Misi Besar HM Rum Bangun Kota Bima yang Religius dan Berkemajuan

jpn

Bimantika.net -Penjabat (Pj) Walikota Bima, Ir. H. Muhammad Rum, MT adalah sosok pemimpin yang berkarakter mementingkan Ukhrawi.

Dunia menurutnya adalah tempat singgah sementara anak adam dalam mengumpulkan amal baik sebagai modal utama manusia dalam menghadapi kehidupan yang berkeabadian yakni Akhirat.

HM Rum memberikan resep kehidupan yang menyeimbangkan dunia dan akhirat sehingga selamat dalam dunia lebih-lebih akhirat.

Sebagai pemimpin publik, HM Rum bertekad membangun Infrastruktur dan suprastruktur di Kota Bima dalam rangka memajukan Kota Bima.

Terselip program Religiusitas HM Rum dalam membangun Kota Bima dalam bentuk Sholat Berjamaah di setiap waktu sholat patut di apresiasi secara mendalam.

Dalam diskusinya dengan Media Online Bimantika beberapa waktu lalu di kantornya Dinas PUPR Propinsi NTB, HM Rum banyak hal yang terungkap dalam keseimbangan dunia dan akhirat.

Menurut HM Rum Jika ada yang bertanya, untuk apa sebenarnya manusia diciptakan di dunia ini?

“Sebagai seorang muslim yang beriman pada Allah SWT tentu akan mudah menjawabnya: untuk beribadah kepada sang Khaliq” ujar HM Rum.

Demikian karena tujuan penciptaan memang telah jelas dititahkan oleh Allah swt. yaitu dalam firman-Nya pada surat adz-dzariyat ayat 56 yang artinya berbunyi: “Tiadalah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah (menyembahku)”.

Menurut HM Rum Ayat ini berlaku umum menjelaskan bahwa tugas pokok kita sebagai manusia pada dasarnya adalah untuk beribadah semata kepada Allah Rabbul Izzati.

Namun demikian, apakah yang dimaksud dengan ibadah di sini hanya seperti yang kita bayangkan yaitu melaksanakan rukun Islam semata? Atau hanya berdiam di masjid berdzikir kepada Allah tanpa henti tanpa melakukan kegiatan apapun selainnya?

“Tentu tidak. Ketentuan bahwa satu-satunya tugas kita sebagai makhluk ciptaan Allah adalah untuk beribadah memang tidak dapat didustakan. Namun kenyataan bahwa kita hidup di dunia juga tidak dapat dikesampingkan” urainya.

Masih menurut HM Rum bahwa Setiap manusia di dunia memiliki jalan takdir hidupnya masing-masing yang dijalankan secara individual dan berjamaah.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari, Rasulullah saw. menerangkan bahwa nasib manusia pada hakikatnya sudah ditentukan, termasuk rezeki, ajal, amal, kesedihan, dan kebahagiaannya.

Hal ini seharusnya meniscayakan adanya iman kepada Allah bahwa Dia lah satu-satunya yang berkuasa dan tiadalah manusia melakukan sesuatu apapun kecuali ditujukan untuk menggapai ridha-Nya.

Manusia memang diciptakan dengan berbagai macam watak dan karakter.

Berdasarkan tingkat kesadarannya, aktivitas yang dilakukan tentu juga akan berbeda-beda. Seseorang dengan kesadaran bahwa kehidupan di dunia hanya sementara, akan bisa menyeimbangkan kebutuhan duniawi dengan akhiratnya.

Sementara seseorang dengan tingkat kesadaran tidak berimbang, akan lebih condong memprioritaskan salah satu dari keduanya.

“Begitu juga Sebaliknya bila terlalu memperhatikan dunia hingga melupakan akhirat tentu juga tidak baik” ungkap HM Rum.

Menurut HM Rum bahwa Manusia diciptakan dengan akal dan dihiasi dengan keinginan (syahwat) pada keindahan-keindahan duniawi.

Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat Ali Imran ayat 14 yang artinya adalah, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”

HM Rum menegaskan bahwa dalam ajaran dan anjiran Islam menganjurkan keseimbangan dalam menyikapi kehidupan dunia dan akhirat.

“Tidak berlebihan pada dunia, sebaliknya juga tidak berlebihan pada akhirat” kata HM Rum.

Dalam surat Al-Qashash ayat 77 Allah swt. berfirman, “Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Dalam sebuah ungkapan dikatakan bahwa dunia adalah ladang akhirat (ad-dunya mazra’at al-akhirah).

Maksudnya adalah bagaimana kita harus bersikap terhadap dunia untuk menjadikannya sebagai ladang di mana kita menanam berbagai amal baik untuk dipanen nantinya di akhirat”

Jika amal yang kita tanam berasal dari bibit yang kurang baik, kita harus bersiap memanen hasil yang kurang baik.

Sebaliknya jika yang kita tanam berasal dari bibit yang baik, maka kita akan bergembira dengan hasil yang baik pula di akhirat kelak.

Allah berfirman, “Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun dia akan melihat (balasan)nya. Siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun dia akan melihat (balasan)nya pula.” (***)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *