Oleh : Darussalam *)
Bimantika.net Setelah sekian lama tidak pernah pulang kampung, dirinya terenyuh melihat kampung halamannya yang penuh dengan dinamika dan fenomena memprihatinkan.
Beberapa kali didepan mata kapalanya iya dapati keramaian tapi bukan keramaian hiburan melainkan kerumunan warga yang menyaksikan satu rumah disantroni oleh rentenir yang datang menagih utang sembari mengeluarkan berbagai macam umpatan umpatan penuh amarah dan kebencian.
Pada waktu yang berbeda juga didepan mata kepalanya ia dapati kerumunan yang tengah menyaksikan penggeledahan dan penangkapan beberapa anak muda yang diduga sebagai pengedar dan pengguna barang haram.
Beberapa barang bukti pun dibawa serta, mulai dari beberapa kantong plastik klip kecil jenis barang haram, alat pengisap, alat timbang dan beberapa barang bukti laiinya.
Hatinya terenyuh, pikiranan tiba tiba menerawang pada masa lampau, ingatannya menerobos masa masa indah ketika ia hidup ditanah kelahirannya yang penuh dengan keceriaan, anak anak muda yang penuh kreatifitas, orang orang tua yang menjadi penyemangat kreatifitas dan kebersamaan yang selalu nampak dalam rutinitas.
Beberapa hari berselang ia kembali mendapatkan berita tentang penangkapan beberapa anak muda di kampungnya karena disangka terlibat jaringan tindakan terorisme.
Rupanya dia sangat mengenal anak muda itu, ya anak muda itu adalah sahabat sepermainan dimasa masa kecilnya dulu yang penuh dengan kekocakan dan kelucuan serta kepolosan.
Hati dan pikirannya semakin beriecamuk, hati memberontak penuh tanya, bagaimana mungkin sahabat kecilnya yang penuh dengan keterbatasan itu bisa terlibat dan dianggap sanggup melawan negara sebesar ini?
Lamunannya masih terus berkecamuk tanya dan ketidak percayaan atas apa yang dia dengar, bagaimana mungkin seseorang yang hanya bisa mengais rejeki pagi untuk sekedar cukup makan hari itu mampu melawan negara sekuat ini?
Ia tiba tiba tersadar saat teman yang ditunggunya mengucapkan salam. Tanpa tendeng iling iling, diapun dengan panjang lebar mengutarakan kegundahan atas semua yang dia saksikan dan dengar tentsng berbagai peristiwa dikampung kelahirannya.
Aep pun mencoba menjelas tentang kondisi kampungnya beberapa tahun terakhir ini ” semua itu diakibatkan oleh kemiskinan yang semakin akut dikampung kita, yang tidak mampu membendung kebutuhan hidupnya akhirnya menjerumuskan diri dalam skema pinjaman pada rentenir,
anak muda yang frustasi karena terlalu lama menganggur dan frustasi atas kepahitan keadaan memilih jalan pintas dan meleburkan diri dalam dunia yang menawarkan kenikmatan sesaat yaitu lembah narkoba. Sebagian kaum muda yang lain memilih mencari jalan yang bisa menenangkan jiwa dan mendekatkan diri dengan tuhannya,
inilah kemudian sebagian itu terbuai dengan tawaran surga dimasa depan dan bantuan akses ekonomi untuk menanggulangi probrem ekonomi jika mereka menjadi bagian dari faham yang sekarang di stigma dengan ” ekstrimisme “.
Aan yang belum puas dengan penjelasan Aep, pun menggugat pada Yus yang datang bersama Aep. ” kenapa kalian orang pemerintahan tidak hadir menyelesaikan prolem masyarakat kita, mereka semua saudara kita, darah daging kita, kenapa kenapa kenapa kaliam diam? Aan yang penuh emosional tak mampu membendung kucuran air matanya karena kegundahan dan keprihatinanya terhadap keadaan kampung halamannya.
Yus dan Aep pun ikut larut dalam kesedihan dan kegundahan sahabatnya yang memang dikenal sebagai sosok yang memiliki kepedulian sosial yang sangat sangat tinggi dan sangat peka terhadap realitas dikampungnya.
Yus mengusap air matanya dan mulai menjawab kegundahan sahabatnya ” kami sehenarnya tidak diam, cukup lama kami berupaya dan sekarang baru kami temukan jalan, kami bersama tokoh kampung baru membangun komitmen dengan kementerian untuk menjadikan kampung kita menjadi KAMPUNG SATRIA.
anak sungai yang membelah kampung penuh dengan sampah dan sedimentasi akan kita ubah menjadi kolam ikan terpanjang dan tempat wisata pancing, kandang penggemukan sapi yang kumuh akan kita ubah menjadi kawasan pengemukan yang modern dan dengan kapasitas yang sangat besar,
produk tahu dan ampas tahu akan kita olah menjadi berbagai aneka makanan lalu ampasnya akan kita olah menjadi pakan berkualitas dengan adanya Rumah Pakan,
demikian dengan bukit kecil itu akan kita perindah dan percantik menjadi taman dan tempat bermain, juga areal sawah yang unik dibelakang kantor pemda itu akan kita pertahankan menjadi satu tempat wisata kuliner,
insyaallah semua ini akan kita wujudkan dalam satu agenda besar Kawasan Khusus Terpadu Nusantara. Demi menuntaskan fenome dan problem yang ada dikampung kita.
Aan tiba tiba terbangun dari duduknya, wajahnya penuh semangat kesedihannya berubah penuh keyakinan ” saya ikut, saya mau menetap selamanya disini, sy ingin ambil bagian “
” Lalu bagaimana dengan kehidupanmu disana?” Sahut Aeb memotong semangat sahabatnya yang berapi api
” Kalo bukan kita siapa lagi, kalo tidak hari ini lalu kapan lagi? Kata pepatah hujan emas dinegeri orang lebih baik di hujan batu dinegeri sendiri” jawab Aan dengan tegas.
Ketiga sahabat itu berangkulan dan dengan seloroh Aan meyakinkan sahabatnya ” kita pasti bisa, karena para leluhur kita telah mewariskan jiwa jiwa kesatria dalam diri kita “. ( mataram, 1/7/2021 ).
*) Penulis : Sekretaris Umum Partai Gelora Kota Bima



