Bimantika.net Di duga kuat amburadulnya pekerjaan pembangunan Talang Air dari anggaran kegiatan tanggap bencana yang masuk lokasi di Desa Dena mendapat kecaman keras dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).
LSM Pemerhati Lingkungan dan Demokrasi (PELURU-NTB) menggelar gerakan aksi demonstrasi di depan Kantor Camat Madapangga Kabupaten Bima tentang adanya dugaan pekerjaan jembatan talang air di desa Dena penghubung akses penyaluran air tak sesuai teknik mekanisme dan prosedur
“Sehingga hari ini pun kami menduga akan mengecam nyawa petani warga desa dena yang menggunakan akses terhadap jembatan talang air tersebut” ungkap Koordinator LSM Peluru NTB Fan Mahayus.
Dalam rangka menggelar aksi tersebut Fan Mahayus selaku Korlap melalui Pernyataannya, menyebutkan bahwa Talang Air Desa Dena bukan hanya sekedar untuk menyalurkan air ke desa rade.
Namun dalam sejarah dan kebiasaan masyarakat petani desa dena menjadikannya juga sebagai akses penghubung jalan para petani desa dena untuk menyebrangi sungai
.”Jadi keadaan talang air desa dena harus dengan kondisi fisik yang menjamin, bukan dengan kondisi yang acak-ecek sehingga berpotensi memakan korban jiwa, apalagi kaum tani merupakan jantungnya Bangsa Indonesia” ujarnya.
Adapun tuntutan tersebut :
- Mendesak Camat Madapangga untuk hadirkan Pihak BWS, Subkon, dan Pengawas pengerjaan Talang Air Desa Dena Kecamatan Madapangga.
- Menuntut Pihak BWS, Subkon, dan Pengawas untuk bertanggung jawab terkait pengerjaan Talang Air yang diduga amburadul.
- Mengutuk pengerjaan talang air desa dena kecamatan madapangga yang diduga tidak memiliki papan informasi.
- Apabila tuntutan kami tidak diatensi maka kami tidak menjamin instabilitas besar2an terjadi diwilayah kecamatan madapangga.
Sementara di hal yang sama Pernyataan Ketua Umum LSM Puluru NTB Deni Juliadin, S.Pd bahwa terkait kegiatan pekerjaan talang air dari bws nt 1 ini benar benar amburadul.
Faktanya dilokasi kami sudah mengecek dan membongkar sebagian dari pengerjaannya dengan keterwakilan pihak camat, pihak Bws, Babinsa dan LSM Peluru NTB.
“Dilokasi kami menemukan pengecoran atapnya tidak di masukan besi hanya triplek dan tiga bila bambu yg menahan triplek saja, bagi saya terlalu berani subkon yang mengerjakan talang air ini semata mata mementingkan keuntungan dan tidak memikirkan nyawa petani yg akan melintasi nya” ungkapnya
Dan dalam waktu dekat ini kami akan bersurat ke kementrian dirjen SDA dgn bukti video dan pernyataan petani yg melihat langsung pengerjaan ini. Pada intinya kasus ini akan kami tuntaskan sampai ke kementrian yg terkait. (***/Yadin)

