jpn
Bimantika.net -Diantara yang bisa dimanfaatkan untuk menabung bekal di sisi Allah adalah lidah.
Dengan lidah, seseorang bisa berdzikir dan saling menasihati sehingga meraih banyak pahala.
Lidah juga bisa mengakibatkan dosa dan menyeret seseorang ke neraka, jika tidak dimanfaatkan untuk kebaikan.
Kesadaran seseorang terhadap fungsi dan bahaya lidah ini akan mendorong dirinya untuk menjaga lidah, tidak berbicara kecuali yang bermanfaat.
Ada beberapa poin Pentingnya menjaga lidah ini agar terhindar dari bala dan bencana. Nabi Muhammad SAW bersabda:
إِنَّ مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكَهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
“Sesungguhnya di antara kebaikan Islam seseorang adalah dia meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Malik, al-Baghawi. Dishahihkan oleh al-Albani)
Sesuatu yang tidak bermanfaat itu, bisa berupa perkataan atau perbuatan; perkara yang haram, makruh atau mubah yang tidak bermanfaat.
Oleh karena itu, supaya terhindar dari bahaya lidah ini, hendaklah seseorang selalu mengucapkan yang mengandung kebaikan. Jika tidak bisa, hendaknya diam.
Kedua, berdebat tanpa ilmu, Nabi Muhammad SAW bersabda:
إِنَّ أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الْأَلَدُّ الْخَصِمُ
“Sesungguhnya orang yang paling dimurkai oleh Allah adalah orang yang selalu mendebat. (HR. Bukhari dan Muslim)
Mendebat dalam hadits tersebut maksudnya mendebat dengan cara batil atau tanpa ilmu. Sedangkan orang yang berada di pihak yang benar, sebaiknya dia juga menghindari perdebatan.
Karena debat itu akan membangkitkan emosi, kemurkaan, dendam, dan mencela orang lain.
Ketiga, banyak berbicara dan sombong, Sabda Nabi Muhammad SAW :
إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ وَالْمُتَفَيْهِقُونَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ عَلِمْنَا الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ فَمَا الْمُتَفَيْهِقُونَ قَالَ الْمُتَكَبِّرُونَ
Sesungguhnya termasuk orang yang paling kucintai di antara kamu dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah orang-orang yang paling baik akhlaqnya di antara kamu. Dan sesungguhnya orang yang paling kubenci di antara kamu dan paling jauh tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah ats-tsartsarun, al-mutasyaddiqun, dan al-mutafaihiqun. Para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, kami telah mengetahui al-tsartsarun dan al-mutasyaddiqun, tetapi apakah al-mutafaihiqun? Beliau menjawab: “Orang-orang yang sombong”. (HR. Tirmidzi dan Ahmad)
Keempat, mengucapkan perkataan keji dan celaan. Nabi Muhammad SAW bersabda:
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ
“Seorang mukmin bukanlah orang yang banyak mencela, bukan orang yang banyak melaknat, bukan orang yang keji (buruk akhlaqnya), dan bukan orang yang jorok omongannya.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad
Kelima, keterlaluan bercanda, Yaitu semua waktunya digunakan untuk bercanda.
Sesungguhnya banyak canda akan menjatuhkan wibawa, menyebabkan dendam dan permusuhan serta mematikan hati.
Nabi Muhammad SAW bersabda:
لَا تُكْثِرُوا الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ
“Janganlah kamu memperbanyak tawa, karena sesungguhnya banyak tertawa itu akan mematikan hati. (HR. Ibnu Majah)
Keenam, membicarakan yang bathil, Maksudnya adalah menceritakan perbuatan maksiatnya, seperti berbangga dengan perbuatan kemungkaran.
Yang paling berbahaya bagi manusia hingga manusia itu celaka adalah Mengumpat atau mencela manusia Lainnya, Allah SWT menerangkan :
وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍۙ
Artinya : Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela,
Celakalah bagi setiap pengumpat atau pencaci, baik dengan ucapan atau isyarat, dan demikian pula pencela dengan menampilkan keburukan orang lain untuk menghinakannya.
Ragam Tafsir Surat Al-Humazah Ayat 1
Mayoritas mufasir memaknai kata “wailun”, dengan dua makna, yaitu (1) kehinaan, azab dan kebinasaan; dan (2) suatu lembah di neraka Jahanam.
Menurut Syekh Mustafa Al-Maraghi (wafat 1371 H), kata “wailun” digunakan untuk mencela dan memburukkan. Maksudnya adalah peringatan atas buruknya perbuatan yang akan disebutkan setelahnya.” (Ahmad bin Musthafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, juz XXX, halaman 237).
Sementara menurut Prof Quraish Shihab kata “wail” digunakan untuk menggambarkan kesedihan, kecelakaan dan kenistaan. Kata ini juga digunakan untuk mendoakan seseorang agar mendapatkan kecelakaan dan kenistaan itu. Dengan demikian ia dapat menggambarkan keadaan buruk yang sedang atau akan dialami. Banyak ulama memahaminya dalam arti kecelakaan atau kenistaan yang akan dialami, dan dengan demikian ia menjadi ancaman buat pengumpat dan pencela. (M Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, [Lentera Hati, Cilandak Timur Jakarta: 2005], volume XV, halaman 511).(***//Berbagai Sumber)

