Peduli Akan Bersihnya TPU : FKMD-BM Gelar Baksos

Bima, BimaNtika.Net

Peduli akan bersihnya terhadap Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Dena Kecamatan Madapangga Kabupaten Bima Forum Komunikasi Mahasiswa Dena Bima Mataram “FKMD-BM” dalam menggelar kegiatan Bakti Sosial (Baksos) dengan melakukan gotong royong membersihkan tempat pemakaman umum disertai melakukan kegiatan Cet Pagar pada tempat pemakaman tersebut, Demikian pantauan langsung Media Online BimaNtika. Net ini pada hari minggu tanggal 08 september 2019.

Pada kegiatan tersebut turut dihadiri oleh, Jajaran Pemdes Dena, Jajaran Polsek Madapangga, Jajaran Anggota TNI Koramil 1608/02 Bolo, Babinkamtibas Dena, Ketua Osis SMAN 1 Madapangga beserta Siswa SMAN 1 Madapangga, dan Tokoh Pemuda, Warga Masyarakat Desa Setempat.

Dalam rangka kegiatan tersebut Qaidul Ilfani dirinya selaku ketua Panitia Bakti Sosial (Baksos) saat dikonfirmasi media ini menjelaskan bahwa kegiatan yang digelar maupun yang lakukan ini merupakan bentuk inisiatif dalam hal kepedulian akan bersihnya tempat pemakaman umum desa dena (TPU) mengingat dan dilihat kondisi pada tempat pemakaman tersebut keadaanya sekarang dinilai cukup kotor maka di selenggarakan kegiatan Baksos dengan melakukan gotong royong,”Jelasnya.

“Qaidul Ilfani Dirinya selaku Ketua Panitia Baksos tersebut mengucapkan bentuk rasa apresiasi berterima kasih kepada Jajaran Pemdes Dena, masyarakat, Jajaran Polsek Madapangga, Jajaran Anggota TNI Koramil 1608/02 Bolo dan Siswa SMAN 1 Madapangga telah menghadiri kegiatan yang kami selenggarakan”

Dirinya mengharapkan kepada masyarakat desa setempat yang tinggal dekat dengan Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Dena agar kiranya tidak membuang sampah dan bagi warga yang memiliki ternak tidak mengikat ternaknya pada tempat tersebut guna menjaga kelestarian akan bersihnya tempat pemakaman umum ini,Harapnya

Sementara itu salah seorang warga Desa Dena atas nama M. Sidik dirinya yang telah lolos meraih angka kemenangan menjadi Anggota BPD keterwakilan wilayah dusun pada kontestasi Pemilihan langsung secara demokrasi pada penyelenggaraan tanggal 04 September 2019 terkait pengisian keanggotaan BPD, dirinya Mengucapkan bentuk rasa sangat mengapresiasi terhadap Forum Komunikasi Mahasiswa Dena- Bima Mataram (FKMD-BM) dalam rangka menggelar kegiatan Bakti Sosial dengan melakukan gotong royong sebagai bentuk peduli untuk menjaga kelestarian akan bersihnya tempat pemakaman umum desa dena.

Matematika Peternakan dan Kemakmuran Kota Bima

Oleh : Darussalam

Di kota ini ada lahan tegalan/ladang seluas 7.191 Ha. Kalo kemudian kita jadikan 2.000 Ha saja sebagai areal pengembangan industri peternakan terutama peternakan sapi dengan pola kandang kolektif pada masing masing rata rata 1 Ha lahan, maka didapati ada 2.000 kandang kolektif.

Jika persatu kandang kolektif tersebut berkapasitas 100 ekor, maka ada 20.000 ekor sapi penggemukan yang dapat dipanen pertiga bulan di Kota Bima. Artinya jika setahun maka jumlah panen sapi potong mencapai 80.000 ekor.

Jika persatu kandang dikelola oleh 10 orang anggota kelompok, berarti ada 20.000 orang yang bekerja dan menjadikan sektor peternakan sapi sebagai sumber ekonomi utama di Kota Bima.

Kemudian dari bagi hasil keuntungan penjualan sapi, satu anggota kelompok mendapatkan Rp. 1.000.000/ekor, maka seorang anggota kelompok bisa mendapatkan keuntungan Rp. 10.000.000 persekali panen (tiga bulan). Artinya seorang pengelola kandang atau anggota kelompok mendapatkan penghasilan bulanan sebesar Rp. 3.333.333.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa 10.000 lapangan kerja teratasi mempaui target, kesejahteraan n kemakmuran tercapai karena ada tambahan 20.000 orang/kk berpenghasilan lebih dari Rp. 3.300.000 sebulan.

