Geng Motor Bikin Resah, Islam Punya Solusi Tuntas

jpn

Oleh: Paramita, Amd. Kes

Bimantika.net _Media sosial kembali dikejutkan dengan beredarnya video sekumpulan geng motor yang kembali bikin ulah.

Mulai dari penyerangan salah satu apartemen di Jakarta dan pembacokan mahasiswa.

Kejadian biadab ini sontak mengejutkan dan membuat masyarakat resah serta harus hati-hati ketika keluar rumah.

Kejadian ini merupakan gambaran betapa negara saat ini lepas tangan terhadap masalah yang terjadi.

Tidak adanya pendidikan yang mengubah generasi dan gagalnya negara memenuhi jaminan keamanan bagi warganya.

Geng Motor Terus Berulah

Dilansir dari sindonews.com, Sabtu, 11 Februari 2023, pemuda berinisial LA (21) mengalami luka bacokan usai diserang oleh sekelompok orang tidak dikenal di wilayah Cibinong, Kabupaten Bogor. Menurut Kapolsek Cibinong, Kompol Adhimas Putra mengatakan bahwa penyerangan itu terjadi pukul 02.00 WIB dini hari.

Penyerangan itu terjadi ketika korban sedang nongkrong bersama teman-temannya. Tiba-tiba ada segerombolan anak muda lewat dan mereka langsung balik arah dan menyerang korban dan teman-temannya.

Alhasil si korban mengalami luka bacokan di bagian kepala dan punggung. Kemudian sang kakak membawanya ke rumah sakit.

Polisi yang mendengar kejadian tersebut langsung mendatangi Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan memintai saksi.

Saat ini polisi masih melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait kasus tersebut.

Juga terjadi hal serupa di Jalan Pesantren Kota Cimahi, Jawa Barat pada Senin, 23 Januari 2023. Ada 2 anggota geng motor yang membacok mahasiswa berinisial AR (19).

Menurut Kapolres Cimahi, AKBP Aldi Subartono mengatakan ada perlawanan dari pelaku saat ditangkap. Dan pihak Kapolres langsung menghadiahi timah panas dan melumpuhkan pelaku. Mereka bertiga beraksi dengan satu motor.

Dua pelaku melakukan pengeroyokan dan yang satu mengemudi kendaraan.

Ternyata berdasarkan dari hasil penyelidikan bahwa mereka merupakan anggota geng motor GBR yang sengaja mencari korban secara acak di Jalan Pesantren. Hal serupa juga terjadi di Jakarta pada Senin, 6 Februari 2023.

Ada sekawanan geng motor yang berhasil terekam cctv, mereka menyerang sebuah apartemen. Aksi mereka berhasil diamankan oleh pihak keamanan dan warga setempat.

Kejadian di atas merupakan kejadian yang sangat biadab, amoral, banyak memakan korban dan bahkan tidak menutup kemungkinan kejadian ini akan terulang kembali. Itu hanya sederet masalah yang baru diangkat di media sosial, belum lagi kasus-kasus yang tidak viral, bisa jadi lebih banyak dari yang bisa kita lihat sekarang.

Kejadian semacam ini muncul karena diterapkannya sistem kapitalis sekuler yang memiliki tujuan mengerdilkan peran agama dalam kehidupan.

Geng Motor, Potret Buram Generasi Didikan Sekuler Kapitalisme

Maraknya geng motor hari ini merupakan potret buram dari sistem sekularisme kapitalisme yang diemban negara saat ini. Negara memisahkan aturan agama dari kehidupan. Agama cukup di ranah ibadah ritual saja tanpa mengatur kehidupan manusia.

Akhirnya manusia merasa bebas dan berbuat semaunya. Anak-anak kehilangan jati diri mereka sebagai pembangun peradaban dan mereka tidak mengenal standar halal haram dalam beramal. Dari sini muncul lah geng motor yang anarkis.

Ditambah lagi kondisi ini juga menjadi cermin banyak hal. Di antaranya gagalnya sistem pendidikan dalam mengarahkan kepribadian generasi dan mengekspresikan eksistensi dengan cara yang benar.

Serta rendahnya jaminan keamanan yang diberikan oleh negara kepada setiap warga negaranya.

Sebagaimana diketahui, dalam pendidikan sekuler peran agama (Islam) dikerdilkan bahkan disingkirkan. Akibatnya sangat fatal.

