Walikota Bima Aji Man: Pencairan Insentif Guru Ngaji Agar Dapat Disalurkan Tepat Waktu

jpn

Bimantika.net -Wali Kota Bima H. Arahman H. Abidin menerima Audiensi dan silaturahmi dari perwakilan Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Kota Bima.

Pertemuan ini menjadi momentum pengurus baru LPTQ untuk meminta arahan dan petunjuk dari Wali Kota terkait langkah pengembangan dan pembinaan kader Qur’ani di Kota Bima. Senin, (29/09/2025)

Dalam kesempatan tersebut, pengurus LPTQ menyampaikan komitmen untuk mengembalikan eksistensi lembaga agar lebih aktif dan berkembang.

Saat ini LPTQ telah melakukan pembinaan khusus bagi kader penghafal Al-Qur’an serta menyiapkan program intensif latihan, dalam rangka mempersiapkan pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) maupun Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ) Tingkat Kota Bima yang direncanakan berlangsung pada Oktober atau November 2025, dengan lokasi utama di Kecamatan Raba.

Selain itu, LPTQ juga mengusulkan agar insentif bagi para guru ngaji dapat ditingkatkan, sehingga peran mereka dalam membumikan Al-Qur’an di Kota Bima semakin nyata dan berkelanjutan.

Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Bima menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada pengurus LPTQ yang hadir.

Menurutnya, meski merupakan pengurus baru, namun didominasi oleh orang-orang berpengalaman, sehingga diharapkan mampu membawa kembali kejayaan LPTQ sebagaimana masa-masa sebelumnya.

“Harapan saya, kepengurusan LPTQ ini bisa eksis kembali dengan cara kerja yang terukur dan menghasilkan prestasi. Pemerintah Kota tentu akan mendukung secara maksimal, baik dari segi program maupun penganggaran,” ungkap Wali Kota.

Lebih lanjut, Aji Man menekankan agar perumusan kegiatan STQ Tingkat Kota dapat segera dituntaskan, sekaligus menyusun rencana kerja yang jelas untuk menjadi pijakan bersama.

Aji Man juga menegaskan pentingnya pencairan insentif guru ngaji agar dapat disalurkan tepat waktu.

“Saya yakin dan percaya, dengan kerja sama yang baik, kita bisa lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya,” pungkasnya. (****)

Pemkot Bima Gelar Gotong Royong, Gelorakan Program Kota Bima BISA

jpn

Bimantika.net Pemerintah Kota (Pemkot) Bima, pada hari Jum’at menggelar kegiatan gotong royong,

Kegiatan ini sebagai bentuk dukungan terhadap Program Kota Bima BISA (Bersih, Indah, Sehat, dan Asri).

Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Wakil Wali Kota Bima, Feri Sofiyan, SH., bersama sejumlah pejabat, antara lain, PJ Sekda Kota Bima, seluruh Staf Ahli, seluruh Asisten, seluruh Kepala OPD, dan seluruh Kabag, serta seluruh Aparatur Sipil Negara lingkup Pemerintah Kota Bima. Jum’at, 26 September 2025.

Kegiatan gotong royong Pemerintah Kota Bima kali ini berjalan serentak di seluruh wilayah Kecamatan yang ada di Kota Bima.

Wakil Wali Kota Bima Feri Sofiyan, SH beserta jajarannya melaksanakan kegiatan ini bertempat di area Kantor Wali Kota Bima, Kelurahan Penatoi Kecamatan Mpunda.

Kegiatan gotong royong kali ini di fokuskan pada tempat kerja masing-masing, dengan menyapu halaman Kantor, memangkas pohon, memotong rumput, membersihkan ruangan, dan membersihkan toilet.

Wakil Wali Kota Bima yang hadir di lokasi gotong royong, mengapresiasi semangat gotong royong yang dilakukan oleh seluruh pegawai lingkup Pemerintah Kota Bima,

Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi Program Kota Bima BISA untuk menciptakan daerah Kota yang ramah lingkungan, dan nyaman bagi seluruh lapisan masyarakat.