Di sisi lain Rumah Pemotongan Hewan (RPH) sebagai salah satu segment pasar sapi potong, akan sangat mungkin memproduksi daging 50 ton perbulan. Jal tersebut mengkonfirmasi bahwa Kota Bima menjadi salah satu industri peternakan yang representatif, serta tidak hanya menjadi daerah swasembada daging tetapi menjadi Kota pengekspor daging.

Selain akan mengiatkan hadirnya industri olahan daging, juga akan melahirkan industri kulit sapi, industri organik memanfaatkan rumen sapi dan banyak varian lainnya yang akan menjadi stimulan hadirnya industri industri lainnya.

Jadi terbayang bahwa lapangan kerja semakin terbuka luas dengan hadirnya berbagai industri baru tersebut. Hal ini rasanya sesuai dengan pepatah arab yang mengatakan bahwa ” negeri yang kaya ternak tidak akan pernah miskin, negeri yang miskin ternak tidak akan pernah kaya. (//arif)

Izajah Ipa Suka Asli, Cuman Ada Kepentingan Segelintir Oknum Perindo saja

Bimantika.net

Gonjang ganjing internal Partai Perindo Kota Bima makin melebar, hingga saling tuding menuding memakai izasah palsu segala macam berdampak riuh rendah di publik. Sesungguhnya itu hanyalah masalah internal saja di Perindo, cuman karena adanya kepentingan oknum tertentu di Perindo Kota Bima berdampak pada Saling tuding di ruang Publik. Ungkap Johan Jauhari pada Bimantika.net. lanjut Johan bahwa sebenarnya masalahnya sepele terkait perolehan suara internal Partai Perindo Dapil Bima 2 Kota Bima yang meliputi Kcamatan Mpunda Dan RasaNaE Barat. Di dapil tersebut Hj. Ipa Suka ikut berkontestasi di Pileg April 2019. Lalu diinternal partai Ipa Suka mendapat suara tertinggi sehingga KPUD pun lakukan penetapan. Pasca penetapan terjadilah gejolak internal yang mengemuka diruang publik bahwa ada salah seorang Caleg yang juga pengurus Partai yang tidak rela kalau Ipa Suka di Lantik dengan sebuah alasan memakai izasah Palsu. Johan balik bertanya, kalau memang ijazah itu palsu yang di tuntut bukan Ipa Suka nya melainkan Ketua Dan Sekretaris DPC Perindo Kota Bima yang ajukan Ipq suka sebagai Caleg. “Itu kalau mau tuntut jangan tuntut Ipa suka, tapi tuntutlah Ketua dan Sekretaris Perindo yang sejak awal rekomendasikan nama Ipa suka untuk Jadi Caleg” ungkapnya.
Mestinya Ketua dan sekretaris Partai lakukan verifikasi awal saat Ipa suka ajukan diri jadi Caleg, bukan malah sebaliknya, saat KPUD menetapkan Ipa Suka sebagai caleg Terpilih tiba tiba saja oknum pengurus inti Partai yang persoalkan izasah palsunya ipa suka.
“Ini adalah kepentingan terselubung DPC Partai Perindo Kota Bima, harusnya Perindo Kota Bima berterimakasih pada Ipa suka pendulang suara untuk partai bukan malahan semakin dipojokkan secara internal, inilah politik praktis kepentingannya oknum petinggi perindo Kota Bima” ujar Johan.
Hal yang sama disampaikan oleh Ketua DPC Partai perindo Kecamatan Asakota, Alfin Nahruddin pada Bimantika.net menyebutkan bahwa Ipa suka adalah asset partai Perindo sehingga dirinya wajib melakukan advokasi. ” saya tidak punya kepentingan apapun cuman saja saya berkepentingan secara kepartaian bahwa Ipa suka itu adalah asset partai perindo yang harus diselamatkan dari berbagai upaya menjatuhkannya” ujar Bimo sapaan akrab Alfin. Lanjut Bimo, bahwa yang berhak menyatakan izasah Ipa suka itu asli atau palsu adalah pihak aparat penegak hukum yang ditugaskan oleh negara. “Ada lembaga hukum yang menjustifikasi, bukan orang per orang” katanya. Bimo pun menyampaikan bahwa sesungguhnya para penerbit Izasah Paket C nya ipa suka sudah mengakui semua bahwa sesungguhnya izasah itu resmi nama Ipa Suka dan nomor Induk siswa nya. “Tidak ada persoalan sesungguhnya karena dewan pendidikan dan stake holder pendidikan sudah mengakui bahwa izasah itu adalah Asli Punya Ipa Suka” tegas Bimo. (//arif)

Matematika Peternakan dan Kemakmuran

Oleh : Darus
Bimantika.net

Di kota Bima ini ada lahan tegalan atau ladang seluas 7.191 Ha. Kalo kemudian kita jadikan 2.000 Ha saja sebagai areal pengembangan industri peternakan terutama peternakan sapi dengan pola kandang kolektif pada masing masing rata rata 1 Ha lahan, maka didapati ada 2.000 kandang kolektif.

