Sekularisme; Racun yang Menggerogoti Tubuh Pemuda dan Generasi Muslim

jpn

Oleh: Rahmania, S. Psi

Bimantika.net _Generasi adalah kekayaan berharga bagi kita. Keberadaan mereka ibarat sebuah jantung bagi sebuah tubuh, karena memang sebegitu pentingnya peran dan keberadaan generasi muda. Demikian pula sebuah peradaban, tonggaknya ada pada pemuda.

Bahkan suatu peradaban sulit terwujud jika tanpa perjuangan pemuda. Sebagaimana suri tauladan kita, Rasulullah SAW yang merekrut kaum muda dalam membantu dakwah beliau.

Pun jihad, dalam rangka agar Islam tersebar luas, beliau lakukan bersama para pemuda.

Hari ini kita melihat secara langsung, membaca berita di media, hingga menyaksikan di layar televisi, sungguh menyayat hati kondisi kaum muda dan generasi hari ini. Mereka tidak hanya menjadi korban dari berbagai tindak kejahatan dan kriminal, namun juga sebagai pelaku kejahatan dan kriminal itu sendiri.

Para pemuda dan generasi hari ini juga dihadapkan pada krisis moral dan adab, yang membuat mereka kehilangan empati terhadap lingkungan. Kondisi kerusakan ini menimpa generasi dan pemuda di seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia, juga di seluruh daerah di Indonesia, termasuk Kota Bima.

Di daerah Bima, baik di Kota maupun di Kabupatennya, generasi dihadapkan dengan berbagai masalah kejahatan dan kriminal. Dirilis dari Tribun Lombok tahun 2022 bahwa kasus kejahatan dan kriminal di Kota Bima sebanyak 217 kasus terlapor.

Mereka terlibat dalam kasus penggunaan narkoba hingga berada dalam gurita pengedar dan bandar narkoba. Polres Bima Kota telah mengungkap 76 kasus penggunaan dan pengedaran narkoba sepanjang tahun 2022.

Juga menjadi korban pembunuhan hingga pelaku pembunuhan. Korban kekerasan seksual hingga pelaku kekerasan seksual, pencabulan dan pemerkosaan.

Mereka juga korban kejahatan juga sekaligus pelaku perampokan, pencurian, begal, dan panahan.

Tak ketinggalan pergaulan bebas hingga berujung pada hamil di luar nikah, putus sekolah, dan sekelumit masalah lain.

Tidak hanya itu, para pemuda dan generasi juga dihadapkan pada krisis moral dan adab.

Abainya Perhatian Masyarakat Hingga Negara

Tidaklah kerusakan demi kerusakan yang menimpa generasi hari ini terjadi atas kesalahan mereka secara personal. Kerusakan tidak hanya terjadi atas kurangnya ketaatan secara individu. Justru ketaatan individu saja tidak akan cukup mencegah mereka dari berbuat maksiat dan kerusakan.

Mungkin kita percaya bahwa seorang PSK bisa berubah menjadi alim jika hidup di lingkungan yang baik. Masyarakat dan tata aturan tempat dia hidup akan mendorong si PSK untuk berlaku ahsan dan beramal baik. Walau awalnya terpaksa, lambat laun akan menjadi kebiasaan. Katakan di lingkungan tersebut masyarakat terbiasa sholat tepat waktu, sedekah dan saling tolong menolong dalam kebaikan dan amal shalih, menghidupkan Masjid dengan aktivitas ta’lim, belajar dan mengkaji Islam, amar makruf nahi mungkar sebagai ruh dalam kehidupan masyarakat tersebut.

Ditambah dengan diberlakukan sanksi bagi anggota masyarakat yang tidak taat pada sistem kehidupan yang berlaku di dalam masyarakat tersebut.

Lambat laun si PSK akan hidup sebagaimana masyarakat itu hidup. Sebaliknya, seorang ‘alim akan rusak jika dia hidup di lingkungan PSK.

Awalnya bisa jadi seorang ‘alim tersebut melihat kemaksiatan, lambat laun dia akan menjadi pelaku maksiat. Karena lingkungan tersebut menjalankan kehidupan mereka di atas maksiat dan pasti tidak ada yang saling mengingatkan akan maksiat tersebut apalagi tidak ada pihak yang memberlakukan sanksi, maka seluruh masyarakat akan berada dalam kemaksiatan yang sama.