Program Kota Bima BISA, merupakan program prioritas Pemerintah Kota Bima, program ini dicanangkan oleh Bapak H. Arahman H. Abidin, SE., bersama Bapak Feri Sofiyan, SH, semenjak mereka berdua di lantik menjadi Wali Kota, dan Wakil Wali Kota Bima periode 2024/2029,

Dengan tujuan untuk mewujudkan Kota Bima yang bersih, indah, sehat, dan asri, selain itu juga untuk membangun kesadaran masyarakat Kota Bima, agar terbiasa dengan pola hidup sehat, menjaga, dan mencintai kebersihan.

Kegiatan gotong royong ini diharapkan dapat memberi semangat masyarakat Kota Bima untuk terus menciptakan lingkungan yang bersih, baik itu di lingkungan rumah tangga, di tempat kerja, maupun di tempat-tempat umum, dengan harapan semoga kegiatan ini bisa terus berlanjut untuk menggelorakan program Kota Bima BISA, (Bersih, Indah, Sehat, dan Asri). (****//Kominfo)

Anjuran dan Keutamaan Sholat Tahiyatul Masjid

jpn

Bimantika.net -Shalat Tahiyatul Masjid adalah anjuran untuk shalat dua rakaat sebagai bentuk penghormatan kepada masjid sebelum melakukan aktivitas lain, seperti duduk dan berdzikir

Shalat ini sangat dianjurkan, dan makruh hukumnya jika ditinggalkan kecuali ada udzur seperti waktu yang sempit untuk segera shalat berjamaah.

Anjuran shalat tahiyatul masjid berasal dari hadits Nabi Muhammad SAW, yang berbunyi: “Jika salah seorang di antara kalian memasuki masjid, maka janganlah ia duduk hingga mengerjakan shalat dua rakaat (HR. Abu Qatadah)”.

Keutamaan salat tahiyatul masjid adalah bentuk penghormatan kepada masjid sebagai rumah Allah, membersihkan hati dan pikiran, mendapatkan pahala berlipat ganda dari Allah, penghapus dosa, dan mengangkat derajat seseorang di hadapan Allah SWT.

Salat ini adalah cara mempersiapkan diri secara spiritual sebelum melakukan ibadah lain di masjid, seperti salat berjamaah atau mengaji.

Keutamaan Salat Tahiyatul Masjid antara lain :

Penghormatan kepada Masjid: Salat tahiyatul masjid menunjukkan sikap hormat dan takzim seorang Muslim kepada masjid sebagai tempat ibadah yang mulia, layaknya mengucapkan salam saat masuk ke rumah orang lain.

Membersihkan Hati dan Pikiran: Melaksanakan salat ini membantu membersihkan hati dari pikiran negatif dan mengarahkan fokus kepada Allah SWT, sehingga hati lebih tenang sebelum melakukan ibadah lainnya.

Pahala dan Keberkahan: Dengan mengerjakan salat ini, seseorang akan mendapatkan pahala yang lebih besar karena masjid adalah rumah Allah yang penuh berkah.

Penghapus Dosa: Salat tahiyatul masjid termasuk dalam amalan yang dapat menghapus dosa, sebagaimana dijelaskan dalam hadis tentang pentingnya memperbanyak sujud (salat) kepada Allah SWT.

Mengangkat Derajat: Setiap langkah yang diambil untuk menuju masjid dan melaksanakan salat ini akan diangkat satu derajat dan dihapuskan satu kesalahan oleh Allah SWT.

Persiapan Spiritual: Salat dua rakaat ini dapat diartikan sebagai “pemanasan” atau persiapan mental dan spiritual sebelum melaksanakan ibadah-ibadah yang lebih berat di dalam masjid.

