jpn
Oleh H. Rashid Harman
Bimantika.net -Pemilu Legislativ(Pileg) dan Pemililihan Presiden dan Wakil Presiden(Pilpres) tinggal sembilan bulan lagi dari sekarang.
Agenda lima tahunan itu diagendakan pada 14 Februari 2024.
Gonjang ganjing media sosial sudah semakin panas. Berbagai postingan dalam bentuk video pendek yang diramu sedemikian rupa,
Rata rata kontennya berupa negative campaign, berseliweran di aplikasi Whats App(WA) baik dibagikan secara personal maupun komunitas group.
Lembaga Survey pun tak ketinggalan dalam kesibukkan mereka dalam melakukan survey elektabilitas Partai Politik maupun elektabilitas figur figur politisi yang digadang gadang akan diusung menjadi bakal calon presiden maupun bakal calon pendamping(wakil) presiden.
Yang menarik diperhatikan adalah hasil survey elektabilitas partai politik.
Hasil survey dari 18 partai yang menjadi kontestan pemilu 2024 itu laksana klasemen sepak bola saja. Saling menyalip dengan angka angka prosentase masing masing.
Tapi yang tetap bertengger “dipuncak klasemen” itu tetap partai penguasa, Partai Demokrasi Indonsia Perjuangan( PDIP), meskipun prosentasenya pun turun naik.
Misalnya, pada hasil survey LSI, PDIP sekitar 17,7%, sedangkan Poltraking 23.3%.
Hasil dari surveynya, LSI Deny JA., membagi 18 parpol itu kedalam empat kelompok, yaitu;
- Partai Politik Besar, elektabilitas diatas 10%
- PDIP ………………. 22,70 %
- GERINDRA…….. 13,80 %
- GOLKAR…………. 11,20 %
- Partai Politik Menengah, elektabilitas 4 – 10 %
- PKB………………….8,00%
- DEMOKRAT………5,00%
- PKS………………….4,90%
- NASDEM…………4,40%
- Partai Kecil dg elektabilitas 1% hingga 4%
- Perindo…………..2,80%
- PPP………………… 2,10%
- PAN………………. 1,90%
- Partai Nol Koma, elektabilitas tidak sampai 1%
- PSI…………………. 0,50%
- PBB……………….. 0,30%
- P. GARUDA……. 0,30%
- Partai UMMAT… 0,30%
- HANURA…………. 0,10%
- P. BURUH ………. 0.10%
- GELORA ……….. 0,10%
- PKN ……………….. 0,10%.
(Sumber: Detik News).
Apabila merujuk pada survey LSI Deny JA, meskipun tak mutlak dijadikan referensi karena sebagian lembaga survey itu memiliki tendensi dengan hasil surveynya,
Tapi paling tidak memberikan sinyalelemen bahwa pada hasil Pemilu 2024 itu hanya akan meloloskan 6 sampai 8 partai politik saja ke Senayan.
DAPIL NTB 1
Menarik untuk didiskusikan peluang beberapa calon unggulan yang memiliki polling lokal yang tinggi, yang akan bersaing di Dapil NTB I dengan merujuk pada hasil dari beberapa Lembaga Survey Nasional. Dari 18 Partai Politik yang ikut kontestasi itu, yang mampu melewati Parliamentary Threshold (PT) 4% hanya 6 sampai 8 partai saja.
Dapil NTB I Pulau Sumbawa, quota kursi yang akan diperebutkan hanya 3(tiga) kursi. Apabila 18 Parpol memenuhi semua quota yang tersedia, maka sebanyak 54 calon akan bersaing memperebutkannya.
Secara average setiap calon memiliki peluang dengan probabilitas sebesar 5,6%.
Beberapa figur bakal calon legislatif yang memiliki polling elektabilitas lokal yang tinggi, peluang mendapatkan suara akan jauh diatas 5,6%.
Misalnya figur politisi PAN(incumbent), H. Syafruddin ST. M. H. M. Qurais, politisi Demokrat yang mantan walikota Bima 2 periode. Mori Hanafi, mantan politisi Gerindra dan Mantan Wakil Ketua DPRD NTB yang kini mencoba naik level dan peruntungannya dengan Partai Nasdem. Johan Rosihan (incumbent) politis PKS. Mujahid Abdul Latif, politisi Gerindra. Ferra Amaliyah, politisi Golkar, Ellya Alwaini, isteri Walikota Bima, H. M. Lutfi, yang juga maju lewat Partai Golkar. Dan Mantan Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah dengan Partai Gelora. Figur figur tersebut, tentu memiliki peluang yang lebih besar karena mereka telah memiliki nama dan jejak di masyarakat.
Tapi beberapa nama beken itu, yang mampu meraih suara yang banyak, apakah akan mulus melenggang ke Senayan?
Merujuk pada hasil survey elektabilitas partai partai politik yang dirilis oleh LSI Deny JA di atas, Partai Amanat Nasional yang hanya 1,90%, maka ada kemungkinan langkah H. Syafrudin ST. MM., dengan tagline salam 4 periodenya, akan terhenti pada pemilu 2024.
Begitu juga Bung Fahri Hamzah, meskipun akan mampu meraih suara yang banyak, tetap langkah ke Senayannya akan terhenti karena partai Gelora tak mampu melewati ambang batas yang ditentukan.
Dengan “tersingkir”nya H. Syafrudin dan Fahri Hamzah, yang diprediksi akan meraih suara tertinggi, maka peluang calon lain seperti H. M. Qurais, Mori Hanafi, Mujahid Abdul Latif, Johan Rosihan, Ferra Amaliya, Ellya Alwaini, menjadi terbuka untuk meraih tiga kursi yang tersedia itu.
Adagium “bola itu bundar” seperti dalam dunia sepakbola, juga berlaku didunia politik. Semua kemungkinan dapat saja terjadi. Maka bisa saja seperti Gelora, PSI, Partai UMMAT, Partai Buruh, PBB atau Partai Garuda, yang diklasifikasi Partai Nol Koma, menyeruak dan melewati ambang batas 4%.
Tapi hasil survey oleh lembaga survey itu juga tak dapat diabaikan karena beberapa lembaga survey, seperti LSI Deny JA, kadang memiliki akurasi survey yang mendekati real qount.(***)

