Humas Kota: “Tidak ada niat walikota Ekspos Kegiatan Bagi Gajinya Untuk Rakyat”

Bimantika.net

Adanya berita tentang Walikota Bima yang bagi gajinya selama setahun di kelurahan rabadompu barat menjadi viral di sosial media. Kini Humas Kota Bima melalui Kasubag Pemberitaan, Dian saat dimintai keterangannya pada hari minggu (15/9/2019) menyebutkan bahwa sesungguhnya Walikota Bima H. Muhammad Lutfi, SE tidak memiliki niat untuk mengekspose kegiatan pribadinya tersebut. “Tidak ada niat untuk viralkan atau diberitakan kegiatan tersebut, karna murni kegiatan hajatan pribadi nya Pak Wali” ujar Dian mengawali tanggapannya.
Lanjutnya bahwa kegiatan Pak Walikota di Kelurahan Rabadompu Barat itu
Tidak ada niat riya’ ini murni keinginan beliau sejak awal dilantik. Masih menurut Dian bahwa kemarin beliau niatnya tidak di ekspos sama sekali, tapi ada beberapa masyarakat yang melakukan siaran langsung melalui Facebook milik rakyat sehingga terjadilah kegiatan tersebut menjadi konsumsi publik. beliau memang berniat membagikan gajinya selama setahun sebagai bentuk syukur atas nikmat yang beliau dapatkan. “Itu niat beliau, bukan untuk di ekspos” kata Dian.
Lanjut Dian, bahwa crew Humas Kota Bima
Sangat menghargai niat beliau yang tidak ingin diekspose kegiatan pribadinya tersebut. “ada ajudan yang mendampingi sebagai representasi humas tapi kgiatan tidak kami Ekspose, namun kebahagiaan masyarakat gak bisa ditutupi sehingga banyak yang live sore kemarin” ungkap Dian. Diakhir komentarnya, Dian menyebutkan bahwa kegiatan pribadi pak Walikota tersebut sengaja tidak dieksposenya karena menyangkut amal ibadah pak wali secara persoanal. (//mam)

Sekjen API Sebut Pasang Badan untuk HML Walikota Bima

Bimantika.net
Sekjen Aliansi Pejuang Integritas (API) Nusa Tenggara Barat, Iwan pada Bimantika.net Jum’at (13/9/2019) menyebutkan siap pasang badan untuk Walikota Bima yang nota bene sebagai Bapak Reformis Kota Bima sekaligus Bapak Pembangunan Kota Bima.
Dirinya menyebutkan bahwa komentar dan kritikan terkait beberapa oknum akhir akhir ini yang menjurus pada pribadi Walikota Bima H. Muhammad Lutfi SE adalah kritikan yang tidak bermakna apapun. Bahkan dirinya menyebutkan
Berbicara isi kepala, tentu kita akan berbicara terkait ide dan gagasan, ide dan gagasan yg disampaikan tentu yang akan bermanfaat untuk kemashlahatan bersama.
Kalau kita berbicara kota bima, tentu isi kepala kita akan berbicara terkait ide dan gagasan untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat kota bima, bukan ide dan gagasan yang hanya berisi pandangan subyektif terkait walikota secara pribadi dan keluarganya tapi yang harus disampaikan adalah pandangan kritis terkait kebijakan dan obyektifitas dalam menilai kinerja beliau dalam memimpin pemerintahan kota bima.
Terkait pemberitaan Bimantika net beberapa waktu lalu yang memuat soal tantangan saudara isnaini, direktur eksekutif INDeP untuk melakukan debat terbuka untuk membahas isi kepala terkait kota bima, bagi saya bukanlah sebuah tantangan yang harus dilayani, kenapa ? Karena bagi saya, perdebatan seperti itu hanya sekedar memuaskan ego pribadi bukan untuk kemashlahatan bersama. “Bagi saya ukuran isi kepala seseorang itu adalah bagaimana isi kepala itu bisa mempengaruhi kebijakan pemerintah dalam pembangunan dan untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat demi kemajuan bersama” ujar Iwan.
Lanjutnya Percuma kita koar koar diluar sistem kalau isi kepala itu hanya akan dibuang ke tong sampah.
Akan lebih bermanfaat bagi saya dan kita semua kalau bisa duduk bareng, berdiskusi sambil minum kopi, mengolaborasikan isi kepala dalam bentuk konsep road map ideal arah kebijakan yang akan kita usulkan kepada pemerintah. Bukan berdebat untuk mencari kesalahan seakan menunjukkan kenyinyiran yang tidak perlu yang justru malah membuat apatis pihak lain.
Sinergisitas antara politisi, akademisi, intelektual dan aktifis lainnya dalam membangun konsep bersama, akan lebih indah dan bermanfaat untuk kemajuan dan perkembangan daerah yang kita cintai bersama ini.
Diakhir Komentarnya Iwan menyebutkan siap pasang Badan untuk Pemimpin yang merakyat seperti Walikota Bima H. Muhammad Lutfi, SE (//mam)

Somat : Lutfi Sedang Membangun Kota, Jangan Gaduh.

