PHBS Gagal Tanpa Air Bersih: Tanggung Jawab Siapa?

jpn

Oleh: Rita Kartika Syarif, S.KM., M.Kes (Aktivis Muslimah Peduli Umat Kota Bima)

Bimantika.net Air adalah sumber kehidupan. Hampir tidak ada satu pun aktivitas manusia, tumbuhan, maupun hewan yang bisa berjalan tanpa air.

Dari bernapas, makan, mencuci, hingga beribadah, semuanya membutuhkan air.

Ironisnya, di tengah melimpahnya kekayaan alam negeri ini, air bersih justru semakin sulit diakses oleh rakyat banyak.

Di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, krisis air bersih bukan sekadar isu musiman, melainkan masalah tahunan yang terus berulang.

Laporan BPBD Kota Bima tahun 2024 mencatat 12.943 jiwa di 13 kelurahan terdampak kekeringan saat musim kemarau.

Bantuan air tangki hanya menjadi solusi darurat, sementara lebih dari 90% warga masih mengandalkan sumur bor dangkal yang justru mengancam keberlanjutan air tanah dan ekologi.

Masalah bertambah ketika distribusi air PDAM kerap macet berhari-hari, tetapi tarif tetap dibebankan.

Banyak keluarga akhirnya harus membeli air jerigen atau tangki dengan harga mahal.

Di kota kecil yang dikenal sebagai ‘Kota Tepian Air’, pertanyaan besar pun muncul: Mengapa krisis air justru menjadi realita yang berulang?

Musim hujan seharusnya membawa berkah berupa melimpahnya air.

Namun, realitasnya tidak demikian. Di banyak daerah, termasuk Kota Bima, krisis air tetap terjadi bahkan ketika curah hujan tinggi.

Mengapa bisa begitu?
Air berlimpah, tetapi tidak terserap → Sebagian besar air hujan langsung mengalir ke sungai dan laut tanpa meresap menjadi cadangan air tanah.

Hal ini diperparah dengan berkurangnya hutan dan daerah resapan.

Banjir bukan jaminan ketersediaan air bersih → Saat banjir melanda, air justru bercampur lumpur, limbah rumah tangga, dan kotoran hewan, sehingga tidak layak untuk dikonsumsi.
Distribusi tidak merata

→ Ada daerah tergenang air, sementara daerah lain tetap kering karena tidak ada sistem penampungan atau jaringan distribusi yang memadai.

Kualitas air menurun → Musim hujan sering membawa pencemaran, baik dari limbah pertanian maupun sampah kota, sehingga masyarakat kesulitan mendapatkan air yang benar-benar bersih.
Inilah paradoksnya: musim hujan bisa menghadirkan bencana banjir sekaligus krisis air bersih.

Tanpa tata kelola yang baik, limpahan hujan tidak menjadi rahmat, melainkan masalah baru bagi rakyat.

PHBS: Ilusi Tanpa Air Bersih
Sejak 1996, pemerintah mengampanyekan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan 10 indikator utama, seperti mencuci tangan dengan sabun, menggunakan jamban sehat, hingga mengonsumsi makanan bergizi.

Namun, semua indikator itu berdiri di atas fondasi ketersediaan air bersih.
Bagaimana masyarakat bisa mencuci tangan dengan benar jika air tidak mengalir?

Bagaimana balita terhindar dari diare jika air minum terkontaminasi?

Bagaimana rumah tangga menjaga kebersihan jika pasokan air terbatas?

Bahkan fasilitas kesehatan pun terancam. Sterilisasi alat medis, perawatan pasien, hingga pencegahan infeksi nosokomial semuanya membutuhkan air. Tanpa itu, kualitas layanan kesehatan menjadi rapuh.

Dengan demikian, berbicara PHBS tanpa memastikan ketersediaan air bersih tidak lebih dari sekadar slogan kosong.
Krisis air bukan hanya soal kesehatan, melainkan juga beban sosial dan ekonomi.
Perempuan sering kali menjadi pihak yang paling terdampak. Mereka harus mengantre atau membeli air jerigen, mengorbankan waktu produktif, bahkan terkadang menempuh jarak jauh demi mendapatkan air.

Biaya air bisa mencapai seperempat dari upah minimum—beban berat bagi keluarga miskin.
Anak-anak, terutama yang perempuan, sering dilibatkan membantu mencari air, yang berujung pada terganggunya waktu belajar mereka.

Dengan demikian, krisis air berkontribusi pada mata rantai kemiskinan struktural: kesehatan terganggu, ekonomi terbebani, pendidikan tersendat.

Perspektif Islam: Air Hak Publik, Bukan Komoditas
Islam memberikan pandangan yang tegas soal air. Allah SWT berfirman:

“Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup.” (QS. Al-Anbiya: 30)

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah)

Dari sinilah jelas, air adalah hak publik (milkiyyah ‘ammah) yang tidak boleh dimonopoli atau diprivatisasi.

Negara berkewajiban penuh menjamin distribusi air secara adil.