Termasuk Golongan yang Menyucikan Diri: Umat yang melaksanakan salat tahiyatul masjid adalah bagian dari golongan orang-orang yang cinta membersihkan diri, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surah At-Taubah ayat 108.

Pentingnya Melaksanakan Tahiyatul Masjid
Adab Masuk Masjid:

Melaksanakan salat tahiyatul masjid adalah adab dan anjuran Rasulullah SAW saat memasuki masjid.

Mencegah Perilaku Buruk: Melaksanakan salat ini dapat mencegah seseorang menjadikan masjid sebagai tempat lalu lalang tanpa tujuan ibadah, yang mana hal ini dilarang oleh Nabi Muhammad SAW. (****//Bbs)

Hasyim : Proyek Revitalisasi Serasuba Dimulai, Pemkot Bima Tata PKL dan Wahana Bermain Anak

jpn

Bimantika.net Dalam rangka mengoptimalkan fungsi dan keindahan taman, meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan, menciptakan ruang publik yang lebih nyaman dan atraktif demi kenyamanan pengunjung, Pemerintah Kota Bima memulai pembangunan revitalisasi Lapangan Serasuba Kota Bima. Kamis, 25 September 2025.

Pemerintah Kota Bima melalui Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik, Dr. Muhammad Hasyim, S.Sos., M.Ec.Dev, MH, menyampaikan bahwa saat ini tahapan pekerjaan pembangunan revitalisasi lapangan Serasuba dimulai sudah dua minggu berjalan.

“Tahapan awal merelokasi atau memindahkan PKL didepan Museum Asi Mbojo” ungkapnya.

Juru Bicara Pemkot Bima ini menjelaskan, untuk mempermudah dan memperlancar pembangunan revitaliasi Lapangan Serasuba, saat ini dinas Koperindag dan dinas PUPR melakukan tahapan menata Pedagang Kaki Lima (PKL) sekitar area Serasuba untuk dipindahkan dibagian timur Serasuba. Upaya ini dilakukan demi kelancaran selama proses revitalisasi lapangan serasuba.

“Sebanyak 94 PKL ditata di depan PT. Pegadaian hingga depan Museum Asi Mbojo. Sementara untuk 19 unit wahana permainan anak-anak diarahkan ke Paruga Na’e,” ungkap Hasyim.

Lebih lanjut, Hasyim mengajak dan berharap kepada seluruh elemen masyarakat, terutama pengunjung Serasuba untuk bersabar dan mendukung pembangunan revitalisasi lapangan Serasuba hingga selesai.

Hal ini dilakukan semata-mata untuk memberikan rasa nyaman dan mendukung Gerakan Kota Bima BISA (Bersih, Indah, Sehat dan Asri) untuk mewujudkan kualitas lingkungan perkotaan yang lebih nyaman dan asri.

“Revitalisasi Lapangan Serasuba lama waktu pekerjaan hingga 31 Desember 2025. Revitalisasi meliputi penataan taman, joging track, lapak PKL, hingga fasilitas toilet umum akan disiapkan,” pungkasnya. (****//Kominfo)

Do’a Merupakan Otak Ibadah

jpn

Bimantika.net Doa merupakan sebuah permohonan dari seorang hamba yang ditujukan kepada Allah SWT.

Doa adalah inti ibadah yang mendalam. Berikut ini dalilnya.
Doa berasal dari bahasa Arab الدعاء yang memiliki arti permintaan atau permohonan.

Doa dalam diri setiap muslim mempunyai manfaat yang sangat besar.

Hal ini tak lain karena doa adalah kunci atau otak dari ibadah seseorang.

Dengan demikian, doa merupakan inti dari peribadatan. Sebagaimana Sabda Rasulullah Muhammad Shallallaahu’alaihi Wa Sallam: ”Doa itu adalah otak ibadah”.

Frasa “doa otaknya ibadah” berasal dari hadis Rasulullah SAW, “Doa itu adalah otak ibadah”, yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi. Doa disebut sebagai otak ibadah.