Jika persatu kandang kolektif tersebut berkapasitas 100 ekor, maka ada 20.000 ekor sapi penggemukan yang dapat dipanen pertiga bulan di Kota Bima. Artinya jika setahun maka jumlah panen sapi potong mencapai 80.000 ekor.

Jika persatu kandang dikelola oleh 10 orang anggota kelompok, berarti ada 20.000 orang yang bekerja dan menjadikan sektor peternakan sapi sebagai sumber ekonomi utama di Kota Bima.

Kemudian dari bagi hasil keuntungan penjualan sapi, satu anggota kelompok mendapatkan Rp. 1.000.000/ekor, maka seorang anggota kelompok bisa mendapatkan keuntungan Rp. 10.000.000 persekali panen (tiga bulan). Artinya seorang pengelola kandang atau anggota kelompok mendapatkan penghasilan bulanan sebesar Rp. 3.333.333.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa 10.000 lapangan kerja teratasi mempaui target, kesejahteraan n kemakmuran tercapai karena ada tambahan 20.000 orang/kk berpenghasilan lebih dari Rp. 3.300.000 sebulan.

Di sisi lain Rumah Pemotongan Hewan (RPH) sebagai salah satu segment pasar sapi potong, akan sangat mungkin memproduksi daging 50 ton perbulan. Jal tersebut mengkonfirmasi bahwa Kota Bima menjadi salah satu industri peternakan yang representatif, serta tidak hanya menjadi daerah swasembada daging tetapi menjadi Kota pengekspor daging.

Selain akan mengiatkan hadirnya industri olahan daging, juga akan melahirkan industri kulit sapi, industri organik memanfaatkan rumen sapi dan banyak varian lainnya yang akan menjadi stimulan hadirnya industri industri lainnya.

Jadi terbayang bahwa lapangan kerja semakin terbuka luas dengan hadirnya berbagai industri baru tersebut. Hal ini rasanya sesuai dengan pepatah arab yang mengatakan bahwa ” negeri yang kaya ternak tidak akan pernah miskin, negeri yang miskin ternak tidak akan pernah kaya.

Pembuatan Produk Hukum Harus Sistematis

Bimantika.net

Pentingnya keberadaan Peraturan Daerah sebagai payung penyelenggaraan kegiatan perangkat daerah mendorong Bagian Hukum Sekretariat Daerah Kabupaten Bima untuk menginisiasi Asistensi Penyusunan Program Pembentukan Peraturan Daerah (PROPEMPERDA) Kabupaten Bima tahun 2020.
Namun demikian Bupati Bima yang diwakili Asisten III Setda Bidang Administrasi Umum Drs. H. Arifudin HMY mengatakan bahwa tahapan pembuatan rancangan peraturan daerah maupun peraturan bupati harus dilaksanakan secara komprehensif dan terstruktur. “Artinya jangan membuat kegiatan tiba masa tiba akal”. Ungkapnya Rabu (28/8) saat memberikan sambutan pada asistensi tersebut di aula SMKN 3 Kota Bima.
Dijelaskan Arifudin perangkat daerah merupakan pihak yang paling memahami roh dari sebuah Rancangan peraturan daerah maupun produk hukum lainnya yang diajukan. Dengan demikian, perangkat daerah harus memperhatikan secara cermat tata urutan perundang-undangan yang menjadi rujukan sebelum memasuki pembahasan peraturan daerah.
“Oleh karena itu, asistensi ini harus benar-benar dipahami dan dilaksanakan dengan baik mengingat produk hukum yang dihasilkan akan berimplikasi pada aspek hukum dan sanksi”. Tandasnya.
Salah seorang narasumber, Kepala Bagian Hukum Setda Amar Ma’ruf SH mengatakan rancangan Perda yang diajukan oleh perangkat daerah kepada Bagian Hukum akan diwacanakan untuk dibahas di tingkat dewan pada tahun 2020 mendatang.


Di hadapan peserta asistensi yang juga dihadiri Kepala Badan Narkotika Nasional Kabupaten Bima AKBP Hurri Nugroho, SH, MH dan pejabat terkait perangkat daerah, Makruf mengubgkaplan bahwa dalam merencanakan pembuatan produk hukum memerlukan sumberdaya dan kebijakan penganggaran.
Mengacu pada hasil asistensi, perangkat daerah menyampaikan usulan rancangan Perda kepada Bagian Hukum Setda paling lambat tanggal 10 September 2019.
“Penyampaian usulan draft Ranperda tersebut minimal disertai dengan naskah akademik atau penjelasan singkat berkaitan dengan substansi regulasi dimaksud. Disamping itu, perangkat daerah pengusul akan mempresentasikan dalam pertemuan lanjutan yang dipimpin oleh Sekretaris Daerah”. Jelas Makruf.
Pada kesempatan asistensi, selain penyampaian draft ranperda dari perangkat daerah, Bagian Hukum juga menerima usulan ranperda Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) dari Kepala BNN Kabupaten Bima AKBP Nurri Nugroho untuk dibahas lebih lanjut sesuai mekanisme yang berlaku.
Asistensi yang menghadirkan dua orang narasumber yaitu Kepala Bagian Hukum Setda Amar Ma’ruf SH dan Kepala Bidang Anggaran BPPKAD kabupaten Bima Wahyudin, SE, M.Si.(//tkpd)