Sejarah mencatat, Khalifah Umar bin Khattab membangun kanal, sumur umum, bahkan melarang komersialisasi air yang merugikan rakyat.

Ia memastikan air tersedia untuk semua, tanpa diskriminasi kelas sosial. Itulah teladan pengelolaan berbasis keadilan, pemerataan, dan keberlanjutan.

Kenyataan hari ini menunjukkan bahwa krisis air bukan semata soal kekurangan sumber daya, melainkan krisis tata kelola.

Indonesia memiliki sekitar 2,7 triliun m³ air per tahun—cukup untuk seluruh rakyat. Namun, alih fungsi lahan, kerusakan hutan, kebocoran distribusi PDAM, dan komersialisasi membuat rakyat tetap kesulitan.

Inilah buah dari paradigma kapitalistik yang menjadikan air sebagai komoditas ekonomi, bukan hak dasar manusia. Selama sistem ini dipertahankan, masalah turunan seperti distribusi timpang, tarif mahal, dan monopoli akan terus bermunculan.
Islam menawarkan solusi menyeluruh:

Air dikelola negara sebagai hak rakyat.
Konservasi lingkungan dijamin. Distribusi adil ditegakkan. Keberlanjutan dipastikan.

Masalah air bukan sekadar teknis, melainkan paradigma kepemimpinan. Kepemimpinan dalam Islam bukan sekadar urusan teknis mengatur negara, tetapi amanah besar yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab di hadapan Allah SWT.

Seorang pemimpin adalah pelayan rakyat, bukan penguasa yang mencari keuntungan pribadi.

Paradigma kepemimpinan Islam berpijak pada prinsip:
Amanah dan Pertanggungjawaban: Pemimpin dipilih bukan karena kepentingan kelompok atau politik, tetapi karena kapasitasnya menjalankan syariat dan menyejahterakan rakyat.

Keadilan: Semua kebijakan harus melindungi hak rakyat tanpa diskriminasi, termasuk hak atas air bersih.

Kesejahteraan dan Rahmatan lil ‘Alamin: Pemimpin menjadikan kebijakan sebagai sarana mewujudkan kemaslahatan umat dan menjaga kelestarian alam.

Sejarah membuktikan, para khalifah seperti Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz menunjukkan kepemimpinan yang transparan, sederhana, dan berpihak pada rakyat.

Inilah model kepemimpinan yang dibutuhkan untuk mengatasi krisis struktural, termasuk masalah air bersih.
Krisis air bersih di Kota Bima hanyalah potret kecil dari masalah besar dunia. Tanpa air, PHBS mustahil berjalan.

Tanpa PHBS, kesehatan masyarakat runtuh. Dan tanpa kesehatan, bangsa kehilangan generasi masa depan.
Air adalah amanah Allah, hak dasar manusia, sekaligus syarat keberlangsungan hidup.

Mengabaikan krisis air berarti menutup mata terhadap masa depan.
Sejarah menunjukkan, sistem kapitalis demokrasi gagal melahirkan pemimpin sekelas Umar bin Khattab—pemimpin yang mampu menjadikan air sebagai rahmat bagi semua.
Hanya dengan penerapan sistem Islam secara kaffah, air bisa kembali dikelola dengan adil: menjamin kesehatan, menunjang ibadah, dan menjaga keberlanjutan generasi mendatang. Wallahua’alam. (****)

Kerja Bakti Selesai, Sampah Kembali Ada. Apa Yang Kurang?

jpn

Oleh: Rita Kartika Syarif, S.KM., M.Kes.(Aktivis Muslimah Peduli Umat Kota Bima)

Bimantika.net Sabtu pagi, 20 September 2025, Pantai Amahami—ikon pariwisata Kota Bima—terlihat berbeda. Warga, pelajar, hingga petugas bergotong-royong memungut sampah.

Ada yang membawa karung, ada yang mengumpulkan plastik. Semua bekerja dengan semangat. Rasanya menyenangkan melihat pantai bersih, nyaman, dan indah.

Namun keesokan harinya, Minggu, pemandangan itu berubah. Sampah plastik, gelas air mineral, bungkus makanan… semuanya kembali berserakan. Padahal yang ikut kerja bakti kemarin sudah berusaha sekuat tenaga.

Inilah yang membuat kita merenung: masalahnya bukan hanya di kerja baktinya, tapi di kesadaran semua pihak, termasuk pengunjung yang datang.

Pantai adalah ruang bersama. Kebersihannya hanya bisa terjaga jika setiap orang ikut merasa memiliki.

Kebersihan yang Bernilai Iman Islam mengingatkan kita:

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya…” (QS. Al-A’raf: 56)

Membuang sampah sembarangan adalah bentuk kerusakan kecil, tapi dampaknya besar. Rasulullah ﷺ bahkan menyebut menyingkirkan gangguan dari jalan sebagai bagian dari iman

Artinya, hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya ternyata punya nilai ibadah.

