miliknya.
Misbah kaget ketika diminta membayar diluar batas harga yang ditetapkan, yaitu dengan harga Rp. 33.000. Jumiatul warga Kelurahan Dara juga mengeluhkan hal serupa, dirinya sangat heran ketika harus membayar Rp 30.000 untuk isi ulang tabung gas elpiji 3 kg miliknya. Para pedagang kulinerpun merasakan kesulitan yang sama.
Seorang pedagang makanan siap saji dikompleks pasar amahami (sebut saja Sri) menceritakan pada madambojo bahwa dirinya mengalami kerugian akibat naiknya harga isi ulang gas elpiji miliknya tersebut, karena ongkos yang dikeluarkan tidak sebanding dengan harga jual mie instan siap saji yang dijualnya.
“Serba salah jadinya, jika harga jual dinaikkan maka pembeli akan lari, sementara untuk ongkos elpiji saja sudah membuat saya rugi” Keluh Sri.
Hingga berita ini diturunkan Pemerintah setempat melalui Bagian Ekonomi Setda Kota Bima sudah melakukan langkah penanganan terpadu dengan menghadirkan tambahan kuota gas elpiji dari Pertamina Surabaya (Koordinasi dengan Pertamina Depo Bima)
Dan telah memperkuat regulasi yang diterbitkan Gubernur NTB terkait harga jual tertinggi isi ulang tabung gas elpiji. Pemkot Bima secara resmi telah menerbitkan perwali nomor 41 sebagai regulator untuk memperkuat pergub NTB.
Disamping itu, melalui Bagian Ekonomi Setda, Pemerintah telah membentuk satgas terpadu untuk mengawasi harga dan menindak oknum nakal yang menaikkan harga jual diluar batas kewajaran.
Satgas tersebut nantinya akan diisi para personel dari Pemkot, Kepolisian, TNI dan Perwakilan Agen Resmi.
Adapun berdasarkan hasil dari penelusuran dan investigasi yang dilakukan oleh media ini dengan beberapa wartawan lainnya, telah ditemukan beberapa faktor yang menyebabkan harga jual isi ulang gas elpiji tersebut terus naik tajam.
Sehingga dari hasil temuan dilapangan, media dapat menyimpulkan berbagai bentuk dan modus operandi dari para ‘pemain Gas Elpiji.
Cara kerja para oknum tersebut sangat rapi dan sistematis dan terkesan dikoordinir oleh ‘big bos’, sehingga seringkali membuat Pemerintah kecolongan.
Karena pola yang demikian rapi, tidaklah salah media media ini menyebut para oknum tersebut sebagai kartel elpiji (kartel adalah sekelompok orang yang memfokuskan pekerjaan dalam membentuk dan mengendalikan harga komoditas tertentu).
Beberapa faktor terkait naiknya harga tersebut adalah sebagai berikut ini :
- KECURANGAN PADA TINGKAT PANGKALAN, yaitu sengaja menjual jauh diatas batas harga yang ditetapkan pemerintah yang sebesar Rp 15.000. Hampir disetiap pangkalan harga isi ulang tabung elpiji 3 kg adalah sekitar 18.000 dan harga tersebut masih dalam batas toleransi warga. Berbanding terbalik dengan beberapa pangkalan nakal yang menjual dengan harga Rp. 30.000 sampai 35.000 atau mengalihkan jatah pangkalan pada pencecer/calo yang tidak memiliki hak distribusi sehingga oleh pengecer tersebut harga jual elpiji bisa dinaikkan sampai harga 37.000.
- PERAN PIHAK KETIGA ATAU CALO/PENGECER ILEGAL yaitu mereka yang membeli jatah atau menjualkan jatah dari pangkalan nakal yang karena takut ditindak Pemerintah mengalihkan jatah gas elpijinya kepada para pengecer ilegal atau calo.
- DISFUNGSI AGEN TUNGGAL yaitu dimana dalam hal ini PT Tanone Jaya selaku agen tunggal pemasok gas pada pangkalan menutup mata atas tindakan yang dilakukan oleh pangkalan/pengecer nakal. Padahal dengan kewenangan yang dimilikinya, Agen tunggal dapat menghentikan droping pada pangkalan nakal jika masih terbukti mempermainkan harga. Dalam wawancaranya dengan wartawan, Agus Rusmanto selaku manager PT Tanone Jaya mengaku tidak mampu memberikan sangsi pada pangkalan nakal, padahal jika berkeinginan kuat menghentikan kekacauan harga ini maka agus bisa saja menghentikan distribusi pada pangkalan nakal tersebut. “Kami hanya mengimbau pada pangkalan agar tidak menaikkan harga jauh melebihi HET (harga eceran tertinggi)” ucap Agus.
- ADANYA KARYAWAN NAKAL DARI AGEN TUNGGAL, para pekerja atau karyawan tersebut kerap dipergoki masyarakat ketika menurunkan tabung gas diluar rute yang ditetapkan agen dan pemerintah.
Wartawan pernah memberikan bukti rekaman pada manager Tanone Jaya, namun Agus Rusmanto sebagai manager menampiknya dengan mengatakan bahwa untuk rute Nitu dan Oi fo’o memang tidak bisa diturunkan di pangkalan karena keterbatasan akses jalan bagi truk pengangkut.
Hal ini jelas dapat menimbulkan resiko tinggi ketika pangkalan harus menjemput sendiri tabung gas tersebut dengan kendaraan yang tidak safety.
Menurut Agus, perjanjiannya dengan pangkalan-pangkalan yang berada di Oi Fo’o adalah tabung gas hanya bisa diantar sampai Kelurahan rontu dan pemilik pangkalan harus membawanya sendiri ke Nitu dan Oi Fo’o.
Ketika ditanyakan bahwa jika bukti valid terkait permainan pangkalan nakal dapat dihadirkan, apakah bisa langsung diberikan sangsi berupa penghentian droping gas elpiji.
Agus tampak ragu menjawabnya. Begitu pula terkait karyawan atau supir nakal, Agus masih berkilah bahwa dirinya mengalami keterbatasan sumberdaya untuk mengawasinya.
Padahal cukup dengan sistem GPS Terintegrasi, Agus sudah bisa mengawasi rute dari armada pengangkutan tabung gas via Android.
- TIDAK SINERGISNYA STEKEHOLDER DENGAN SATGAS TERPADU, Kabag Ekonomi Setda Kota Bima Ruslan SE MM mengaku sudah sejak lama berkoordinasi dengan Agen maupun pangkalan terkait fenomena lonjakan harga yang terjadi, namun hanya Pertamina Depo Bima yang sudah koperatif dengan memfasilitasi tambahan kuota elpiji dari surabaya.
Baik Agen maupun pangkalan yang teridentifikasi nakal, belum menunjukan tanda tanda koperatif dalam menyikapi hal ini.
Berbagai gejolak yang timbul karena lonjakan hal ini tidak bisa disikapi hanya dari sisi administratif dan ekonomis, namun aspek yuridis harus dihadirkan Pemerintah guna mencegah dan memberantas permainan Kartel Elpiji
sehingga tidak terulang dimasa yang akan datang. Pelibatan Satgas Pangan dari Kepolisian sangat diperlukan untuk menindak Kartel elpiji tersebut. (Madamedia//ikbal***)