Di antaranya adalah dekadensi moral di kalangan pelajar atau remaja yang makin parah, sebagaimana yang telah disinggung di atas.

Sebabnya, para pelajar atau remaja tersebut tidak dibekali dengan bekal agama yang cukup. Ditambah lagi, orientasinya hanya mengedepankan materialistik semata. Generasi diajarkan bagaimana setelah lulus sekolah atau perguruan tinggi bisa mendapatkan tempat kerja yang bagus dengan materi yang berlimpah. Sekalipun sekolah atau perguruan tinggi yang berbasis Islam, orientasinya sama yaitu mendapatkan materi sebanyak-banyaknya.

Keberhasilan seseorang hanya dilihat dari segi nilai kompetisi dan serapan tenaga kerja. Sedangkan penanaman akidah Islam yang menuntun generasi memiliki kepribadian Islam tidak dihiraukan bahkan diacuhkan.

Ditambah lagi pendidikan akidah saat ini diserahkan kepada individu masing-masing. Dan buktinya bisa kita lihat sendiri ketika penanaman akidah diserahkan kepada individu atau keluarga saja. Ibu misalnya.

Kalau kita serahkan semuanya pada ibu, faktanya ibu-ibu hari ini banyak yang kerja di luar rumah dan tidak sedikit para orangtua menitipkan anak-anak mereka kepada baby sitter atau tempat penitipan anak. Jangankan untuk memberikan pendidikan akidah, kasih sayang yang seharusnya didapatkan anak, mereka tidak sanggup memenuhinya.

Kemudian dari masyarakat. Fungsi masyarakat hari ini sangat jauh dari kata baik. Masyarakat yang acuh tak acuh dengan sekitar. Masyarakat seakan-akan menutup mata dan telinga ketika anak orang yang ikut dalam perilaku sekaligus menjadi pelaku kejahatan.

Mereka bersuara ketika anak atau keluarga terdekat mereka sendiri yang ikut dalam masalah.

Apakah masyarakat seperti ini yang dikatakan baik? Jelas tidak. Karena masyarakat yang baik adalah masyarakat yang ketika mereka melihat kejahatan di tengah-tengah mereka, mereka berusaha untuk mengubahnya.

Ketika ini terus terjadi dan terus diserahkan kepada individu semata, yang ada bukan solusi tapi malah menambah masalah yang sudah ada. Dan membuat masyarakat semakin rusak.

Jadi tidak heran maraknya anak-anak yang ikut dalam geng motor karena tidak kuatnya keimanan di keluarga, ditambah masyarakat yang abai dengan sekitar.

Kemudian dari segi jaminan keamanan yang diberikan oleh negara kepada setiap warga negara dan penegak hukum saat ini tidak mampu memberikan sanksi yang dapat memberikan efek jera kepada pelakunya.

Jadi wajar kasus-kasus seperti ini akan terus terjadi bahkan bertambah tanpa adanya edukasi dan penanaman akidah yang benar bagi setiap warga oleh negara.

Selama negara masih mengadopsi sistem sekularisme kapitalisme yang mengatur kehidupan tidak akan kita jumpai keadilan dan keamanan dalam hidup.

Islam Solusi Tuntas

Islam memiliki paradigma berbeda dalam menyelamatkan generasi. Kehidupan pemuda hari ini jauh berbeda dengan kehidupan pemuda yang menerapkan seluruh aturan Islam dalam bingkai khilafah Islamiyyah.

Islam berjaya selama 13 abad lamanya dan menguasai 2/3 dunia. Dalam asuhan Islam, pemuda tumbuh menjadi generasi terbaik dan berkontribusi positif terhadap negara.

Sehingga muncul lah pemuda seperti Ali bin Abi Thalib, Muhammad Al Fatih, Al Khawarizmi, Imam Syafi’i dan masih banyak pemuda lainnya.

Allah SWT berfirman dalam QS. Ali-Imran ayat 110 yang artinya, “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentu itu lebih baik bagi mereka.”

Untuk mendapatkan gelar “khairu ummah” ini tentu tidak datang dengan sendirinya melainkan ada usaha yang harus dilakukan.

Dan Islam tidak membebankan pada satu pihak saja, akan tetapi semua pihak harus berperan dalam mendidik generasi. Yaitu keluarga, masyarakat dan negara.

Pertama, keluarga. Keluarga adalah pondasi utama untuk menanamkan dan menguatkan akidah Islam bagi anaknya. Orang Tua harus bekerja sama dalam mendidik anak-anaknya.