Kerja Bakti Itu Baik, Tapi Kesadaran Lebih Penting
Kerja bakti membersihkan pantai itu mulia.

Tapi yang lebih penting adalah bagaimana hasilnya bisa bertahan lama. Nabi ﷺ bersabda bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah yang konsisten, walau sedikit

Namun ada tantangan lain yang kita hadapi hari ini: menegur orang yang membuang sampah sembarangan sering dianggap sok suci atau sok alim.

Padahal menegur dengan cara baik adalah bentuk kepedulian. Sayangnya, kepedulian kini kadang dianggap “mengganggu”, sehingga banyak orang memilih diam.

Akibatnya, sampah terus menumpuk dan masalah kebersihan tidak pernah selesai.

Mengelola Sampah, Bukan Sekadar Memungutnya
Selain kesadaran pribadi, kita juga perlu sistem pengelolaan sampah yang lebih baik.

Langkah yang bisa dilakukan misalnya:

  1. Menyediakan tempat sampah terpisah (organik, anorganik) di area pantai
  2. Menjadwalkan pengangkutan sampah secara rutin
  3. Memanfaatkan bank sampah atau daur ulang untuk sampah plastik
  4. Melakukan edukasi berkelanjutan kepada pengunjung
  5. Menetapkan aturan tegas tentang larangan membuang sampah sembarangan

Dengan cara ini, kebersihan tidak hanya mengandalkan kerja bakti, tetapi dijaga melalui perencanaan dan manajemen yang berkelanjutan.

Belajar dari Sistem Islam
Dalam sejarah Islam, kebersihan kota bukan hanya urusan warga.

Pada masa Umar bin Khattab, ada petugas yang digaji dari baitul mal (kas negara) khusus untuk menjaga kebersihan kota Madinah, bahkan bekerja di malam hari.

Ini memberi pelajaran bahwa:

  • Negara wajib memfasilitasi kebersihan melalui sarana, aturan, dan edukasi
  • Masyarakat ikut berperan dengan menaati aturan dan menjaga fasilitas umum
  • Kolaborasi inilah yang membuat kebersihan bisa terjaga terus-menerus.

Pantai Amahami adalah wajah Kota Bima. Wajah ini hanya akan tetap indah jika kita semua—warga, pengunjung, pemerintah—ikut menjaganya.

Mungkin kita bisa mulai dari satu langkah kecil: memastikan sampah kita sendiri tidak menjadi bagian dari masalah. Dan kalaupun harus menegur orang lain, kita lakukan dengan cara yang santun. Sementara pemerintah juga memastikan fasilitas dan pengelolaan sampah berjalan dengan baik.

Karena seperti sabda Rasulullah ﷺ, menyingkirkan gangguan dari jalan adalah bagian dari iman. Dan menjaga kebersihan adalah wujud iman yang bisa kita lakukan bersama. (*)

Pemimpin yang Adil Mendapat Tempat Tertinggi dan Naungan dari Allah SWT di Hari Kiamat

jpn

Bimantika.net Pemimpin yang adil adalah pemimpin mampu mengambil keputusan dan kebijakan berdasarkan porsi yang tepat.

Mampu menerapkan kesetaraan dan kesempatan yang sama bagi semua kepentingan masyarakat yang dipimpinnya.

Pemimpin yang adil berfungsi menegakkan, meluruskan, dan memperbaiki segala kerusakan yang terjadi di wilayah yang dipimpinnya.

Balasan Allah kepada pemimpin yang adil sangatlah mulia, meliputi tempat yang tinggi di sisi Allah, mendapatkan naungan pada hari kiamat, dijamin masuk surga, serta dicintai dan didoakan kebaikan oleh umat.

Pemimpin yang adil juga akan hidup dalam kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat yang dipimpinnya.

Sementara pemimpin yang zalim akan dimurkai Allah dan menerima siksa pedih.
Balasan Langsung di Akhirat.

Pemimpin yang adil akan memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan dekat dengan Allah SWT pada hari kiamat.

Mereka termasuk dalam tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat, saat tidak ada naungan selain dari-Nya.

Pemimpin yang adil dijamin akan menjadi penghuni surga.

Mereka akan berada di atas mimbar cahaya di sisi Allah sebagai balasan atas keadilan mereka.

Keadilan yang ditegakkan pemimpin akan mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan bagi masyarakat, demikian pula sebaliknya.

Berlaku adil akan mendatangkan rida dan pahala yang tak terhingga dari Allah SWT.

Pemimpin yang adil akan berfungsi sebagai penegak keadilan, tempat perlindungan bagi yang lemah, dan pelindung hak-hak rakyat.

Perbedaan dengan Pemimpin Zalim mendapatkan
Kemurkaan Allah:

Pemimpin yang zalim akan dijauhkan dari rahmat Allah dan dimurkai-Nya.

Siksa Pedih: Mereka akan mendapatkan siksa yang pedih di akhirat.

Selama hidup di dunia, mereka akan menerima caci maki dan didoakan celaka oleh orang-orang yang mereka pimpin.

