Oleh : Isla Andre *)
Bimantika.net_ Pilkada
Berbicara soal basis pemilih, kita tidak bisa jauh dengan pemilih perempuan karena merupakan basis pemilih terbesar. Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah merekapitulasi Daftar Pemilih Tetap (DPT) untuk Pemilu 2019 sebanyak 365.795 orang. Rinciannya, laki 180.533 pemilih dan perempuan185.262 pemilih. Jumlah pemilih perempuan lebih banyak sekitar 5 ribuan dibanding pria.
Dilihat dari data di atas tidak heran jika pasangan Bakal calon membuat perhatian lebih ke basis pemilih perempuan dengan pencitraan yang begitu apik. Hal ini juga didukung dengan berbagai isu yang sangat mudah digoreng untuk mendapatkan dukungan pemilih perempuan, seperti isu pancing, alat masak dan sembako yang digembar-gemborkan oleh Bakal calon pasangan Dinda Dahlan dengan jargon Lajutkan 2 periode.
Respons dari para pemilih perempuan sendiri juga sangat antusias, dengan ikut mendeklarasikan diri mendukung salah satu Bakal calon seperti deklarasi srikandi IDP…emak emak pendukung IDP dll
ini seperti romantisme perempuan dalam politik karena semakin antusiasnya para perempuan khususnya ibu-ibu rumah tangga yang biasanya seakan alergi dengan dinamika politik berbalik menjadi garda terdepan dalam pesta demokrasi. Jika fenomena seperti ini dapat bertahan lama, akan terjadi sinergi dan kolaborasi dalam menciptakan pesta demokrasi yang romantis dan dinamis.
Tetapi, di balik sebuah kemajuan pasti ada pertentangan … ini wajar karena para pasangan calon sangat intens menyasar basis pemilih perempuan dan menghasilkan b kubu dari pasangan calon yang kadang bersitegang dalam aksi dukungan.
Romantisme perempuan dalam politik sangat dirindukan dan dinantikan karena para perempuan juga diberi hak yang sama dalam perpolitikan. Sebuah kemajuan pasti ada pertentangan dan perdebatan yang mendasar karena dinamika perpolitikan yang begitu fluktuatif sehingga diperlukan sebuah sinergi dan integrasi dari semua elemen. Hal ini juga harus diperhatikan oleh para Bacal calon dengan memberi edukasi perpolitikan yang baik, bukan hanya orasi dan pernyataan kontroversial yang menggiring opini publik ke arah perpecahan.
*) Penulis adalah Kader Partai Demokrat Kabupten Bima