Bimantika.net

Pertarungan antara oposisi dengan loyalis Wali Kota Bima terus berlanjut. Somad yang lebih dikenal dengan sebutan Bumi Nugroho lagi-lagi melontarkan pernyataan serius kepada para oposisi. Bumi Nugroho menduga gerakan yang dibangun oleh kelompok oposisi hanyalah gerakan burung pipit diantara burung garuda.

“Kekisruhan yang terjadi belakangan ini, ada indikasi sengaja diciptakan untuk mengganggu konsentrasi pemerintahan kota bima yang sedang fokus merancang pembangunan menuju perubahan” ujarnya.
Lanjut Somat Ada kerjaan tangan-tangan jahil yang sedang berkompromi bagaimana konflik itu terus dirawat. Tidak mungkin hal remeh temeh begitu masif bergelinding dipermukaan publik, jika tidak dikendalikan. Dalam politik kita mengenal dengan Invisible Hand atau tangan tersembunyi” tegasnya.

Lebih lanjut, Bumi Nugroho mengatakan jika oposisi benar-benar ingin pembangunan terjadi di kota bima maka maka berikan kritikan konstruktif bukan kritikan sangat tendesius serta mengarah ke soal pribadi dan politis. “Saya tidak melihat ada gerakan moral yang dibangun untuk menjadi wacana publik, melainkan hanyalah gerakan politik. Bullyng lebih kentara ketimbang pokok-pokok substansial. Isu-isu kecil yang sangat tidak populis dimunculkan kepermukaan untuk menutupi isu besar. Ini kejahilan besar menghadap-hadapkan rakyat dengan pemimpinnya” jelas pegiat medsos sekaligus aktivis hmi ini.

Menurutnya, kekuasaan wali kota bima bukan 1 (satu) tahun melainkan 5 (lima) tahun.
“1 tahun pemerintahan sangatlah prematur jika kita menuntut sesuatu yang terlalu besar dan kompleks dalam pemerintahan kota bima. Ada tahapan plening, rencana dan eksekusi. Untuk itu, jika ada keinginan rakyat agar pemerintah harus benar-benar berpihak pada rakyat maka jangan mericuhkan suasana dengan tujuan mengganggu pikiran pemerintah. Awal kekuasaan ini, ada agenda utama pemerintah kota bima untuk merancang kota ini menjadi kota yang religius. Kota peradaban islam sebagaimana wajah bima terdahulu” lanjutnya.

Ibarat membangun rumah, Bumi Nugroho mengatakan menjalankan kekuasaan itu juga tidak bisa membangun atap melainkan harus membangun dasarnya terlebih dahulu. “Dasar yang ingin diletakan oleh Wali Kota adalah peradaban islam berdasarkan populasi rakyat bima merupakan mayoritas muslim namun wajah Kota ini tidak mencerminkan wajah religiusitas itu. Hal ini dasar pikiran kenapa diawal pemerintahan nya, Wali Kota benar-benar fokus membangun peradaban Islam” urainya.

Hal inilah yang menurut Bumi Nugroho adalah jalan akhirat. “Apa wujud nyata dari peradaban Islam itu.? Harus ada fisik yang nampak. Fisik inilah yang nantinya menjadi pusat aktifitas rohani dan spiritual masyarakat. Masyarakat harus bersatu mendukung rencana pembangunan Masjid dengan dana puluhan Miliar ini” tegasnya lagi.

Pada intinya, Bumi Nugroho menjelaskan bahwa diawal kepemimpinan nya Wali Kota tidak peduli dengan jalan dunia. “Apa penting jalan dunia di bangun jika jalan akhirat tidak difasilitas oleh pemimpin untuk rakyat. Hidup di dunia sementara maka untuk kehidupan kekal nanti kita perlu jalan yang baik yaitu Masjid” tutupnya. (//mam)

Aktivis Nilai HML mulai Nampak kinerjanya

Bimantika.net

Aktivis Muda, Usman pada Bimantika.net pada hari Kamis (12/9/2019) menyebutkan bahwa baru saja setahun Walikota Bima H. Muhammad Lutfi, SE menjadi Walikota Bima kini mulai nampak dan kelihatan upaya upaya yang sedang dilakukannya. Terlepas dari masih banyaknya juga janji janji politik yang belum terpenuhi. “Itu menyangkut waktu saja karna ini baru setahun” ujar Somat sapaan akrab Aktivis Muda Ini.
Dirinya menyatakan bahwa sudah ada pondasi awal menuju Kota Bima Bangkit Menuju Perubahan tinggal rentang waktu emoat tahun kemudian adalah untuk melakukan riil action. “Kita tunggu riil action pak Walikota ditahun kedua sampai tahun kelima” ujar nya.
Lanjutnya, baru baru ini Walikota Bima
Walikota Bima H Muhammad Lutfi SE menandatangani Naskah Hibah dan Berita Acara Serah Terima Hibah Barang Milik Negara dari Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, pada Selasa 10 September 2019 di Ruang Pendopo Kementerian PUPR, Kebayoran Baru Jakarta Selatan.

Kota Bima mendapatkan hibah sebesar
Rp. 5.572.143.000,- (lima milyar lima ratus tujuh puluh dua juta seratus empat puluh tiga ribu rupiah). Hibah ini berupa pembangunan drainase yang ada di Kota Bima.
Diakhir Komentarnya Somat pun menyatakan bahwa statement nya adalah sekaligus menjawab semua issu yang berkembang di Kota Bima yang menyatakan Walikota Bima HML sama sekali tidak berbuat apa-apa. “Ini sekaligus saya mau katakan pada pengkritik Walikota agar mereka juga melihat secara obyektif apa yang sedang dilakukan oleh Walikota Bima” demikian Tegas Somat (//arif)

BUPATI IDP AJAK RAKYAT UNTUK TINGKATKAN SEMANGAT PERSAUDARAAN

Bimantika.net

Lantunan Ayat Suci Al – Qur’an Membahana Di Bumi Sape.
Lantunan Ayat Suci Al – Qur’an yang dibawakan oleh Qori Internasional dari Medan Ustad. H. Darwin Hasibuan membahana di Bumi Kecamatan Sape, dimana pada saat melantunkan ayat suci Al – Qur’an tersebut, masyarakat Kecamatan Sape dan sekitarnya tak bergeming mendengarkan untaian kalimat Ayat Suci Al – Qur’an yang disampaikan Qori Internasional tersebut juga didampinggi Qori dan Qoriah terbaik yang dimiliki oleh Kabupaten Bima dalam me;antunkan ayat suci Al – Qur’an tersebut mewarnai peringatan Hari Besar Umat Islam 1 Muharram 1441 H yang dilangsungkan di lapangan semangka Naru Kecamatan Sape pada hari Rabu malam ( 11/9). Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh Bupati Bima, Anggota DPRD Kabupaten Bima, Sekda Kabupaten Bima, Para Asisten, Staf Ahli, Kabag Lingkup Setda Bima, Para Kepala OPD Lingkup Pemerintah Kabupaten Bima, Ketua MUI, Bazda, LPTQ, camat Sape, Ketua PHBI Kecamatan Sape,unsure Muspika Kecamatan, Toga, Toma serta masyarakat.
Sebelumnya Bupati Bima Hj. Indah Dhamayanti Putri, SE menyampaikan bahwa pertama – tama saya sampaikan kepada Qori Internasional, Ustad H. Darwin Hasibuan yang telah berkenan hadir di tengah-tengah kita semua. Saya berharap, kehadiran beliau dapat memperkaya khasanah ilmu dan kemampuan para Qori – Qori’ah Kabupaten Bima dalam membaca dan menyelemai ayat – ayat Al-Quran. Seperti kita ketahui bersama, bahwa peringatan 1 Muharram 1441 H yang kita laksanakan ini merupakan momentum bersama, momentum berjama’ah untuk mengintrospeksi diri dan melakukan transformasi ke arah kondisi yang lebih baik, terlebih sebagai ummat islam, seharusnya mampu meneladani konsep hijrah Rasulullah SAW, yang bukan hanya sebagai perpindahan dari mekkah ke madinah, namun lebih dari itu adalah makna mentranformasi diri ke arah yang lebih bermakna, lebih baik dan lebih bermanfaat baik bagi diri sendiri, keluarga maupun masyarakat dibandingkan tahun sebelumnya. Sehingga Makna yang terkandung dalam peringatan tahun baru islam 1 muharram 1441 H ini memiliki makna yang mendalam bagi setiap muslim, hal ini dikarenakan makna tersebut lahir dan menegaskan kembali pentingnya menerapkan akhlak mulia dalam kehidupan yang bersumber dari AL – Qur’an. Meskipun demikian, pemaknaan awal ialah peristiwa hijrah rasulullah dan para sahabatnya dari mekah ke madinah merupakan tonggak sejarah yang monumental dan memiliki makna yang sangat berarti bagi setiap muslim. Pasalnya, hijrah merupakan tonggak kebangkitan islam yang semula diliputi suasana dan situasi yang tidak kondusif di mekkah.
Dengan datangnya tahun baru islam 1 Muharram 1441 Hijriah, saya mengajak kepada seluruh umat islam di daerah ini agar dapat memperbaiki diri, bertekad untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah, SWT, karena hingga hari ini kita masih diberikan kesempatan untuk melanjutkan kehidupan. Kita harus bertekad lebih baik memasuki tahun baru Islam 1441 H ini dalam segalam aspek kehidupan, khususnya dalam hal keimanan dan ketaqwaan kepada sang khalig.
Saya berharap dengan momentum tahun baru islam 1 Muharram 1441 H ini sebagai momentum untuk berubah, meningkatkan kesadaran diri agar ukhuwah semakin kuat. Mari kita tinggalkan perbedaan – perbedaan yang tak mendasar. Mari kita tingkatkan ikatan semangat persaudaraan dan memperkuat jalinan ukhuwah. (Zen/humas)