Menjadi pemimpin adalah sebuah amanah besar yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Keadilan adalah cahaya di dunia, sehingga Allah akan memberikan balasan berupa cahaya dan pahala yang besar bagi pelakunya di hari kiamat. (****)

“Selasa Menyapa” Hadir di Tengah Rakyat, Anjuran Pemimpin dalam Islam Diterapkan Ady-Irfan

jpn

Bimantika.net -Selasa Menyapa adalah program unggulan yang berlangsung dalam Era kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Bima Ady Mahyudi dan dr. H. Irfan (Ady-Irfan).

Setiap selasa, Ady-Irfan menemui langsung warga masyarakat yang dipimpinnya dengan melibatkan seluruh organisasi perangkat daerah (OPD).

Hadirnya seluruh OPD dalam selasa menyapa adalah bentuk pelayanan langsung pada masyarakat yang kini sudah dirasakan langsung manfaatnya oleh rakyat Kabupaten Bima.

Pelayanan Kesehatan Gratis salah satu manfaat langsung yang dirasakan oleh rakyat dalam program selasa menyapa tersebut.

Dalam pandangan Islam, seorang pemimpin yang turun langsung menemui, menyapa dan berinteraksi dengan rakyatnya dengan bersikap lembut, peduli, dan mengutamakan kemaslahatan umum, sebagaimana diteladankan oleh Nabi Muhammad SAW dan para khalifah seperti Umar bin Abdul Aziz.

Saat pemimpin peduli dan turun langsung ditengah+tengah warganya itulah Pemimpin yang ideal yang mencintai dan dicintai rakyatnya, serta bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan rakyat yang di pimpinnya.

Pemimpin harus bersikap lemah lembut dan tidak kasar agar rakyat tidak menjauh.

Pemimpin yang baik adalah yang mencintai rakyatnya dan mendoakan kebaikan bagi mereka, sebagaimana mereka mendoakan pemimpinnya.

Nabi Muhammad SAW diperintahkan untuk bermusyawarah dengan rakyatnya dalam urusan penting, menunjukkan pentingnya melibatkan suara rakyat dalam pengambilan keputusan.

Ada Tanggung Jawab Pemimpin Terhadap Rakyat diantaranya :

  1. Memenuhi Kebutuhan Dasar: Pemimpin wajib menjaga dan memenuhi kebutuhan rakyat dalam hal sandang, pangan, dan papan, serta kebutuhan kolektif seperti pendidikan, kesehatan, dan keamanan.
  2. Menegakkan Keadilan: Pemimpin harus menyingkirkan kepentingan pribadi atau kelompok demi kemaslahatan umum dan menegakkan keadilan.
  3. Memberikan Pertanggungjawaban: Pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas amanah rakyatnya hingga ke akhirat. Mereka diharamkan masuk surga jika mati dalam keadaan menipu rakyatnya.

Teladan Pemimpin Ideal adalah Umar bin Abdul Aziz: Dikenal karena keadilan dan kepeduliannya terhadap rakyat, serta kebijaksanaannya yang membawa manfaat besar bagi umat Islam.

Sedangkan Nabi Muhammad SAW adalah Teladan utama pemimpin dalam Islam, yang dicintai dan dicintai rakyatnya, serta selalu mementingkan kemaslahatan umat.

Dalam Islam, pemimpin terbaik sepanjang masa ialah Nabi Muhammad SAW.

Sebagai utusan Allah SWT, beliau menjadi suri tauladan sekaligus sosok panutan memimpin umat.
Allah SWT berfirman dalam surah An Nisa ayat 59,

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri (pemimpin) di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

Ciri-ciri kepemimpinan yang baik mencakup integritas, kemampuan komunikasi yang jelas, empati terhadap tim, kemampuan mengambil keputusan yang bijaksana, keberanian untuk mengambil risiko, kemampuan memotivasi, memecahkan masalah secara kreatif, serta kemampuan memberikan feedback yang konstruktif dan menghargai kinerja tim. Pemimpin yang baik juga transparan, mau mendengarkan, dan bertanggung jawab atas tindakan serta kinerja timnya.

Selasa Menyapa” adalah program unggulan Pemerintah Kabupaten Bima di Era Kepemimpinan Ady-Irfan yang diluncurkan 20 Mei 2025.

Tujuannya untuk mendekatkan pelayanan publik langsung ke masyarakat di desa-desa se-Kabupaten Bima, menyediakan berbagai layanan seperti administrasi kependudukan dan lainnya, serta menjadi wadah dialog antara pemerintah dan warga.

Adapun Manfaat Program “Selasa Menyapa” diantaranya Mendekatkan Pelayanan:

Program ini bertujuan membawa berbagai layanan publik, seperti pencatatan sipil dan penerbitan dokumen kependudukan (KTP, KK), langsung ke desa-desa untuk memudahkan akses bagi masyarakat.