Karena merupakan inti dan pangkal dari seluruh ibadah, sebab dalam setiap ibadah terdapat unsur doa.

Doa adalah bentuk menjalankan perintah Allah SWT agar hamba-Nya memohon kepada-Nya, dan dengan berdoa, seorang muslim memutuskan pengharapan hanya kepada Allah SWT.

Makna “Doa adalah Otak Ibadah”
Inti dari Segala Ibadah: Ibadah seperti shalat mengandung doa sejak takbir hingga salam.

Selain itu, tidak ada ibadah lain yang bisa dilakukan tanpa unsur doa, karena inti dari semua ibadah adalah memohon dan mengagungkan Allah.

Perwujudan Perintah Allah: Dengan berdoa, seorang muslim menjalankan perintah Allah SWT dalam firman-Nya yang berarti, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu”.

Membentuk Ketergantungan Hanya kepada Allah: Melalui doa, seorang hamba memutus ketergantungannya kepada selain Allah SWT. Ketika segala sesuatu berjalan sesuai keinginan, itu karena doa, yang menunjukkan bahwa segala hajat harus dimintakan kepada-Nya.

Dalilnya
Hadis: “الدُّعَاءُ مُخُ الْعِبَادَةِ” (Ad-du’a mukhul ‘ibadah), yang berarti “Doa adalah otaknya ibadah”. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dari Anas bin Malik.

Firman Allah: QS. Al-Mu’min ayat 60, yang berbunyi, “Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu'”. (***)

Gerak Cepat Polsek Woha Amankan Pelaku Penganiayaan di Desa Rabakodo

jpn

Bimantika.net Personel Polsek Woha Polres Bima Polda NTB mengamankan terduga pelaku penganiayaan di Desa Rabakodo Kecamatan Woha Kabupaten Bima.

Terduga pelaku yang berinisial A (L/18) ini diamankan setelah melakukan penganiayaan terhadap korban berinisial AR (L/16).Tindak pidana penganiayaan itu terjadi pada Selasa 23 September 2025, sekitar pukul 21.40.Wita.

Kepolisian menyampaikan Kronologi, bahwa Berawal korban sedang duduk di Kedai Kopi Taman cerita depan SMAN 1 Woha.

Tidak lama kemudian terduga pelaku datang dan terjadi Cekcok antara korban dengan satpam (saksi) terkait dengan urusan osis sekolah.

Tiba-tiba terduga pelaku melayangkan bogem mentah ke korban beberapa kali yang mengenai wajah dan kepala korban.

Akibat dari kejadian tersebut korban mengalami luka di bagian dahi.

Hal itu dibenarkan oleh Kapolres Bima AKBP Eko Sutomo S.I.K.,M.I.K.,melalui Kasatreskrim AKP Abdul Malik SH.

Sementara itu Kapolsek Woha AKP Muhtar menjelaskan pihak keluarga korban sempat melakukan aksi blokade jalan.

Namun aksi itu tidak berlangsung lama setelah diberikan pemahaman pihak keluarga korban kembali membuka jalan tersebut.

Tepatnya pukul 22.50.Wita terduga pelaku menyerahkan diri ke Mapolsek Woha dan setelah itu terduga pelaku digiring ke Mapolres Bima untuk diproses hukum selanjutnya.(***)

Perangi Kejahatan Narkoba, Walikota Bima Aji Man Ajak Semua Komponen Berpartisipasi

jpn

Bimantika.net Sebagai bentuk upaya pencegahan terhadap peredaran narkoba, khususnya di Kota Bima, Pemerintah Kota Bima membangun sinergi antara seluruh komponen di Kota Bima.

Salah satunya dengan mengadakan Kegiatan Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika (P4GN) Bidang Rehabilitasi yang bertempat di Aula Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Bima, Selasa, ( 23/9/2025).

