Defisitnya Nilai Bima Ramah

Oleh : DR. Ikhwan HZ, SE, MM, M,Si*)

Bimantika.net
Bima Ramah sebenarnya adalah sebuah spirit perubahan yang memberikan energi kebaikan, kepeloporan, keteladanan dan keberhasilan. Konsep ini digali dari nilai- nilai Kearifan lokal ” Dana Mbojo ” warisan leluhur yang tertanam . Akan tetapi setelah di uji dilapangan berbanding terbalik menjadi *Bima Tidak ramah, ” diksi ini tidak memberikan Efek yang menular pada perubahan budaya masyarakat, ketertiban sosial, pengetahuan masyarakat, perilaku beragama, perbaikan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Hemat saya, minimnya daya ungkit bima ramah akhirnya yang muncul Defisitnya nilai kehormatan kepada pemimpin. Nilai Bima ramah gagal menjawab persoalan pokok masyarakat untuk di implementasikan secara kontekstual dalam menyelesaikan masalah ekonomi dan sosial masyarakat.

Kehendak umum berlaku dengan pernyataan ” Penghormatan diberikan jika berbanding lurus dengan prestasi” sehingga apa boleh buat sinisme dan sindiran bertebaran. Pada sisi lain ungkapan kekecewaan menular dalam bentuk protes memblokir jalan umum, petisi, nota keberatan dan surat protes.

Akumulasi kekecewaan akan berkurang jika yang memimpin cepat merespon dan memberikan solusi. Banyak pendekan yang bisa dilakukan misalnya melalui dialog konstruktif dengan tokoh masyarakat, ulama, aktivis, DPRD dan kaum terpelajar lainnya untuk memberikan pengertian dan pemahaman. Partisipasi publik penting untuk memberikan solusi dan jalan keluar dari semua urusan publik. Saya yakin pendekatan ini akan dilakukan, hanya saja kehilangan momentum.

Akhirnya kita berbicara pola dan ukuran keberhasilan dan kegagalan. Isyarat keberhasilan akan bisa dilihat dari terciptanya masyakat beradab, tertib sosial, indeks kebahagiaan, minimnya gesekan dan konflik, di sinilah kita menguji kualitas kepemimpinan apakah sukses berpola, gagal berpola maka pola harus dievaluasi dan dipelajari.

Ketika pemimpin berhasil orang akan bicara tampa harus kita menyuruh., tapi kalau gagal, biasanya phisikologis kegagalanya itu disembunyikan, tetapi ada yang lebih berbahaya lagi Ketika rapor kegagalan itu diajukan sebagai prestasi untuk melanjutkan kepemimpinan. Kalau keinginan dan dorongan kelompok pragmatis ini benar – benar terjadi maka sama dengan masuk dua kali pada lubang yang sama!

Parameter keberhasilan dan kegagalan di analogikan dengan Matematikan sederhana ada bilangan deret ukur itu 1,3,5,9 dst. Kepemimpinan yang mengikuti deret ukur pasti memiliki daya ungkit yang yang membuahkan prestasi dan kebanggaan. Analogi terbaliknya dengan pola kepemimpinan mengikuti deret hitung 1,2,3 dst tidak memilki daya ungkit atau efek menular dari program yang di kerjakan.

Kendala kepemimpinan pasti banyak, misanya minimnya anggaran daerah, budaya masyarakat yang keras, SDM birokrasi yang tidak produktif, terbatasnya Infrastruktur publik, Kualitas SDM, Teknologi, minat investor, ekosistem bisnis yang belum terbentuk, Regulasi daerah, Belum optimalnya pemanfaatan kantor daerrah dan dinas serta energi listrik yang terbatas dll.

Tetapi harus diingat ada saham masyarakat yang dinvestasikan kepada kepala Daerah yaitu” Kepercayaan ” bahwa bupati terpilih adalah terbaik dan tepat untuk memimpin daerah, dan membawa perubahan dan kemajuan daerah. kehendak rakyat menjatuhkan pilihan itu merupakan amanat yang harus dibuktikan kemanfaatanya untuk masyarakat.

Manisfestasi dukungan rakyat adalah modal sosial yang harus diberikan benefit nya dalam ukuran keberhasilan pembangunan…
dan logika kita sulit menerima jika gagal di analogikan berhasil dan karena persepsi keberhasilan itulah maka harus melanjutkan lagi 2,periode ?

*) Penulis Adalah Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gunadarma dan Wakil Rektor Universitas Attahiriyah Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hacklink Hacklink Satış бэклинки casibom marsbahis casibom hacklink market marsbahis giriş vdcasino casibom casibom