Sedemikian penting kontrol masyarakat dan tata aturan yang mengarahkan manusia untuk taat dan takwa. Sementara hari ini, fakta kehidupan masyarakat telah mengalami distorsi yang begitu jauh dari Islam, oleh karena sistem kapitalisme sekuler yang menjadi kendali pemikiran dan kehidupan umat hari ini. Kita sudah jarang menjumpai masyarakat yang saling tolong menolong dalam kebaikan dan taat. Sebaliknya, tolong menolong dalam mendiamkan maksiat, juga tolong menolong dengan motif materi.

Kehidupan masyarakat pun berorientasi pada ekonomi dan materi. Wajar, kenaikan BBM berdampak pada mahalnya harga pangan, juga mahalnya biaya kesehatan dan pendidikan membuat masyarakat secara terpaksa harus sibuk bekerja mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidup yang serba mahal.

Jika seperti ini, wajar jika kehidupan masyarakat apatis antara satu dengan yang lain, individualistis hanya memikirkan diri dan keluarga masing-masing, minim rasa empati dan kepedulian.

Akhirnya fungsi kontrol antar masyarakat bukan lagi dalam ketaatan dan kebaikan. Amar makruf nahi mungkar menjadi aktivitas aneh, karena dianggap kepo dan mengurusi masalah orang lain. Sehingga saat melihat remaja dan generasi muda melakukan kesalahan bahkan pelanggaran syariat, tidak terpanggil untuk peduli dan memperbaikinya.

Selain itu kurikulum di sekolah juga ikut mengambil bagian bagi rusaknya generasi dan pemuda hari ini.

Kurikulum moderasi yang semakin menjauhkan mereka dengan nilai-nilai Islam, isu deradikalisasi yang semakin masif diaruskan di dunia sekolah hingga pesantren membuat mereka semakin takut untuk mengenal dan memahami agamanya sendiri karena khawatir dicap radikal. Apalagi adanya proyek 3 Menteri yaitu Menteri Pendidikan, Menteri Pemuda dan Olahraga, serta Kementerian Agama dengan memfokuskan para pelajar pada aktivitas seni dan budaya, film, dan olahraga.

Hari ini sekolah tidak hanya belajar ilmu pengetahuan, tapi juga bernyanyi, bermain film, tari-tarian, fashion show, masak masakan khas daerah nusantara, berbagai cabang olahraga dan itu dilombakan antar sekolah dari tingkat dasar, menengah pertama hingga menengah atas.

Jika kurikulum di sekolah seperti ini, lalu bagaimana output pelajar dan generasi kita? Padahal mereka hari ini adalah mereka yang menjadi pemimpin dan penerus peradaban kelak. Negara dengan kurikulum sekuler telah gagal membentuk karakter remaja dengan karakter Islam sejati, berkarater pemimpin yang memiliki tsaqofah yang khas.

Dengan demikian, wajar jika kerusakan demi kerusakan menimpa para remaja dan generasi. Karena sistem kehidupan yang ada hari ini adalah sistem kehidupan yang rusak dan merusak.

Mereka digiring untuk jauh dari nilai-nilai Islam dan kebenaran. Kita harus sadar bahwa pengrusakan ini dilakukan secara sistemik, terarah dan masif.

Maka kita tidak boleh tinggal diam melihat generasi kita menjadi target pengrusakan ini.

Kegagalan Keluarga Membina Generasi

Kerusakan generasi dan pemuda tidak terlepas juga dari kegagalan keluarga sebagai benteng terakhir yang melindungi remaja dari berbagai ancaman dan kerusakan kehidupan hari ini.

Hilangnya peran ayah sebagai qowwam yang berkewajiban mendidik anak dan istrinya dengan ilmu agama, juga nihilnya fungsi ibu sebagai ummu wa robatul bayt menjadi bencana tersendiri bagi keluarga kaum muslim hari ini. Hal ini terjadi karena jauhnya keluarga dari Islam.

Islam tidak dijadikan sebagai aturan hidup dalam keluarga, individu-individu dalam keluarga tidak mengikat dirinya dengan syariat Allah.

Akibatnya banyak ayah yang hanya mencukupkan diri dengan memberi nafkah materi pada keluarga. Demikian dengan ibu yang tidak memiliki waktu untuk menuntut ilmu sebagai bekalnya dalam mengasuh dan mendidik anak dengan alasan tidak memiliki waktu atas kesibukannya di kantor.

Sekularisme telah membentuk keluarga yang jauh dari Islam dan syariatnya. Akibatnya sulit bagi keluarga untuk membentuk ketaatan individu dalam keluarga. Baik itu ketaatan pada anak-anak hingga ketaatan orangtua.