Acara yang dibuka secara langsung oleh Walikota Bima, H. Arahman H. Abidin, SE,. dihadiri oleh Plt. Kepala Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Bima, Sunardin, S.Ip, Ketua Tim Rehabilitasi Kota Bima.

Serta di hadiri para peserta Bimbingan Teknis P4GN.

Wali Kota Bima menekankan bahwa narkoba merupakan masalah kita bersama.

“Diperlukan kerjasama dan kepedulian setiap individu untuk memeranginya” ujar Aji Man Sapaan akrab Walikota Bima.

Untuk itu Wali Kota mengajak untuk memperkuat sinergi antara Pemerintah Kota, dengan Tenaga Teknis Kesehatan di seluruh Kota Bima.

Serta elemen masyarakat untuk bersama-sama menjadi garda terdepan pencegahan dan pemberantasan Penyalahgunaan Narkoba.

“Kita tidak mau generasi kita rusak karena narkoba, jadi mari kita bersama-sama menjadi pribadi yang ikut serta berperan mencegah peredaran narkoba”, tegasnya.

Aji Man juga mengatakan bahwa narkoba pada saat ini bukan lagi merupakan peredaran gelap, melainkan sudah menjadi peredaran terang yang mudah dicari bagaikan barang halal pada lingkungan masyarakat Kota Bima.

Peredaran gelap narkoba bukan hanya menyasar orang dewasa dan remaja, melainkan juga anak-anak.

“Saya harap kegiatan kita ini tidak hanya seremoni saja, melainkan aksi nyata untuk melakukan perang besar dalam melawan peredaran narkoba yang semakin marak di Kota Bima,” pungkasnya.

Wali Kota juga berharap bahwa setelah RSUD Kota Bima selesai dibangun, maka pengalihan fungsi rumah sakit lama dapat dimanfaatkan untuk penanganan rehabilitasi bagi pengidap narkoba dan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ),

“Sehingga dapat memberikan layanan yang lebih terfokus dan efektif bagi masyarakat yang membutuhkan” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut Walikota Bima didampingi pula oleh Kadis Kesehatan Kota Bima, serta Direktur RSUD Kota Bima. Kegiatan Pelatihan ini dilanjutkan dengan penyerahan piagam penghargaan secara simbolis kepada peserta pelatihan, yakni Ners Suciati Kurniati, S.Kep., M.Kep., dr Arif Rahmansyah, dan Evi Haryani, Amd. Kep., serta diakhiri dengan sesi foto bersama. (****//Kominfo)

Walikota Bima Aji Man Tegaskan Layanan Informasi Harus Satu Pintu, Menjawab Beredar Issu Gagi P3K Paruh Waktu

jpn

Bimantika.net -Menyusul beredar luasnya pernyataan tentang gaji PPPK Paruh Waktu yang hanya 300 ribu di media sosial, sehingga membuat masyarakat kebingungan menkonsumsi informasi, Wali Kota Bima menegaskan penyampaian informasi pemerintah harus satu pintu.

“Saya minta semua pejabat agar penyampaian informasi pemerintah harus melalui kanal satu pintu, melalui Dinas Kominfotik,” tegas Wali Kota Bima, H. Arahman pada rapat koordinasi lingkup Pemkot Bima, di Aula Maja Labo Dahu kantor Wali Kota, Senin (22/09).

Aji Man sapaan akrab Walikota Bima menambahkan, hal ini penting dilakukan agar masyarakat dapat memperoleh kepastian hukum tentang layanan komunikasi publik pemerintah. Sehingga masyarakat tidak dibuat bingung.

“Padahal sampai saat ini kita masih pelajari soal besaran gaji PPPK Paruh Waktu. Kita ikuti sesuai aturan yang berlaku,” ungkapnya.

Aji Man menjabarkan bahwa Sesuai PermenpanRB nomor 16 tahun 2025, besaran gaji PPPK Paruh Waktu akan diberikan paling sedikit setara dengan pendapatan yang diterima saat menjadi pegawai non-ASN atau sesuai dengan upah minimum yang berlaku.

