jpn
Oleh : Rita Kartika Syarif, S.KM., M.Kes
(Ibu Rumah Tangga dan Pemerhati Umat)
.
Bimantika.net -Ekspansi Militer Israel dan Dampaknya
Pada awal Mei 2025, Israel mengumumkan rencana untuk memperluas operasi militernya di Gaza, termasuk kemungkinan pendudukan penuh wilayah tersebut.
Langkah ini mencakup mobilisasi puluhan ribu tentara cadangan dan pengendalian distribusi bantuan kemanusiaan.
Meskipun mendapat dukungan dari kabinet keamanan Israel, rencana ini menuai kritik internasional karena memperburuk krisis kemanusiaan di Gaza.
Sekarang ini,
Gaza sedang porak-poranda. Bom meledak di mana-mana, anak-anak menangis kehilangan orang tuanya, dan ibu-ibu di sana hidup dalam ketakutan. Agresi brutal Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 52.000 warga Palestina sejak Oktober 2023, dan menghancurkan infrastruktur vital di wilayah tersebut .
Rencana Israel untuk menguasai penuh Gaza dan memindahkan penduduknya menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya Genosida.
Dukungan Internasional terhadap Palestina
Semakin banyak orang yang sadar, bahwa penderitaan rakyat Palestina itu bukan cuma soal konflik biasa tapi permasalahan besar yang selama ini mungkin kita lupakan yakni kita ini umat Islam, tapi hidup tanpa pelindung, tanpa pemimpin sejati yang menjaga kita semua.
Konferensi Palestina ke-14 yang diselenggarakan di Istanbul pada 25–27 April 2025 menjadi bukti nyata dari meningkatnya dukungan global terhadap perjuangan Palestina.
Acara ini dihadiri oleh tokoh-tokoh dari 60 negara, termasuk Khaled Mashal, yang menyerukan kepada umat Islam untuk tidak diam dan terus menyuarakan dukungan bagi Palestina .
Konferensi ini menekankan bahwa kemenangan Gaza adalah tanggung jawab seluruh umat Islam .Sabili.idretizen.idSindonews Nasional
Di tengah eskalasi konflik, dukungan internasional terhadap Palestina semakin menguat. Inggris, misalnya, sedang berdiskusi dengan Prancis dan Arab Saudi mengenai kemungkinan pengakuan resmi terhadap negara Palestina pada bulan Juni 2025 .
Langkah ini menunjukkan perubahan sikap di antara beberapa negara Barat, yang sebelumnya enggan memberikan pengakuan resmi.
(Inilah.com+8JurnalLugas.Com+8Log in or sign up toview+8Instagram+2ANTARA News+2Sindonews Internasional+2)
Konflik berkepanjangan di Gaza telah memicu gelombang kesadaran global yang semakin kuat terhadap pentingnya persatuan umat Islam dan penegakan Khilafah.
Aksi-aksi solidaritas dan konferensi internasional yang mendukung Palestina semakin masif, menandakan kebangkitan kesadaran umat akan urgensi Khilafah sebagai solusi hakiki bagi penderitaan yang dialami saudara-saudara kita di Gaza.
Seruan untuk mengirimkan pasukan dan mendirikan Khilafah sebagai solusi atas penderitaan di Gaza semakin menggema. Para ulama dan tokoh perlawanan menegaskan bahwa hanya dengan persatuan umat di bawah naungan Khilafah, penjajahan dan penindasan terhadap Palestina dapat dihentikan.
Media Indonesia
Barat menyadari bahwa krisis di Gaza justru membuka pintu bagi kebangkitan kesadaran umat Islam akan pentingnya Khilafah. Upaya-upaya yang telah dilakukan untuk menghalangi tegaknya Khilafah menjadi sia-sia di tengah meningkatnya dukungan umat terhadap ide tersebut.
Pernyataan dari Islamic Jihad Movement menegaskan bahwa agresi Israel tidak hanya ditujukan kepada Palestina, tetapi juga merupakan ancaman bagi seluruh negara Arab dan Islam .
Hal ini menunjukkan bahwa Barat khawatir akan meluasnya kesadaran umat Islam terhadap pentingnya persatuan dan penegakan Khilafah sebagai benteng pertahanan terhadap agresi dan penjajahan.IRNA English+1irannewsdaily.com+1
Urgensi Dakwah Penegakan Khilafah
Tegaknya Khilafah merupakan keniscayaan sejarah yang harus diperjuangkan oleh seluruh umat Islam. Para pengemban dakwah wajib menggencarkan dakwah penegakan Khilafah di semua kalangan hingga terwujud opini umum yang tegak di atas kesadaran umum tentangnya.