Dengan gagalnya fungsi keluarga membentuk ketaatan individu anak, didukung oleh gagalnya masyarakat menjalankan fungsi kontrolnya, juga abainya negara dalam melindungi para generasi dari rusaknya pemikiran berdampak pada rusaknya perilaku adalah jawaban mengapa remaja hari ini rusak tercabik-cabik.

Potensi besarnya telah mandul, tumpul. Jika ini dibiarkan, jangankan untuk membangkitkan umat, membangkitkan dirinya sendiri pun mereka gagal.

Islam Mewujudkan Generasi Kuat Berkarakter Pemimpin

Islam adalah agama yang sempurna dan menyeluruh. Islam bukan saja agam ritual namun Islam adalah konsep dan peraturan hidup. Islam memiliki konsep yang khas dalam sistem ekonomi, uqubat, politik, sosial, juga pendidikan.

Islam adalah agama wahyu, syariatNya tidak lain mewujudkan pada keberkahan dan kebaikan jika diterapkan. Sebab syariat Islam mengantarkan manusia pada takwa dan taat pada Allah Al-Khaliq Al-Mudabbir. Seperti dalam sistem perekonomiannya,

Islam mengatur sistem kepemilikan agar alam semesta dan sumber daya yang dimiliki tidak dikuasai oleh segelintir manusia.

Bahwa ada kepemilikin umum yang harus dikelola oleh negara kemudian hasilnya dikembalikan kepada rakyat dengan cara pemenuhan kebutuhan dan hajat hidup mereka. Sehingga tidak ada rakyat yang menaggalkan kewajiban dengan alasan mencari nafkah.

Islam menyediakan lapangan pekerjaan bagi suami agar mereka dimampukan untuk menafkahi istri dan anak di rumah. Maka tidak ada suami ataupun istri yang sibuk bekerja bahkan rela meninggalkan anak-anak hanya untuk sekadar mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum.

Dengan demikian orangtua memiliki waktu untuk menuntut ilmu Islam, mengkaji dan mendalami Islam sebagai bekal dalam membentuk ketaatan diri mereka dan anak-anak. Orangtua yang taat dan rajin mengkaji Islam juga akan melibatkan anak-anak mereka ke dalam aktivitas yang sama dengan mereka. Maka jika demikian, negara telah membantu rakyatnya dalam mengokohkan akidah dan membentuk keluarga tholabul ‘ilmi yang atasnya akan melahirkan keluarga yang memiliki visi misi surga.

Demikian dalam sistem pendidikan. Islam memiliki karakter pendidikan yang khas, yaitu pendidikan berbasis tsaqofah Islam.

Sebab bangunan akidah adalah hal paling penting dan mendasar untuk dibentuk pada diri anak-anak.

Maka negara berperan dalam merumuskan kurikulum yang membentuk kepribadian Islam pada mereka dan seluruh kurikulum pada usia sekolah senantiasa merujuk pada pembentukan akidah yang shohih.

Jika akidahnya sudah benar maka generasi kita akan mengetahui yang benar dan salah, yang haq dan bathil. Apalagi negara Islam juga menerapkan sistem sosial dan pergaulan yang kondusif dengan mengatur hubungan antara laki-laki dan perempuan hanya dalam hal-hal yang boleh dalam timbangan syara’.

Dengan peraturan, konsep dan sistem hidup yang komperehensif seperti ini, adanya kolaborasi bersama antar pilar keluarga, pilar masyarakat dan pilar negara, maka generasi berkarater pejuang yang kuat dan kokoh pasti akan terwujud. Sejarah mencatat bagaimana pemuda-pemuda dalam binaan sistem Islam. Mereka tumbuh menjadi generasi cerdas, delegasi-delegasi hebat, para pemimpin-pemimpin pasukan perang, mereka ilmuwan sekaligus ulama dan mujtahid.

Keberadaan mereka dikenang dan dikenal dunia hingga hari ini. Ilmu-ilmu yang mereka tulis menjadi rujukan manusia hingga hari ini. Demikianlah sistem yang hebat dan luar biasa, ia akan menghasilkan hal-hal luar biasa dan hebat pula. Sangat jauh berbeda dengan kondisi hari ini yang justru menyeret pemuda pada kerusakan yang sangat akut. Bayangkan saja muncul istilah-istilah rebahan, sad boy dan lain sebagainya. Istilah konyol, sekonyol sistem yang mengatur kehidupan mereka.

Wallahu a’lam. (***)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *