Sudah
menjadi fitrah manusia ketika mengidolakan atau mendukung sesuatu maka mereka
akan mendukung sepenh hati dan menjadi buta seketika. Maka munculah sebuah
kutipan yang mengatakan bahwa “cinta itu buta”. Bila kita tarik fitrah ini
kedalam kehidupan sehari hari maka yang kita dapati adalah kutipan tersebut
benar adanya, kecenderungan untuk mendukung sebuah pilihan ataupun idola secara
mati matian serta tanpa pikiran yang open mind menjadi realitas didalam
kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini. Realitas ini pun semakin menegaskan
bahwa kehidupan berdemokrasi kita sedang terseok seok. Kayaknya perlu tumpangan
nih demokrasi indonesia biar jalannya mulus dan nyaman.
Cebong
dan Kampret, itulah label dari penghuni demokrasi di Indonesia. Yang cebong
bisa dikatakan adalah kubu pemerintah dan yang kampret adalah kubu oposisi.
Yaa… layaknya kelompok konservatif dan progresif di era pemerintahan perancis
dulu. Awal awal lahirnya 2 kubu yaitu kiri dan kanan. Semakin kesini peran
cebong dan kampret dalam kehidupan berbangsa dikhawatirkan memecah kehidupan
berbangsa dan bernegara, sampai pada suatu waktu ditengah proses pertemuan 2
sahabat tapi dipisahkan oleh pilpres katanya mengeluarkan statement bahwa sudah
tidak ada lagi yang namanya cebong dan kampret semuanya adalah merah putih dan
yang satunya mengatakan tidak ada lagi vebong kampret yang ada adalah garuda
pancasila. Adem gak tuh? Tentunya bagi sebagian orang yang berpikir ini adalah
statemen negarawan dan menjadikan kita semua orang orang yang berpikir, tapi
bagaimana kalau masih ada cebong kampret yang berkeliaran? Maka dari itu
penulis ingin mengajak kita semua menelisik lebih jauh potensi cebong kampret
selain menjadi buzzer dan tentara dunia maya. Kita lihat dari segi perekonomian
dan sosialnya.
Pertama,
kita melihat potensi cebong kampret ini dari segi sosial dan kemungkinannya
menjadi paguyuban seperti PA 212. Menurut beberapa sosiolog Organisasi sosial
merupakan suatu bentuk pengaturan tindakan atau perilaku individu untuk bekerja
sama dalam mencapai visi atau tujuan yang disepakati. Nah potensi keguyuban
cebong dalam membela dan membersamai pemerintah dapat dijadikan sebuah
organisasi sosial yang intelek (ngakunya
intelek) dalam kemajuan Indonesia. Dalam mengawal visinya untuk membersamai
pemerintah maka kelompok cebong dapat menjadi partner pemerintah dalam
membangun Indonesia. Untuk kelompok kampret pun begitu, kelompok kampret
dijadikan sebagai organisasi sosial yang mendeklarasikan visinya yaitu menjadi
oposan dari pemerintah, dengan dibentuknya organisasi sosial kampret toh ide
ide para netizen yang masuk dalam kelompok kampret bisa terorganisir dan sampai
ke pemerintah. Ini adalah sebuah peluang untuk membangunan kehidupan sosial
yang sehat antara cebong kampret dengan memanfaatkan visi dari masing masing
kubu dengan membentuk organisasi sosial yang membangun. Cakep gak tuh? Di Tivi
tivi nanti dipenuhi oleh juru bicara dari kubu cebong dan kampret dengan
intelektualitasnya masing masing. Prok
prok buat CEBI dan KAMPI.
Kedua,
setelah dibentuknya 2 organisasi sosial yaitu cebong dan kampret. Saatnya
cebong dan kampret dengan segala keberaniannya didunia maya dikonkritkan
dikehidupan sosial ekonomi. Bagaiaman tuh bang? Ya sekarangkan lagi jaman
jamannya kurban nih, yaudah dari organisasi sosial cebong sama organisasi
sosial kampret adu banyak banyakan hewan yang dikurbankan pas idul adha.
Daripada adu hujatan dimedsos yang banyak menguras tenaga dan juga kuota
internet mending menguras tenaga melakukan aktivitas aktivitas sosial dalam memeriahkan
idul kurban nantinya. Misalkan dari 1000 cebong berkurban masing masing satu
kambing, harga satu kambing kita patok kira kira 2,5 Juta Rupiah satu ekornya
maka perputaran uang yang akan terjadi disektor riil yaitu 2,5 Miliar pada saat
momen idul adha. Belum lagi dari kubu Kampret yang tentunya gak mau kalah dong
dengan kubu cebong, pastinya dari kubu kampret akan berusaha berkurban lebih
dari kubu cebong. Dan bayangkan dalam sejarah indonesia akan tercatat rapih
dalam buku IPS dan Pendidikan Kewarganegaraan anak anak SD maupun SMP bahwa
cebong dan kampret adalah Potensi ekonomi Indonesia dimasanya.