Dakwah ini harus mengikuti metode dakwah Rasulullah ﷺ, yaitu melalui thariqah ummat, yakni dakwah penyadaran berbasis akidah hingga terbentuk dukungan kuat dari umat yang akan mendorong perubahan mendasar berupa dibaiatnya seorang khalifah bagi seluruh umat Islam.
Krisis Gaza telah membuka mata umat Islam akan pentingnya persatuan dan penegakan Khilafah sebagai solusi hakiki atas penderitaan yang dialami saudara-saudara kita di Palestina. Barat menyadari bahwa kebangkitan kesadaran umat ini merupakan ancaman bagi hegemoni mereka.
Oleh karena itu, sudah saatnya umat Islam bersatu dan berjuang untuk menegakkan Khilafah yang akan menjadi pelindung dan pembebas bagi seluruh umat.
Allah SWT sudah memerintahkan kaum Muslimin untuk hidup dalam naungan hukum-Nya secara kaffah (menyeluruh):
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah), dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah: 208)
Rasulullah ﷺ telah mewajibkan adanya seorang khalifah untuk memimpin umat:
“Barang siapa yang melepaskan tangan dari ketaatan (kepada khalifah), maka dia akan bertemu Allah pada hari kiamat tanpa hujjah (alasan). Dan barang siapa mati dalam keadaan tidak memiliki baiat di lehernya, maka dia mati dalam keadaan jahiliah.”
(HR. Muslim)
Khilafah itu bukan sekadar kenangan masa lalu. Khilafah itu sistem Islam yang dulu benar-benar pernah berdiri, memimpin dunia, dan melindungi umat Islam selama ratusan tahun.
Khilafah itu bukan hanya mimpi indah, tapi solusi nyata. Kita butuh pemimpin yang satu, yang ngurusin umat Islam di seluruh dunia dengan aturan dari Allah SWT.
Demokrasi dan sistem negara sekarang ini udah kebukti tidak mampu melindungi kita. Yang mereka utamakan hanya uang, kekuasaan, dan kepentingan negara Adikuasa.
“Dan Kami telah turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. An-Nahl: 89)
Makanya, kita sebagai bagian dari umat ini, termasuk kita sebagai seorang ibu, juga punya tanggung jawab dakwah. Dakwah soal pentingnya khilafah itu harus terus kita sampaikan, dengan menggunakan cara yang baik dan sesuai contoh Rasulullah ﷺ. Bukan dengan kekerasan, tapi dengan menyadarkan umat.
Agar semakin banyak yang mengerti kenapa Islam harus ditegakkan sebagai sistem hidup, bukan hanya sebagai ibadah pribadi.
Rasulullah ﷺ sendiri mendirikan negara Islam pertama di Madinah dengan metode dakwah yang penuh kesabaran dan strategi:
“Sesungguhnya adalah di dalam diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu.”
(QS. Al-Ahzab: 21)
Kalau kesadaran ini menyebar, umat akan punya kekuatan. Dari sana, nanti umat sendiri yang akan minta seorang pemimpin Islam—khalifah—untuk memimpin semuanya. Bukan hanya untuk satu negari saja, tapi untuk seluruh negeri..
Inilah perubahan yang sesungguhnya. Bukan lewat kompromi dengan penjajah, bukan melalui sistem tambal sulam. Tapi melalui jalan Islam yang sejati.
Dan inilah yang paling ditakuti oleh musuh-musuh Islam. Mereka tidak takut jika kita hanya melakukan demo, mereka tidak takut kalau kita sibuk mengurusi urusan ekonomi. Tapi mereka sangat takut kalau umat ini bersatu di bawah satu bendera yaitu Islam.
“Sesungguhnya orang-orang kafir itu satu sama lain saling tolong-menolong. Jika kalian (kaum Muslimin) tidak berbuat demikian (saling menolong juga), maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (QS. Al-Anfal: 73)
Gaza memang luka. Tapi dari luka itulah umat bangkit. Kita jadi sadar siapa kawan, siapa lawan. Dan dari sanalah fajar Islam mulai terbit. Kita belum melihat khilafah tegak hari ini, tapi kita sudah melihat benih-benihnya tumbuh.
Gaza bukan akhir, tapi awal dari perubahan besar. Insya Allah, kita menuju tegaknya khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah.
“Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.”(HR. Ahmad dan al-Bazzar, disahihkan oleh al-Albani).
Wallahu’alam bisshowab. (**#)