Oleh ; DR. Ikhwan, SE,MM,M.Si*)
Bimantika.net
Memunculkan kultus individu yang berlebihan atau memuji berlebihan figur dengan menggunakan medsos semacam ini memunculkan Persepsi terhadap figur yang berbasis pada fanatisme buta kemudian bergerak menjauhi fakta yang sebenarnya, namun tanpa disadari bahwa itu merugikan daerah kita.
Daya tarik mitos yang sengaja di publis untuk memberikan pencitraan dan mempengaruhi opini “kepastian “meski hanya dalam imajinasi politik, bukan realitas politik sebenarnya, sama halnya dengan Politik identitas menjadi mesin kerja yang memuluskan irasionalitas tersebut. Tujuanya jelas mitos yang di munculkan untuk membangun opini sesat dalam meniadakan keinginan memilih figur hebat.Seharusnya
kalau daerah kita ingin berubah dan maju dibutuhkan aspek kuantifikasi, kualifikasi, dan kalkulasi dalam memutuskan kapasitas dan kapabilitas figur tersebut.
Banyak mitos atau istilah yang dimunculkan di medsos oleh loyalis IDP seperti ” pokoknya IDP 2 periode” tidak ada figur yang menandingi IDP, perempuan karismatik, IDP yang mampu mensejahterahkan masyarakat dll sederet istilah yang memutarbalikan logika sehat kita yang jauh dari kenyataan.
Nuansa paragmatisme dan irasional politik masih sulit dihilangkan karena faktor subjektivitas menilai seseorang, sebenarnya kita harus lebih berani beranjak pada pilihan rasional yang tidak sama dengan politik hipnotik figuritas tampa objektivitas demi ambisi politik, akhirnya kebenaran dimanipulasi, emosi irasional diaduk dan penafsiran agama di tinggalkan.
Padahal kekacauan yang disebakan hilangnya rasionalitas merupakan stimulus lahirnya oligarki dan feodalisme yang merugikan masyarakat kita. Hal yang perlu dilakukan adalah gerakan penyadaran kepada masyarakat tentang betapa super-bahayanya mengedepankan emosionalitas dan “kebenaran saya” dalam politik karena Rasionalitas sejatinya adalah anak kandung demokrasi
Lihatlah fakta apa perubahan yang berdampak besar saat ini yang bisa dinikmati masyarakat kita, malahan yang terjadi sebaliknya gaya politik one dimensional man ” yang hanya isi kepala nya Uang, Income dan Profit” dimana sense of sosialnya ambruk, pengelolaan pemerintahan rusak dan cara mengelola potensi daerah yang tidak optimal. Karena bupati kita tidak memiliki mental juara yang memiliki efek kumulatif perubahan dan kemajuan.
Termasuk yang kami kritik pandangan dan cara berfikir legalistik tampa melihat lebih dari makna sirkulasi elit supaya tidak terjebak pada sistematis kehadiran hak politik ” Trah dinasti” karena merusak horison politik jangka panjang. Kompetisi tokoh- tokoh hebat itu yang esensial dalam proses Pilkada.
lihatlah kondisi kekinian, banyak Rakyat mengeluh, karena realitas politik yang dibangun gagal meneropong kepentingan masyarakat yang lebih besar, memang IDP berhasil dalam takaran dan timbangan ” Kekuasaan, Hegemony, Otokrasy, capital dan only corrupts”
Maka sikap mereka yang A simetris dengan kenyataan karena di beri privilese oleh IDP sebaiknya di tanggalkan karena merugikan posisi IDP, ketika kami berikan kritik maka kelompok oportunis tadi berdalih tidak melihat ada yang salah dalam pemerintahan IDP,,
Maka jangan menggunakan kacamata gelap dengan sudut pandang over confidence karena itu sama halnya mengkultuskan IDP.
*) Penulis adalah wakil rektor Universitas Attahiriyah Jakarta