“Namun kita kondisikan dengan kemampuan keuangan daerah,” imbuhnya. (****//Kominfo)

Ciri Pemimpin Yang Baik Dalam Pandangan Islam

jpn

Bimantika.net sifat dan kepemimpinan diera sekarang yang urgen secara umum meliputi beberapa faktor.

Beberapa faktor tersebut meliputi komunikasi efektif, kemampuan mengambil keputusan yang tepat, integritas dan kejujuran, kemampuan menginspirasi dan memotivasi, serta empati terhadap yang di pimpin.

Sifat-sifat ini membantu pemimpin membimbing, menyatukan, dan mencapai tujuan untuk kebaikan bersama.

Ciri pemimpin yang baik menurut Islam mencakup sifat dasar seperti Sidiq (jujur), Amanah (bertanggung jawab), Tablig (menyampaikan kebenaran), dan Fathanah (cerdas).

Selain itu, pemimpin harus tunduk pada aturan Allah, memiliki akhlak mulia dan jiwa sosial, serta senantiasa bersikap lemah lembut, adil, dan terbuka terhadap kritik.

Sifat-sifat Kunci (Sifat Wajib Rasul):
Shiddiq (Jujur dan Benar): Pemimpin harus selalu berkata benar dan bertindak jujur kepada Allah, diri sendiri, dan orang lain.

Amanah (Bertanggung Jawab): Pemimpin harus setia kepada Allah dan rakyatnya, menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab, dan tidak menyalahgunakan kekuasaannya.

Tablig (Menyampaikan Kebenaran): Pemimpin wajib menyampaikan amanah dan kebenaran dengan jelas kepada orang-orang yang dipimpinnya.

Fathanah (Cerdas dan Berpikiran Maju): Pemimpin harus memiliki kecerdasan dan wawasan yang luas untuk mampu mengelola urusan pemerintahan dengan baik.

Ciri-Ciri Tambahan:
Tunduk kepada Aturan Allah: Pemimpin harus menjadikan aturan Allah sebagai pedoman utama dalam setiap kebijakan dan keputusannya, bukan hawa nafsu.

Akhlak Mulia: Pemimpin harus memiliki kualitas moral yang tinggi, yang tercermin dalam akhlaknya sehari-hari.

Jiwa Sosial dan Humanis: Seorang pemimpin tidak boleh tega membangun kebahagiaan di atas penderitaan orang lain, dan harus memiliki empati serta kepedulian terhadap rakyatnya.

Lemah Lembut dan Tidak Kasar: Pemimpin harus bersikap lembut dan tidak keras dalam berinteraksi dengan rakyatnya.

Niat yang Ikhlas: Niat pemimpin harus tulus karena Allah, bukan karena ingin mencari jabatan atau keuntungan pribadi.
Keadilan: Pemimpin harus memutuskan perkara dengan adil dan tidak berat sebelah.

Terbuka dan Menerima Kritik: Pemimpin yang baik bersedia menerima ide, saran, dan kritik dari rakyatnya untuk perbaikan diri dan pemerintahan. (****)

PHBS Gagal Tanpa Air Bersih: Tanggung Jawab Siapa?

jpn

Oleh: Rita Kartika Syarif, S.KM., M.Kes (Aktivis Muslimah Peduli Umat Kota Bima)

Bimantika.net Air adalah sumber kehidupan. Hampir tidak ada satu pun aktivitas manusia, tumbuhan, maupun hewan yang bisa berjalan tanpa air.

Dari bernapas, makan, mencuci, hingga beribadah, semuanya membutuhkan air.

Ironisnya, di tengah melimpahnya kekayaan alam negeri ini, air bersih justru semakin sulit diakses oleh rakyat banyak.

Di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, krisis air bersih bukan sekadar isu musiman, melainkan masalah tahunan yang terus berulang.