Cebong x Kampret : Potensi Perekonomian Indonesia

Sudah menjadi fitrah manusia ketika mengidolakan atau mendukung sesuatu maka mereka akan mendukung sepenh hati dan menjadi buta seketika. Maka munculah sebuah kutipan yang mengatakan bahwa “cinta itu buta”. Bila kita tarik fitrah ini kedalam kehidupan sehari hari maka yang kita dapati adalah kutipan tersebut benar adanya, kecenderungan untuk mendukung sebuah pilihan ataupun idola secara mati matian serta tanpa pikiran yang open mind menjadi realitas didalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini. Realitas ini pun semakin menegaskan bahwa kehidupan berdemokrasi kita sedang terseok seok. Kayaknya perlu tumpangan nih demokrasi indonesia biar jalannya mulus dan nyaman.

Cebong dan Kampret, itulah label dari penghuni demokrasi di Indonesia. Yang cebong bisa dikatakan adalah kubu pemerintah dan yang kampret adalah kubu oposisi. Yaa… layaknya kelompok konservatif dan progresif di era pemerintahan perancis dulu. Awal awal lahirnya 2 kubu yaitu kiri dan kanan. Semakin kesini peran cebong dan kampret dalam kehidupan berbangsa dikhawatirkan memecah kehidupan berbangsa dan bernegara, sampai pada suatu waktu ditengah proses pertemuan 2 sahabat tapi dipisahkan oleh pilpres katanya mengeluarkan statement bahwa sudah tidak ada lagi yang namanya cebong dan kampret semuanya adalah merah putih dan yang satunya mengatakan tidak ada lagi vebong kampret yang ada adalah garuda pancasila. Adem gak tuh? Tentunya bagi sebagian orang yang berpikir ini adalah statemen negarawan dan menjadikan kita semua orang orang yang berpikir, tapi bagaimana kalau masih ada cebong kampret yang berkeliaran? Maka dari itu penulis ingin mengajak kita semua menelisik lebih jauh potensi cebong kampret selain menjadi buzzer dan tentara dunia maya. Kita lihat dari segi perekonomian dan sosialnya.

Pertama, kita melihat potensi cebong kampret ini dari segi sosial dan kemungkinannya menjadi paguyuban seperti PA 212. Menurut beberapa sosiolog Organisasi sosial merupakan suatu bentuk pengaturan tindakan atau perilaku individu untuk bekerja sama dalam mencapai visi atau tujuan yang disepakati. Nah potensi keguyuban cebong dalam membela dan membersamai pemerintah dapat dijadikan sebuah organisasi sosial yang intelek (ngakunya intelek) dalam kemajuan Indonesia. Dalam mengawal visinya untuk membersamai pemerintah maka kelompok cebong dapat menjadi partner pemerintah dalam membangun Indonesia. Untuk kelompok kampret pun begitu, kelompok kampret dijadikan sebagai organisasi sosial yang mendeklarasikan visinya yaitu menjadi oposan dari pemerintah, dengan dibentuknya organisasi sosial kampret toh ide ide para netizen yang masuk dalam kelompok kampret bisa terorganisir dan sampai ke pemerintah. Ini adalah sebuah peluang untuk membangunan kehidupan sosial yang sehat antara cebong kampret dengan memanfaatkan visi dari masing masing kubu dengan membentuk organisasi sosial yang membangun. Cakep gak tuh? Di Tivi tivi nanti dipenuhi oleh juru bicara dari kubu cebong dan kampret dengan intelektualitasnya masing masing. Prok prok buat CEBI dan KAMPI.