Berdasarkan
data yang pernah dirilis Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), potensi ekonomi
kurban sekitar Rp 69 triliun. Sampai sekarang siapa pihak yang menikmati
potensi ekonomi kurban sebesar itu? Tentu jawabannya adalah masyarakat
dipedesaan, karena para peternak dan produksi hewan kurban sampai saat ini
masih terkonsentrasi didaerah pedesaan. Untuk cebong, disini ada kaitannya
dengan DESA, yuk bantu junjunganmu buat menaikkan ekonomi desa toh kebijakan
yang paling gencar saat ini adalah dengan menguatkan desa. Daripada ngehujat
mending organisasi sosial cebong ikut urunan dalam membantu pemerintah biar gak
ada celah noh buat organisasi sosial kampret dalam mengkritik. Dan untuk
organisasi sosial kampret ngapain tuh dimoment saat ini? Ya bisa bikin kelompok
ternak ataupun koperasi ternak. Kenapa? Biar nantinya ketika kampret dihujat
oleh cebong dengan hujatan “bisanya kritik doang, solusi yang ditawarkan gak
ada”. Nah jika kelompok kampret melakukan hal hal konkrit dimoment idul adha
seperti ini akan menjadi aset atupun jawaban bagi hujatan cebong yang seperti
tadi.
Kurban
adalah momen bagi organisasi sosial cebong ataupun kampret untuk memperbaiki
gizi kader kadernya, kenapa demikian? Semakin banyaknya kelompok ataupun orang
orang yang berkurban maka distribusi protein hewani di Indonesia semakin merata
dan banyak. Ini kesempatan bagi cebong ataupun kampret untuk memperkuat fisik
daripada kader kadernya dalam mengawal visi dari masing masing kubu. Toh tanpa
kader yang kuat secara fisik sebuah kelompok tak akan bertahan lama, karena
kader kadernya sibuk mengobati penyakit ditubuhnya.
Indonesia sangat membutuhkan peran orang orang baik, karena Indonesia sekarang akan menginjak usia 74 tahun. Sudah begitu berumur Indonesia kita ini, maka untuk membuat kita semangat dalam mengawal Indonesia penulis ingin mengingatkan sebuah kutipan yaitu “Menua tanpa karya itu adalah sia sia”. Bagi kita yang mengaku Indonesia mari kita bantu Indonesia agar tidak menua tanpa karya karya terbaik serta kita jadikan Indonesia aset yang sangat produktif bagi anak cucu kita nantinya. Indonesia bukanlah hanya cerita tentang Cebong dan Kampret, tetapi indonesia adalah tentang Kita semua. Kita yang ingin bangsa ini menjadi bangsa yang inklusif dalam ekonomi dan pembangunan dan inklusif dalam akal sehatnya. Pada dasarnya Indonesia adalah negara yang berbhineka, walaupun sedang dalam kondisi bermusuhan dalam dunia maya ataupun dikehidupan nyata. Indonesia sebenarnya dapat melakukan hal hal positif dalam keadaan seperti ini, permusuhan ataupun sikap dingin dari kedua belah pihak yang berseteru adalah peluang bagi kita untuk mengadu domba kedua kelompok tersebut menjadi aset bagi perekonomian bangsa Indonesia saat ini. Jangan sampai kutipan “Cinta itu buta” menghiasi kehidupan berIndonesia kita, karena masyarakat Indonesia seharusnya adalah masyarakat yang terbuka pikirannya dan moderat dalam bersikap bukan menjadi masyarakat yang dibutakan oleh cinta. Cie.. cie…
Peserta Rumah Kepemimpinan Regional 5 Bogor
BIODATA PENULIS
|
Nama
|
:
|
Rahmat Zuhair
|
|
Tempat, Tanggal Lahir
|
:
|
Kananga, 03 Oktober 1999
|
|
Alamat Sekarang
|
:
|
Asrama Rumah Kepemimpinan Regional 5 Bogor,
Dramaga, Bogor Jabar
|
|
No. HP
|
:
|
082236480175
|
|
Instagram
|
:
|
@rahmatzuhair
|
|
Pekerjaan
|
:
|
Mahasiswa Ekonomi Pembangunan IPB
|
|
Profil singkat
|
:
|
Saya adalah mahasiswa rantauan dari Bima
NTB yang hobi dalam mengkritik karena dengan hal tersebut saya melakukan
pemenuhan gizi bagi pikiran saya
|