Politisi Tanpa Isi Kepala

Oleh : Muhammad Isnaini

Bimantika.net

Saat jalan pulang, saya mampir makan bersama istri. Sesaat sembari menunggu pesanan saya mengeluarkan HP dan mengaktifkan paket data, disitulah pesan whatsapp dari 7 (tujuh) orang yang mengirim link berita. Saat saya buka, saya dikagetkan dengan bahasa seorang politisi yang menurut hemat saya sangat emosional dan kampungan (semacam tidak pernah duduk dibangku sekolah. Mungkin dia dukun, pikir saya) di alenia pertama dan secara otomatis saya langsung menghentikan membaca. Ah, ini tulisan tidak layak untuk dibaca (buat saya tulisan itu menarik, bisa diliat dari pilihan bahasa di alenia pertama) gumam saya dalam hati.

Tapi karena begitu nyampe rumah, ternyata banyak teman-teman yang menginginkan untuk saya tanggapi. Baiklah, tidak ada ruginya buat saya menanggapi walau sempat dalam hati, buat saya tulisan itu hanyalah tulisan sampah yang diksinya sangat tidak patut untuk dibicarakan oleh seorang politisi terlebih politisi dari partai pengusung kekuasaan. Lebih-lebih tulisan itu dikeluarkan untuk menjawab tulisan kritikan terhadap penguasa. Ini soal diksi yang digunakan bukan soal tanggapan atas tulisan. Dalam budaya intelektual, pemilihan diksi adalah cerminan isi kepala dari seseorang yang mengucapkan diksi tersebut. Jika diksinya baik maka bisa dipastikan orang tersebut memiliki isi kepala dan jika tidak maka bisa jadi dia tidak memiliki isi dalam batok kepalanya alias tong kosong nyari teriaknya.

Point tulisan saya sebelumnya yang diberi judul “Lutfi, Ibarat Gajah Yang Berubah Jadi Semut” diantaranya adalah “….Lebih baik Lutfi memeriksa isi kepala tim dan para loyalisnya yang melakukan counter opini di publik. Apakah mereka cukup memiliki argumentasi.? Apakah mereka cukup memiliki narasi.? Atau jangan-jangan mereka cukup gagap mengucapkan kata dalam merasional segala sesuatu atas tuduhan terhadap Lutfi termasuk tuduhan kegagalan Lutfi dalam menciptakan perubahan di Kota Bima. Pertengkaran yang terjadi antara pengkritik dan loyalis kekuasaan hanyalah pertengkaran narasi dan argumentasi maka penyelesaiannya adalah dengan argumentasi dan narasi pula. Itu pentingnya Lutfi menaikan digit pikiran Loyalisnya supaya memiliki narasi dan argumantasi…..”

Tanggapan seorang politisi PKB yang bernama Ardiansyah terhadap tulisan saya tersebut memang sangat saya harapkan agar diskursus publik Kota Bima terisi oleh pertengkaran argumentasi antara kekuasaan dangan para pengkritiknya. Ini baik untuk demokrasi. Tapi tanggapan yang muncul tidak sebagaimana harapan saya melainkan hanya mengkonfirmasi tulisan saya sebelumnya (baca “Lutfi, Ibarat Gajah Yang Berubah Jadi Semut”) yang menyuruh Lutfi untuk memeriksa isi kepala Loyalisnya.

