Oleh : Dae Ichal
Bimantika.net Agenda silaturahmi SYAFAAD beserta tim di madapangga tepat pada tgl 29 Januari 2020 dalam rangka mensosialisasikan diri sebagai calon bupati & wabub dinilai melewati batas normatif dimana kuat dugaan ikut melakukan kampanye hitam dengan mengajak masyarakat untuk melakukan penyobekan mandat dan di rekam kemudian di posting dalam media sosial facebook. Tentunya hal ini di nilai sangat provokatif lantaran mandat yg di sobek tersebut tdk ada kaitannya sama sekali dengan kepemimpinan dinda dahlan karna yg disobek tersebut adalah mandat saat periode kepemimpinan Almarhum H.Ferry Zulkarnain, ST (Dae Ferry)
Kegiatan sosialisasi seharusnya mencerminkan dan menunjukkan kepada publik atas program dan rencana pembangunan yg akan di bawa oleh tim tersebut, bukannya hadir di tengah-tengah masyarakat dengan mengajak, memprovokasi dan menunjukkan cara-cara yg tidak beradab, tentu sangat disesali mengingat Tagline kampanya SYAFAAT beserta timnya adalah “PERUBAHAN”
Pertanyaannya perubahan seperti apa yg di maksud jika cara-cara keji dan tidak beradap tersebut di pertontonkan depan khalayak publik, apakah SYAFAAT beserta tim hanya gerombolan barisan sakit hati yg tidak terpenuhi hasrat dan keinginannya lantas dengan cara membabi buta turun ke tengah-tengah masyarakat dgn tidak memiliki konsep yg relefan dengan taglain yg di bawa ?
Sungguh cara-cara seperti ini hanya akan merusak tatanan berdemokrasi kita, melibatkan masyarakat kemudian menjadi kambing hitam (korban) dari kekejian politik SYAFAAD Beserta para Anteknya.
Ironisnya seolah tak tau malu atau memang urat malunya sudah putus, terlihat jelas mandat yg di sobek tersebut adalah mandat tugas relawaan di saat almarhum dae Ferry mencalonkan diri sebagai bupati dan di saat itu yg menjadi Wakilnya adalah H.Syafru. Dalam Video penyobekan mandat tugas oleh ibu” atas nama (ibu bau) dengan manisnya H.Syafru duduk dibelakang bak pengantin di atas pelaminan dan tanpa sadar secara tidak langsung telah menampar dan meludahi wajahnya sendiri depan kerumunan masyarakat karna keluh kesah rakyat atas utang politik di masa H.Syafru menjabat PLT bupati Bima selama 2 tahun setelah kepergian almarhum Dae ferry.
Apakah H.Syafru sudah tdk punya rasa malu ? di berikan tugas PLT selama 2 tahun belum bisa mengobati keinginan masyarakat sampai di depan matanya sendiri mandat tugas di obrak abrik ?
Kami melihat cara-cara seperti ini tidak ada bedanya dengan cara kerja politik adu domba yg menggiring dan menghasut publik hanya untuk memenuhi kepuasan libido politik mereka.
Sebelum hal ini menjadi pemicu konflik sosial di tengah masyarakat, harus di catat baik-baik yg di lakukan oleh tim SYAFAAD adalah mengajak masyarakat untuk merobek mandat yg didalamnya tertera foto almarhum H.Ferry Zulkairnain, ST yg nota benenya beliau adalah Seorang Sultan dari kerajaan bima.
Kami sebagai loyalis almarhum dae ferry mengajak dou mbozo untuk mengutuk keras tindakan keji yang di lakukan oleh tim SYAFAAD saat melakukan sosialisasi sehingga terjadi insiden penyobekan mandat yang di dalamnya terpampang Foto Almarhum Sultan Bima (Dae Ferry), kuat dugaan ini disebabkan oleh dendam lama yang masih basah di benak H.Syafru sepeninggalan almarhum karna di anggap tidak dapat menjalan fungsinya dengan baik menjadi PLT bupati bima di periode ke 2 dae Ferry yang lalu
Bisa kita lihat seksama SYAFAAD beserta timnya hanya gencar menyentuh hal-hal yg sifatnya pribadi bahkan tdk relevan jika di kaitkan dengan konteks pilkada 2020 ini, separah itukah dendam politik yang di bangun oleh H.Syahru hingga Foto Almarhum dae Ferry yg sdh lama meninggal duniapun di sobek depan khalayak publik ?
Atau memang sengaja ingin mengingkari kepemimpinan dae fery sehingga beliau ingin cuci tangan lantas melakukan pecitraan bahwa karena beliaulah dana mbozo lebih baik sepeninggalan dae ferry ?
Tentunya seluruh mata yg melihat dan mengetehui insiden penyobekan Mandat yg di dalamnya terpampang foto sultan bima (dae ferry) adalah sebuah penghinaan keji yg di lakukan oleh SYAFAAT beserta timnya, kami dan seluruh masyarakat bima yg merindukan kepemimpinan almarhum Dae Ferry mengutuk tindakan tersebut