Seorang ayah kewajibannya bukan hanya mencari nafkah dan terpenuhinya semua materi, tapi juga kesalehan anak.

Ayah menjadi kepala sekolah dan penentu kurikulum dan sebagai pengontrol apakah kurikulum itu dijalankan dengan baik atau tidak.

Kemudian ibu. Ibu adalah madrasatul ula bagi anak-anaknya. Ibu yang paling dekat dengan anak-anaknya dan teladan utama.

Oleh sebab itu, ibu harus punya wawasan yang luas dan harus menjadi contoh pertama bagi anak-anak dalam beramal.

Kedua, masyarakat. Masyarakat dalam Islam ibarat sebuah perahu dengan para penumpangnya. Dalam kitab riyadhus shalihin karya Imam Nawawi dalam bab “Memerintahkan pada Kebaikan dan Melarang pada Kemungkaran” terdapat sebuah hadist dari An-Nu’man bin Basyir yang dia berkata, Nabi SAW bersabda, “Kemungkaran adalah bagaikan suatu kaum yang berundi dalam sebuah perahu.

Nantinya sebagian berada di atas dan sebagiannya berada di bawah. Yang berada di bawah ketika ingin mengambil air harus melewati yang di atasnya.

Mereka berkata, andai kata kita membuat lubang saja biar tidak mengganggu yang di atas.

Seandainya yang di atas membiarkan orang bawah menuruti kemauannya, maka semua akan binasa. Namun jika yang di atas melarang yang di bawah untuk melakukan perbuatan tersebut, maka semua penumpang tersebut akan selamat.” (HR. Bukhari). Artinya adalah masyarakat tidak hanya memperhatikan diri sendiri melainkan masyarakat yang berlomba dalam beramar makruf nahi mungkar. Saling mengontrol ketika ada kemaksiatan di sekitarnya dan ini tentu atas dasar kesadaran dirinya dengan Allah.

Tanpa dipaksa masyarakat dengan sendirinya akan muncul rasa takut kepada Allah atas kemaksiatan di lingkungan sekitar.

Ketiga, negara. Negara sangat berperan penting dalam menetapkan kurikulum pendidikan. Kurikulum pendidikan dalam Islam bertujuan untuk membentuk generasi berkepribadian Islam yakni pola pikir dan pola sikap yang Islami, selain menguasai ilmu-ilmu kehidupan seperti matematika, sains, teknologi dan lain-lain.

Pendidikan dalam Islam dimaknai sebagai proses manusia menuju kesempurnaan sebagai hamba Allah SWT.

Dalam Islam juga menjadikan sosok Rasullullah SAW yang wajib menjadi panutan ( role model ) bagi peserta didik. Allah SWT berfirman dalam QS. Al Ahzab ayat 21 yang artinya, “Sungguh pada diri Rasulullah SAW itu terdapat suri tauladan yang baik.”

Keberadaan sosok panutan atau role model inilah yang membedakan antara sistem pendidikan Islam dengan sistem pendidikan yang lain.

Karena itu dalam sistem pendidikan Islam, akidah Islam harus menjadi dasar pemikirannya. Hasil belajar ( output ) pendidikan Islam akan menghasilkan peserta didik yang kokoh keimanannya dan mempunyai pemikiran yang mendalam tentang agamanya (tafaqquh fiddin).

Pengaruhnya adalah keterikatan peserta didik dengan syariah Islam.

Pemikiran (fikrah) pendidikan Islam ini tidak bisa dilepaskan dari metodologi penerapan atau thariqohnya yaitu sistem pemerintahan yang didasarkan pada akidah Islam.

Karena itu, penguasa bertanggung jawab penuh atas penyelenggaraan pendidikan warganya. Sebab pendidikan merupakan salah satu dari sekian banyak perkara yang wajib diurus oleh negara.

Kecemerlangan generasi pada masa kejayaan Islam banyak menghasilkan berbagai karya dan banyak menjadi ulama-ulama hebat.

Kemajuan pendidikan pada masa keemasan peradaban Islam ini bahkan telah terbukti menjadi rujukan peradaban lainnya. Kemudian disebutkan pula bahwa Barat telah berutang pada Islam dalam hal pendidikan dan sains.

Utang tersebut tidak akan mampu terbayar sabanyak apapun dan sampai kapanpun. Tanpa dukungan dan peradaban Islam yang menjadi dinamonya, Barat bukanlah apa-apa. (***)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *