Bimantika.net,_Salah seorang tokoh muda Bima yang sukses meraih gelar akademik Magister ilmu Politik, Zulchijjah H. Djuwaid mengungkapkan bahwasanyya memposisikan figur Ady Mahyudi maupun H. Syafrudin sebagai dua simbol besar pembawa perubahan masih patut untuk diragukan. Ady Mahyudi adalah bagian dari oligarki politik, mereka pebisnis lama yang ikut menikmati kue pembangunan daerah. Sementara H. Safrudin bukan juga simbol representasi nurani dan perasaan masyarakat kita dalam arti yang luas. Yang benar adalah bahwa posisi politik mereka adalah simbol arus perlawanan yang berhasrat menumbangkan petahana, kata Zulchijjah yang juga ikut meramaikan komentar seputar jelang pilkada Bima.
Dia mengungkapkan, Kalau obsesi Syafaad hanya sekedar hasrat menumbangkan petahana maka perubahan yang mereka gulirkan menjadi “absurd dan kehilangan esensi”. Itu sebabnya perubahan yang mereka usung patut di tantang. Ditantang bukan dalam artian sebagai hasrat politik mereka menjadi bakal calon kepala daerah Bima 2020, tetapi ide politik perubahan mereka yang belum di temukan dalam layar percakapan publik kita.
“Saya membaca gejala itu sejak awal, tetapi publik sudah terbelah dalam kooptasi tema perubahan yang sejatinya sedang memanipulasi kesadaran publik kita. Politik sejatinya berbicara tentang pembaharuan-pembaharuan untuk memastikan keadilan dan kesejahteraan bergerak simetris. Dari situ gagasan besar pembaharuan dari para bakal calon kepala daerah sudah semestinya kita rasakan”, terangnya.
“Saya tidak merasakan itu pada pasangan Syafaad, melainkan eforia yang menjurus pada perpecahan diarus bawah. Sensasi tanpa esensi. Itulah mereka hari-hari ini diruang publik. Sampai kapan eforia sensasi Syafaad berlanjut? Nampaknya, kealpaan H. Syafrudin merebut Nasdem adalah tanda awal yang meredam sensasi mereka”, lanjutnya.
Kata dia, Impilkasi kealpaan H. Syafrudin merebut NASDEM mengancam kemesraan pasangan Syafaad yang juga berarti kian memperkecil bergaining Ady Wahyudi yang terlanjur mengklaim PAN identik dengannya.
“Keluarnya SK PAN lebih awal mengusung Syafaad ternyata sebuah jebakan, ketika Nasdem yang nampaknya lebih memilih posisi politik mengawal agenda petahana dalam frame Bima Ramah jilid dua”, tutupnya. (BNN_01)

