Bimantika.net
Mantan Staff Ahli MPR RI Am. Fatwa, Muslihun Yakub sebut bahwa Saat ini DPD l Partai Golkar lakukan manuver dan dagelan akal akalan sejumlab elitenya. Betapa tidak, Seolah olah Golkar Kabupaten Bima setelah hasil Pileg April 2019 lalu seakan jumawa dan anggap dirinya partai pemenang total, mereka tidak memahami bahwa angka 9 kursi dari 45 kursi adalah angka yang masih sangat minim untuk sebuah kemenangan Pilkada 2029.
Muslihun Yakub menyebutkan bahwa Wakil Ketua OKK DPD I Partai Golkar mengusung konvensi bagi bakal calon wakil Bupati, ini adalah menjadi sebuah tanda tanya besar.
Lanjutnya,
Konvensi bakal calon wakil bupati yang diusung DPD I Golkar melalui siaran pers Wakil Ketua OKK Abdul Hafid (baca: Garda Asakota,red) adalah sebuah akal-akalan dan manipulasi politik untuk menaikan pamor politik IDP sebagai kandidat calon bupati yang diusung Golkar.
“Skenario politik Golkar ini memperlemah daya tarung parpol lain untuk menentukan poros lain manakala skema konvensi Golkar direspon dan di indahkan” ungkap Muslihun.
Masih menurut Putra Asli Desa Ngali Belo Kabupaten Bima ini, Bilamana partai-partai lain menolak mekanisme konvensi bakal calon wakil bupati, secara politik menampar Golkar dengan sangat keras.
Artinya, skenario Golkar menjadi kandas dalam konteks menarik keterlibatan partai lain dalam konvensi.
Muslihun pun mempertanyakan sesuatu hal Apakah akademisi mau mengisi ruang itu ketika sensifitas SDM menjadi hal yang sulit untuk ditolak?
Dirinya menyatakan bahwa
Sepanjang sejarah, tidak pernah terjadi konvensi untuk memilih calon wakil. Bila Golkar jentelmen alias tidak menjadi partai banci, maka seharusnya membuka mekanisme konvensi bagi calon BUPATI yang hendak diusung Golkar.
Bukan justru menjadi dagelan politik dengan konvensi bakal calon wakil bupati. Bila DPD I Partai Golkar berani menggelindingkan isu KONVENSI bagi Calon BUPATI, maka Golkar menjadi hebat dan menciptakan sejarah baru dalam sejarah Pilkada di tanah air. (//arif)
