Bimantika.net
Sejumlah aktivis dari berbagai elemen mahasiswa dan pemuda kini merapatkan barisan dalam rangka pengawalan kasus dugaan keterlibatan Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam aksi premanismenya saat mahasiswa menyampaikan aspirasi di Kecamatan wera beberap hari lalu.
Pada hari selasa (6/8/2019) para aktivis melakukan koordinasi untuk melakukan pressure terhadap dugaan kasus yang melibatkan Sekretaris Pol PP Kabupatren Bima dan rekan-rekannta. “Kami tidak akan tinggal diam selama proses ini berlangsung, dan kami siap mengawalnya hingga tuntas” ujar salah satu aktivis Delian Lubis dan salah seorang aktivis lainnya yang diduga kuat sebagai korban kebringasan oknum ASN dan kawan kawan nya tersebut.
Lubis mengaku bahwa aksi prenanisme ala bar bar adalah bentuk kedzoliman nyata yang di rasakan oleh kaum muda pro demokrasi yang seharusnya sudah tidak perlu lagi terjadi di era saat ini.
“Era premanisme ala bar bar itu cara lama yang tidak produktif” ujarnya.
Masih menurut Lubis bahwa para aktor aktor dibelakang aksi premanisme harus menjadi atensi khusus pihak kepolisian sehingga tidak ada lagi tindakan liar secara brutal. Dirinya berharap agar Pihak Kepolisian dengan cermat melakukan proses hukum atas apa yang terjadi saat ini. Karena sesungguhnya aksi premanisme itu adalah kebiadsban nyata yang tidak boleh dibiarkan. “Tindakan premanisme apapun bentuknya adalah kebiadaban nyata yang kami lawan sampai kapanpun” Demikian Tegas Lubis.
Masih menurut Delian Lubis,
Bahwa sesungguhnya aktivis adalah tuganya untuk mengawal jalannya demokrasi pada bangsa dan negara ini.
“aktivis adalah mitra kritis pemerintah, tidak boleh kemudian orang-orang yg merasa diri dekat dengan kekuasaan bersikap anarkis yang merusak nilai nilai kesatuan dan persatuan” harapnya. (//tim)

