Oleh: Farah Islamiyati (Aktivis Dakwah)
Bimantika.net -Ketika seseorang sudah menyelesaikan studi di jenjang perguruan tinggi, tentu ia berharap akan mendapatkan pekerjaan yang mapan dan layak bagi masa depan.
Namun, itu hanya menjadi suatu hayalan ketika hidup dalam sistem saat ini.
Sekarang banyak dijumpai para sarjana yang pengangguran, bahkan kerap dilabeli beban peradaban.
Tiap tahun, kampus-kampus meluluskan mahasiswa yang justru menambah panjang daftar penggangguran dan persaingan di dunia kerja.
Pengangguran Menjadi Problem Yang Berlanjut
Banyak kisah yang dijumpai di lingkungan kita atau di media, terkait kesulitan para sarjana untuk mendapatkan pekerjaan yang kerap berujung mereka hanya menjadi pekerja serabutan.
Tentu akhirnya mereka bekerja tidak sesuai dengan latar belakang keilmuan, keahlian dan jurusannya.
Berbagai kisah pilu seputar dunia kerja, di antaranya adalah para tenaga kerja lulusan pendidikan tinggi seperti diploma dan sarjana yang terpaksa banting setir menjadi pembantu rumah tangga, pengasuh anak, sopir, bahkan office boy (pramukantor). (bbc.com, 30/04/ 2025).
Berbagai cara pun dilakukan untuk bertahan hidup di tengah minimnya lapangan pekerjaan di sektor formal, terutama di tengah badai pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam beberapa tahun terakhir yg terus meningkat.
Kejadian ini dialami langsung oleh Heru Kurniawan, lulusan Sarjana Teknik Mesin tahun 2023, yang sekarang beralih menjadi supir mobil rental.
Ini baru satu dari sekian juta orang di luar sana yang mengalami hal serupa.
Gelar yang dulu dibanggakan dan diharapkan akan menjadi pintu kesuksesan mereka, kini tinggal wacana.
Begitu banyak lulusan-lulusan terbaik dari universitas ternama dan memiliki kemampuan yang mumpuni, namun mereka tidak punya peluang untuk menyalurkan kemampuan mereka.
Apalagi ketika mereka menunggu lowongan pekerjaan yang tidak memiliki kepastian di tengah dunia kerja yang kian selektif dan penuh.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip oleh cnbcidonesia.com (1/5/ 2025), memperlihatkan jumlah penggangguran yang bergelar sarjana pada 2014 sebanyak 495.143 orang.
Angka ini melonjak naik 981.203 orang pada 2020, dan meski sempat turun menjadi 842.378 orang di 2024, jumlah tersebut tentu masih terkategori tinggi.
Dengan angka yang tinggi sepertu itu, tentu tidak heran tagar #KaburAjaDulu mencuat sebagai ungkapan tidak langsung atas ketakutan para generasi muda akan nasib mereka.
Sekularisme Akar Masalah
Berdasarkan data International Monetary Fund (IMF), Indonesia menduduki peringkat pertama dari 6 besar negara ASEAN dengan angka pengangguran tertinggi.
Persentase pengangguran di Indonesia ada di angka 5,2%, lebih tinggi dibandingkan rerata negara lainnya yang ada di angka 3,29% (detikEdu, 03/05/2025).
Ini bukan suatu prestasi yang bisa dibanggakan, melainkan ini adalah potret buruk dari hasil periayahan di sistem sekularisme. Penguasa sekuler gagal membuka dan menyediakan lapangan kerja bagi rakyatnya.
Tersedianya pasar menjadi jaminan agar produk dan jasa bisa terserap oleh konsumen, sehingga lapangan pekerjaan terbuka. Akan tetapi pada saat ini, berbagai pasar di negara berkembang justru dikuasai oleh negara-negara besar semacam Amerika, Cina dan Eropa.
Akhirnya pasar dalam negeri justru dibanjiri oleh produk dari negara besar. Jadi tak heran jika lapangan pekerjaan akan semakin minim.
Problem utama kurangnya lapangan kerja bukan karena kurang keterampilan, kurang kolaborasi dan kurang pelatihan manajerial, tetapi terjajahnya negara-negara berkembang oleh negara-negara besar yang sedang eksis saat ini, yakni negara yang menganut ideologi kapitalisme.
Penjajahan yang terjadi menyebabkan salah satu faktor modal dari sumber daya alam yang dapat digunakan dalam upaya menciptakan lapangan pekerjaan, akan tetapi itu semua musnah. Begitu juga dengan pasar yang besar, tidak dikelola secara mandiri oleh negara.
Sehingga ini mengakibatkan sulitnya negara untuk menciptakan lapangan pekerjaan yang luas.
Ditambah dengan abainya penguasa terhadap Kebutuhan hidup masyarakat yang mereka anggap sebagai beban.
Hal demikian merupakan rentetan permasalahan yang ada dalam sistem kapitalisme.
Paradigma Islam Seputar Ketenagakerjaan
Tersapat perbedaan yang sangat jauh antara paradigma sekularisme dengan Islam.
Sekularisme yang memisahkan agama dengan kehidupan sedangkan Islam mengurusi seluruh urusan umat dengan aturan-aturan Islam yang datang dari Allah SWT.
Ditambah pula dengan pemimpin dalam Islam yang memiliki karakter raa’in dan junnah, yang akan mengurusi seluruh urusan rakyatnya dengan syariat Islam.
Sebagai seorang muslim yang berakidah Islam, maka sudah selayaknya kita kembali kepada aturan Allah, bagaimana Allah mengatur perputaran harta tidak hanya diperuntukkan pada sebagian kalangan saja, akan tetapi sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Al-Hasyr ayat 7 yang bermakna : “…agar harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu”.
Inilah pentingnya penerapan Islam dalam konteks bernegara dan bermasyarakat. Mustahil menerapkan syariat hanya pada satu sektor saja, misalnya sistem ekonomi yang berasaskan Islam, tanpa adanya negara yang mendukung dan dapat dipastikan tidak akan bisa berjalan secara maksimal.
Sehingga semua regulasi itu butuh negara untuk menjalankan perannya serta yang akan mampu memerintahkan aturan-aturan yang datang dari Allah untuk masyarakat mentaatinya.
Sektor ketenagakerjaan akan berjalan dengan baik jika penguasa memahami tugas besarnya memastikan seluruh syariat dapat tegak dengan sempurna.
Di dalam Islam, para laki-laki dimuliakan dengan perannya sebagai wali dan pencari nafkah. Jika syariat ini tidak tegak, maka pasti akan ada masalah turunan yang muncul. Mulai dari pemenuhan hajat keluarga yang tidak maksimal, hingga goyangnya bangunan keluarga dan rumah tangga muslim.
Maka penguasa dalam Islam, akan berupaya sekuat tenaga memastikan mereka semua dapat mencari dan memenuhi nafkah, salah satunya dengan membuka lapangan pekerjaan.
Yang demikian pernah dicontohkan Rasulullah saw. pada kehidupan ketika negara menerapkan Islam.
Kemudian dilanjutkan dalam sistem pemerintahan khilafah Islam oleh para sahabat sampai dengan khilafah yang terakhir yakni khilafah Utsmaniyah. Inilah yang menjadi kebutuhan umat Islam hari ini yaitu memberlakukan Islam dalam negara khilafah.
Wallahu a’lam. (****)

