“Peti Kramat H. Arifin Di Momen Pilkada Bima”

Oleh : Muslihun Yakub

Bimantika.net,_Seorang nenek lanjut usia menangis saat ditemui H. Arifin disebuah desa terpencil, sekian banyak anak yatim yang bahagia ketika bertemu dengan H. Arifin. Adakah keuntungan politis bagi H. Arifin dalam peristiwa itu? Jawabannya, sama sekali tidak ada keuntungan politik yang bisa diperoleh.

Saya menduga, H. Arifin hanya meraup kebahagiaan hati. Itu artinya kesehatan mental dan kesehatan akalnya terjaga. Itulah modal politik yang utama. Dari situ H. Arifin menunjukan kelasnya sebagai manusia yang berakal budi.

Seingat saya, Gubernur NTB terpilih star dengan survei 7%. Nyatanya dia dia dipilih oleh rakyat sebagai Gubernur. Sementara H. Arifin sebelum turun ke Bima, malah survei lebih dulu mengkonfirmasi bahwa elektabilitasnya lebih dari 7%. Fakta ini anomali, juga ajaib.

Kenapa bisa demikian? Karena ilmu pengetahuan mengudara bekerja dengan teknologi adalah jawaban elektabilitas H. Arifin lebih dari 7%. Setelah itu, H. Arifin dua hari kemudian turun ke Bima. Apa yang terjadi saat turun di Bandara?

Enam media lokal mewawancarainya di bandara, dan ratusan warga menyambutnya. Hemat saya, baik media maupun warga yang jemput tidak kenal H. Arifin sebelumnya. Faktanya H. Arifin disambut riang dan gembira.

Berani sekali H. Arifin menyatakan maju menjadi calon bupati, padahal modalnya hanya selembar “surat tugas dari salah satu partai?” Dan hanya 14 masa berlaku surat tugas tersebut.

Sekarang, faktanya surat tugas tidak dibatasi 14 hari, H. Arifin baik fisik maupun pikirannya sedang berada di Bima. Berarti ada lingkungan elit strategis yang bekerja menjawab tantangan dan problema yang dihadapi H. Arifin.

Saya ingin mengatakan bahwa selembar surat tugas itu adalah isi peti partai demokrat, sekaligus alat uji kesaktian sosok pengantin bernama H. Arifin. Peti itu bernama “peti kramat”.

Apa benar peti itu kramat?

Saya akan uraikan secara pelan-pelan. Hanura akad ke Herman Edison setelah ada perintah dari penjaga peti kramat. Seketika Hanura lapor, “siap bang Hanura sudah akad ke Herman Edison dan tidak akan ada perubahan selama yang bersangkutan maju sampai final”. Peti Kramat menjawab “Oke!”

Peti Kramat itu lebih dulu berbicara sebelum Nasdem menentukan arah. Kawan terbaik “peti kramat” itu adalah PAN. Juga tidak punya calon musuh terburuk. Sedamai itulah perjuangan H. Arifin.

Bagaimana mungkin H. Arifin bisa masuk lapangan tanding, sementara modal hanya satu lembar surat tugas dari sebuat Parpol yang hanya memiliki empat kursi dewan? Jawabnya mudah. Analoginya begini, Nabi Musa itu seorang bayi yang harus dibunuh oleh Fir’aun. Tapi isterinya bilang, jangan! Biarkan aku rawat. Fir’aun luluh. Nabi Musa tumbuh, hingga jadi Rasul.
Nabi Musa berkata, Hei Firaun? Tunduk pada aku atau membangkang? Firaun membangkang, Musa tenggelamkan. Musa benar, karena membawa “Misi Ilahiah”. Kisah Musa ini bisa jadi hampir sama dengan kisah “peti kramat.”

Sekeramat itukah Peti H. Arifin dengan secuil surat tugas itu? Tentu saja tidak untuk dibandingkan dengan Musa, apalagi disejajarkan. H. Arifin hanya anak Tadewa, WERA. Tapi ingat, rahmat Ilahi itu tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.

Sekarang, mari kita uji publik. Sanggupkah memindahkan peti kramat itu ke tangan orang lain? Rasanya terlampau berat peti itu diangkat, walau selembar kertas itu seringan kapas. Ada apa disitu..?

Bukan saja peti kramat bernama Demokrat itu berat, tapi juga sukses memindahkan yoker dari “A ke B.” Bagi yang lain aneh. Bagi yang lain kok bisa? Bagi penjaga peti kramat, itu biasa. Dengan ngobrol modal secangkir kopi, yang gelap bisa terang. Pun yang terang bisa jadi gelap.

Apa kisah akhir petualangan peti kramat itu? Ya menang. Ya menjadi bagian dari kemenangan. Ya menyelamat yang sudah dianggap kalah. Jadi posisi kunci peti kramat itu, menyelamatkan masa depan bersama.

*) Penulis Staf DPD RI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hacklink Hacklink Satış бэклинки casibom marsbahis casibom hacklink market marsbahis giriş vdcasino casibom casibom