Pict Illustration
Bimantika.net KOTA BIMA_Menurut Ketua Ikatan Sarjana Nahdatul Ulama (ISNU) Kota Bima, Muhamad Ardianyah, ST bahwa Di era kebebasan berpendapat yang disertai dengan perkembangan teknologi canggih seperti sekarang ini setiap orang bebas mengutarakan isi pikirannya terhadap berbagai hal.
Mulai dari isu Agama, issu sosial, politik, ekonomi, hingga hiburan semuanya dapat dikomentari. Apalagi dengan tersedianya kolom komentar di berbagai website dan media sosial, semakin mempermudah orang mengutarakan isi pikiran.
Tinggal mengetik kalimat yang ada di pikiran pada kolom tersebut maka pendapat kita pun dapat dibaca oleh banyak orang secara luas di areal publik.
Ia menambahkan bahwa Komentar berisi kritik tentu diperlukan untuk memberikan masukan kepada orang lain terutama penyelenggara negara. Melalui kritik pula kita bisa memperbaiki sesuatu yang salah di mana hal tersebut bisa jadi belum disadari.
“Tapi sayangnya, kini tidak sedikit orang sulit membedakan mana yang disebut kritik dan menghujat. Akibatnya ada banyak kalimat kasar bertebaran di berbagai kolom komentar yang diklaim sebagai ‘kritik’ justru berbau hujatan” ujarnya
Lantas sebetulnya apa saja sih yang membedakan antara kritik dan hujatan? Ardyan mengemukakan bahwa
- Kritik berisi kalimat koreksi yang memberi masukkan perbaikan. Sementara hujatan cenderung hanya berisi hinaan dan ejekan.
- Hujatan akan berisi kalimat negatif yang tidak menghiraukan etika dalam komentar. Kritik tetap memedulikan pentingnya tata karma dalam berpendapat.
Tidak hanya kalimat berisi koreksi untuk perbaikan, ciri lainnya sebuah komentar dapat dikategorikan sebuah kritik adalah bahwa tetap memperhatikan tata krama. Ya, seseorang yang bermaksud memberikan kritik tidak akan melupakan etika karena komentar tersebut ditujukan untuk perbaikan dan bukan menyudutkan. Karenanya ia tidak akan berkata-kata kasar.
- Kritik akan fokus pada kekurangan hasil kerja, bukan pada orang yang menyelesaikan pekerjaan tersebut.
- Pemberi kritik akan berkomentar didasarkan alasan yang logis. Penghujat lebih senang berpendapat karena rasa tak suka.
- Memberi inspirasi adalah tujuan utama kritik. Hal ini tidak akan ditemukan dalam hujatan
Pada akhirnya kritik diberikan untuk perbaikan. Artinya ketika melihat sesuatu yang keliru, kita dapat berkomentar agar sesuatu yang tak baik untuk bisa dikoreksi. Jika komentar yang diberikan tidak memberikan inspirasi untuk melakukan perbaikan mungkin ada baiknya kita diam. Bukankah akan lebih diam daripada mengatakan sesuatu yang tak bermanfaat. (Bbs)