Meningkatkan Responsivitas: “Selasa Menyapa” menjadi bukti kerja kolaboratif pemerintah dalam memberikan pelayanan yang lebih responsif dan berdampak bagi warga.
Dialog dan Keterbukaan:

Program ini juga menjadi momen bagi Bupati dan pemerintah untuk berdialog langsung dengan masyarakat di desa, memungkinkan penyampaian aspirasi dan informasi secara lebih efektif.

Kegiatan Utama selasa Menyapa adalah Pelayanan Publik: Menyediakan layanan administrasi kependudukan, termasuk pencatatan kelahiran, kematian, perkawinan, perceraian, serta penerbitan KTP dan Kartu Keluarga (KK).

Seringkali kegiatan ini diawali atau diisi dengan deklarasi program penting seperti deklarasi anti-narkoba yang dipimpin oleh Bupati.

Kunjungan Bupati: Dihadiri oleh Bupati dan Wakil Bupati Bima, yang turut berinteraksi langsung dengan masyarakat dan pimpinan desa. (****)

Konsep Kota Bima “BISA” Era Man-Feri Sejalan dengan Ajaran Islam

jpn

Bimantika.net Kota Bima dibawah kepemimpinan Walikota dan Wakil Walikota Bima H. Arahman H. Abidin dan Feri Sofiyan (Man-Feri) memiliki Tagline BISA (Bersin, Indah, Sehat dan Asri).

Konsep ini selaras dan sejalan dengan ajaran Islam yang tentunya diharapkan dan dianjurkan untuk Bersih, Indah, Sehat dan Asri.

Konsep bersih dan indah dalam Islam mencakup thaharah (kesucian) lahiriah dan maknawiah, di mana Allah SWT menyukai kebersihan dan keindahan.

Menjaga kebersihan diri, lingkungan, dan hati adalah bagian dari iman dan ibadah, termasuk menjaga pakaian, tempat tinggal, sumber air, dan bahkan keindahan ciptaan Allah.

Keindahan dalam Islam juga meliputi kesucian hati dan perbuatan, serta menghargai keindahan alam sebagai bentuk syukur dan menjaga lingkungan dari kerusakan.
Kebersihan (Thaharah)

Kaitan dengan Iman: “Kebersihan adalah sebagian dari iman,” demikian sabda Nabi Muhammad SAW, menunjukkan bahwa kebersihan bukan hanya kebiasaan, tetapi bagian integral dari keimanan seorang muslim.

Thaharah lahiriah: Bersih secara fisik, seperti suci dari najis, menjaga kebersihan diri (rambut, kuku, pakaian), dan kebersihan lingkungan.
Thaharah maknawiah:

Bersih secara spiritual dan hati, bebas dari dosa dan kotoran rohani.

Wujud Ibadah: Menjaga kebersihan adalah bentuk ibadah dan kesyukuran kepada Allah SWT atas nikmat yang diberikan.

Wudhu untuk shalat dan menjaga tempat ibadah yang bersih adalah contoh konkretnya.

Keindahan (Jamal)
Sifat Allah: Allah SWT adalah Tuhan yang Maha Indah dan menyukai keindahan (Jamal).
Pakaian dan Keindahan:

Kebersihan pakaian dan kenyamanan dalam memandang juga bagian dari keindahan, seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW.

Keindahan Lingkungan: Menjaga lingkungan yang asri dan indah juga merupakan wujud keindahan yang diajarkan Islam, karena Allah tidak menyukai kerusakan dan selalu mengagungkan keindahan.

Kecantikan Batin: Selain keindahan fisik, Islam juga menekankan keindahan dalam karakter dan akhlak (hati dan perbuatan) sebagai wujud kesucian hati.

Penerapan dalam Kehidupan Sehari-hari
Menjaga Kebersihan Diri:

Membuang sampah pada tempatnya, membersihkan diri dengan wudhu, dan merawat tubuh.

Menjaga Kebersihan Lingkungan: Tidak mengotori air dan tanah, menjaga lingkungan sekitar agar tetap nyaman dan mendukung kebaikan.

Menjaga Keindahan Pakaian: Menggunakan pakaian yang bersih dan nyaman.

Menjaga Keindahan Hati: Berusaha untuk bersih dari dosa dan menjaga hati dari penyakit hati.

Konsep sehat dalam Islam mencakup kesehatan fisik, mental, dan spiritual, yang dicapai melalui kebersihan diri dan lingkungan, pola makan halal dan thayyiban, istirahat yang cukup, olahraga, menjaga hati dari penyakit mental, serta kedekatan dengan Allah melalui ibadah.

Sementara itu, konsep asri merujuk pada kebersihan dan keindahan lingkungan, yang didasari oleh prinsip bahwa kebersihan fisik dan spiritual saling terkait, sehingga umat Islam dianjurkan untuk menjaga kebersihan alam dan sekitarnya sebagai wujud rasa syukur dan tanggung jawab terhadap amanah Allah SWT.

Konsep Sehat dalam Islam
Kesehatan adalah Anugerah dan Tanggung Jawab: Tubuh adalah amanah Allah yang wajib dijaga dan dirawat dengan sebaik-baiknya.

