Foto : Kantor Walikota Bima
Bimantika.net Pada tahun 2002 Kabupaten Bima di mekarkan sesuai amanat Undang-undang Nomor 13 tahun 2002 melalui pembentukan wilayah Kota Bima.
Hingga sekarang daerah yang terhampar di ujung timur pulau sumbawa ini terbagi dalam dua wilayah administrasi dan politik yaitu Pemerintah kota Bima dan Kabupaten Bima.
Kota Bima saat ini telah memliki 5 kecamatan dan 41 kelurahan dengan luas wilayah 437.465 Ha dan jumlah penduduk Pada tahun 2021 jumlah penduduk kota Bima sebanyak 155.140 jiwa, dengan kepadatan 694 jiwa/km²
Sebagai sebuah daerah yang baru terbentuk, Kota Bima memiliki karakteristik perkembangan wilayah yaitu: pembangunan infrastruktur yang cepat, perkembangan sosial budaya yang dinamis, dan pertumbuhan jumlah penduduk yang tinggi.
Sudah hampir 20 tahun tahun ini Kota Bima dipimpin oleh seorang Wali kota Putra Asli Kota Bima yakni Almarhum Drs. H. M. Nur A. Latif, HM. Qurais H. Abidin dan H. Muhammad Lutfi, SE (HML) hingga Tahun 2024 nanti.
Tiga Figur Terbaik Kota Bima ini tentu memiliki kelebihan dan kekurangan dalam seni memimpin Kota Bima sehingga dalam tulisan ini tidak menjadi perioritas menyampaikan kelebihan dan kekuragan ke tiga Pemimpin ini dimasa kepemimpinan masing-masing.
Yang pasti ketiga nya memimpin dengan dengan peradaban Budaya Dou Mbojo yang sudah mengakar sejak jaman kerajaan hingga sekarang masih dapat terlihat dalam kehidupan masyarakat Kota Bima dalam kesehariannya.
Baik sosial, Budaya dan Seni tradisional yang melekat pada kegiatan Upacara Adat, Prosesi Pernikahan, Khataman Qur’an, Khitanan dan lain-lain serta
Di tahun pertama terbentuknya Kota Bima, kala itu HM Nur A. Latif dengan gaya dan pola kepemimpinannya meletakkan dasar dan pondasi awal pembangunan kota bima baik fisik maupun non fisik. Dan Di Era Pertama Terbentuknya Kota Bima pula lah, Almarhum Nur Latif menorehkan Pondasi Awal Pembangunan Kota Bima dengan Membangun Kantor Walikota Bima, 6 Unit SDN Setara Internasional dan sejumlah pembangunan monumental lainnya.
Dilanjutkan oleh HM. Qurais dengan gaya khasnya dan tentunya punya Torehan dan karya Monumental nya seperti Pembangunan Masjid Terapung Kota Bima, Taman Amahami, Taman Serasuba dan lainnya.
Diera H. Muhammad Lutfi, SE (HML) sejak dilantik menjdi Walikota Bima 2018 lalu pun memperlihatkan high class nya dalam membangun dan menata Pembangunan Kota Bima.
Cita-cita luhur almarhum Nur Latif sepertinya terwujud ditangan dingin HML saat ini, walau baru berjalan tiga tahun lebih sedikit namun karya nyata itu nampak adanya dan tentunya sangat monumental.
Seperti Terbangunnya Tiga Puskesmas Megah plus fasilitas kesehatan yang memadai seperti Puskesmas Paruga, Puskesmas Mpunda dan Puskesmas Kumbe (2021).
Totehan Lainnya HML adalah Terbangunnya Taman Kodo yang Indah, Tertatanya Kawasan Panta Lawata dengan rapi, dibangunnya Pantai Kolo yang eksotik, terciptanya Perusahaan Umum Daerah (Perumda), terbantunya penciptaan Lapangan Kerja melalui pemberdayaan kelompok Masyarakat, terbangunnya Rumah Layak Huni NSD Kedo, Terbangunnya Hunian Tetap Kadole, Terciptanya Kota Bima yang Kondusif karena sinergitas dengan TNI-Polri.
Terbentuknya Command Centre sebagai Pusat Pengendali Digitalisasi Era Millenial menuju Smart City dan mulai tertatanya sejumlah Drainase Kota yang kerap terjadi banjir saat musim hujan tiba.
Masuk wilayah kota malam hari ibarat sedang ada di sebuah kota maju lainnya tertata dengan lampu-lampu hias kota seperti di Jembatan Padolo, Jembatan Penaraga dan Jembatan Kodo.
Walikota HML sadar betul bahwa membangun generasi muda handal disiapkannya fasilitas seperti Lapangan Bola bagi kelurahan yang belum memiliki lapangan Bola sepeti di Kelurahan Mande dan Kelurahan Oi Mbo.
Penataan Kota yang baik oleh HML tentu adalah berkat dirinya memiliki pengalaman panjang sebagai Anggota DPR RI dua periode sehingga memiliki akses luas tingkat Nasional.
Cita-cita luhur Nur Latif membangun Sebuah Kampus Negeri, insya Allah sedang jalan dengan sebuah ikhtiar nyata akan adanya Kampus IAIN Bima yang prosesnya hampir mendekati final.
Ikhtiar dan Upaya Keras HML dalam menata kampung halamannya tidaklah sia-sia sehingga banyak apresiasi dari tokoh agama akan niat tulusnya menganggarkan anggaran khusus untuk Masjid Raya Al Muwahiddin Bima dan seluruh Masjid dan Musholla se Kota Bima sejak 2019, 2020, 2021 hingga masa akhir periodenya 2024, ada dalam ikhtiarnya anggarkan pembangunan Masjid dan Musholla.
Bukan memuji, karena yang berhak dipuja puji adalah Allah SWT, hanya saja mengapresiasi bahwa dengan dinobatkannya atau diterbitkannya sertifikat WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) oleh lembaga negara BPK adalah sebuah gambaran bersihnya HML dalam pengelolaan keuangan negara sesuai peruntukkannya.
Didapatkannya Piagam dari Kementrian Hukum dan HAM dalam urusan penggusuran suoer damai menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan HML adalah gaya Humanis tanpa kekerasan dalam mengeksekusi segala sesuatu yang terkait hajat hidup orang banyak.
Mungkinkah Ada Kelemahan HML? Jelas dan nyata bahwa HML sebagai manusia yang Dhoif tentu punya sisi kelemahan dalam menjalankan roda pemerintahan.
Walau demikian, kerap para kritikus lakukan pemantauan bahkan pelaporan oleh sejumlah kaum peduli kota bima, namun sampai sekarang hanya sekedar issu bahwa HML salah gunakan kewenangan, sehingga kecendrungan HOAX pun tak terelakkan di ruang-ruang Publik.
Laporan beberapa pihak ke Aparat Penegak Hukum (APH) bahwa HML lakukan korupsi hanya sebuah halusinasi yang tak berujung pada adanya data dan fakta yang faktual sehingga kerap terjadi Bullyan yang tak henti-hentinya.
Langkah HML menata Kota Bima sepertinya enggan menangapi Bullyan, umpatan, cacian dan makian yang dialamatkan kepada dirinya bahkan pada istrinya Hj. Elly Alwaini yang setia mendampinginya dalam berbakti untuk Kota Bima.
Selamat berkarya Nyata HML ? Rakyat makin cinta akan torehan dan karya nyatamu dalam menata dan membangun Bima yang lebih maju dan Bermartabat. (***)