BIMAntika.net Setiap orang tentu ingin agar selamat pada hisab hari kiamat kelak.
Dan shalat merupakan ibadah yang pertama kali akan di hisab di akhirat nanti. Hadis tentang hisab pertama adalah shalat yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أَوَّلُ مَا يُـحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ ، فَإِنْ صَلَحَتْ صَلَحَ لَهُ سَائِرُ عَمَلِهِ ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ.
Artinya: “Perkara yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari Kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya baik, maka seluruh amalnya pun baik. Apabila shalatnya buruk, maka seluruh amalnya pun buruk” Shahih: HR. Ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Ausath, II/512, no. 1880 dari Sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu anhu. Hadits ini dinilai shahih oleh Syaikh al-Albâni dalam Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr, no. 2573 dan Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah, no. 1358
Sholat adalah ibadah pertama yang akan dihisab pada hari kiamat; jika sholat seseorang baik, maka seluruh amalnya akan baik, dan jika sholatnya rusak, maka seluruh amalnya juga akan rusak. Sholat menjadi amalan yang pertama dihisab karena merupakan tiang agama dan diperintahkan langsung oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW tanpa perantara malaikat Jibril, yang menunjukkan kedudukan dan pentingnya sholat di hadapan Allah.
Mengapa Sholat Menjadi Amalan yang Pertama Dihisab?
Tiang Agama: Sholat adalah tiang agama, dan jika sholatnya baik, maka baik pula seluruh amalnya.
Perintah Langsung dari Allah: Sholat merupakan perintah langsung dari Allah kepada Nabi Muhammad SAW saat peristiwa Isra’ Mi’raj, yang menunjukkan betapa agungnya ibadah ini.
Interaksi Langsung dengan Allah: Dalam sholat, seorang hamba berinteraksi langsung dengan Tuhannya, dan posisi sujud merupakan saat terdekat seorang hamba dengan Allah.
Fungsi Penjagaan: Sholat berfungsi untuk mencegah perbuatan keji dan mungkar, sehingga orang yang menjaga sholat akan lebih terjaga dari perbuatan maksiat dan dosa.
Pentingnya Menjaga Sholat
Jika sholat seseorang baik, maka seluruh amal lainnya juga akan baik.
Jika sholatnya rusak, maka seluruh amal perbuatannya juga akan rusak.
Sholat sunnah dapat menyempurnakan kekurangan sholat wajib yang dilakukan seseorang.
Dikutip dari buku Panduan Shalat Lengkap karya Said bin Ali bin Wahaf al-Qahthani, amalan yang pertama kali akan dihisab adalah salat.
Hal ini sesuai dengan sebuah riwayat yang berbunyi:
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قاَلَ رَسُولُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( إنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ ، فَإنْ صَلُحَتْ ، فَقَدْ أفْلَحَ وأَنْجَحَ ، وَإنْ فَسَدَتْ ، فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ ، فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ ، قَالَ الرَّبُ – عَزَّ وَجَلَّ – : اُنْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ، فَيُكَمَّلُ مِنْهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيضَةِ ؟ ثُمَّ تَكُونُ سَائِرُ أعْمَالِهِ عَلَى هَذَا )) رَوَاهُ التِّرمِذِيُّ ، وَقَالَ : (( حَدِيثٌ حَسَنٌ ))
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah salatnya. Maka, jika salatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika salatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi. Jika berkurang sedikit dari salat wajibnya, maka Allah Ta’ala berfirman, ‘Lihatlah apakah hamba-Ku memiliki salat sunnah.’ Maka disempurnakanlah apa yang kurang dari salat wajibnya. Kemudian begitu pula dengan seluruh amalnya.” (HR Tirmidzi, ia mengatakan hadits tersebut hasan. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih.)
Salat yang didirikan dengan baik akan memperbaiki amal lainnya. Sebaliknya jika salatnya buruk, seluruh amalnya pun akan rusak.
Lebih dari itu, Allah Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya dengan memberikan kesempatan untuk menyempurnakan amalan wajib melalui amalan sunnah. Kekurangan dalam amalan wajib dapat ditutup dengan kebaikan dari amalan sunnah, sehingga amal kebaikan bertambah dan kejelekan terhapus.
Oleh karena itu, setiap orang dianjurkan untuk memperbanyak dan menjaga amalan sunnah sebagai pelengkap amalan wajib. Tidak cukup hanya mengutamakan yang wajib, tetapi juga perlu memanfaatkan kesempatan meningkatkan kebaikan dengan sunnah untuk meraih rahmat Allah. (****/Bbs)