Kedua, setelah dibentuknya 2 organisasi sosial yaitu cebong dan kampret. Saatnya cebong dan kampret dengan segala keberaniannya didunia maya dikonkritkan dikehidupan sosial ekonomi. Bagaiaman tuh bang? Ya sekarangkan lagi jaman jamannya kurban nih, yaudah dari organisasi sosial cebong sama organisasi sosial kampret adu banyak banyakan hewan yang dikurbankan pas idul adha. Daripada adu hujatan dimedsos yang banyak menguras tenaga dan juga kuota internet mending menguras tenaga melakukan aktivitas aktivitas sosial dalam memeriahkan idul kurban nantinya. Misalkan dari 1000 cebong berkurban masing masing satu kambing, harga satu kambing kita patok kira kira 2,5 Juta Rupiah satu ekornya maka perputaran uang yang akan terjadi disektor riil yaitu 2,5 Miliar pada saat momen idul adha. Belum lagi dari kubu Kampret yang tentunya gak mau kalah dong dengan kubu cebong, pastinya dari kubu kampret akan berusaha berkurban lebih dari kubu cebong. Dan bayangkan dalam sejarah indonesia akan tercatat rapih dalam buku IPS dan Pendidikan Kewarganegaraan anak anak SD maupun SMP bahwa cebong dan kampret adalah Potensi ekonomi Indonesia dimasanya.

Berdasarkan data yang pernah dirilis Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), potensi ekonomi kurban sekitar Rp 69 triliun. Sampai sekarang siapa pihak yang menikmati potensi ekonomi kurban sebesar itu? Tentu jawabannya adalah masyarakat dipedesaan, karena para peternak dan produksi hewan kurban sampai saat ini masih terkonsentrasi didaerah pedesaan. Untuk cebong, disini ada kaitannya dengan DESA, yuk bantu junjunganmu buat menaikkan ekonomi desa toh kebijakan yang paling gencar saat ini adalah dengan menguatkan desa. Daripada ngehujat mending organisasi sosial cebong ikut urunan dalam membantu pemerintah biar gak ada celah noh buat organisasi sosial kampret dalam mengkritik. Dan untuk organisasi sosial kampret ngapain tuh dimoment saat ini? Ya bisa bikin kelompok ternak ataupun koperasi ternak. Kenapa? Biar nantinya ketika kampret dihujat oleh cebong dengan hujatan “bisanya kritik doang, solusi yang ditawarkan gak ada”. Nah jika kelompok kampret melakukan hal hal konkrit dimoment idul adha seperti ini akan menjadi aset atupun jawaban bagi hujatan cebong yang seperti tadi.

Kurban adalah momen bagi organisasi sosial cebong ataupun kampret untuk memperbaiki gizi kader kadernya, kenapa demikian? Semakin banyaknya kelompok ataupun orang orang yang berkurban maka distribusi protein hewani di Indonesia semakin merata dan banyak. Ini kesempatan bagi cebong ataupun kampret untuk memperkuat fisik daripada kader kadernya dalam mengawal visi dari masing masing kubu. Toh tanpa kader yang kuat secara fisik sebuah kelompok tak akan bertahan lama, karena kader kadernya sibuk mengobati penyakit ditubuhnya.

Indonesia sangat membutuhkan peran orang orang baik, karena Indonesia sekarang akan menginjak usia 74 tahun. Sudah begitu berumur Indonesia kita ini, maka untuk membuat kita semangat dalam mengawal Indonesia penulis ingin mengingatkan sebuah kutipan yaitu “Menua tanpa karya itu adalah sia sia”. Bagi kita yang mengaku Indonesia mari kita bantu Indonesia agar tidak menua tanpa karya karya terbaik serta kita jadikan Indonesia aset yang sangat produktif bagi anak cucu kita nantinya. Indonesia bukanlah hanya cerita tentang Cebong dan Kampret, tetapi indonesia adalah tentang Kita semua. Kita yang ingin bangsa ini menjadi bangsa yang inklusif dalam ekonomi dan pembangunan dan inklusif dalam akal sehatnya. Pada dasarnya Indonesia adalah negara yang berbhineka, walaupun sedang dalam kondisi bermusuhan dalam dunia maya ataupun dikehidupan nyata. Indonesia sebenarnya dapat melakukan hal hal positif dalam keadaan seperti ini, permusuhan ataupun sikap dingin dari kedua belah pihak yang berseteru adalah peluang bagi kita untuk mengadu domba kedua kelompok tersebut menjadi aset bagi perekonomian bangsa Indonesia saat ini. Jangan sampai kutipan “Cinta itu buta” menghiasi kehidupan berIndonesia kita, karena masyarakat Indonesia seharusnya adalah masyarakat yang terbuka pikirannya dan moderat dalam bersikap bukan menjadi masyarakat yang dibutakan oleh cinta. Cie.. cie…

Peserta Rumah Kepemimpinan Regional 5 Bogor

BIODATA PENULIS

Nama : Rahmat Zuhair
Tempat, Tanggal Lahir : Kananga, 03 Oktober 1999
Alamat Sekarang : Asrama Rumah Kepemimpinan Regional 5 Bogor, Dramaga, Bogor Jabar
No. HP : 082236480175
Instagram : @rahmatzuhair
Pekerjaan : Mahasiswa Ekonomi Pembangunan IPB
Profil singkat : Saya adalah mahasiswa rantauan dari Bima NTB yang hobi dalam mengkritik karena dengan hal tersebut saya melakukan pemenuhan gizi bagi pikiran saya

