Bimantika.net _Setelah mengikuti berbagai tahapan pertemuan konsultatif baik secara tatap muka maupun melalui zoom meeting bersama NUFReP World Bank, Kementrian PUPR, Kemendagri dan Bappenas, BWS-NT 1,
Untuk program NUFReP, serta dengan Konsultan Yachiyo dan Tim JICA serta Kementerian PUPR dan BWS-NT 1 untuk program UFCS-2 JICA, selama kurun waktu Mei-September 2022,
Pemerintah Kota Bima melalui Bappeda Litbang menyampaikan progres pelaksanaan pembangunan pengendalian banjir di Kota Bima.
Kabid Ekonomi dan Infrastruktur Bappeda Litbang Kota Bima Arif Roesman Effendi, ST., MT., MSc. Yang dikonfirmasi media online Bimantika Rabu 5 Oktober 2022 menyampaikan bahwa untuk Program NUFReP World Bank sejauh ini sudah dilakukan pembahasan NUFReP project appraisal di tingkat pusat,
“Sedangkan pada tingkat daerah sedang dilakukan penyusunan masterplan dan Detail Engineering Desain (DED) pengendalian banjir di Kota Bima. Secara bersamaan juga sedang disusun dokumen LARAP. Pekerjaan penyusunan DED maupun LARAP ditargetkan tuntas sampai akhir tahun 2022” ujar Arif saat diwawancara Media Online Bimantika.
Menurut Arif bahwa DED pengendalian banjir di Kota Bima yg disusun sekarang adalah menyiapkan desain teknis untuk pelaksanaan fisik pada lokasi yang meliputi:
Sungai Tambe di Kelurahan Nungga, sungai Ntobo, Sungai Na’e, Sungai Te dan Sungai Lanco.
Disamping sungai-sungai tersebut, DED ini juga mencakup drainase primer Penatoi-Santi, Drainase primer Rite-Matakando-Santi, drainase primer Monggonao-Pane-Salama, drainase primer Amahami-Ni’u, drainase primer Panggi, dan drainase primer Sambinae.
Arif kemukakan bahwa Dalam DED yang disusun oleh PT. Brahma Seta Indonesia ini juga akan diuraikan secara detail prototipe dan perhitungan teknis penanganan permasalahan pada setiap segmen atau ruas yang akan ditangani, misalnya apakah butuh normalisasi, penguatan tebing dengan parapet, Udith, kolam retensi, kolam detensi atau bangunan SDA pengendali banjir lainnya.
Sesuai dengan hasil diskusi dengan PPK pada BWS-NT 1 diperoleh informasi bahwa setelah Master plan dan DED ini rampung pada akhir tahun ini, maka pada tahun 2023 akan dilaksanakan pembangunan tahap pertama yaitu penataan kolam retensi Taman Ria dan penataan saluran-saluran drainase primer tersebut.
Program NUFReP World Bank ini akan berlangsung selama 5 tahun sampai dengan tahun 2027.
Arif juga menambahkan, bahwa Implementasi pengendalian banjir melalui pendanaan NuFReP World Bank ini akan terintegrasi dengan program UFCSI 2 JICA yang lokusnya pada sungai-sungai besar yaitu Sungai Padolo dan Sungai Melayu.
Masih menurut Arif bahwa Untuk program UFCS-2 JICA sekarang sedang difinalisasi dokumen reviu DEDnya oleh Konsultan Yachiyo. Finalisasi dokumen reviu DED ini termasuk penajaman analisis hidrologi maupun konsep detail penanganan banjir yang terintegrasi.
Menurut Arif bahwa Pada tahap pertama pelaksanaan pembagunan dari pendanaan UFCS-2 JICA tahun 2023 akan dikerjakan peningkatan kapasitas Sungai Padolo sepanjang 8 km mulai dari jembatan Rontu sampai jembatan Padolo 3, dan 1 km di ruas sungai melayu. UFCS-2 JICA ini juga akan berlangsung 5 tahun juga.
Dalam rangka mendukung agar kedua program ini dapat berjalan sesuai dengan waktu yang direncanakan.
Arif mewakili kepala Bappeda secara teknis terus membangun komunikasi intensif dengan perwakilan NUFReP Bank Dunia, perwakilan JICA, BWS-NT dan para konsultannya termasuk mensuplai data-data teknis yang dibutuhkan .
Disamping 2 program besar tersebut, saat ini
Kota Bima juga sedang mendapat dukungan peningkatan kapasitas sungai khususnya di kelurahan lewirato dan kelurahan Sadia yang pendanaannya bersumber dari APBN khususnya Dana Tanggap Darurat banjir dengan alokasi sekitar 25 miliyar rupiah.
“Ini semua adalah bagian dari ikhtiar dalam membangun ketangguhan daerah terhadap bencana khususnya bencana banjir sebagaimana yang menjadi komitmen dan visi misi RPJMD Kota Bima” Demikian Ungkap Arif mengakhiri Wawancaranya. (***)