Menjaga kesehatan adalah bentuk syukur dan kewajiban seorang muslim.
Kesehatan Holistik: Islam tidak hanya menekankan kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental, spiritual, dan sosial.

Menjaga Kebersihan (Bersih = Iman): Kebersihan adalah bagian dari iman (“An-Nadafah min al-iman”), di mana kebersihan fisik dan spiritual saling terkait.
Pola Makan dan Minum Sehat:

Menganjurkan makanan dan minuman yang halal dan baik (thayyiban), bukan hanya untuk kesehatan fisik tetapi juga untuk menjaga keberkahan hidup.
Keseimbangan Aktivitas dan Istirahat:

Mengatur pola aktivitas dan istirahat yang seimbang, termasuk tidur yang cukup dan waktu luang yang tidak dihabiskan untuk hal yang sia-sia.

Menjaga Kesehatan Mental: Menganjurkan untuk memiliki pikiran yang positif, sabar, dan tawakal, serta menghindari stres berlebihan melalui doa dan dzikir untuk ketenangan jiwa.

Konsep Asri dalam Islam
Lingkungan Bersih dan Indah: Asri berarti keadaan yang bersih, rapi, dan indah. Dalam Islam, menjaga kebersihan lingkungan adalah bagian dari ibadah dan akhlak mulia.

Menjaga Kebersihan Lingkungan Tempat Ibadah dan Tempat Tinggal: Umat Islam diajarkan untuk menjaga kebersihan tempat ibadah, seperti masjid, dan area sekitar tempat tinggal.

Pengelolaan Sampah dan Gotong Royong: Berpartisipasi dalam pengelolaan sampah yang baik dan kegiatan gotong royong untuk membersihkan lingkungan adalah bagian dari tanggung jawab sosial dan kebersihan.

Kebersihan Spiritual sebagai Pondasi: Pemahaman bahwa kebersihan hati dari sifat-sifat negatif seperti iri, dengki, dan sombong adalah langkah awal untuk mencapai ketenangan dan keasrian hati (****)

Bupati Ady Mahyudi Beri Penjelasan Pengangkatan 14.077 PPPK Paruh Waktu

jpn

Bimantika.net Pengangkatan 14.077 tenaga Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kinerja Paruh Waktu (PPPK-PW) yang terdiri dari 6.874 guru, 1.147 tenaga kesehatan, dan 6.066 tenaga teknis dan mendapatkan beragam tanggapan dari elemen masyarakat menjadi atensi khusus Bupati dan Wakil Bupati Bima Ady Mahyudi dan dr. H. Irfan (Ady-Irfan).

Agar masyarakat mendapatkan pemahaman menyeluruh berkaitan dengan kebijakan tersebut, Bupati Bima pada acara Ngopi Bareng dan Bazar UMKM Rabu malam (17/9) memberikan beberapa penjelasan.

Alhamdulillah, 14.077 akomodir menjadi PPPK Paruh Waktu dan ini adalah wujud keadilan dan penghargaan bagi para guru, tenaga kesehatan dan tenaga teknis yang telah mengabdi dan berkorban untuk daerah tercinta.

“Berpuluh-puluh tahun para guru mengabdi, mencerdaskan anak-anak Kabupaten Bima dengan gaji yang sangat rendah, bahkan ada yang hampir tanpa penghasilan. Begitu pula tenaga kesehatan dan teknis yang setia melayani masyarakat. Ini salah satu alasan, meskipun kebijakan ini akan menimbulkan beragam tanggapan, tetapi ini merupakan ikhtiar untuk “memanusiakan manusia”.

Ungkap Bupati pada acara Ngopi Bareng dan Bazar UMKM Selasa Menyapa Kecamatan Soromandi Rabu (17/9) di Lapangan desa Wadukopa.

Bupati Bima yang didampingi Ketua TP.PKK Kabupaten Bima Ny. Murni Suciyanti, didampingi Wakil Bupati dr.H. Irfan Zubaidy dan Ketua Gabungan Organisasi Wanita Kabupaten Bima Ny. Anita H. Irfan dan para pejabat terkait lingkup Pemerintah Kabupaten Bima menandaskan,

“Negara telah memberikan kesempatan kepada pemerintah daerah untuk mengusulkan perubahan status ke PPPK Paruh Waktu. Meskipun gaji yang diterima relatif kecil dan masih jauh dalam memenuhi kebutuhan, tapi Pemerintah daerah berpandangan bahwa perubahan status dari Pegawai Non-ASN menjadi ASN harus jelas”. Ujarnya.

Dalam keputusan Menpan dan Reformasi Birokrasi, penggajian PPPK Paruh Waktu minimal disesuaikan dengan kemampuan dan kapasitas fiskal daerah. Saat ini, kemampuan keuangan Pemerintah daerah masih belum mampu menggaji diatas standar. Mudah-mudahan ke depan kemampuan fiskal, daerah memiliki kapasitas memadai untuk bisa meningkatkan penggajian”.

Terangnya dihadapan Camat Soromandi Julfikri, SH., M.Hum, Sekcam, MUSPIKA para Kepala desa dan tokoh masyarakat, Alim ulama dan para pelaku UMKM. (***RRS/007*)

Walikota Bima Aji Man Paparkan Strategi Pembangunan Ekonomi, Sosial dan Politik serta Budaya Bima

jpn

Bimantika.net Walikota Bima H.Arahman H. Abidin, SE menghadiri Bincang Santai Strategi Kemajuan Ekonomi, Pembinaan Ketahanan Sosial dan Politik, dan Memajukan Budaya Bima di Kantor Kejaksaan Negeri Bima, Kamis 18 September 2025.

Dalam pertemuan tersebut diikuti pula oleh Bupati Bima, Kepala Kejaksaan Tinggi NTB, Kepala Kejaksaan Negeri Bima, Kapolres Bima Kota, serta Dandim 1608/Bima.

Wali Kota Bima menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Bima telah menyiapkan tiga aspek besar sebagai pilar utama dalam membangun Kota Bima kedepannya.

Untuk kemajuan ekonomi, lanjutnya, Kota Bima menyadari memiliki potensi besar baik dari sektor perdagangan, jasa, perikanan, pertanian maupun pariwisata.

“Pemerintah berupaya menciptakan iklim investasi yang sehat, mendukung tumbuhnya UMKM serta memastikan agar pembangunan ekonomi tidak hanya dirasakan segelintir orang tetapi seluruh lapisan masyarakat,” tegasnya.

Lalu tentang ketahanan sosial dan politik, Pemerintah Kota Bima yakin dengan memperkuat solidaritas, membangun komunikasi dengan masyarakat dan menegaskan prinsip yang adil. Sehingga pembangunan bisa berjalan tanpa ada hambatan.

“Kita butuh dukungan seluruh pihak, untuk menjaga Bima tetap aman, damai dan kondusif,” tuturnya.

Kemudian yang terakhir terkait kemajuan budaya Bima Aji Man menjelaskan bahwa budaya Bima bukan hanya tarian, musik atau pakaian tradisional, tetapi juga nilai-nilai keberanian, kejujuran, kerja keras, dan kebersamaan.

Aji Man sapaan akrabnya mengajak seluruh pihak untuk menjadikan momen tersebut sebagai titik tolak memperkuat komitmen, menyatukan langkah dan meneguhkan tekad.

“Mari kita bangun Bima dengan kerja keras, kita jaga dengan persaudaraan dan kita majukan dengan cinta,” tutupnya. (****)

Selasa Menyapa di Soromandi, Ady-Irfan Penuhi Janji Pada Rakyat

jpn

Bimantika.net
Pada Kegiatan Selasa Menyapa di Kecamatan Soromandi yang menargetkan Desa Wadukopa dan Desa Punti Pemerintah Kabupatrn hadir menyapa rakyatnya.

Dalam acara Ngopi Bareng dan Bazar UMKM yang digelar Rabu (17/9) di Lapangan Desa Wadukopa, Bupati Bima Ady Mahyudi bersama Ketua TP.PKK Kabupaten Bima Ny. Murni Suciyanti, didampingi Wakil Bupati dr.H. Irfan Zubaidy dan Ketua Gabungan Organisasi Wanita Kabupaten Bima Ny. Anita H. Irfan, Asisten Pemerintahan dan Kesra Fatahullah, S.Pd para Kepala Dinas, Kepala Bagian lingkup Sekretariat Daerah, mengikuti rangkaian Ngopi Bareng yang diawali lantunan irama Marawis Santriwati Ponpes Daruraihan So Nau Soromandi.

Dihadapan Camat Soromandi Julfikri, SH., M.Hum, Sekcam, MUSPIKA para Kepala desa dan tokoh masyarakat, Alim ulama dan para pelaku UMKM, Bupati Ady Mahyudi menyampaikan ucapan terima kasih kepada Camat dan para kepala desa di wilayah kecamatan Soromandi yang telah mempersiapkan program Selesa Menyapa dengan cukup baik.

Kesempatan tatap muka yang bertajuk “Ngopi Bareng dan Bazar UMKM” tersebut juga dimanfaatkan Bupati Bima untuk menyampaikan penjelasan berkaitan dengan pengangkatan 14.077 tenaga PPPK Paruh Waktu yang akan mengabdi di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bima.

Selain Bupati, Wabup dr.H. Irfan pada pada pertemuan tersebut berkesempatan menyampaikan beberapa hal.

“Kehadiran Bupati dan Wakil Bupati di kecamatan Soromandi untuk menunaikan janji yang telah disampaikan pada Pilkada beberapa waktu lalu, untuk mendatangi masyarakat yang telah mendukung dan memberikan amanah memimpin Kabupaten Bima dan janji tersebut dipenuhi melalui program Selasa Menyapa”. Terangnya.