Hj. Rostiati: TP. PKK Harus “Pintar” Memanfaatkan Peluang

Bimantika.net
Lomba Cipta Menu Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman (B2SA) berbasis Sumber Daya Lokal  antar TP. PKK Kecamatan bertema “Pangan Beragam untuk Generasi Yang Cerdas” dan diselenggarakan atas kerjasama Dinas Ketahanan Pangan dan TP.PKK Kabupaten Bima ini ditujukan untuk menggali kreativitas anggota TP.PKK kecamatan dalam menciptakan dan mengembangkan resep masakan yang beragam, bergizi seimbang dan aman bersumber bahan pangan lokal seperti sagu, umbi – umbian, pisang, talas, sukun yang cukup tersedia di daerah kita.

“Karena itu seluruh peserta harus pintar dan bijak membaca peluang, dengan demikian, ke depan akan tumbuh kembang aneka kreasi makanan yang dapat menjadi salah satu alternatif pilihan makanan keluarga serta membuka peluang bisnis kuliner yang mendatangkan nilai ekonomis. Aspek lainy yang jauh lebih penting adalah, kita sedikit demi sedikit bisa mengurangi ketergantungan terhadap konsumsi makanan beras”. Demikian Ungkap Ketua TP. PKK Kabupaten Bima Hj. Rostiati Dahlan, S.Pd saat memberikan sambutan pada Lomba Cipta Menu B2SA tersebut.
Hj. Rostiati dalam arahan pada lomba yang turut dihadiri Asisten II Setda Bidang Perekonomian dan Pembangunan Ir. H. Nurdin, Kadis Ketahanan Pangan Ir. Syaifudin, beberapa Kepala Perangkat Daerah dan Camat tersebut, “Lomba Cipta Menu diharapkan dapat memberikan manfaat positif terkait informasi pangan bergizi dan seimbang yang berasal dari sumber daya lokal”. Kata Rostiati.
Sebelumnya, Asisten II Setda Ir. H. Nurdin yang mewakili Bupati Bima dalam sambutannya mengungkapka, “penganekaragaman dan konsumsi pangan merupakan salah satu upaya yang terus dilakukan untuk menghasilkan sumberdaya manusia berkualitas dan unggul melalui perbaikan pola konsumsi pangan masyarakatbaik dari aspek jenis, sumber karbohidrat, protein, vitamin dan mineral pangan”. 
Upaya ini akan dapat diwujudkan apabila pola konsumsi makanan sehari-hari dilakukan secara tepat, mengandung zat gizi lengkap sesuai kebutuhan tubuh, dalam asupan berimbang dan kemampuan memperhatikan daya beli masyarakat”. Terang Mantan Kadis Pertanian dan Tanaman Pangan ini.
Senada dengan Bupati, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Bima Ir. Syaifudin dalam laporannya mengatakan, Lomba Cipta menu yang melibatkan TP. PKK Kecamatan Se-Kabupaten Bima ini merupakan wahana untuk membangun kesadaran masyarakat bahwa pangan tidak hanya nasi (beras dan terigu) tetapi masih banyak pangan alternatif yang dapat mengganti beras dan terigu sebagai sumber karbohidrat”. Terangnya.
Dikatakan Syaifudin, “Selain untuk meningkatkan citra pangan lokal, lomba cipta menu ini diharapkan dapat meningkatkan kreatifitas masyarakat dalam mengembangkan dan menciptakan menu B2SA berbasis sumber daya lokal”. Tutupnya.
(//arif/dkp//tkdp)

Kultus Figur IDP, Cara halus merusak politik Rasional

Oleh ; DR. Ikhwan, SE,MM,M.Si*)

Bimantika.net
Memunculkan kultus individu yang berlebihan atau memuji berlebihan figur dengan menggunakan medsos semacam ini memunculkan Persepsi terhadap figur yang berbasis pada fanatisme buta kemudian bergerak menjauhi fakta yang sebenarnya, namun tanpa disadari bahwa itu merugikan daerah kita.

Daya tarik mitos yang sengaja di publis untuk memberikan pencitraan dan mempengaruhi opini “kepastian “meski hanya dalam imajinasi politik, bukan realitas politik sebenarnya, sama halnya dengan Politik identitas menjadi mesin kerja yang memuluskan irasionalitas tersebut. Tujuanya jelas mitos yang di munculkan untuk membangun opini sesat dalam meniadakan keinginan memilih figur hebat.Seharusnya
kalau daerah kita ingin berubah dan maju dibutuhkan aspek kuantifikasi, kualifikasi, dan kalkulasi dalam memutuskan kapasitas dan kapabilitas figur tersebut.