Dulu, jika kita menyempatkan waktu untuk membuka lembaran sejarah perjalanan para penguasa di dunia ini, kita akan menemukan bahwa sebagian besar para penguasa tersebut memiliki orang-orang yang biasa disebut sebagai anjing penjaga. Tugas anjing penjaga membisiki penguasa demi secuil potongan daging sisa dan menggonggong terhadap orang-orang yang dirasa berpotensi mengancam kenyamanan penguasa. Kenyaman disini bisa diartikan kenyamanan atas kejahatan-kejahatan yang sedang dilakukan atau kejahatan yang sedang direncanakan. Jika ada potensi gangguan baik dari rakyat maupun dari lawan politik penguasa, maka rencana kejahatan ini bisa berjalan tidak mulus. Terkadang penguasanya benar berpikir tentang Rakyat, tapi anjing-anjingnya ini yang kadang tidak benar. Mereka selalu punya cara untuk menjauhkan penguasa (bosnya) dari rahmat Tuhan untuk kembali kejalan yang benar.

Cerita diatas, biasa terjadi waktu zaman yunani, romawi, bizantium, persia atau bahkan mungkin terjadi juga di kerajaan-kerajaan nusantara, tentang anjing-anjing penjaga penguasa. Soal anjing penjaga, Hersu Corner di media RMOL.ID pernah mengatakan Media itu merupakan Anjing Penjaga Demokrasi (baca : catatan akhir tahun Media Itu Anjing Penjaga, Bukan Pujangga Istana).

Cerita tentang anjing penguasa diatas bukan dalam rangka menuduh penguasa di Kota Bima memiliki anjing penjaga melainkan bertujuan mengingatkan para pembaca agar tidak alpa tentang sejarah para penguasa-penguasa terdahulu yang memiliki anjing penjaga untuk menjaga taman mewangi kekuasaannya.

Kembali ke soal kata Ardiansyah dalam tulisannya, kata demi kata yang dia ucapkan seperti anak sekolah dasar yang sedang mengumpat teman karena memecahkan balon ditangannya. Dia bicara data ilmiah (walau mulutnya bau sampah umpatan emosional alias sangat jauh dari ilmiah) padahal belum ada satupun lembaga kredibel dengan metode ilmiah yang sudah mengukur kinerja Walikota Bima dalam menciptakan Perubahan di Kota Bima. Data apa yang dia pake.? Data pengamatan dia sendiri.?

Apakah Ardiansyah sudah membaca tulisan saya.? Atau dia tidak paham tulisan saya yang sebelumnya yang meminta Lutfi menyodorkan ke Publik soal “Program Prioritas” dalam menghadirkan perubahan di Kota Bima. Itu yang seharusnya dijelaskan secara rinci ke publik. Kota Bima mau dibawa kemana.? Apa point besar Perubahan yang Lutfi susun sebagai kebijakan yang akan dilaksanakan. Bukan malah bicara saya bukan WARGA KOTA BIMA, PELUANG KEBOCORAN PAD, RT/RW 500 Ribu, Dana BPJS, PENATAAN LAWATA, RELOKASI RUMAH dan MASJID RAYA.

Saya ingin isi otak Ardiansyah secara pelan-pelan dengan menjawab tulisa huruf kapital di atas. Soal saya warga Kabupaten Bima, ruang perkawanan dan pengetahuan Ardiansyah ini nampak sangat terbatas. Semacam Ardiansyah katak dalam tempurung. Begitu sempit cara berpikir dia. Apakah Ardiansyah dirumahnya tidak memiliki Televisi untuk nonton berita atau HP untuk membaca informasi-informasi bahwa orang Indonesia banyak yang berbicara tentang Palestina. Orang Aceh berbicara lantang tentang Kondisi Papua atau sebaliknya. Benar-benar disini Ardiansyah sedang meludahi mukanya sendiri dengan keterbatasan pengetahuannya tentang bahwa bukan hanya warga Kota yang boleh berbicara Kota.

Peluang kebocoran PAD, Ardiansyah silakan baca berita agar tau seorang Wali Kota memerintahkan DPRD agar menegur Kepala Dinas (OPD) karena tidak mampu menaikan PAD. Ini memalukan. Ini menandakan seorang Wali Kota yang sangat tidak memahami Tugas dan fungsinya sebagai Wali Kota. Kepala Dinas (OPD) merupakan bawahan Wali Kota maka jika Wali Kota merasa kinerja Kepala Dinas (OPD) Lemah maka itu tugas Wali Kota Untuk menegur atau mengganti yang bersangkutan. Bukan malah melempar tanggung jawab itu ke DPRD untuk omelin bawahan dia yaitu Kepala Dinas (OPD). Ini lagi-lagi Wali Kota sedang mengkonfirmasi ke Publik atas ketidakpahaman dia memimpin pemerintahan dengan Sloga Perubahan. Soal ini, jika ayam saya bisa membaca dia pasti akan tertawa.

Nampaknya 2 (Dua) hal ini saja dulu saya jawab secara sederhana sebab jika saya jawab semua apa yang Ardiansyah sebut dalam tulisannya, saya takut terlalu dini menelanjangi Kekuasaan di Kota Bima.

Ardiansyah, sebagai politisi dan jika menjadi Anggota DPRD Kota Bima sebaiknya cicil pelan-pelan isi tempurung kepalanya dengan isi yang berbobot agar bisa memperjuangkan nasib dan amanah konstituennya. Yang perlu dihindari oleh Politisi adalah muncul ke publik dengan isi kepala kosong, itu sangat memalukan ketimbang menjadi gelandangan di lampu merah. Sebab nasib seluruh rakyat ini ada ditangan Politisi. Dan bagaimana mungkin nasib seluruh rakyat diperjuangkan oleh Politisi berkepala kosong. Semoga anda paham sampai di sini Ardiansyah.

Sebelum saya akhiri tulisan saya, Teguran KASN dan release KPK tentang Komitmen Pemkot Bima Cegah Korupsi Paling Rendah di NTB merupakan Aib bagi Kekuasaan di Kota Bima. Ardiansyah tau apa yang dikatakan oleh KPK tentang Pemerintahan Kota Bima.? “Pemkot Bima yang dipimpin HM Lutfi berada di zona merah. Kota Bima menempati urutan paling buncit dari tiga daerah yang masuk zona merah. Yakni Pemda Lombok Timur, Sumbawa dan Kota bima. Sementara daerah lain di NTB masuk dalam zona kuning upaya pencegahan korupsi. Ada delapan areal yang diintervensi dalam korsupgah, diantaranya perencanaan dan penganggaran APBD, pengadaan barang dan jasa, pelayanan satu pintu, kapabilitas aparat pengawasan interen pemerintah (APIP), manajemen ASN, optimalisasi pendapatan daerah, manajemen aset, dan tata kelola dana desa (baca : katada)

Ardyan : Beri Kesempatan HML untuk Berbuat Merubah Kota Bima

Bimantika.net

Salah seorang wakil Sekretaris PKB Kota Bima, M. Ardyansyah pada Bimantika.net selasa (10/9/2019) mengharapkan pada seluruh elemen masyarakat Kota Bima untuk memberi kesempatan pada Walikota Bima H. Muhammad Lutfi, SE (HML,red) untuk bangun Kota Bima menuju sebuah perubahan sebagaimana visi dan misi Pemerintahan Kota Bika.
Dirinya menyebutkan bahwa Tuduhan segelintir oknum yang menyimpulkan bahwa HM. Lutfi tidak memahami tupoksi dan tidak sadar sebagai seorang walikota justru mencerminkan pemahaman yang keliru dari oknum tertentu, karena eksekutif dan legislatif memiliki tanggung jawab yang sama dalam soal mengontrol serapan anggaran pada eksekutif.

“Artinya HM. Lutfi justru mendorong dan memberikan ruang yang maksimal kepada legislatif untuk menjalankan fungsi kontrol terhadap SKPD yang menjadi mitra legislatif dalam setiap komisi” demikian ungkapnya.
Lanjutnya
Harusnya ruang yang diberikan oleh HM. Lutfi sebagai pemimpin kota menjadi pondasi untuk kemitraan antara legislasi dengan eksekutif, sehingga peran legislasi bisa lebih maksimal dalam melakukan fungsi pengawasan terhadap eksekutif.

Pengalaman HM. Lutfi sebagai mantan legislator inilah yang kemudian di endors atau ditranformasikan pada legislator tingkat daerah dalam rangka memaksimalkan fungsi kontrol dan kemifraan antara legilatif dan eksekutif.

“Justru seharusnya oknum oknum sebagai tokoh LSM mengapreseasi sikap walikota Bima yang justru mendorong peran legislative serta membuka diri untuk dikontrol oleh legislatif. Karena inilah yang semestinya, sehingga mandat rakyat yang ada dipundak legilator dapat disalurkan melalui SKPD yang menjadi mitranya”saran nya
Masih menurut Ardyan bahwasannya
Sepatutnya kita bersyukur memiliki pemimpin yang membuka diri untuk dikontrol, diawasi oleh legislatif. Ini merupakan instrument dari implementasi kemitraan yang strategis antara eksekutif dan legislatif. Dengan demikian legislatif tidak ” dituduh ” hanya menjadi paduan suara yang sekedar mengamini apa saja yang dilakukan oleh eksekutif. (//arif)

Kedunguan dan Kedangkalan Befikir Dalam Menyimpulkan Kepemimpinan HM. Lutfi di Kota Bima

*( tanggapan terhadap opini Muhammad Isnaini di Bimantika.net 9 September 2019 )

Oleh : M. Ardiansyah

Bimantika.net

Uraian opini yang diciptkan oleh Muhammad Isnaini menunjukan bagaimana kedunguan dan kedangkalan berfikir Isnaini dalam menilai dan menyimpulkan kepemimpin sosok HM. Lutfi.