Laporan BPBD Kota Bima tahun 2024 mencatat 12.943 jiwa di 13 kelurahan terdampak kekeringan saat musim kemarau.

Bantuan air tangki hanya menjadi solusi darurat, sementara lebih dari 90% warga masih mengandalkan sumur bor dangkal yang justru mengancam keberlanjutan air tanah dan ekologi.

Masalah bertambah ketika distribusi air PDAM kerap macet berhari-hari, tetapi tarif tetap dibebankan.

Banyak keluarga akhirnya harus membeli air jerigen atau tangki dengan harga mahal.

Di kota kecil yang dikenal sebagai ‘Kota Tepian Air’, pertanyaan besar pun muncul: Mengapa krisis air justru menjadi realita yang berulang?

Musim hujan seharusnya membawa berkah berupa melimpahnya air.

Namun, realitasnya tidak demikian. Di banyak daerah, termasuk Kota Bima, krisis air tetap terjadi bahkan ketika curah hujan tinggi.

Mengapa bisa begitu?
Air berlimpah, tetapi tidak terserap → Sebagian besar air hujan langsung mengalir ke sungai dan laut tanpa meresap menjadi cadangan air tanah.

Hal ini diperparah dengan berkurangnya hutan dan daerah resapan.

Banjir bukan jaminan ketersediaan air bersih → Saat banjir melanda, air justru bercampur lumpur, limbah rumah tangga, dan kotoran hewan, sehingga tidak layak untuk dikonsumsi.
Distribusi tidak merata

→ Ada daerah tergenang air, sementara daerah lain tetap kering karena tidak ada sistem penampungan atau jaringan distribusi yang memadai.

Kualitas air menurun → Musim hujan sering membawa pencemaran, baik dari limbah pertanian maupun sampah kota, sehingga masyarakat kesulitan mendapatkan air yang benar-benar bersih.
Inilah paradoksnya: musim hujan bisa menghadirkan bencana banjir sekaligus krisis air bersih.

Tanpa tata kelola yang baik, limpahan hujan tidak menjadi rahmat, melainkan masalah baru bagi rakyat.

PHBS: Ilusi Tanpa Air Bersih
Sejak 1996, pemerintah mengampanyekan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan 10 indikator utama, seperti mencuci tangan dengan sabun, menggunakan jamban sehat, hingga mengonsumsi makanan bergizi.

Namun, semua indikator itu berdiri di atas fondasi ketersediaan air bersih.
Bagaimana masyarakat bisa mencuci tangan dengan benar jika air tidak mengalir?

Bagaimana balita terhindar dari diare jika air minum terkontaminasi?

Bagaimana rumah tangga menjaga kebersihan jika pasokan air terbatas?

Bahkan fasilitas kesehatan pun terancam. Sterilisasi alat medis, perawatan pasien, hingga pencegahan infeksi nosokomial semuanya membutuhkan air. Tanpa itu, kualitas layanan kesehatan menjadi rapuh.

Dengan demikian, berbicara PHBS tanpa memastikan ketersediaan air bersih tidak lebih dari sekadar slogan kosong.
Krisis air bukan hanya soal kesehatan, melainkan juga beban sosial dan ekonomi.
Perempuan sering kali menjadi pihak yang paling terdampak. Mereka harus mengantre atau membeli air jerigen, mengorbankan waktu produktif, bahkan terkadang menempuh jarak jauh demi mendapatkan air.

Biaya air bisa mencapai seperempat dari upah minimum—beban berat bagi keluarga miskin.
Anak-anak, terutama yang perempuan, sering dilibatkan membantu mencari air, yang berujung pada terganggunya waktu belajar mereka.

Dengan demikian, krisis air berkontribusi pada mata rantai kemiskinan struktural: kesehatan terganggu, ekonomi terbebani, pendidikan tersendat.