Banyak mitos atau istilah yang dimunculkan di medsos oleh loyalis IDP seperti ” pokoknya IDP 2 periode” tidak ada figur yang menandingi IDP, perempuan karismatik, IDP yang mampu mensejahterahkan masyarakat dll sederet istilah yang memutarbalikan logika sehat kita yang jauh dari kenyataan.

Nuansa paragmatisme dan irasional politik masih sulit dihilangkan karena faktor subjektivitas menilai seseorang, sebenarnya kita harus lebih berani beranjak pada pilihan rasional yang tidak sama dengan politik hipnotik figuritas tampa objektivitas demi ambisi politik, akhirnya kebenaran dimanipulasi, emosi irasional diaduk dan penafsiran agama di tinggalkan.

Padahal kekacauan yang disebakan hilangnya rasionalitas merupakan stimulus lahirnya oligarki dan feodalisme yang merugikan masyarakat kita. Hal yang perlu dilakukan adalah gerakan penyadaran kepada masyarakat tentang betapa super-bahayanya mengedepankan emosionalitas dan “kebenaran saya” dalam politik karena Rasionalitas sejatinya adalah anak kandung demokrasi

Lihatlah fakta apa perubahan yang berdampak besar saat ini yang bisa dinikmati masyarakat kita, malahan yang terjadi sebaliknya gaya politik one dimensional man ” yang hanya isi kepala nya Uang, Income dan Profit” dimana sense of sosialnya ambruk, pengelolaan pemerintahan rusak dan cara mengelola potensi daerah yang tidak optimal. Karena bupati kita tidak memiliki mental juara yang memiliki efek kumulatif perubahan dan kemajuan.

Termasuk yang kami kritik pandangan dan cara berfikir legalistik tampa melihat lebih dari makna sirkulasi elit supaya tidak terjebak pada sistematis kehadiran hak politik ” Trah dinasti” karena merusak horison politik jangka panjang. Kompetisi tokoh- tokoh hebat itu yang esensial dalam proses Pilkada.

lihatlah kondisi kekinian, banyak Rakyat mengeluh, karena realitas politik yang dibangun gagal meneropong kepentingan masyarakat yang lebih besar, memang IDP berhasil dalam takaran dan timbangan ” Kekuasaan, Hegemony, Otokrasy, capital dan only corrupts”

Maka sikap mereka yang A simetris dengan kenyataan karena di beri privilese oleh IDP sebaiknya di tanggalkan karena merugikan posisi IDP, ketika kami berikan kritik maka kelompok oportunis tadi berdalih tidak melihat ada yang salah dalam pemerintahan IDP,,
Maka jangan menggunakan kacamata gelap dengan sudut pandang over confidence karena itu sama halnya mengkultuskan IDP.
*) Penulis adalah wakil rektor Universitas Attahiriyah Jakarta

Defisitnya Nilai Bima Ramah

Oleh : DR. Ikhwan HZ, SE, MM, M,Si*)

Bimantika.net
Bima Ramah sebenarnya adalah sebuah spirit perubahan yang memberikan energi kebaikan, kepeloporan, keteladanan dan keberhasilan. Konsep ini digali dari nilai- nilai Kearifan lokal ” Dana Mbojo ” warisan leluhur yang tertanam . Akan tetapi setelah di uji dilapangan berbanding terbalik menjadi *Bima Tidak ramah, ” diksi ini tidak memberikan Efek yang menular pada perubahan budaya masyarakat, ketertiban sosial, pengetahuan masyarakat, perilaku beragama, perbaikan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Hemat saya, minimnya daya ungkit bima ramah akhirnya yang muncul Defisitnya nilai kehormatan kepada pemimpin. Nilai Bima ramah gagal menjawab persoalan pokok masyarakat untuk di implementasikan secara kontekstual dalam menyelesaikan masalah ekonomi dan sosial masyarakat.

Kehendak umum berlaku dengan pernyataan ” Penghormatan diberikan jika berbanding lurus dengan prestasi” sehingga apa boleh buat sinisme dan sindiran bertebaran. Pada sisi lain ungkapan kekecewaan menular dalam bentuk protes memblokir jalan umum, petisi, nota keberatan dan surat protes.

Akumulasi kekecewaan akan berkurang jika yang memimpin cepat merespon dan memberikan solusi. Banyak pendekan yang bisa dilakukan misalnya melalui dialog konstruktif dengan tokoh masyarakat, ulama, aktivis, DPRD dan kaum terpelajar lainnya untuk memberikan pengertian dan pemahaman. Partisipasi publik penting untuk memberikan solusi dan jalan keluar dari semua urusan publik. Saya yakin pendekatan ini akan dilakukan, hanya saja kehilangan momentum.

Akhirnya kita berbicara pola dan ukuran keberhasilan dan kegagalan. Isyarat keberhasilan akan bisa dilihat dari terciptanya masyakat beradab, tertib sosial, indeks kebahagiaan, minimnya gesekan dan konflik, di sinilah kita menguji kualitas kepemimpinan apakah sukses berpola, gagal berpola maka pola harus dievaluasi dan dipelajari.