Opini tersebut hanya mengkonfirmasj kebencian personal dan sentiment negatif personal Isnaini terhadap sosok HM. Lutfi. Hal itu sangat terlihat dari cara bangunan opini yang sama sekali tidak berbasis pada fakta dan data atas apa saja yang telah ditorehkan oleh HM. Lutfi dalam umur kemimpinanya yang baru seumur jagung.

Karena memang Isnaini bukan warga Kota Bima dan tidak hidup di Kota Bima sehingga sangat dangkal untuk melihat perubahan yang telah terjadi di Kota Bima. Al hasil kesimpulan Isnaini dalam menilai kepemimpinan sosok HM. Lutfi hanya dipenuhi oleh sentiment dan ketidak sukaan personal.

Isnaini memaksakan diri untuk terburu buru memberikan kesimpulan negatif terhadap kepemimpinan HM. Lutfi, sehingga mengabaikan kaidah ilmiyah berbasis fakta dan data. Padahal begitu banyak fakta dan data perubahan dan kebijakan sebagai bentuk implementasi dari janji program yang telah dilakukan oleh HM. Lutfi sebagai walikota

Kepemimpinan Lutfi Feri telah mampu menutupi peluang kebocoran penerimaan PAD pada periode pemerintahan sebelumnya yang hanya mencapai 33 milyar pertahun meningkat menjadi 50.milyar pertahun.

Peningkatan oprasional RT/RW 500 ribu perbulan juga telah dilakukan, demikian halnya dengan pembagian kartu BPJS gratis untuk seluruh warga Kota yang sebelumnya masih ada kurang lebih 20.000 warga yang belum memiliki kartu BPJS. Semua ini tentu adalah komitment terhadap memberikan pelayanan kepada warga sebagai komitment terhadap agenda perubahan itu sendiri.

Penataan kawasan wisata Lawata untuk memberikan kenyamanan pengunjung wisata sekaligus para pedagang yang sebelumnya tercecer dan termarginalkan sepanjang trotoar jalan, juga merupakan bagian dari pemberian akses pedagang dalam meningkatkan pendapatkan sekaligus memanusiakan para pedagang kelontong sebagaimana mestinya.

Penyelesain pembangunan rumah relokasi telah dilakukan dengan baik oleh pemerintah Kota Bima yang menghasilkan rumah relokasi yang lebih layak dan berkualitas jika dibandingkan dengan rumah relokasi yang dibangun pada zaman sebelum HM. Lutfi menakodai kepemimpinan di Kota Bima.

Semua itu luput dari kesimpulan Muhammad Isnaini karena kedunguan dan sentiment personal Isnaini terhadap sosok HM. Lutfi telah mengubur intelektualitas seorang Muhammad Isnaini.

Demikian halnya kebijakan pemerintahan Lutfi Feri yang menggelontorkan anggaran besar kurang lebih 30 milyar untuk menyelesaikan pembangunan Masjid Raya yang bertahun tahun terabaikan dalam pembangunan Kota Bima sebelumnya, merupakan bentuk komitment HM. Lutfi sebagai walikota dalam menunaikan janji program yang telah diikrarkan.

Lagi lagi kritik Muhammad Isnaini terhadap sikap Istri walikota yang melaporkan beberapa okmum menunjukan kedunguan dan kedangkalan berfikir seorang Muhammad Isnaini, karena gagal paham dan tidak dapat membedakan antara kritik dan penghinaan.

Semestinya Muhaamad Isnaini mengapreseasi bahwa negara hukum harus mengedepankan supremasi hukum, sehingga public mendapatkan pendidikan politic dalam memberikan kritik kepada pemerintah yang lebih baik dan lebih konstruktif. Harusnya langkah Istri Walikota diapreseasi sebagai bentuk komitment terhadap penegakan supremasi hukum.

Rasanya terlalu dini untuk memberikan kesimpulan terhadap kepemimpinan Lutfi Feri mengingat janji program akan ditunaikan selama lima tahun dan tentunya tidak bisa dilakukan dalam satu waktu melainkan dalam tahapan sesuai dengan sistem yang berlaku.

Masih banyak program program pro kerakyatan dalam rangka meningkatkan pelayanan dan kesejahteraan warga yang akan dilakukan oleh pemerintahan Kota di bawa kepemimpinan Lutfi Feri kedepan, karena memang Kota ini harus berubah menjadi lebih baik dan lebih sejahtera.

