Oleh: Rita Kartika Syarif, S.KM., M.Kes.(Aktivis Muslimah Peduli Umat Kota Bima)
Bimantika.net Sabtu pagi, 20 September 2025, Pantai Amahami—ikon pariwisata Kota Bima—terlihat berbeda. Warga, pelajar, hingga petugas bergotong-royong memungut sampah.
Ada yang membawa karung, ada yang mengumpulkan plastik. Semua bekerja dengan semangat. Rasanya menyenangkan melihat pantai bersih, nyaman, dan indah.
Namun keesokan harinya, Minggu, pemandangan itu berubah. Sampah plastik, gelas air mineral, bungkus makanan… semuanya kembali berserakan. Padahal yang ikut kerja bakti kemarin sudah berusaha sekuat tenaga.
Inilah yang membuat kita merenung: masalahnya bukan hanya di kerja baktinya, tapi di kesadaran semua pihak, termasuk pengunjung yang datang.
Pantai adalah ruang bersama. Kebersihannya hanya bisa terjaga jika setiap orang ikut merasa memiliki.
Kebersihan yang Bernilai Iman Islam mengingatkan kita:
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya…” (QS. Al-A’raf: 56)
Membuang sampah sembarangan adalah bentuk kerusakan kecil, tapi dampaknya besar. Rasulullah ﷺ bahkan menyebut menyingkirkan gangguan dari jalan sebagai bagian dari iman
Artinya, hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya ternyata punya nilai ibadah.
Kerja Bakti Itu Baik, Tapi Kesadaran Lebih Penting
Kerja bakti membersihkan pantai itu mulia.
Tapi yang lebih penting adalah bagaimana hasilnya bisa bertahan lama. Nabi ﷺ bersabda bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah yang konsisten, walau sedikit
Namun ada tantangan lain yang kita hadapi hari ini: menegur orang yang membuang sampah sembarangan sering dianggap sok suci atau sok alim.
Padahal menegur dengan cara baik adalah bentuk kepedulian. Sayangnya, kepedulian kini kadang dianggap “mengganggu”, sehingga banyak orang memilih diam.
Akibatnya, sampah terus menumpuk dan masalah kebersihan tidak pernah selesai.
Mengelola Sampah, Bukan Sekadar Memungutnya
Selain kesadaran pribadi, kita juga perlu sistem pengelolaan sampah yang lebih baik.
Langkah yang bisa dilakukan misalnya:
- Menyediakan tempat sampah terpisah (organik, anorganik) di area pantai
- Menjadwalkan pengangkutan sampah secara rutin
- Memanfaatkan bank sampah atau daur ulang untuk sampah plastik
- Melakukan edukasi berkelanjutan kepada pengunjung
- Menetapkan aturan tegas tentang larangan membuang sampah sembarangan
Dengan cara ini, kebersihan tidak hanya mengandalkan kerja bakti, tetapi dijaga melalui perencanaan dan manajemen yang berkelanjutan.
Belajar dari Sistem Islam
Dalam sejarah Islam, kebersihan kota bukan hanya urusan warga.
Pada masa Umar bin Khattab, ada petugas yang digaji dari baitul mal (kas negara) khusus untuk menjaga kebersihan kota Madinah, bahkan bekerja di malam hari.
Ini memberi pelajaran bahwa:
- Negara wajib memfasilitasi kebersihan melalui sarana, aturan, dan edukasi
- Masyarakat ikut berperan dengan menaati aturan dan menjaga fasilitas umum
- Kolaborasi inilah yang membuat kebersihan bisa terjaga terus-menerus.
Pantai Amahami adalah wajah Kota Bima. Wajah ini hanya akan tetap indah jika kita semua—warga, pengunjung, pemerintah—ikut menjaganya.
Mungkin kita bisa mulai dari satu langkah kecil: memastikan sampah kita sendiri tidak menjadi bagian dari masalah. Dan kalaupun harus menegur orang lain, kita lakukan dengan cara yang santun. Sementara pemerintah juga memastikan fasilitas dan pengelolaan sampah berjalan dengan baik.
Karena seperti sabda Rasulullah ﷺ, menyingkirkan gangguan dari jalan adalah bagian dari iman. Dan menjaga kebersihan adalah wujud iman yang bisa kita lakukan bersama. (*)