Perspektif Islam: Air Hak Publik, Bukan Komoditas
Islam memberikan pandangan yang tegas soal air. Allah SWT berfirman:

“Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup.” (QS. Al-Anbiya: 30)

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah)

Dari sinilah jelas, air adalah hak publik (milkiyyah ‘ammah) yang tidak boleh dimonopoli atau diprivatisasi.

Negara berkewajiban penuh menjamin distribusi air secara adil.

Sejarah mencatat, Khalifah Umar bin Khattab membangun kanal, sumur umum, bahkan melarang komersialisasi air yang merugikan rakyat.

Ia memastikan air tersedia untuk semua, tanpa diskriminasi kelas sosial. Itulah teladan pengelolaan berbasis keadilan, pemerataan, dan keberlanjutan.

Kenyataan hari ini menunjukkan bahwa krisis air bukan semata soal kekurangan sumber daya, melainkan krisis tata kelola.

Indonesia memiliki sekitar 2,7 triliun m³ air per tahun—cukup untuk seluruh rakyat. Namun, alih fungsi lahan, kerusakan hutan, kebocoran distribusi PDAM, dan komersialisasi membuat rakyat tetap kesulitan.

Inilah buah dari paradigma kapitalistik yang menjadikan air sebagai komoditas ekonomi, bukan hak dasar manusia. Selama sistem ini dipertahankan, masalah turunan seperti distribusi timpang, tarif mahal, dan monopoli akan terus bermunculan.
Islam menawarkan solusi menyeluruh:

Air dikelola negara sebagai hak rakyat.
Konservasi lingkungan dijamin. Distribusi adil ditegakkan. Keberlanjutan dipastikan.

Masalah air bukan sekadar teknis, melainkan paradigma kepemimpinan. Kepemimpinan dalam Islam bukan sekadar urusan teknis mengatur negara, tetapi amanah besar yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab di hadapan Allah SWT.

Seorang pemimpin adalah pelayan rakyat, bukan penguasa yang mencari keuntungan pribadi.

Paradigma kepemimpinan Islam berpijak pada prinsip:
Amanah dan Pertanggungjawaban: Pemimpin dipilih bukan karena kepentingan kelompok atau politik, tetapi karena kapasitasnya menjalankan syariat dan menyejahterakan rakyat.

Keadilan: Semua kebijakan harus melindungi hak rakyat tanpa diskriminasi, termasuk hak atas air bersih.

Kesejahteraan dan Rahmatan lil ‘Alamin: Pemimpin menjadikan kebijakan sebagai sarana mewujudkan kemaslahatan umat dan menjaga kelestarian alam.

Sejarah membuktikan, para khalifah seperti Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz menunjukkan kepemimpinan yang transparan, sederhana, dan berpihak pada rakyat.

Inilah model kepemimpinan yang dibutuhkan untuk mengatasi krisis struktural, termasuk masalah air bersih.
Krisis air bersih di Kota Bima hanyalah potret kecil dari masalah besar dunia. Tanpa air, PHBS mustahil berjalan.

Tanpa PHBS, kesehatan masyarakat runtuh. Dan tanpa kesehatan, bangsa kehilangan generasi masa depan.
Air adalah amanah Allah, hak dasar manusia, sekaligus syarat keberlangsungan hidup.

Mengabaikan krisis air berarti menutup mata terhadap masa depan.
Sejarah menunjukkan, sistem kapitalis demokrasi gagal melahirkan pemimpin sekelas Umar bin Khattab—pemimpin yang mampu menjadikan air sebagai rahmat bagi semua.
Hanya dengan penerapan sistem Islam secara kaffah, air bisa kembali dikelola dengan adil: menjamin kesehatan, menunjang ibadah, dan menjaga keberlanjutan generasi mendatang. Wallahua’alam. (****)

Hacklink Hacklink Satış бэклинки casibom marsbahis casibom hacklink market marsbahis giriş vdcasino casibom casibom