Sejumlah pentas seni ditampilkan pada malam silaturahmi malam hari tersebut yaitu Tarian Tambora SDN Wadukopa, Tari Lopi Penge Ponpes Mutmainah Desa Punti, Baca Puisi TK Melati Desa Punti, Tari La Hila TK Wadukopa,Tari SMP 4 Soromandi Wadukopa, Ceramah Agama Dai Cilik.

Pada keesokan harinya Kamis (18/9) Bupati, Wakil Bupati beserta Pimpinan OPD dan masyarakat akan mengawali kegiatan dengan senam sehat bersama, dilanjutkan dengan kegiatan penghijauan, gotong royong perbaikan infrastruktur dan peninjauan sejumlah pelayanan yang dipusatkan di lapangan Wadukopa dan beberapa sekolah di Desa Wadukopa dan Punti. ( ***//RRS//RumaRenggeSape//007)

Rakor Pendirian Kampus IAIN Bima Berjalan Lancar, Prof Muhammad Beberkan Progres

jpn

Bimantika.net -Ketua Komite Pembangunan Kampus IAIN Bima, Prof. DR. Muhammad membeberkan program Pembangunan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) yang berlokasi di Kabupaten Bima.

“Alhamdulillah hari ini tanggal 17 September 2025 mulai pukul 10.00 WIB telah berlangsung Rakor (Rapat Koordinasi) secara online tentang Pendirian IAIN Bima di Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat” ujar Prof Muhammad.

Lanjutnya bahwa Rapat tersebut dihadiri oleh Ketua Komite Pendirian IAIN Bima (Prof. Muhammad), Direktur PTKI, Kepala Biro Keuangan dan BMN, Kepala Biro Organisasi dan Tata Laksana, Kepala Biro Hukum dan Kerjasama Luar Negeri, Kasubdit Kelembagaan dan Kerjasama.

Dan beberapa pejabat terkait seluruhnya dari Kementerian Agama RI. Rakor tersebut merupakan tindak lanjut hasil verifikasi faktual langsung ke Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat oleh TIM Advance yang berjumlah 9 orang dari Kementerian Agama RI beberapa waktu yang lalu.
Masih menurut Prof Muhammad bahwa Rakor tersebut menghasilkan beberapa kesepakatan antara lain:

  1. Lahan dan sejumlah aset yang akan dihibahkan oleh Pemerintah Kabupaten Bima ke Kementerian Agama RI statusnya CLEAR AND CLEAN termasuk dari sisi hukum aman dan jelas.
  2. Semua lahan yang akan dihibahkan telah tersertifikat atas nama Pemerintah Kabupaten Bima
  3. Semua aset yang akan dihibahkan oleh Pemerintah Kabupaten Bima sangat layak untuk segera dihibahkan ke Kementerian Agama RI
  4. Pihak Kementerian Agama RI segera menjadwalkan penandatanganan Hibah aset yang akan ditandatangani langsung oleh Bapak Bupati Bima dan Sekretaris Jendral Kementerian Agama RI.
  5. Pihak Komite Pendirian IAIN Bima yang diketuai oleh Prof. Muhammad tetap melanjutkan pekerjaan beberapa naskah akademik yang akan dikirimkan ke Kementerian PAN RB dan Bapak Presiden RI sebagai syarat mendapatkan izin operasional institusi dari Bapak Presiden.
  6. Seluruh dokumen dan naskah-naskah akademik yang selama ini dikerjakan oleh Komite Pendirian IAIN Bima tetap menjadi tanggung jawab Komite. (****//RRS-007)

Tulus Berbagi, Bhabinkamtibmas Polsek Woha Beri Bantuan Sembako Bagi Lansia

jpn

Bimantika.net -Kegiatan sambang ke rumah-rumah lansia dilakukan untuk menjalin silaturahmi dan memberikan bantuan sesuai kebutuhan, menunjukkan perhatian dan kepedulian.

Hal itu diwujudkan oleh Bripka Sabet S.sos, personel Polsek Woha Polres Bima Polda NTB yang bertugas sebagai Bhabinkamtibmas di Desa Naru Kecamatan Woha Kabupaten Bima.

Seperti pada Rabu (17/09/25) sekira pukul 09.00.Wita Bripka Sabet kembali menunjukkan rasa kepedulian dan empatinya kepada lansia di Desa Binaannya.

Bantuan berupa paket sembako disalurkan kepada lansia oleh Aba Sabet sapaan akrabnya.

“Insa Allah saya ikhlas membantu para lansia untuk sekedar meringankan kebutuhan para lansia”. Ujarnya.

Terpisah Kapolres Bima AKBP Eko Sutomo S.I.K.,M.I.K., melalui Kasi Humas AKP Adib Widayaka mengapresiasi yang dilakukan oleh personelnya.

“Ini menjadi contoh bagi kita semua untuk lebih perduli terhadap sesama terutama kaum lansia”.Kata Kapolres.

Aksi sosial yang dilaksanakan oleh Bripka Sabet merupakan wujud nyata kepedulian Polri dalam rangka membantu meringankan beban sesama.(****)