Bimantika.net -KH Ahmad Bahauddin Nur Salim atau lebih dikenal dengan sebutan Gus Baha, sejak kecil sudah mendapat ilmu dan hafalan Al Quran dari ayahnya, KH Nur Salim Al-Hafidz.
Maka tidak heran apabila Gus Baha menjadi ahli tafsir Al Quran. Sehingga sangat diidolakan anak-anak muda atau yang biasa disebut kaum milenial.
Gus Baha merupakan putra dari seorang ulama pakar Al Qur’an dan juga pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an LP3IA yang bernama KH Nursalim al-Hafizh dari Narukan, Kragan, Rembang, Jawa Tengah.
ceramahnya menjadi buruan para netizen terutama di YouTube mengingatkan agar kita tidak mudah didikte orang.
“Problem kita sekarang ini biasa didikte orang bodoh,” ucapnya dalam acara Ngaji Bareng bertema “Meneguhkan Islam Rahmatan Lil Alamin”.
Sebagai hamba ciptaan Allah, sudah semestinya seorang manusia hanya tunduk kepada-Nya dalam seluruh tindak laku.
Amat keliru jika manusia menghamba kepada yang lain selain Allah Swt. Apalagi kepada sesama manusia.
Sebab setiap manusia merupakan jiwa yang utuh, tidak kurang suatu apapun dan sejatinya hanya butuh pada Allah SWT.
Oleh karena itu, kemandirian diri perlu disadarkan, kebergantungan hanya layak diserahkan seluruhnya kepada sang pencipta. Kemerdekaan diri adalah kunci agar manusia tidak mudah terdikte oleh sesuatu apapun. Tidak menganggap secara berlebihan jasa-jasa manusia terhadap diri dan memahami bahwa itu semua perantara yang digariskan oleh Allah Swt.
Sejalan dengan pernyataan tersebut, dalam banyak kesempatan Kiai Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) menjelaskan bahwa hanya kepada Allah-lah manusia layak tunduk. “Jangan mudah didikte oleh makhluk.” tandas Ketua Lajnah Mushaf Lembaga Tafsir Al-Qur’an UII Yogyakarta itu.
Gus Baha menguraikan, seorang yang marah karena menghadapi sikap orang awam yang biasanya suka seenaknya, maka ia tidak berbeda dari orang awam tersebut. Maksudnya, jika ada seseorang terpancing emosi karena tidak bisa memaklumi tindakan orang lain yang awam maka tandanya ia juga masih awam dari sisi pengendalian diri. Karena ia terdikte oleh laku yang jika oleh orang berilmu seharusnya bisa dimaklumi.
“Sama halnya dengan kita yang secara umum telah mengetahui watak anak-anak atau istri kita, tapi masih saja bisa dibuat jengkel menghadapinya. Maka tandanya, kita terdikte olehnya. Padahal sebelumnya telah mengetahui bahwa karakter keduanya memang demikian adanya.” urai Gus Baha.
Tidak didikte oleh makhluk atau sebuah kondisi membantu kita mengontrol diri dan mengambil sikap yang sesuai. Juga dapat memudahkan kita membedakan mana yang harus benar-benar dipatuhi sebagai perintah dan larangan Allah dengan mana yang hanya berdasarkan nafsu belaka.
Contoh sederhana terdikte oleh nafsu menurut Gus Baha adalah ketika makan. Ketika seseorang hanya bisa makan dengan enak dan lahap bergantung dengan lauk pauknya, maka ia hanya menuruti nafsu saja. “Tak ada bedanya dengan anak kecil yang biasanya mau makan tergantung apa lauknya. Padahal, jika tidak menuruti nafsu, maka lauk yang paling nikmat adalah rasa lapar (idamuhu al-ju’).” terang Gus Baha.
Lain cerita jika seseorang berhasil tak terpengaruh dikte nafsu dan hanya terpengaruh oleh dikte (ketentuan) Allah. Seperti kasus yang diceritakan oleh Gus Baha tentang kisah seorang ulama yang dipermainkan oleh tetangganya. Suatu hari sang ulama diundang oleh tetangganya untuk datang ke rumah. Ia pun datang menuruti undangan tetangganya. Sampai di rumahnya, sang tetangga malah bilang bahwa tidak jadi ada keperluan. Hal ini disengaja untuk mempermainkan dan diulang hingga tiga kali.
Akan tetapi sang ulama tidak marah atau merasa dilecehkan sama sekali. Justru ia malah merasa senang dan terlihat riang gembira. Sebab alasannya adalah ia merasa senang bisa melaksanakan perintah Allah, yaitu menyenangkan tetangga. Sang tetangga pun menyesal dan menangis mendengar hal itu. Maksud hati ingin mempermainkan, tapi malah dibalas dengan penghormatan.
Gus Baha mengutip sebuah hadis yang berkaitan dengan kemantapan diri yang tak terpengaruh oleh kondisi atau sikap orang terhadap diri. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, termaktub dalam kitab Sunan At-Tirmidzi.
لَا تَكُونُوا إِمَّعَةً، تَقُولُونَ : إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنَّا، وَإِنْ ظَلَمُوا ظَلَمْنَا، وَلَكِنْ وَطِّنُوا أَنْفُسَكُمْ، إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوا، وَإِنْ أَسَاءُوا فَلَا تَظْلِمُوا.” رواه الترمذي
“Janganlah kalian menjadi orang tidak berpendirian (mudah terombang-ambing), yang mengatakan: jika orang-orang berbuat baik, kami juga berbuat baik, jika mereka berbuat zalim, kami juga berbuat zalim. Tetapi kuatkanlah pendirian kalian, jika orang-orang berbuat baik, berbuat baiklah, jika mereka berbuat zalim, jangan kalian berbuat zalim.” (HR At-Tirmidzi).
Menurut Gus Baha, soal agama, hendaknya kita menyambung orang yang memutuskan karena dengan demikian kita hanya didikte oleh Allah SWT, bukan didikte oleh hukum sosial.
Menurut Gus Baha, soal agama, hendaknya kita menyambung orang yang memutuskan karena dengan demikian kita hanya didikte oleh Allah SWT, bukan didikte oleh hukum sosial.
“Selama ini, kebanyakan orang hanya berbuat baik kepada orang yang baik terhadap kita. Berbuat baik sama orang yang jahat dengan kamu itu baru luar biasa,” tuturnya.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah juga bersabda, “Kamu jangan jadi orang yang mudah diombang-ambingkan oleh orang di sekeliling kamu.” Nabi sendiri dengan orang munafik sangat sabar meskipun ia tahu orang tersebut munafik. Nah, kita sebaiknya berlatih seperti itu sehingga tidak mudah didikte,” kara Gus Baha.
“Kamu mengatakan jika orang baik ke saya, saya akan baik, jika orang buruk ke saya, saya juga akan membalas buruk, itu namanya Anda didikte. Berkomitmenlah kamu berbuat baik meskipun orang lain berbuat buruk,” papar Gus Baha..
Menurut Kiai kelahiran Narukan, Kragan, Rembang, Jawa Tengah menjelaskan, bahwa logika sosialnya, apabila Indonesia memiliki 1000 kiai dan 1000 profesor yang ingin membenahi Indonesia. Nah, rata-rata, orang awam itu semaunya sendiri. Lalu, mereka mendikte kita dengan perilakunya yang tidak simpati dan menjengkelkan.
“Terus 1000 profesor dan 1000 kiai ini ikut jengkel, itu kita kira-kira cari solusi opo goblok bareng? Goblok bareng!” sambung pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an LP3IA. (**//Berbagai Sumber)