  • Penulis adalah Wakil sekretaris PKB Kota Bima

Proses hukum, sikap elegan dan terhormat Dari Keluarga Walikota Bima

Bimantika.net
Wakil Sekretaris DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kota Bima, M. Ardyansyah pada Bimantika.net senin (9/9/2019) menyebutkan bahwa langkah Yang ditempuh oleh Walikota Bima H. Muhammad Lutfi, SE maupun isteinya Hj. Elly Alwainy melaporkan ke proses hukum sejumlah aktivis yang menyerang pribadinya adalah langkah yang sangat mulia dan memuliakan hukum itu sediri.
“Itulah langkah yang paling elegan dalam berbangsa dan bernegara di Republik yang berdasarkan Hukum ini” ujarnya. Salah satu
Kandidat Kuat Ketua DPC PKB Kota Bima ini melanjutkan bahwa “Semut” pun akan melawan kalau diinjak, apalagi manusia yg dituduh dan difitnah atas sesuatu yang tidak pernah dilakukannya.
“namanya manusia tentu punya harkat dan martabat dalam lingkungan sosial kemasyarakatan nya, dan Walikota pun punya hal tersebut” urainya.
Lanjut Ardyan, mungkin saja bagi sebagian orang tuduhan dan fitnah itu hal biasa, tapi bagi Walikota dan keluarga besaenya bisa jadi itu hal yg prinsip dan mengusik kehormatan dan harga dirinya. “Oleh karena itu, menyerahkan hal ini lewat proses hukum bagi saya itu lebih elegan dan terhormat” ujarnya.
Karena menurutnya itu salah cara seseorang mempertahankan kehormatan dan harga dirinya.
Kritik terkait kebijakan publik adalah biasa dalam alam demokrasi tentunya disertai data yang bisa dipertanggung jawabkan, tetapi kalau menghujat, menuduh apalagi fitnah tentu menimbulkan persoalan hukum kalau saja yang dituduh tidak terima atas tuduhan tersebut.
“mari kita dewasa menyikapi dan bersikap obyektif dlm menilai kinerja pemerintahan kota Bima khususnya” demikian ajak Ardyan (//arif)

KPK Sebut Kota Bima Zona Merah, Pencegahan Korupsi Masih Rendah

MATARAM-Komitmen Pemkot Bima dalam mencegah korupsi masih sangat rendah. Itu terlihat dari rencana aksi koordinasi dan supervisi pencegahan (Korsupgah) yang diungkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Pemkot Bima yang dipimpin HM Lutfi berada di zona merah. Kota Bima menempati urutan paling buncit dari tiga daerah yang masuk zona merah. Yakni Pemda Lombok Timur, Sumbawa dan Kota bima. Sementara daerah lain di NTB masuk dalam zona kuning upaya pencegahan korupsi.
Berdasarkan data KPK, peringkat pemda dalam upaya pencegahan korupsi; Kota Mataram 51 persen, Lombok Tengah 45 persen, Pemprov NTB 41 persen, Dompu 38 persen, Lombok Utara 34, Kabupaten Sumbawa Barat 34 persen, Kabupaten Bima 32 persen, Lombok Barat 32 persen, Lombok Timur 18 persen, Sumbawa 16 persen, dan Kota Bima 15 perse.
Ada delapan areal yang diintervensi dalam korsupgah, diantaranya perencanaan dan penganggaran APBD, pengadaan barang dan jasa, pelayanan satu pintu, kapabilitas aparat pengawasan interen pemerintah (APIP), manajemen ASN, optimalisasi pendapatan daerah, manajemen aset, dan tata kelola dana desa.
Dari delapan areal itu, tiga masih masih berada di zona merah. Yakni pengadaan barang dan jasa 22 persen, kapabilitas APIP 23 dan dana desa 21 persen.
’’Penyebab utama pengendalian dan pengawasan masib lemah. Minimnya sistem informasi rencana umum dan kurangnya pelaksanaan sesuai tupoksi,’’ kata Kepala Bagian Pemberitaan dan Publikasi Biro Humas KPK Yuyuk Indriati Iskak saat mengisi workshop Jurnalis Lawan Korupsi di Hotel Golden Palace Mataram, NTB, Sabtu (7/9).
Dengan presentase itu wajar korupsi terbanyak ada pada pengadaan barang dan jasa serat suap. ’’Suap sangat rentan pada pengadaan barang dan jasa. Data KPK, suap serta pengadaan barang dan jasa mendominasi modus korupsi dengan angka 83 persen,’’ tambahnya. (Berbagai Sumber//mo//kpk)

Hacklink Hacklink Satış бэклинки casibom marsbahis casibom hacklink market marsbahis giriş vdcasino casibom casibom