jpn
Oleh: Rita Kartika Syarif, S.KM., M.Kes.
(Aktivis Muslimah Peduli Umat Kota Bima)
Bimantika.net -Kota Bima baru-baru ini menjadi sorotan ketika rombongan selebritas ibu kota yang tergabung dalam komunitas The Duda’s menggelar touring motor gede selama dua hari.
Rangkaian kegiatan tersebut meliputi konvoi mewah, kunjungan singkat ke sejumlah titik, serta pertemuan sosial yang diwarnai dengan kemeriahan dan sambutan hangat masyarakat.
Para artis ini datang bukan hanya dengan motor gede seharga ratusan juta hingga miliaran rupiah, tetapi juga dengan jet pribadi, yang dilaporkan parkir di Bandara Sultan Muhammad Salahuddin Bima.
Berdasarkan informasi dari petugas bandara, biaya parkir jet pribadi selama 24 jam bisa mencapai lebih dari Rp 3 juta, belum termasuk layanan VIP lainnya.
Tak heran jika acara ini memantik perhatian luas, baik karena sisi hiburannya, maupun karena kontrasnya dengan kondisi sosial masyarakat sekitar.
Yang paling ramai disorot bukan hanya kendaraan mewah atau penyambutan, tapi juga reaksi berlebihan sebagian warga, terutama kaum ibu yang terlihat begitu antusias, bahkan histeris saat menyambut para selebritas.
Ada yang menangis, teriak kegirangan, hingga berkata, “hidupku sudah lengkap bisa lihat mereka langsung.
Fenomena ini menyiratkan satu hal penting: kita sedang mengalami krisis panutan.
Ketika idola masyarakat lebih diarahkan kepada artis, komedian, atau tokoh hiburan — bukan kepada ulama, guru, atau pejuang rakyat — maka arah kesadaran kolektif kita patut dipertanyakan.
Apalagi, sebagian dari selebritas ini juga memegang jabatan penting di pemerintahan, seperti Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni (jabatan ini bersifat non striktural).
Namun sampai hari ini, belum tampak kontribusi langsung yang jelas dan terukur dari jabatan tersebut terhadap penyelesaian persoalan bangsa, termasuk daerah asal mereka.
Di tengah euforia ini, hadir pula salah satu tokoh yang cukup menyita perhatian: Rigen Rakelna, komedian nasional yang merupakan putra asli Bima.
Kehadirannya membawa kebanggaan tersendiri bagi masyarakat. Banyak yang berharap, sebagai “anak daerah yang sukses”, Rigen bisa menjadi representasi Bima di level nasional — bahkan mungkin membawa perubahan positif bagi daerah.
Namun, harapan tersebut tentu harus diimbangi dengan kesiapan peran dan agenda nyata.
Rigen memang populer, memiliki akses luas, dan pengaruh besar di media. Tapi pertanyaannya: apakah ia siap turun langsung ke akar persoalan, memperjuangkan isu-isu strategis seperti pendidikan, kesehatan, atau ketahanan ekonomi di tanah kelahirannya?
Popularitas bisa menjadi jembatan, tapi perubahan butuh komitmen, keberanian, dan kerja nyata.
Jika Rigen mampu melampaui peran sebagai entertainer dan bertransformasi menjadi agen perubahan sosial, maka sambutan meriah terhadapnya akan berbuah hasil.
Tapi jika tidak, maka kekaguman itu akan menguap begitu saja — menjadi momen selebrasi yang cepat dilupakan.
Dalam konteks ini, refleksi dari ulama besar Mesir, Syaikh Mutawalli asy-Sya’rawi, sangat relevan untuk direnungkan:
“Jika engkau melihat ada orang miskin di negeri kaum muslimin, maka di sana pasti ada orang kaya yang mencuri hartanya.”
Pernyataan ini bukan untuk menuduh personal, tapi untuk mengajak kita jujur membaca realitas.
Ketimpangan sosial yang lebar bukan semata karena “nasib buruk” kaum miskin, tapi karena ada struktur kekayaan yang tak adil, di mana sebagian yang punya kelebihan harta enggan menunaikan hak-hak sosial umat.
Kita bisa belajar dari sejarah Islam:
Abdurrahman bin Auf menyumbangkan ratusan unta sarat muatan untuk kebutuhan umat. Utsman bin Affan membeli sumur dan mendanai perang demi kemaslahatan rakyat. Umar bin Abdul Aziz memerintah dengan adil hingga zakat tak tersalurkan karena tidak ada lagi rakyat yang membutuhkan.
Mereka tidak tampil di depan kamera. Tidak mengendarai motor mewah. Tidak meminta dielu-elukan. Tapi merekalah yang dicatat sejarah sebagai tokoh besar peradaban.
Kini, Bima — sebagai tanah para ulama, pejuang, dan tokoh sejarah — menghadapi ujian kesadaran baru: apakah kita akan terus memberikan panggung kepada mereka yang hanya menghibur, atau mulai mendukung mereka yang benar-benar memperjuangkan?
Dan kepada para tokoh publik, termasuk putra daerah seperti Rigen, mari kita ajukan harapan dengan rendah hati namun tegas:
bawalah manfaat, bukan sekadar kebanggaan.
Karena perubahan sejati tidak datang dari euforia… tetapi dari keberpihakan, keteladanan, dan kesungguhan untuk bekerja demi umat. Wallahu’alam bisshowab. (*)