Bimantika.net Banyak Yang memberikan Apresiasi pada Kiyai Nahdatul Ulama (NU) yang baru-baru ini melakukan ceramah diatas Podium Gereja, Namun Tak sedikit yang mengecam Gus Miftah karena menganggap tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU) itu sudah melakukan toleransi kebablasan.
Pemilik nama lengkap Miftah Maulana Habiburrahman lahir di Lampung, 5 Agustus 1981 adalah seorang ulama, da’i, dan pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji di Sleman, Yogyakarta.
Ia merupakan keturunan ke-9 Kiai Ageng Hasan Besari, pendiri Pesantren Tegalsari di Ponorogo. Gus Miftah merupakan da’i jebolan dari Pegerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta oleh karena itu Gus Miftah juga dikenal sebagai ulama muda Nahdlatul ‘Ulama yang fokus berdakwah bagi kaum marjinal, baik melalui dakwah di dalam maupun di luar pesantren
Namanya mulai diperbincangkan publik ketika video dirinya viral saat memberikan pengajian di salah satu kelab malam di Bali.
Gus Miftah diserang oleh warganet yang berbeda pandangan dengan dituduh kafir dan sesat karena telah berani masuk ke rumah ibadah agama lain.
Untuk itu, Gus Miftah memberikan penjelasan dasar hukum terkait masuk Gereja, yang disampaikan melalui akun Instagram pribadinya, Senin 3 Mei 2021.
Dalam keterangannya, Gus Miftah berterima kasih kepada warganet yang telah menghujat dirinya dengan sebutan kafir, sesat dan lain-lain.
Ia merendah dengan mengatakan bahwa yang menghujat dirinya merupakan orang-orang yang luar biasa, dan menurut Gus Miftah bisa saja warganet yang benar atau sebaliknya.
“Tentang hukum masuk gereja. Terima kasih yang menghujat saya, yang mengatakan saya kafir, sesat, bangsat, dan lain lain, kalian luar biasa. Bisa jadi anda benar saya salah, atau sebaliknya,” ujarnya, dikutip Galamedia, Senin 3 Mei 2021.
Lantas dari kecaman yang menuduh dirinya sebagai kafir dan sesat, Gus Miftah akhirnya buka suara dan memberikan penjelasannya soal dasar hukum memasuki Gereja.
Pendakwah yang kerap dijuluki presiden para pendosa itu, menyampaikan penjelasannya untuk dijadikan bahan diskusi. Tak hanya itu, Gus Miftah juga mengatakan bahwa dirinya siap dinasehati bahkan sampai dimaki-maki oleh siapapun.
“Berikut saya sampaikan dasar hukumnya, mohon disimak dan dijadikan bahan diskusi, saya siap di nasehati oleh siapapun dan belajar kepada siapapun, bahkan pisuhi atau dimaki oleh siapapun,” katanya.
Dasar hukum yang dipakai Gus Miftah, yaitu terkait orang kafir ketika 70 tahun membaca tahlil dan syahadat, sekali saja terbakar kekafirannya.
Kalimat tersebut menandakan bahwa Gus Miftah memberi penjelasan terkait dirinya masuk Gereja yang dituduh kafir dan sesat oleh warganet.
Bahkan Gus Miftah menegaskan usai dirinya menghadiri peresmian Gereja tersebut, masih tetap melakukan tahlilan setiap hari.
“Orang yang kafir 70 tahun membaca tahlil dan syahadat sekali saja terbakar kekafirannya, dan Alhamdulillah saya masih tahlilan kok setiap hari,” tuturnya.
Selain itu di balik dirinya diserang warganet atas tindakan nya yang menghadiri peresmian Gereja, Gus Miftah menekankan satu hal tentang pelajaran.
Gus Miftah menekankan bahwa orang yang niat belajar, dimanapun bisa dapat pelajaran.
Akan tetapi menurutnya orang yang tidak niat belajar maka tidak akan mendapatkan pelajaran.
“Orang yang niat belajar dimanapun bisa dapat pelajaran, tapi orang yang tidak niat belajar sedang belajar pun tidak akan mendapatkan pelajaran,” pungkasnya.(berbagai sumber***)