Ketika pemimpin berhasil orang akan bicara tampa harus kita menyuruh., tapi kalau gagal, biasanya phisikologis kegagalanya itu disembunyikan, tetapi ada yang lebih berbahaya lagi Ketika rapor kegagalan itu diajukan sebagai prestasi untuk melanjutkan kepemimpinan. Kalau keinginan dan dorongan kelompok pragmatis ini benar – benar terjadi maka sama dengan masuk dua kali pada lubang yang sama!

Parameter keberhasilan dan kegagalan di analogikan dengan Matematikan sederhana ada bilangan deret ukur itu 1,3,5,9 dst. Kepemimpinan yang mengikuti deret ukur pasti memiliki daya ungkit yang yang membuahkan prestasi dan kebanggaan. Analogi terbaliknya dengan pola kepemimpinan mengikuti deret hitung 1,2,3 dst tidak memilki daya ungkit atau efek menular dari program yang di kerjakan.

Kendala kepemimpinan pasti banyak, misanya minimnya anggaran daerah, budaya masyarakat yang keras, SDM birokrasi yang tidak produktif, terbatasnya Infrastruktur publik, Kualitas SDM, Teknologi, minat investor, ekosistem bisnis yang belum terbentuk, Regulasi daerah, Belum optimalnya pemanfaatan kantor daerrah dan dinas serta energi listrik yang terbatas dll.

Tetapi harus diingat ada saham masyarakat yang dinvestasikan kepada kepala Daerah yaitu” Kepercayaan ” bahwa bupati terpilih adalah terbaik dan tepat untuk memimpin daerah, dan membawa perubahan dan kemajuan daerah. kehendak rakyat menjatuhkan pilihan itu merupakan amanat yang harus dibuktikan kemanfaatanya untuk masyarakat.

Manisfestasi dukungan rakyat adalah modal sosial yang harus diberikan benefit nya dalam ukuran keberhasilan pembangunan…
dan logika kita sulit menerima jika gagal di analogikan berhasil dan karena persepsi keberhasilan itulah maka harus melanjutkan lagi 2,periode ?

*) Penulis Adalah Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gunadarma dan Wakil Rektor Universitas Attahiriyah Jakarta

Firdaus : “Saatnya Bupati Evaluasi Program Pro Rakyat”

Bimantika.net

“PDIP Partai Wong Cilik” sepertinya penggalan kalimat itu ada benarnya juga, karena sosok Kader Muda PDIP Kabupaten Bima yang juga sebagai Anggota Dewan Terpilih Dapil Bima 1, Firdaus, SH selalu melakukan silaturrahim hingga ke akar rumput. Ini menandakan bahwa sesungguhnya politisi di bawah Panji Kepala Banteng Moncong Putih tersebut memperlihatkan dirinya sebagai Kelas Rakyat Arus Bawah.
Di mintai tanggapannya terkait dengan perkembangan pembangunan di Kabupaten Bima, Firdaus Yang Juga Pendiri LSM LSIP inipum mengungkapkan bahwa Postur APBD Kabupaten Bima sama sekali tidak memberikan gambaran utuh tentang bagaimana mensejahterakan masyarakat. Dirinya membeberkan contoh riil bahwa APBD Kabupaten Bima sejak 2015-2019 yang dirinya pelajari hanya anggaran Bakulan rakyat yang sangat sedikit. “Ini sudah mencerminkan bahwa pemkab bima tidak pro rakyat kecil” ungkapnya.
Firdaus pun beberkan angka anggaran bakulan dalam klausul APBD tersebut kalau di rata-ratakan hanya berkisar 1,6 Milyar per tahun dari jumlah APBD 1,9 Triliun.
“kalau mau rakyat arus bawah sejahtera wajib hukumnya Pemkab Bima anggarkan dana bakulan untuk rakyat pedagang bakulan di kampung kampung itu minimal 30 – 40 milyar tiap tahun” harapnya.
Masih menurut Firdaus bahwa Bupati Bima Hj. Indah Dhamayanti Putri sudah saatnya melakukan evaluasi anggaran dan mengusulkan anggaran itu yang pro pada kepentingan rakyat.
Menurutnya kepemimpinan Umi Dinda sudah berjalan 3 tahun ini tentunya menjadi bahan evaluasi Bupati agar APBD jauh lebih bermanfaat untuk masyarakat secara luas.
“Saatnya Umi Dinda lakukan evaluasi atas kinerja terutama urusan program pro rakyatnya” Demikian ujar Firdaus. (//arif)

Hacklink Hacklink Satış бэклинки casibom marsbahis casibom hacklink market marsbahis giriş vdcasino casibom casibom